14 Cara Menumbuhkan Rasa Takut kepada Allah yang Benar dan Menyelamatkan
Rasa takut kepada Allah (khauf) adalah salah satu amal hati yang paling agung dan menjadi tanda hidupnya iman dalam dada seorang hamba. Ia bukan sekadar rasa cemas, tetapi dorongan kuat untuk menjauhi dosa dan mendekat kepada ketaatan. Dalam Islam, rasa takut ini berjalan seiring dengan cinta dan harapan kepada Allah, sehingga membentuk keseimbangan dalam ibadah seorang mukmin.
1. Membaca Al-Qur’an dan mentadabburi maknanya
Allah Ta‘ala berfirman,
قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا * وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا * وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا
“Katakanlah (Muhammad), ‘Berimanlah kamu kepadanya (Al-Qur’an) atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).’ Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya, apabila (Al-Qur’an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, bersujud, dan mereka berkata, ‘Mahasuci Tuhan kami, sungguh janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS. Al-Isrā’: 107–109)
Allah Ta’ala berfirman pula,
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا
“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkut bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat (Allah) Yang Maha Pengasih, mereka menyungkur bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58)
2. Menyadari besarnya dosa dan bahayanya
Dari Ibnu Mas‘ūd radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا
“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seperti orang yang duduk di bawah gunung, ia khawatir gunung itu akan jatuh menimpanya. Sedangkan orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu ia mengusirnya dengan ringan seperti ini.” (HR. Bukhari, no. 6308)
3. Bertakwa kepada Allah Ta‘ala
Yaitu dengan melakukan ketaatan dan meninggalkan kemungkaran serta hal-hal yang diharamkan. Hal ini akan menanamkan rasa takut dalam hati, menghidupkannya setelah mati, serta menyibukkan hati dengan mencintai Allah, mencari keridaan-Nya, dan takut terhadap murka-Nya.
4. Mengagungkan larangan-larangan Allah
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
الْخَوْفُ الْمَحْمُودُ الصَّادِقُ: مَا حَالَ بَيْنَ صَاحِبِهِ وَبَيْنَ مَحَارِمِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا تَجَاوَزَ ذَلِكَ خِيفَ مِنْهُ الْيَأْسُ وَالْقُنُوطُ
“Rasa takut yang terpuji dan benar adalah yang mampu menghalangi seseorang dari melanggar larangan Allah. Jika rasa takut itu melewati batas tersebut, maka dikhawatirkan akan menjerumuskan pada keputusasaan dan berputus asa.”
Abu ‘Utsman berkata:
صِدْقُ الْخَوْفِ: هُوَ الْوَرَعُ عَنِ الْآثَامِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا
“Rasa takut yang benar adalah sikap wara‘, yaitu meninggalkan dosa, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.”
Dan aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah—semoga Allah menyucikan ruhnya—berkata:
الْخَوْفُ الْمَحْمُودُ مَا حَجَزَكَ عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ
“Rasa takut yang terpuji adalah yang mampu menahanmu dari melanggar larangan Allah.”
5. Mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya:
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
كُلَّمَا كَانَ الْعَبْدُ بِاللَّهِ أَعْلَمَ، كَانَ لَهُ أَخْوَفَ. قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: كَفَى بِخَشْيَةِ اللَّهِ عِلْمًا. وَنُقْصَانُ الْخَوْفِ مِنَ اللَّهِ إِنَّمَا هُوَ لِنُقْصَانِ مَعْرِفَةِ الْعَبْدِ بِهِ، فَأَعْرَفُ النَّاسِ أَخْشَاهُمْ لِلَّهِ، وَمَنْ عَرَفَ اللَّهَ اشْتَدَّ حَيَاؤُهُ مِنْهُ وَخَوْفُهُ لَهُ وَحُبُّهُ لَهُ، وَكُلَّمَا ازْدَادَ مَعْرِفَةً ازْدَادَ حَيَاءً وَخَوْفًا وَحُبًّا
“Semakin seorang hamba mengenal Allah, maka semakin besar rasa takutnya kepada-Nya. Ibnu Mas‘ūd berkata: ‘Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai tanda ilmu.’ Berkurangnya rasa takut kepada Allah hanyalah karena kurangnya pengenalan seorang hamba kepada-Nya. Orang yang paling mengenal Allah adalah yang paling takut kepada-Nya. Siapa yang mengenal Allah, maka akan semakin besar rasa malunya kepada-Nya, rasa takutnya, dan cintanya kepada-Nya. Semakin bertambah pengenalannya, semakin bertambah pula rasa malu, takut, dan cintanya.”
