Tafsir Surah Al-Insyiqaq: Jangan Lupa, Kita Semua Akan Bertemu Allah
Surah Al-Insyiqaq menggambarkan kedahsyatan hari kiamat: langit terbelah, bumi diratakan, dan seluruh isi kubur dimuntahkan. Di tengah guncangan kosmik itu, Allah mengingatkan bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Rabb-nya dan pasti akan berjumpa dengan-Nya. Maka jangan lupa, seluruh amal kita akan dipertemukan dengan balasannya pada hari yang tidak mungkin dihindari.
Ayat Pertama
إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتْ
“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Insyiqaq: 1)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Allah Ta’ala menjelaskan gambaran dahsyat yang akan terjadi pada hari kiamat, yaitu perubahan besar yang menimpa benda-benda langit yang sangat agung.
Firman-Nya, إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ, maksudnya adalah ketika langit terbelah dan terpecah-pecah, bagian-bagiannya terpisah satu sama lain. Bintang-bintang berjatuhan dan berserakan. Matahari dan bulan pun mengalami kehancuran; keduanya kehilangan cahaya dan tertelan (lenyap).
Ini semua merupakan gambaran kedahsyatan hari kiamat, ketika tatanan alam semesta yang selama ini kokoh dan teratur berubah total atas perintah Allah.
Ayat Kedua
وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ
“dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh.” (QS. Al-Insyiqaq: 2)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Maksud firman Allah, وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا, yaitu langit mendengarkan perintah Rabb-nya dengan penuh kepatuhan. Ia menyimak dengan sungguh-sungguh, memasang pendengaran, dan tunduk sepenuhnya terhadap titah-Nya.
Memang sudah sepantasnya langit bersikap demikian. Sebab ia adalah makhluk yang sepenuhnya diatur dan ditundukkan oleh Allah, berada di bawah kekuasaan Raja Yang Maha Agung. Tidak ada satu pun perintah-Nya yang bisa ditentang, dan tidak ada satu pun ketetapan-Nya yang dapat diselisihi.
Ayat ini menggambarkan kesempurnaan ketaatan makhluk kepada Allah pada hari kiamat, ketika seluruh alam tunduk total kepada perintah-Nya tanpa sedikit pun pembangkangan.
Ayat Ketiga
وَإِذَا ٱلْأَرْضُ مُدَّتْ
“dan apabila bumi diratakan.” (QS. Al-Insyiqaq: 3)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Yang dimaksud dengan firman Allah, وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ, adalah ketika bumi diguncangkan dan digetarkan dengan dahsyat. Gunung-gunung yang ada di atasnya dicabut dan dihancurkan. Segala bangunan dan tanda-tanda yang berdiri di atasnya diratakan hingga lenyap.
Kemudian Allah membentangkan bumi itu seperti hamparan kulit yang dibentangkan, sehingga menjadi sangat luas. Bumi pada saat itu cukup untuk menampung seluruh manusia yang dikumpulkan di padang mahsyar, meskipun jumlah mereka sangat banyak.
Akhirnya, bumi menjadi tanah yang datar dan rata, tanpa terlihat sedikit pun lekukan atau tonjolan. Tidak ada lagi perbedaan ketinggian, semuanya menjadi satu hamparan luas yang terbuka.
Ayat Keempat
وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ
“dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.” (QS. Al-Insyiqaq: 4)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Yang dimaksud dengan firman Allah, وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا, adalah bumi mengeluarkan seluruh isi yang tersimpan di dalamnya, baik berupa jasad-jasad manusia yang telah mati maupun harta-harta terpendam dan berbagai kekayaan yang dahulu tersembunyi.
Kemudian firman-Nya, وَتَخَلَّتْ, maksudnya bumi menjadi kosong dari semua itu. Ketika sangkakala ditiup, seluruh manusia bangkit dari kubur mereka dan keluar ke permukaan bumi. Bumi pun mengeluarkan seluruh perbendaharaan yang dikandungnya hingga tampak menumpuk seperti tiang besar yang menjulang.
