Kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Daud: Ujian Kepemimpinan dan Kemenangan Iman
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 246–252, Allah mengisahkan Bani Israil yang meminta pemimpin untuk berjihad, namun banyak yang mundur ketika ujian benar-benar datang. Dari penunjukan Thalut, kembalinya tabut yang membawa sakinah, hingga ujian sungai, Allah menampakkan siapa yang tulus dan siapa yang rapuh. Kisah ini berpuncak pada kemenangan atas Jalut dan munculnya Nabi Daud ‘alaihis salam, sebagai pelajaran bahwa kemenangan diraih dengan iman, kesabaran, dan pertolongan Allah.
Meminta Jihad, Namun Mundur Saat Diuji
Allah Ta’ala berfirman,
أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلْمَلَإِ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰٓ إِذْ قَالُوا۟ لِنَبِىٍّ لَّهُمُ ٱبْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَٰتِلْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ أَلَّا تُقَٰتِلُوا۟ ۖ قَالُوا۟ وَمَا لَنَآ أَلَّا نُقَٰتِلَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَٰرِنَا وَأَبْنَآئِنَا ۖ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ ٱلْقِتَالُ تَوَلَّوْا۟ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ
“Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 246)
Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.
Allah Ta’ala menceritakan kepada Nabi-Nya kisah para pembesar Bani Israil, yaitu kalangan terhormat dan para pemimpin mereka. Mereka disebut secara khusus karena biasanya merekalah yang paling dahulu memikirkan kepentingan bersama. Jika mereka telah sepakat dalam suatu urusan, maka orang-orang di bawah mereka akan mengikuti keputusan tersebut.
Dikisahkan bahwa mereka mendatangi seorang nabi mereka setelah wafatnya Nabi Musa ‘alaihis salam. Mereka berkata,
{ ٱبْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَٰتِلْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ }
“Angkatlah untuk kami seorang raja agar kami dapat berperang di jalan Allah.”
Maksud mereka adalah: tunjuklah seorang pemimpin yang dapat menyatukan barisan kami yang tercerai-berai, sehingga kami mampu menghadapi musuh bersama. Pada saat itu, kemungkinan besar mereka tidak memiliki seorang pemimpin tunggal yang dapat mempersatukan mereka. Sebagaimana kebiasaan kabilah-kabilah besar, masing-masing enggan dipimpin oleh tokoh dari kabilah lain. Karena itu, mereka meminta nabi mereka untuk menunjuk seorang raja yang bisa diterima semua pihak dan sesuai dengan tradisi mereka.
Pada masa itu, para nabi Bani Israil berfungsi sebagai pemimpin dan pengatur urusan mereka. Setiap kali seorang nabi wafat, digantikan oleh nabi berikutnya.
Ketika mereka menyampaikan permintaan tersebut, nabi mereka berkata,
{ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا }
“Jangan-jangan jika diwajibkan atas kalian berperang, kalian justru tidak akan melaksanakannya.”
Maksudnya, jangan sampai kalian meminta sesuatu yang kelak, ketika benar-benar diwajibkan, kalian tidak sanggup menjalaninya. Nabi mereka seakan menawarkan pilihan untuk tidak terburu-buru meminta kewajiban berat itu, namun mereka tetap bersikeras dan merasa yakin dengan tekad serta niat mereka.
Mereka menjawab,
{ وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَٰرِنَا وَأَبْنَائِنَا }
“Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami telah diusir dari negeri kami dan anak-anak kami (ditawan)?”
Artinya, apa lagi yang menghalangi kami untuk berperang? Kami sudah terusir dari tanah air kami dan anak-anak kami pun ditawan. Keadaan ini saja sudah cukup menjadi alasan bagi kami untuk berperang, meskipun itu belum diwajibkan. Maka bagaimana mungkin kami tidak berperang jika sudah benar-benar diwajibkan?