6. Mengetahui keutamaan orang-orang yang takut kepada Allah
Allah Ta‘ala berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfāl: 2)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّىٰ يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ، وَلَا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ
“Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, sampai air susu kembali ke dalam ambingnya. Dan tidak akan berkumpul debu di jalan Allah dengan asap neraka Jahannam.” (HR. Tirmidzi no. 1633, An-Nasa’i no. 3108; dinyatakan sahih oleh Al-Albani).
Dari beliau juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ … وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya… di antaranya: seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian, lalu kedua matanya meneteskan air mata.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)
7. Merenungkan keadaan orang-orang yang takut kepada Allah
Yaitu dengan melihat bagaimana mereka mencapai kedudukan tersebut melalui iman, amal saleh, qiyamul lail, puasa di siang hari, dan menangis karena takut kepada Allah.
Al-Ghazali rahimahullah berkata,
مَعْرِفَةُ سِيَرِ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّحَابَةِ فِيهَا التَّخْوِيفُ وَالتَّحْذِيرُ، وَهُوَ سَبَبٌ لِإِثَارَةِ الْخَوْفِ مِنَ اللَّهِ، فَإِنْ لَمْ يُؤَثِّرْ فِي الْحَالِ أَثَّرَ فِي الْمَآلِ
“Mengenal kisah para nabi dan sahabat mengandung peringatan dan rasa takut. Itu menjadi sebab tumbuhnya rasa takut kepada Allah. Jika tidak langsung berpengaruh saat ini, maka akan berpengaruh pada akhirnya.”
Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata,
مَنْ عَلِمَ عَظَمَةَ الْإِلَهِ زَادَ وَجَلُهُ، وَمَنْ خَافَ نِقَمَ رَبِّهِ حَسُنَ عَمَلُهُ، فَالْخَوْفُ يَسْتَخْرِجُ دَاءَ الْبَطَالَةِ وَيَشْفِيهِ، وَهُوَ نِعْمَ الْمُؤَدِّبُ لِلْمُؤْمِنِ وَيَكْفِيهِ. قَالَ الْحَسَنُ: صَحِبْتُ أَقْوَامًا كَانُوا لِحَسَنَاتِهِمْ أَنْ تُرَدَّ عَلَيْهِمْ أَخْوَفَ مِنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ أَنْ تُعَذَّبُوا بِهَا
“Siapa yang mengetahui keagungan Allah, maka akan bertambah rasa takutnya. Siapa yang takut terhadap hukuman Rabb-nya, maka akan baik amalnya. Rasa takut itu mampu mengeluarkan penyakit malas dan menyembuhkannya. Ia adalah pendidik terbaik bagi seorang mukmin dan sudah cukup baginya.
Al-Hasan berkata,
صَحِبْتُ أَقْوَامًا كَانُوا لِحَسَنَاتِهِمْ أَنْ تُرَدَّ عَلَيْهِمْ أَخْوَفَ مِنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ أَنْ تُعَذَّبُوا بِهَا
‘Aku pernah bersama suatu kaum yang mereka lebih takut amal kebaikan mereka ditolak, daripada kalian takut akan disiksa karena dosa-dosa kalian.’”
8. Merenungkan ayat-ayat tentang azab dan ancaman
Yaitu dengan memperhatikan ayat-ayat yang berisi ancaman, gambaran tentang neraka, keadaan para penghuninya, serta penderitaan, kesengsaraan, dan azab yang terus-menerus mereka rasakan.
9. Menyadari kedudukan diri yang lemah dan hina
Hendaknya seseorang mengetahui bahwa dirinya lemah dan hina. Jika Allah menghendaki, Dia bisa segera menghukumnya. Maka orang yang menyadari hal ini seharusnya selalu merasa takut kepada Rabb-nya.