Semua makhluk menyaksikan harta-harta itu dengan mata kepala mereka sendiri. Pada saat itulah manusia menyesal, mengingat dahulu mereka berlomba-lomba dan saling bersaing untuk mendapatkannya, padahal kini semua itu tidak lagi berguna bagi mereka.
Ayat Kelima
وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ
“dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya).” (QS. Al-Insyiqaq: 5)
Ayat Keenam
يَٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَٰقِيهِ
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Maksud ayat ini adalah bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Allah. Ia berusaha, beramal, dan menjalani kehidupan dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dalam perjalanannya itu, ada yang mendekat kepada Allah dengan kebaikan, dan ada pula yang mendekat dengan keburukan.
Pada akhirnya, setiap manusia pasti akan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat. Tidak seorang pun akan luput dari pertemuan tersebut. Di sana, ia akan menerima balasan. Jika ia termasuk orang yang berbahagia (beriman dan taat), maka ia akan mendapatkan balasan dengan karunia dan kemurahan Allah. Namun jika ia termasuk orang yang celaka (kufur dan bermaksiat), maka ia akan menerima balasan dengan keadilan Allah.
Ayat ini mengingatkan bahwa hidup bukanlah perjalanan tanpa tujuan. Setiap langkah, setiap usaha, dan setiap amal akan bermuara pada satu pertemuan besar: pertemuan dengan Allah Ta’ala.
Ayat Ketujuh
فَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ
“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya.” (QS. Al-Insyiqaq: 7)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Mereka inilah orang-orang yang berbahagia. Mereka adalah ahli kebahagiaan, yakni orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Pemberian kitab dengan tangan kanan merupakan tanda keselamatan, keberuntungan, dan keberhasilan mereka di hari kiamat.
Ayat Kedelapan
فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا
“maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (QS. Al-Insyiqaq: 8)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Yang dimaksud dengan hisab yang mudah adalah sekadar diperlihatkannya amal-amal di hadapan Allah. Allah menampakkan dosa-dosanya dan membuatnya mengakui semua itu. Hingga ketika sang hamba merasa dirinya telah binasa karena banyaknya dosa yang diingatkan kepadanya, Allah Ta’ala berfirman kepadanya:
إِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، فَأَنَا أَسْتُرُهَا لَكَ الْيَوْمَ
“Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan hari ini Aku pun menutupinya untukmu.”
Inilah makna hisab yang mudah: bukan diperiksa secara rinci dan diperdebatkan setiap amalnya, tetapi hanya diperlihatkan lalu diampuni oleh Allah.
Yang Dimaksud Hisab yang Mudah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ
“Siapa saja yang benar-benar dihisab (secara rinci dan teliti), maka ia akan tersiksa.” Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya, “Bukankah Allah Ta‘ala telah berfirman, ‘Maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah’ (QS. Al-Insyiqaq: 8)?” Beliau menjawab, “Yang dimaksud ayat itu hanyalah al-‘aradh, yaitu sekadar diperlihatkan amalnya. Adapun orang yang diperiksa secara detail dan diperdebatkan hisabnya, maka ia akan binasa.” (HR. Bukhari no. 103 dan Muslim no. 2876)
Hisab menurut kaca mata akidah memiliki dua pengertian:
Pertama: Al-‘Aradh (penampakan dosa dan pengakuan), mempunyai dua pengertian.
- Pengertian umum, yaitu seluruh makhluk ditampakkan di hadapan Allah dalam keadaan menampakkan lembaran amalan mereka. Ini mencakup orang yang dimunaqasyah hisabnya dan yang tidak dihisab.
- Pemaparan amalan maksiat kaum mukminin kepada mereka, penetapannya, merahasiakan (tidak dibuka dihadapan orang lain), dan pengampunan Allah atasnya. Hisab demikian ini dinamakan hisab yang ringan (hisab yasir).