Namun, ketika niat mereka ternyata tidak tulus dan tawakal mereka kepada Allah lemah, maka apa yang dikhawatirkan itu pun terjadi. Allah berfirman,
{ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ ٱلْقِتَالُ تَوَلَّوْا }
“Maka ketika diwajibkan atas mereka berperang, mereka pun berpaling.”
Mereka menjadi pengecut, tidak berani menghadapi musuh, dan tidak sanggup menghadapi pertempuran. Tekad yang sebelumnya mereka banggakan pun sirna. Rasa lemah dan takut menguasai sebagian besar dari mereka.
Allah melanjutkan,
{ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ }
“Kecuali sedikit dari mereka.”
Hanya segelintir orang yang Allah jaga, teguhkan, dan kuatkan hatinya. Mereka benar-benar menjalankan perintah Allah dan mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh. Mereka inilah yang meraih kemuliaan dunia dan akhirat.
Adapun mayoritas mereka telah menzalimi diri sendiri dengan meninggalkan perintah Allah. Karena itulah Allah menutup ayat tersebut dengan firman-Nya,
{ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ }
“Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.”
Tidak ada satu pun kedustaan niat dan kelemahan tekad yang tersembunyi dari-Nya.
Catatan:
Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir disebutkan:
Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah, bahwa nabi yang dimaksud dalam kisah tersebut adalah Yusya’ bin Nun.
Ibnu Jarir menjelaskan bahwa ia adalah Yusya’ bin Afratsim bin Yusuf bin Ya‘qub.
Namun pendapat ini dinilai lemah. Sebab peristiwa tersebut terjadi lama setelah Nabi Musa ‘alaihis salam. Bahkan, sebagaimana disebutkan secara jelas dalam kisah itu, peristiwa tersebut terjadi pada masa Nabi Daud ‘alaihis salam. Padahal jarak waktu antara Nabi Musa dan Nabi Daud lebih dari seribu tahun. Wallahu a‘lam.
As-Suddi berpendapat bahwa nabi tersebut adalah Syam‘un.
Sedangkan Mujahid mengatakan bahwa ia adalah Nabi Syamwil ‘alaihis salam.
Pendapat ini juga dikemukakan oleh Muhammad bin Ishaq, yang meriwayatkannya dari Wahb bin Munabbih. Ia menjelaskan bahwa nasabnya adalah: Syamwil bin Bali bin ‘Alqamah bin Yarkham bin Ilyahu bin Tahu bin Shuf bin ‘Alqamah bin Mahats bin ‘Amusha bin ‘Azarya bin Shafniyah bin ‘Alqamah bin Abi Yasaf bin Qarun bin Yashar bin Qahits bin Lawi bin Ya‘qub bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil ‘alaihis salam.
Hakikat Kepemimpinan: Ilmu dan Kekuatan, Bukan Harta
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ٱللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوٓا۟ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ ٱلْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِٱلْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ ٱلْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُۥ بَسْطَةً فِى ٱلْعِلْمِ وَٱلْجِسْمِ ۖ وَٱللَّهُ يُؤْتِى مُلْكَهُۥ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247)
Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.
Allah berfirman tentang jawaban nabi mereka atas permintaan Bani Israil:
{ وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ٱللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا }
“Dan nabi mereka berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut sebagai raja bagi kalian.’”
Ini adalah penunjukan langsung dari Allah. Seharusnya mereka menerima dengan patuh, tunduk, dan tidak membantah. Namun, mereka justru menolak dan mengajukan keberatan.
Mereka berkata:
{ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ ٱلْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِٱلْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ ٱلْمَالِ }
“Bagaimana mungkin ia menjadi raja atas kami, padahal kami lebih berhak atas kerajaan itu darinya, dan ia pun tidak diberi kelapangan harta?”
Maksud mereka, bagaimana mungkin ia memimpin kami, sementara dari sisi nasab dan kedudukan sosial ia tidak lebih mulia daripada kami? Bahkan ia juga bukan orang kaya yang memiliki harta cukup untuk menopang kekuasaan.
