AmalanManajemen Qolbu

Dahsyatnya Hari Kiamat: Manusia Dikumpulkan Tanpa Busana dan Tanpa Alas Kaki

Hari Kiamat adalah hari yang begitu dahsyat hingga seluruh perhatian manusia tersedot pada keselamatan dirinya sendiri. Dalam sebuah hadits sahih, Rasulullah ﷺ menggambarkan keadaan manusia saat dibangkitkan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan, namun tanpa ada satu pun yang saling memperhatikan. Gambaran ini menegaskan betapa beratnya hisab pada hari itu, sekaligus menunjukkan tingginya rasa malu dan kesucian iman para sahabat, khususnya para wanita di masa Rasulullah ﷺ.

 

Hadits 411 dari Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi rahimahullah, Bab “Al-Khauf”

١٦/٤١١-وعن عائشةَ، رضي اللَّه عنها، قَالَتْ: سمعتُ رَسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، يقول: “يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُراةً غُرْلاً”قُلْتُ: يَا رَسُول اللَّه الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ جَمِيعاً يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلى بَعْضٍ،؟ قَالَ:”يَا عَائِشَةُ الأَمرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُم ذلكَ”. وفي روايةٍ:”الأَمْرُ أَهَمُّ مِن أَن يَنْظُرَ بَعضُهُمْ إِلى بَعْضٍ”متفقٌ عَلَيهِ. “غُرلاً”بضَمِّ الغَيْنِ المعجمة, أي: غير مختونين.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan.”

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah para lelaki dan perempuan semuanya (dikumpulkan bersama) sehingga mereka saling melihat satu sama lain?”

Beliau menjawab,
“Wahai Aisyah, urusannya jauh lebih dahsyat daripada sekadar membuat mereka memikirkan hal itu.”

Dalam riwayat lain disebutkan,
“Perkaranya jauh lebih penting daripada sekadar saling memandang satu sama lain.”

Hadis ini disepakati keshahihannya (muttafaq ‘alaih).

Kata “ghurlan” dengan dhammah pada huruf ghain, maksudnya: belum dikhitan. [HR. Bukhari, no. 6527 dan Muslim, no. 2859]

 

Penjelasan Lafaz (Gharib Hadits)

* حُفَاةً: orang-orang yang tidak memakai alas kaki, tidak mengenakan sandal atau sepatu.

* عُرَاةً: orang-orang yang tidak mengenakan pakaian di tubuh mereka.

 

Faedah Hadits

Pertama: Hadits ini menjelaskan dahsyatnya keadaan pada hari Kiamat, dan bahwa manusia tidak lagi disibukkan dengan melihat orang lain, karena setiap orang sibuk dengan hisab dan amalnya sendiri.
Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

﴿يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ۝ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ۝ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ ۝ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ﴾


“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.”
(QS. ‘Abasa: 34–37)

Kedua: Hadits ini menjelaskan keadaan manusia pada hari Kiamat, bahwa mereka dikumpulkan dalam keadaan telanjang dan tanpa alas kaki, baik laki-laki maupun perempuan, namun tidak ada perhatian satu sama lain, karena kedahsyatan hari tersebut membuat setiap orang hanya sibuk memikirkan keselamatan dirinya sendiri.

Ketiga: Penjelasan ini menegaskan bahwa manusia tidak akan terjatuh ke dalam maksiat kecuali ketika berada dalam kondisi lalai dan jauh dari penjagaan Allah. Seandainya seseorang mengingat betapa besar nikmat dan penjagaan Allah, atau memikirkan ancaman dan hukuman-Nya, serta menyadari kewajibannya untuk mengingat, bersyukur, dan beribadah dengan sebaik-baiknya, tentu ia tidak akan melakukan perbuatan tersebut.

Karena itu, penduduk padang mahsyar akan terlihat sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tidak saling memandang satu sama lain.

Keempat: Penjelasan ini juga menunjukkan betapa kuatnya rasa malu para wanita pada masa Rasulullah ﷺ. ‘Aisyah merasa sangat terguncang rasa malunya ketika mendengar bahwa manusia akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang, baik laki-laki maupun perempuan. Ia khawatir sebagian mereka akan saling melihat.

Sikap ini sejalan dengan kisah wanita berkulit hitam yang menderita penyakit ayan, yang datang kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta beliau mendoakan agar Allah menyembuhkannya. Ia takut auratnya tersingkap ketika kambuh, sehingga ia lebih memilih bersabar daripada kehilangan rasa malunya.

Hal yang serupa juga tampak pada Ummu Salamah, istri Rasulullah ﷺ. Ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan para wanita beriman untuk menjulurkan pakaian mereka ke bawah, Ummu Salamah khawatir hal itu menyebabkan aurat mereka tersingkap. Rasulullah ﷺ kemudian menegaskan bahwa pakaian itu boleh dijulurkan hingga satu hasta.

Semua ini menunjukkan betapa tingginya rasa malu para istri Nabi, para wanita beriman, dan wanita-wanita generasi salaf yang saleh. Oleh sebab itu, masyarakat generasi awal Islam merupakan masyarakat yang menjunjung tinggi kehormatan, kesucian, kekuatan iman, dan ketakwaan.

Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan.

 

Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly, 1:483-484.

 

—–

 

Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang, 24 Rajab 1447 H, 13 Januari 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 8   +   3   =  

Back to top button