Kedua: Munaqasyah (diperiksa secara sungguh-sungguh) dan inilah yang dinamakan hisab (perhitungan) antara kebaikan dan keburukan. (Lihat Mukhtashar Ma’arij Al-Qabul Hafizh al Hakami, diringkas oleh Hisyam Ali ‘Uqdah, Cetakan Ketiga, Tahun 1413 H, hlm. 246)
Untuk itulah Syaikhul Islam menyatakan bahwa hisab dapat dimaksudkan sebagai perhitungan antara amal kebajikan dan amal keburukan, dan di dalamnya terkandung pengertian munaqasyah. Juga dimaksukan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan terhadap pelakunya. (Dar’u Ta’arudh Al-‘Aqli wa An-Naqli, Ibnu Taimiyyah, Tahqiq Muhammad Rasyaad Saalim, tanpa tahun, 5:229)
Baca juga: Syarhus Sunnah: Hisab dan Timbangan pada Hari Kiamat
Doa Agar Mendapatkan Hisab yang Mudah pada Hari Kiamat
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha; ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca,
اَللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَاباً يَسِيرًا
ALLOOHUMMA HAASIBNII HISAABAN YASIIROO.
Artinya: Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah.
فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ؟
قَالَ: أَنْ يُنْظَرَ فِي كِتَابِهِ فَيُتَجَاوَزَ لَهُ عَنْهُ، إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَا عَائِشَةُ يَوْمَئِذٍ هَلَكَ.
Setelah beliau selesai (dari doa itu), aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan hisab yang mudah?” Beliau menjawab, “Yaitu ketika seseorang diperlihatkan catatan amalnya, lalu Allah memaafkannya dan melewati (kesalahan-kesalahannya). Karena sesungguhnya, siapa saja yang diperiksa hisabnya secara teliti pada hari itu, wahai Aisyah, maka ia akan binasa.”
(HR. Ahmad, 6:48. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih selain pada kalimat “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca.” Tentang tambahan ini, Muhammad bin Ishaq bersendirian)
Doa ini disebutkan dalam kumpulan doa yang kami susun dari buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” yang diterbitkan oleh Rumaysho. Pesan bukunya di Rumaysho Store via WA: 0821-3626-7701 atau 0821-2000-0454 atau Marketplace Rumaysho Store.
Ayat Kesembilan
وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًا
“dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.” (QS. Al-Insyiqaq: 9)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Maksudnya, ia kembali kepada keluarganya di dalam surga dalam keadaan penuh kebahagiaan. Ia merasa sangat gembira karena telah selamat dari azab dan berhasil meraih pahala serta balasan yang mulia.
Kegembiraannya bukan sekadar karena berkumpul dengan keluarga, tetapi karena ia telah melewati hisab dengan selamat, terbebas dari siksa, dan mendapatkan kenikmatan yang abadi.
Ayat Kesepuluh
وَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهْرِهِۦ
“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang.” (QS. Al-Insyiqaq: 10)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Maksudnya, ia menerima kitabnya dengan tangan kiri dari arah belakang.
Ini adalah bentuk penghinaan dan kehinaan baginya pada hari kiamat. Ia tidak menerima kitabnya dengan tangan kanan seperti orang-orang yang berbahagia, tetapi justru dengan tangan kiri dan dari belakang punggungnya sebagai tanda kecelakaan dan kebinasaan.
Ayat Kesebelas
فَسَوْفَ يَدْعُوا۟ ثُبُورًا
“maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”.” (QS. Al-Insyiqaq: 11)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Maksudnya, ia akan memohon agar dirinya dibinasakan, karena dahsyatnya kehinaan dan rasa malu yang ia rasakan. Ia melihat sendiri dalam kitab amalnya berbagai perbuatan buruk yang pernah ia lakukan dan tidak ia tobati.
Ayat Kedua Belas
وَيَصْلَىٰ سَعِيرًا
“Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. Al-Insyiqaq: 12)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Maksudnya, api neraka akan meliputinya dari segala arah. Ia akan dibolak-balik dalam panasnya yang menyala dan merasakan azabnya yang sangat pedih.