Keberatan ini dibangun atas anggapan yang keliru. Mereka mengira bahwa kepemimpinan dan kekuasaan harus didasarkan pada kemuliaan nasab dan banyaknya harta. Mereka tidak memahami bahwa kualitas hakiki yang menjadikan seseorang layak memimpin jauh lebih utama daripada sekadar keturunan dan kekayaan.
Karena itu nabi mereka menjawab:
{ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰهُ عَلَيْكُمْ }
“Sesungguhnya Allah telah memilihnya atas kalian.”
Artinya, Allah sendirilah yang memilihnya. Maka kewajiban kalian adalah tunduk dan menerima keputusan tersebut.
Kemudian beliau menjelaskan alasan pemilihannya:
{ وَزَادَهُۥ بَسْطَةً فِي ٱلْعِلْمِ وَٱلْجِسْمِ }
“Dan Allah menganugerahkan kepadanya kelebihan dalam ilmu dan fisik.”
Thalut diberi keunggulan dalam keluasan ilmu serta kekuatan jasmani. Dua hal inilah yang sangat menentukan keberhasilan seorang pemimpin. Dengan ilmu, ia memiliki pandangan yang matang, kebijaksanaan, dan keputusan yang tepat. Dengan kekuatan fisik, ia mampu menegakkan keputusan itu dan menghadapi berbagai tantangan.
Jika seorang pemimpin kuat secara fisik tetapi lemah dalam pemikiran, maka kekuasaan akan berubah menjadi tindakan sewenang-wenang, keras tanpa hikmah, dan menyimpang dari kebenaran. Sebaliknya, jika ia cerdas dan berilmu tetapi tidak memiliki kekuatan untuk menegakkan keputusannya, maka ilmunya tidak akan memberi manfaat dalam praktik kepemimpinan.
Allah menutup penjelasan itu dengan firman-Nya,
{ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ }
“Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Artinya, Allah Mahaluas karunia dan anugerah-Nya. Dia tidak membatasi rahmat-Nya hanya pada orang tertentu, tidak pula hanya kepada kalangan terpandang atau kaya. Namun, Allah Maha Mengetahui siapa yang pantas menerima karunia tersebut dan menempatkannya pada tempat yang tepat.
Dengan penjelasan ini, gugurlah semua keraguan, syubhat, dan keberatan yang ada di hati mereka. Sebab telah jelas bahwa sebab-sebab kepemimpinan ada pada Thalut, dan bahwa karunia Allah diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya dan tidak ada yang mampu menghalangi kebaikan-Nya.
Catatan:
Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:
- Thalut bukan dari jalur keluarga raja. Ia seorang yang miskin, tidak memiliki harta yang dianggap cukup untuk menopang kekuasaan. Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa ia dahulu bekerja sebagai pengambil air (penyedia air), dan ada pula yang mengatakan ia seorang penyamak kulit.
- Thalut diberi keunggulan dibanding kalian: lebih berilmu, lebih mulia penampilan dan kepribadiannya, lebih kuat fisiknya, lebih sabar dalam peperangan, serta lebih paham urusan perang. Dengan kata lain, ia lebih sempurna dalam ilmu dan postur dibanding kalian.
- Dari sini dapat dipahami bahwa seorang raja atau pemimpin idealnya memiliki ilmu, penampilan yang baik (wibawa), dan kekuatan fisik serta mental yang besar.
Tanda Kekuasaan Thalut: Datangnya Tabut yang Membawa Sakinah
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِۦٓ أَن يَأْتِيَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَىٰ وَءَالُ هَٰرُونَ تَحْمِلُهُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 248)
Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.
Kemudian nabi mereka juga menyebutkan kepada mereka sebuah tanda yang nyata dan bisa mereka saksikan langsung, yaitu kembalinya tabut (peti suci) yang telah lama hilang dari tengah-tengah mereka.