Al-Ghazali rahimahullah berkata,
الْخَوْفُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى تَارَةً يَكُونُ لِمَعْرِفَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَمَعْرِفَةِ صِفَاتِهِ وَأَنَّهُ لَوْ أَهْلَكَ الْعَالَمِينَ لَمْ يُبَالِ وَلَمْ يَمْنَعْهُ مَانِعٌ، وَتَارَةً يَكُونُ لِكَثْرَةِ الْجِنَايَةِ مِنَ الْعَبْدِ بِمُقَارَفَةِ الْمَعَاصِي، وَتَارَةً يَكُونُ بِهِمَا جَمِيعًا، وَبِحَسَبِ مَعْرِفَتِهِ بِعُيُوبِ نَفْسِهِ وَمَعْرِفَتِهِ بِجَلَالِ اللَّهِ تَعَالَى وَاسْتِغْنَائِهِ؛ فَأَخْوَفُ النَّاسِ لِرَبِّهِ أَعْرَفُهُمْ بِنَفْسِهِ وَبِرَبِّهِ
“Rasa takut kepada Allah Ta‘ala terkadang muncul karena mengenal Allah dan mengetahui sifat-sifat-Nya, bahwa jika Dia membinasakan seluruh makhluk, Dia tidak akan peduli dan tidak ada yang bisa menghalangi-Nya. Terkadang rasa takut itu muncul karena banyaknya kesalahan dan dosa yang dilakukan seorang hamba. Terkadang pula muncul karena kedua hal tersebut sekaligus. Semakin seseorang mengenal kekurangan dirinya dan keagungan Allah serta kemandirian-Nya, maka semakin besar pula rasa takutnya. Oleh karena itu, orang yang paling takut kepada Rabb-nya adalah yang paling mengenal dirinya dan Rabb-nya.”
10. Merenungkan keadaan orang-orang zalim dan pelaku maksiat
Yaitu memperhatikan bagaimana keadaan orang-orang yang telah diazab oleh Allah karena dosa-dosa mereka. Ke mana mereka sekarang? Bagaimana kondisi mereka setelah azab datang secara tiba-tiba?
Allah Ta‘ala berfirman:
وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْنٍ هَلْ تُحِسُّ مِنْهُمْ مِنْ أَحَدٍ أَوْ تَسْمَعُ لَهُمْ رِكْزًا
“Dan berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan. Adakah kamu melihat seorang pun dari mereka atau kamu mendengar suara mereka yang samar-samar?” (QS. Maryam: 98)
11. Merenungkan keadaan manusia pada hari ketakutan yang besar
Yaitu hari ketika manusia berada dalam kesulitan yang sangat dahsyat.
Allah Ta‘ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ * يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُمْ بِسُكَارَىٰ وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu; sungguh, guncangan hari kiamat itu adalah sesuatu yang sangat besar. (Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya, semua perempuan yang menyusui akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan seperti mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.” (QS. Al-Hajj: 1–2)
Dan Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِمَنْ خَافَ عَذَابَ الْآخِرَةِ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut akan azab akhirat. Itulah hari ketika semua manusia dikumpulkan, dan itulah hari yang disaksikan (oleh semua makhluk).” (QS. Hūd: 103)
12. Mendengarkan nasihat yang menyentuh hati dan melembutkan jiwa:
Dari Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu—salah seorang yang mudah menangis—ia berkata:
وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ، وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang sangat menyentuh, hingga air mata pun bercucuran dan hati menjadi takut.” (HR. Tirmidzi no. 2676, Abu Dawud no. 4607, Ibnu Majah no. 42; dinyatakan sahih oleh Al-Albani)
13. Memperbanyak zikir kepada Allah
Banyak berzikir akan menghadirkan dalam hati keagungan Allah, kebesaran-Nya, pengawasan-Nya, kecintaan kepada-Nya, dan rasa malu kepada-Nya. Semua itu akan melahirkan rasa takut kepada-Nya, takut terhadap azab-Nya, dan takut akan terhalang dari kebaikan-Nya.
14. Takut akan datangnya hukuman secara tiba-tiba dan tidak diberi kesempatan untuk bertobat
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,
يَنْشَأُ – يَعْنِي الْخَوْفَ – مِنْ ثَلَاثَةِ أُمُورٍ:
أَحَدُهَا: مَعْرِفَتُهُ بِالْجِنَايَةِ وَقُبْحِهَا.
“Rasa takut—maksudnya—muncul dari tiga hal:
Pertama, mengetahui dosa dan keburukannya.
وَالثَّانِي: تَصْدِيقُ الْوَعِيدِ، وَأَنَّ اللَّهَ رَتَّبَ عَلَى الْمَعْصِيَةِ عُقُوبَتَهَا.
Kedua, membenarkan ancaman, bahwa Allah menetapkan hukuman atas maksiat.
وَالثَّالِثُ: أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ لَعَلَّهُ يُمْنَعُ مِنَ التَّوْبَةِ، وَيُحَالُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِذَا ارْتَكَبَ الذَّنْبَ.
Ketiga, tidak tahu apakah ia akan diberi kesempatan untuk bertobat atau justru dihalangi darinya ketika melakukan dosa.
فَبِهَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ يَتِمُّ لَهُ الْخَوْفُ، وَبِحَسَبِ قُوَّتِهَا وَضَعْفِهَا تَكُونُ قُوَّةُ الْخَوْفِ وَضَعْفُهُ.