Ayat Ketiga Belas
إِنَّهُۥ كَانَ فِىٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًا
“Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir).” (QS. Al-Insyiqaq: 13)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Maksudnya, ia dahulu bergembira di tengah keluarganya, tidak terlintas dalam benaknya tentang kebangkitan, padahal ia telah berbuat keburukan.
Ayat Keempat Belas
إِنَّهُۥ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ
“Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya).” (QS. Al-Insyiqaq: 14)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Maksudnya, ia tidak menyangka bahwa dirinya akan kembali kepada Rabbnya dan berdiri di hadapan-Nya.
Ayat Kelima Belas
بَلَىٰٓ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرًا
“(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.” (QS. Al-Insyiqaq: 15)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Maksudnya, tidaklah pantas ia dibiarkan begitu saja—tanpa diperintah dan dilarang, tanpa diberi pahala dan tanpa dihukum—karena Rabbnya Maha Melihat segala keadaannya.
Siapa yang Menerima Kitab dengan Tangan Kanan atau Kiri dari Balik Punggung?
Ada hadits yang diriwayatkan dari Shafwan bin Muhriz Al-Mazini. Ia berkata:
Ketika aku sedang berjalan bersama Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma sambil memegang tangannya, tiba-tiba seseorang mendekat dan bertanya, “Bagaimana engkau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda tentang najwa (bisikan khusus pada hari kiamat)?”
Ibnu Umar menjawab, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ، أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ
“Sesungguhnya Allah mendekatkan seorang mukmin, lalu Allah melindunginya dan menutupinya. Allah berfirman, ‘Apakah engkau ingat dosa ini? Apakah engkau ingat dosa itu?’ Ia menjawab, ‘Ya, wahai Rabbku.’ Hingga ketika Allah telah menetapkannya atas dosa-dosanya dan ia merasa dirinya pasti binasa, Allah berfirman, ‘Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan hari ini Aku mengampuninya untukmu.’ Maka ia pun diberikan kitab kebaikannya.” (HR. Bukhari, no. 2441; Muslim, no. 2768; dan Ibnu Majah, no. 183). Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan, “dengan tangan kanannya.”
Dalam riwayat lain disebutkan,
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُدْنِي الْمُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَسِتْرَهُ مِنَ النَّاسِ، وَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ قَدْ هَلَكَ، قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، ثُمَّ يُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ بِيَمِينِهِ. وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولُ الْأَشْهَادُ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ، أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ.
Sesungguhnya Allah Ta‘ala akan mendekatkan seorang mukmin kepada-Nya. Lalu Allah menaunginya dengan perlindungan dan tirai-Nya sehingga ia tertutup dari pandangan manusia. Kemudian Allah mengingatkannya satu per satu akan dosa-dosanya seraya berfirman, “Apakah engkau ingat dosa ini? Apakah engkau ingat dosa itu?”
Ia pun menjawab, “Ya, wahai Rabbku.”
Pengakuan itu terus berlangsung hingga ia benar-benar dihadapkan pada seluruh dosa-dosanya dan dalam hatinya ia merasa bahwa dirinya pasti binasa.
Namun Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu.”
Setelah itu, ia diberikan catatan amal kebaikannya dengan tangan kanannya.
Adapun orang kafir dan munafik, maka para saksi akan berkata, “Inilah orang-orang yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.” Ketahuilah, laknat Allah tertimpa atas orang-orang yang zalim. (HR. Bukhari, no. 2441; Muslim, no. 2768)
- Adapun orang-orang kafir dan munafik, maka mereka diseru di hadapan seluruh makhluk, ‘Inilah orang-orang yang dahulu berdusta terhadap Allah.’”
- Adapun para pelaku maksiat dari kalangan orang-orang bertauhid—yang masuk neraka lalu dikeluarkan darinya—maka terdapat perbedaan pendapat tentang mereka.
Sebagian ulama berpendapat bahwa mereka menerima kitab mereka dengan tangan kanan. Sebagian yang lain berpendapat bahwa mereka menerimanya dengan tangan kiri.