Di dalam tabut itu terdapat ketenangan (sakinah) yang membuat hati mereka menjadi tenteram dan pikiran mereka menjadi tenang. Di dalamnya juga terdapat peninggalan dari keluarga Nabi Musa dan keluarga Nabi Harun ‘alaihimassalam, berupa sisa-sisa warisan yang mulia.
Allah berfirman tentang tanda tersebut,
{ وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَىٰ وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ ٱلْمَلَائِكَةُ }
“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat.’”
Tabut itu benar-benar datang dalam keadaan dibawa oleh para malaikat, sementara mereka menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Ini menjadi bukti yang sangat jelas dan tanda yang tidak bisa dibantah lagi tentang kebenaran kepemimpinan Thalut.
Catatan: Dalam kisah Thalut dan Jalut (QS. Al-Baqarah: 248), Tabut (peti/kotak) adalah peti suci peninggalan Nabi Musa dan Harun yang membawa sakinah (ketenangan) dan sisa warisan berharga dari keluarga mereka. Tabut ini menjadi simbol kepemimpinan, legitimasi kekuasaan Thalut, serta wahyu Allah yang memberikan kekuatan dan ketenteraman hati bagi Bani Israil dalam menghadapi peperangan.
Ketika Allah Menguji Pasukan Thalut
Allah Ta’ala berfirman,
فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِٱلْجُنُودِ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّى وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُۥ مِنِّىٓ إِلَّا مَنِ ٱغْتَرَفَ غُرْفَةًۢ بِيَدِهِۦ ۚ فَشَرِبُوا۟ مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُۥ هُوَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ قَالُوا۟ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ ۚ قَالَ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُوا۟ ٱللَّهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةًۢ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku”. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.” (QS. Al-Baqarah: 249)
Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.
Maksudnya, ketika Thalut telah resmi menjadi raja atas Bani Israil dan kekuasaannya telah stabil, mereka pun bersiap untuk menghadapi musuh. Saat Thalut berangkat bersama pasukan Bani Israil—yang jumlahnya sangat banyak—Allah memerintahkan agar mereka diuji, supaya tampak siapa yang teguh dan siapa yang lemah.
Thalut berkata:
{ إِنَّ ٱللَّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّيٓ إِلَّا مَنِ ٱغْتَرَفَ غُرْفَةًۢ بِيَدِهِ }
“Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.”
Artinya, siapa yang minum secara berlebihan dari sungai itu, berarti ia telah melanggar perintah dan tidak layak ikut dalam barisan. Sebab ia tidak mampu bersabar dan tidak teguh dalam ketaatan. Adapun yang tidak meminumnya sama sekali, ia termasuk golongan yang taat. Sementara yang hanya mengambil satu cidukan dengan tangan, tidak mengapa. Bisa jadi Allah menjadikan sedikit air itu cukup baginya.
Ujian ini menunjukkan bahwa persediaan air ketika itu sangat terbatas, sehingga benar-benar menjadi sarana penyaringan yang nyata. Namun mayoritas mereka gagal. Mereka minum sebanyak-banyaknya dari sungai tersebut, melanggar larangan, lalu akhirnya kembali pulang dan mundur dari medan perang.
Ketidakmampuan mereka menahan diri dari air hanya dalam waktu singkat menjadi bukti bahwa mereka tidak akan sanggup bersabar menghadapi peperangan panjang dan berat. Mundurnya sebagian besar pasukan justru membuat orang-orang yang tersisa semakin bertawakal kepada Allah, semakin merendahkan diri, dan semakin melepaskan ketergantungan pada kekuatan pribadi. Dengan jumlah yang sedikit dan musuh yang jauh lebih besar, kesabaran mereka justru semakin kuat.