Dengan tiga hal ini, sempurnalah rasa takut. Kuat dan lemahnya rasa takut tergantung pada kuat atau lemahnya tiga hal tersebut.
فَإِنَّ الْحَامِلَ عَلَى الذَّنْبِ إِمَّا أَنْ يَكُونَ عَدَمَ عِلْمِهِ بِقُبْحِهِ، وَإِمَّا عَدَمَ عِلْمِهِ بِسُوءِ عَاقِبَتِهِ، وَإِمَّا أَنْ يَجْتَمِعَ لَهُ الْأَمْرَانِ لَكِنْ يَحْمِلُهُ عَلَيْهِ اتِّكَالُهُ عَلَى التَّوْبَةِ، وَهُوَ الْغَالِبُ مِنْ ذُنُوبِ أَهْلِ الْإِيمَانِ.
Pendorong seseorang melakukan dosa biasanya karena tidak mengetahui buruknya dosa itu, atau tidak mengetahui akibat buruknya, atau keduanya diketahui tetapi ia bergantung pada harapan untuk bertobat—dan ini yang paling banyak terjadi pada orang beriman.
فَإِذَا عَلِمَ قُبْحَ الذَّنْبِ، وَعَلِمَ سُوءَ مَغَبَّتِهِ، وَخَافَ أَنْ لَا يُفْتَحَ لَهُ بَابُ التَّوْبَةِ، بَلْ يُمْنَعُهَا وَيُحَالُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا: اشْتَدَّ خَوْفُهُ. هَذَا قَبْلَ الذَّنْبِ؛ فَإِذَا عَمِلَهُ كَانَ خَوْفُهُ أَشَدَّ.
Jika seseorang mengetahui buruknya dosa, mengetahui akibatnya yang jelek, dan takut tidak diberi kesempatan untuk bertobat—bahkan dihalangi darinya—maka akan semakin kuat rasa takutnya. Ini sebelum melakukan dosa; jika sudah melakukannya, maka rasa takutnya akan lebih besar lagi.
وَبِالْجُمْلَةِ فَمَنْ اسْتَقَرَّ فِي قَلْبِهِ ذِكْرُ الدَّارِ الْآخِرَةِ وَجَزَائِهَا، وَذِكْرُ الْمَعْصِيَةِ وَالتَّوَعُّدِ عَلَيْهَا، وَعَدَمُ الْوُثُوقِ بِإِتْيَانِهِ بِالتَّوْبَةِ النَّصُوحِ: هَاجَ فِي قَلْبِهِ مِنَ الْخَوْفِ مَا لَا يَمْلِكُهُ وَلَا يُفَارِقُهُ حَتَّى يَنْجُو
Kesimpulannya, siapa yang dalam hatinya tertanam ingatan tentang akhirat dan balasannya, ingatan tentang dosa dan ancaman atasnya, serta tidak merasa yakin bisa melakukan tobat yang sungguh-sungguh, maka akan bangkit dalam hatinya rasa takut yang tidak bisa ia kendalikan dan tidak akan hilang darinya hingga ia selamat.” (Thariq Al-Hijratain, hlm. 283)
Nasihat Penutup
Di zaman sekarang, banyak manusia merasa aman dari dosa karena terlalu berharap pada ampunan tanpa disertai rasa takut kepada Allah. Ada pula yang sebaliknya—terlalu takut hingga putus asa dari rahmat-Nya. Padahal, hati yang selamat adalah hati yang memadukan antara cinta, harapan, dan rasa takut kepada Allah secara seimbang.
Rasa takut yang benar akan menjauhkan kita dari maksiat yang sering dianggap ringan: dosa digital, pandangan haram, lalai dari dzikir, hingga meremehkan kewajiban. Jika rasa takut ini hidup, maka seseorang akan lebih berhati-hati dalam setiap langkahnya, bahkan dalam kesendirian.
Maka jangan biarkan hati kita mati tanpa rasa takut kepada Allah. Bangkitkan ia dengan ilmu, dzikir, dan renungan akhirat.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَارْزُقْنَا قُلُوبًا خَاشِعَةً، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً، وَتَوْبَةً نَصُوحًا
Allāhummaj‘alnā minal-ladzīna yakhāfūnaka fis-sirri wal-‘alan, warzuqnā qulūban khāsyi‘ah, wa a‘mālan shāliḥah, wa taubatan naṣūḥā.
“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang takut kepada-Mu dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan. Karuniakan kepada kami hati yang khusyuk, amal yang saleh, dan tobat yang sungguh-sungguh.”
Referensi:
—–
Sabtu, 21 Maret 2027
@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



