Takut kepada Allah dan Bersegera Beramal: Pelajaran dari Hadits Man Khāfa Adlaja
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa siapa yang benar-benar takut kepada Allah akan bersegera dalam ketaatan, karena jalan menuju surga tidak ditempuh dengan kelalaian dan penundaan. Hadits “Man khāfa adlaja” menggambarkan bahwa surga adalah barang dagangan Allah yang sangat mahal, sehingga hanya bisa diraih dengan kesungguhan, pengorbanan, dan amal yang terus-menerus. Tulisan ini membahas makna hadits tersebut, penilaian para ulama terhadap derajatnya, serta pelajaran penting agar seorang hamba tidak menunda taubat dan kebaikan.
Hadits #410 dari Riyadhus Sholihin
Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ خَافَ أَدْلَجَ، وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ
“Barang siapa merasa takut, ia akan berangkat lebih awal. Dan barang siapa berangkat lebih awal, ia akan sampai ke tujuan. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah adalah surga.”
Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan beliau berkata: hadits hasan. [HR. Tirmidzi, no. 2450; hasan lighairihi kata Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly].
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan: Kata adlaja dibaca dengan mensukunkan huruf dāl. Maknanya adalah: berjalan pada awal malam. Yang dimaksud di sini adalah bersungguh-sungguh dan bersegera dalam ketaatan. Dan Allah Maha Mengetahui.
Penilaian Hadits
Hadits ini dinilai hasan karena adanya penguat. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2450) dengan sanad yang lemah, karena di dalamnya terdapat Yazid bin Sinan ar-Rahawi yang dinilai lemah.
Hadits ini memiliki yahid (penguat), diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim (8/377) dan al-Hakim (4/308), melalui jalur ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, dari ath-Thufail bin Ubay bin Ka‘b, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, lalu menyebutkan hadits tersebut.
Aku berkata: Dalam sanadnya terdapat kelemahan dari sisi ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil. Akan tetapi, haditsnya ditulis dan dicatat, dan ia bukan perawi yang ditinggalkan. Para ahli hadits tidak sepakat untuk melemahkannya secara mutlak. Bahkan at-Tirmidzi berkata dalam as-Sunan (1/9): “Ia adalah seorang yang jujur.” Sebagian ulama telah membicarakannya terkait riwayat-riwayat sebelum hafalannya kuat.
Aku mendengar Muhammad bin Isma‘il (al-Bukhari) berkata: Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Ibrahim, dan al-Humaidi berhujjah dengan hadits ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, dan haditsnya tergolong mendekati hasan.
Ibnu ‘Abdil Barr juga menguatkannya, rahimahullāh.
Abu Hatim berkata: “Ia lembek dalam hadits, tidak kuat, dan tidak dijadikan hujjah dengan haditsnya, meskipun haditsnya ditulis.”
Karena itu, hadits ini memiliki penguat yang dapat dijadikan sandaran, dan tidak dianggap dengan pendapat orang yang melemahkannya secara berlebihan.
Dengan demikian, secara keseluruhan hadits ini hasan karena adanya penguat.
Penjelasan Kosakata
- خَافَ: merasa takut akan kematian.
- بَلَغَ الْمَنْزِلَ: sampai ke rumah, yaitu tempat yang aman.
- السِّلْعَةُ: barang dagangan.
- غَالِيَةٌ: bernilai tinggi, sangat mahal.
Pelajaran Hadits
- Hadits ini menunjukkan pentingnya perhatian terhadap ketaatan dan bersegera untuk keluar dari maksiat.
- Orang yang lalai dari taubat dan tidak memahami hakikat dirinya serta akibat akhir yang nantinya diperoleh, ia akan terputus dari Allah, kebingungan, dan sesat.
- Hendaklah melakukan pengorbanan dan pengeluaran (harta, tenaga, dan amal) demi meraih surga.
Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly, 1:482-483.
—–
Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang – Masjid Mina Jalan Kaliurang, 24 Rajab 1447 H, 13 Januari 2026
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