Allah berfirman,
{ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَٱلَّذِينَ آمَنُوا۟ مَعَهُ }
“Maka ketika ia (Thalut) dan orang-orang beriman bersamanya telah menyeberangi sungai itu…”
Yaitu mereka yang taat dan tidak melanggar perintah minum. Ketika mereka melihat betapa sedikitnya jumlah mereka dan betapa banyaknya musuh, sebagian dari mereka berkata,
{ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ }
“Kami tidak sanggup pada hari ini menghadapi Jalut dan pasukannya.”
Mereka merasa gentar melihat jumlah dan persenjataan musuh.
Namun orang-orang yang yakin akan pertemuan dengan Allah—yaitu mereka yang imannya kokoh dan keyakinannya kuat—menenangkan dan menasihati yang lain dengan berkata,
{ كَم مِّن فِئَةٍۢ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةًۭ كَثِيرَةًۢ بِإِذْنِ ٱللَّهِ }
“Betapa banyak kelompok kecil mampu mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.”
Maksudnya, kemenangan bukan ditentukan oleh jumlah. Segala urusan berada di tangan Allah. Siapa yang dimuliakan Allah, dialah yang mulia; siapa yang dihinakan-Nya, dialah yang hina. Banyaknya jumlah tidak berguna jika Allah tidak menolong, dan sedikitnya jumlah tidak berbahaya jika Allah memberikan pertolongan.
Baca juga: Perang Hunain: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan
Allah menegaskan,
{ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ }
“Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.”
Kebersamaan Allah di sini adalah dalam bentuk pertolongan, bantuan, dan taufik. Sebab yang paling besar mendatangkan pertolongan Allah adalah kesabaran seorang hamba karena Allah.
Baca juga: Allah Di Atas ‘Arsy-Nya, Namun Allah juga Bersama dan Dekat dengan Hamba-Nya
Nasihat itu pun meresap ke dalam hati mereka, menguatkan tekad, dan menghidupkan kembali keberanian dalam jiwa mereka.
Tidak Bersandar kepada Jumlah dan Kemampuan Diri, Bersandarlah kepada Allah
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَمَّا بَرَزُوا۟ لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ قَالُوا۟ رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ
“Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”.” (QS. Al-Baqarah: 250)
Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.
Karena itu, ketika mereka telah benar-benar berhadapan dengan Jalut dan pasukannya, mereka semua berdoa dengan penuh kerendahan hati:
{ رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَافِرِينَ }
RABBANAA AFRIGH ‘ALAINAA SHABRAN WA TSABBIT AQDAAMANAA WANSHURNAA ‘ALAL QAUMIL KAAFIRIIN
“Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”
Maksudnya, kuatkanlah hati kami, karuniakanlah kepada kami kesabaran yang sempurna, dan jangan Engkau biarkan kami goyah atau lari dari medan pertempuran. Teguhkanlah langkah kami agar tetap kokoh dalam menghadapi musuh, dan berikanlah kemenangan atas orang-orang kafir.
Doa ini menunjukkan bahwa mereka tidak lagi bersandar pada kekuatan jumlah atau kemampuan diri, tetapi sepenuhnya menggantungkan harapan kepada Allah. Mereka memohon kekuatan hati sebelum meminta kemenangan, karena kemenangan sejati lahir dari kesabaran dan keteguhan yang Allah tanamkan dalam jiwa hamba-Nya.
Saat Daud Menumbangkan Jalut
Allah Ta’ala berfirman,
فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ ٱللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ جَالُوتَ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ وَٱلْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُۥ مِمَّا يَشَآءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ ٱلْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ
“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (QS. Al-Baqarah: 251)
Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.
Dari kisah ini kita mengetahui bahwa Jalut dan pasukannya adalah orang-orang kafir. Allah pun mengabulkan doa kaum beriman itu, karena mereka telah menempuh sebab-sebab yang mendatangkan pertolongan: bersabar, bertawakal, dan memohon kepada-Nya.