As-Safarini rahimahullah berkata: “Orang kafir diberikan kitabnya dengan tangan kiri dari belakang punggungnya. Orang mukmin yang bermaksiat diberikan kitabnya dengan tangan kiri dari arah depan. Sedangkan orang mukmin yang taat diberikan kitabnya dengan tangan kanan dari arah depan.
Al-Mawardi rahimahullah memastikan bahwa pendapat yang masyhur adalah orang fasik yang meninggal dalam keadaan fasik tanpa tobat menerima kitabnya dengan tangan kanan. Lalu ia menyebutkan adanya pendapat yang bersikap tawaqquf (menahan diri dalam masalah ini). Ia juga mengatakan bahwa tidak ada yang berpendapat bahwa ia menerimanya dengan tangan kiri.”
Yusuf bin ‘Umar dari kalangan Malikiyah berkata, “Para ulama berbeda pendapat tentang nasib para pelaku maksiat dari kalangan orang-orang bertauhid. Ada yang mengatakan bahwa mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka menerimanya dengan tangan kiri.”
Berdasarkan pendapat yang menyatakan bahwa mereka menerima dengan tangan kanan, muncul dua rincian pendapat lagi. Ada yang mengatakan bahwa mereka menerimanya sebelum masuk ke dalam neraka. Penerimaan itu menjadi tanda bahwa mereka tidak kekal di dalamnya. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka menerimanya setelah keluar dari neraka. Wallahu a‘lam. (Lawāmi‘ al-Anwār al-Bahiyyah, 2:183)
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana dengan seorang mukmin yang bermaksiat, apakah ia menerima kitab amalnya dengan tangan kanan atau tangan kiri?” Beliau menjawab, “Ia menerimanya dengan tangan kanan.” (Al-As’ilah al-Mulḥaqah bi Syarḥ as-Safārīniyyah, hlm. 500)
Ayat Keenam Belas
فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلشَّفَقِ
“Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja.” (QS. Al-Insyiqaq: 16)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Pada ayat ini Allah bersumpah dengan salah satu tanda kekuasaan-Nya yang tampak pada waktu malam. Dia bersumpah dengan asy-syafaq, yaitu sisa cahaya matahari yang masih terlihat setelah matahari terbenam. Cahaya kemerahan itu menjadi penanda awal datangnya malam.
Ayat Ketujuh Belas
وَٱلَّيْلِ وَمَا وَسَقَ
“dan dengan malam dan apa yang diselubunginya.” (QS. Al-Insyiqaq: 17)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Maksud ayat ini adalah Allah bersumpah demi malam dan segala sesuatu yang dihimpun serta diliputinya. Malam menutupi dan mengumpulkan berbagai makhluk di dalamnya, baik hewan-hewan maupun makhluk lainnya.
Ketika malam datang, banyak makhluk kembali ke tempatnya, berdiam diri, atau bergerak sesuai tabiatnya. Semua itu berada dalam pengaturan dan kekuasaan Allah. Sumpah ini kembali menunjukkan betapa teraturnya alam semesta di bawah kendali-Nya.
Ayat Kedelapan Belas
وَٱلْقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ
“dan dengan bulan apabila jadi purnama.” (QS. Al-Insyiqaq: 18)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Maksud ayat ini adalah Allah bersumpah demi bulan ketika ia telah sempurna cahayanya, yaitu saat bulan berada dalam keadaan purnama. Pada saat itu, cahaya bulan tampak penuh dan paling indah. Keadaan tersebut merupakan waktu ketika manfaat cahaya bulan paling besar.
Ayat Kesembilan Belas
لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ
“sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).” (QS. Al-Insyiqaq: 19)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Maksudnya, wahai manusia, kalian akan menjalani berbagai fase dan keadaan yang berbeda-beda. Dari setetes mani, kemudian menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya. Setelah itu lahir sebagai bayi, tumbuh menjadi anak kecil, lalu mencapai usia tamyiz (dapat membedakan baik dan buruk), kemudian datang masa dibebani kewajiban syariat—dengan perintah dan larangan.