Allah berfirman,
{ فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ ٱللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ جَالُوتَ }
“Maka mereka mengalahkan musuh-musuhnya dengan izin Allah, dan Dawud membunuh Jalut.”
Nabi Daud ‘alaihis salam ketika itu berada di barisan pasukan Thalut. Beliaulah yang secara langsung membunuh Jalut, raja kaum kafir, dengan tangannya sendiri. Hal itu menunjukkan keberanian, kekuatan, dan kesabarannya.
Kemudian Allah berfirman,
{ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ وَٱلْحِكْمَةَ }
“Dan Allah menganugerahinya kerajaan dan hikmah.”
Artinya, Allah memberikan kepada Daud kekuasaan atas Bani Israil sekaligus hikmah, yaitu kenabian yang mengandung syariat agung dan jalan yang lurus.
Selanjutnya Allah berfirman:
{ وَعَلَّمَهُۥ مِمَّا يَشَآءُ }
“Dan Allah mengajarinya apa yang Dia kehendaki.”
Yakni Allah mengajarkan kepadanya berbagai ilmu, baik ilmu syariat maupun ilmu pemerintahan dan strategi. Pada diri Daud terkumpul dua kemuliaan sekaligus: kerajaan dan kenabian. Padahal sebelumnya, pada sebagian nabi, kekuasaan berada di tangan orang lain. Namun Allah menghendaki pada Daud terkumpul keduanya.
Setelah Allah memberikan kemenangan, mereka pun hidup tenteram di negeri mereka. Mereka dapat beribadah kepada Allah dengan aman dan tenang, karena musuh-musuh mereka telah dikalahkan dan mereka diberi kekuasaan di bumi. Semua itu adalah buah dari jihad di jalan Allah. Seandainya jihad tidak disyariatkan, niscaya keadaan aman dan kemuliaan itu tidak akan terwujud.
Karena itu Allah berfirman,
{ وَلَوْلَا دَفْعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ ٱلْأَرْضُ }
“Dan seandainya Allah tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini.”
Artinya, seandainya Allah tidak menahan kejahatan orang-orang fajir dan kekafiran orang-orang kafir melalui kaum beriman yang berjuang di jalan-Nya, niscaya bumi akan rusak. Orang-orang kafir akan menguasainya, menegakkan syiar kekafiran, serta menghalangi manusia dari beribadah kepada Allah dan menampakkan agama-Nya.
Namun Allah menutup ayat tersebut dengan firman-Nya,
{ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ }
“Tetapi Allah memiliki karunia yang besar atas seluruh alam.”
Di antara karunia-Nya adalah disyariatkannya jihad yang menjadi sebab kebahagiaan manusia dan perlindungan mereka. Allah pula yang memberikan kekuasaan di bumi melalui sebab-sebab yang mereka ketahui dan sebab-sebab lain yang tidak mereka ketahui.
Pelajaran dari Kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Daud ‘alaihis salam
Allah Ta’ala berfirman,
تِلْكَ ءَايَٰتُ ٱللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِٱلْحَقِّ ۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ
“Itu adalah ayat-ayat dari Allah, Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus.” (QS. Al-Baqarah: 252)
Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.
Kemudian Allah Ta’ala berfirman:
{ تِلْكَ آيَاتُ ٱللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِٱلْحَقِّ }
“Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan benar.”
Maksudnya, kisah-kisah itu adalah ayat-ayat Allah yang dibacakan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan penuh kebenaran, tanpa keraguan sedikit pun. Di dalamnya terkandung pelajaran, perenungan, dan penjelasan hakikat berbagai peristiwa.
Lalu Allah menegaskan:
{ وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ }
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar termasuk para rasul.”
Ini adalah persaksian langsung dari Allah atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ. Di antara bukti kerasulan beliau adalah kisah-kisah umat terdahulu, para nabi, pengikut mereka, serta musuh-musuh mereka yang Allah ceritakan kepadanya. Tanpa wahyu dari Allah, beliau tidak mungkin mengetahui semua itu. Bahkan kaumnya pun tidak memiliki pengetahuan tentang rincian kisah tersebut. Ini menjadi bukti nyata bahwa beliau adalah Rasul yang benar, diutus dengan membawa kebenaran dan agama yang benar, untuk dimenangkan atas seluruh agama, walaupun orang-orang musyrik membencinya.
Dalam kisah ini terdapat banyak tanda dan pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Di antaranya:
Pertama, pentingnya persatuan para pemimpin dan tokoh masyarakat (ahlul halli wal ‘aqdi), duduk bersama mencari jalan terbaik untuk memperbaiki keadaan, memahaminya dengan baik, lalu mengamalkannya. Itulah sebab besar kemajuan dan tercapainya tujuan. Hal ini tampak ketika para pembesar Bani Israil meminta kepada nabi mereka agar ditunjuk seorang raja yang dapat menyatukan barisan dan menghimpun kekuatan mereka.
Kedua, kebenaran itu semakin jelas ketika diuji dan diserang dengan berbagai syubhat. Justru ketika muncul keberatan dan pertanyaan, lalu dijawab dengan argumen yang kuat, keyakinan menjadi semakin mantap. Sebagaimana terjadi ketika mereka mempersoalkan kelayakan Thalut menjadi raja, lalu dijelaskan dengan dalil yang menenangkan hati dan menghilangkan keraguan.
Ketiga, ilmu dan kebijaksanaan yang disertai dengan kekuatan untuk mengeksekusinya adalah kesempurnaan dalam kepemimpinan. Jika salah satunya hilang, maka kepemimpinan akan pincang dan membawa mudarat.
Keempat, bersandar pada kemampuan diri sendiri menjadi sebab kegagalan dan kehinaan. Sebaliknya, meminta pertolongan kepada Allah, bersabar, dan bergantung kepada-Nya adalah sebab kemenangan.
Yang pertama tampak dalam ucapan mereka,
{ وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا }
“Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami telah diusir dari negeri kami dan anak-anak kami?”
Seolah-olah mereka yakin pada diri sendiri. Namun ketika benar-benar diwajibkan berperang, mereka justru berpaling.
Adapun sikap yang kedua tampak dalam doa orang-orang beriman ketika berhadapan dengan Jalut dan tentaranya,
{ وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ قَالُوا رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ ٱللَّهِ }
“Dan ketika mereka maju menghadapi Jalut dan tentaranya, mereka berdoa: ‘Wahai Rabb kami, limpahkanlah kepada kami kesabaran, teguhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.’ Maka mereka pun mengalahkan musuh-musuhnya dengan izin Allah.”
Kelima, termasuk hikmah Allah adalah membedakan yang buruk dari yang baik, yang jujur dari yang dusta, yang sabar dari yang pengecut. Allah tidak membiarkan manusia bercampur tanpa ujian dan tanpa penyaringan.
Keenam, termasuk rahmat dan sunnatullah yang berlaku adalah bahwa Allah menolak kerusakan dan bahaya orang-orang kafir serta munafik melalui orang-orang beriman yang berjuang. Seandainya tidak demikian, niscaya bumi ini rusak karena kekuasaan kekafiran dan simbol-simbolnya yang merajalela.
Semoga kisah ini meneguhkan hati kita untuk selalu tunduk pada pilihan Allah, tidak terpedaya oleh jumlah dan kemampuan diri, serta istiqamah bersabar di saat ujian.
Ya Allah, limpahkan kepada kami kesabaran, teguhkan langkah kami dalam ketaatan, dan tolonglah kami atas hawa nafsu serta segala kebatilan. Jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas, kuat tawakalnya, dan Engkau anugerahi ketenteraman serta kemenangan dengan izin-Mu. Aamiin.
Referensi:
- Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic
- Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic
—–
Jumat di waktu sahur, 3 Ramadhan 1447 H @ Makkah Al-Mukarramah
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