Setelah itu manusia akan meninggal dunia, lalu dibangkitkan kembali, dan akhirnya diberi balasan sesuai dengan amal perbuatannya.
Berbagai tahapan kehidupan yang silih berganti ini menunjukkan bahwa Allah semata yang berhak disembah. Dialah Yang Maha Esa, yang mengatur hamba-hamba-Nya dengan penuh hikmah dan rahmat. Sedangkan manusia hanyalah makhluk yang lemah dan fakir, sepenuhnya berada di bawah pengaturan Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
Ayat Kedua Puluh
فَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
“Mengapa mereka tidak mau beriman?” (QS. Al-Insyiqaq: 20)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Setelah Allah menjelaskan berbagai tanda kekuasaan-Nya dan tahapan kehidupan manusia yang begitu jelas menunjukkan keesaan dan pengaturan-Nya, Allah pun mengajukan pertanyaan yang bernada celaan dan keheranan: mengapa mereka tidak juga beriman?
Ayat Kedua Puluh Satu
وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ ٱلْقُرْءَانُ لَا يَسْجُدُونَ ۩
“dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.” (QS. Al-Insyiqaq: 21)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Maksud ayat ini adalah ketika Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak tunduk dan tidak merendahkan diri. Mereka tidak patuh terhadap ajaran-ajarannya, tidak mengikuti perintah-perintahnya, dan tidak menjauhi larangan-larangannya.
Ayat Kedua Puluh Dua
بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُكَذِّبُونَ
“bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya).” (QS. Al-Insyiqaq: 22)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Maksud ayat ini adalah bahwa mereka bukan sekadar tidak beriman, tetapi dengan sengaja mendustakan kebenaran setelah kebenaran itu tampak jelas bagi mereka. Mereka menolak karena sikap membangkang dan keras kepala. Karena itu, tidak mengherankan jika mereka tidak beriman dan tidak tunduk kepada Al-Qur’an.
Ayat Kedua Puluh Tiga
وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُوعُونَ
“Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka).” (QS. Al-Insyiqaq: 23)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Maksud ayat ini adalah Allah Maha Mengetahui apa yang mereka simpan dalam hati mereka—baik berupa amal perbuatan maupun niat-niat yang tersembunyi. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, baik yang mereka tampakkan maupun yang mereka rahasiakan.
Allah mengetahui rahasia dan bisikan hati mereka. Karena itu, Dia akan memberikan balasan atas seluruh amal yang mereka kerjakan, sesuai dengan apa yang mereka niatkan dan lakukan.
Ayat Kedua Puluh Empat
فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
“Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih.” (QS. Al-Insyiqaq: 24)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Kata basyarah (kabar gembira) disebut demikian karena pengaruhnya tampak pada wajah (kulit) seseorang, baik berupa kegembiraan maupun kesedihan. Dalam ayat ini, kata tersebut digunakan sebagai bentuk ancaman dan celaan, karena yang diberitakan justru azab yang menyakitkan.
Inilah keadaan kebanyakan manusia: mereka mendustakan Al-Qur’an dan tidak beriman kepadanya. Maka sebagai balasan atas sikap keras kepala dan pendustaan itu, mereka diancam dengan azab yang pedih pada hari kiamat.
Ayat Kedua Puluh Lima
إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍۭ
“tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.” (QS. Al-Insyiqaq: 25)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Di antara manusia ada sekelompok orang yang diberi hidayah oleh Allah. Mereka beriman kepada Allah, menerima ajaran yang dibawa para rasul, lalu membuktikan keimanan itu dengan amal-amal saleh.
Mereka inilah yang mendapatkan pahala yang ghairu mamnūn, yaitu pahala yang tidak terputus dan tidak berkurang. Pahala itu kekal dan terus-menerus, berupa kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.
Semoga Allah beri manfaat dengan kajian tafsir Surah Al-Insyiqaq ini.
Referensi:
- Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic
—–
Senin bakda Subuh, 6 Ramadhan 1447 H
@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



