Abdurrahman bin Auf, Teladan Sahabat Kaya yang Amanah, Dermawan, dan Sederhana
‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu dalah teladan agung tentang bagaimana kekayaan tidak menghalangi seorang hamba dari keselamatan akhirat, bahkan menjadi jalan menuju ridha Allah. Ia memulai hidupnya di Madinah tanpa harta, lalu menjadi saudagar besar yang menjadikan kekayaannya sebagai sarana ibadah, infak, dan pelayanan umat. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa iman, amanah, dan kedermawanan adalah kunci agar harta tidak mengikat hati, tetapi mengantarkan pemiliknya menuju surga.
Siapakah ‘Abdurrahman bin ‘Auf?
- Ia adalah Ibnu ‘Abd ‘Auf bin ‘Abd bin Al-Ḥārith bin Zuhrah bin Kilāb bin Murrah bin Ka‘b bin Lu’ayy, kunyahnya Abu Muhammad.
- Ia termasuk sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, termasuk enam orang anggota majelis syura, termasuk para sahabat terdahulu yang ikut Perang Badar, berasal dari Quraisy kabilah Zuhrah.
- Ia juga termasuk delapan orang yang paling awal masuk Islam.
- Nama beliau pada masa jahiliah adalah ‘Abd ‘Amr, dan ada pula yang mengatakan ‘Abdul Ka‘bah. Lalu Nabi ﷺ memberinya nama ‘Abdurrahman.
- Dari kalangan sahabat, yang meriwayatkan hadits darinya juga antara lain: Jubair bin Muth‘im, Jabir bin ‘Abdullah, Al-Miswar bin Makhramah, dan ‘Abdullah bin ‘Amir bin Rabi‘ah.
Disangka Riya’ karena Bersedekah Terlalu Besar
Ma‘mar meriwayatkan dari Qatādah tentang firman Allah “orang-orang yang mencela orang-orang yang bersedekah”. Qatādah berkata: ‘Abdurrahman bin ‘Auf bersedekah dengan setengah hartanya, yaitu empat ribu dinar.
Lalu sebagian orang munafik berkata, “Sesungguhnya ‘Abdurrahman ini benar-benar melakukan riya’ besar.”
Infak Tanpa Batas: Harta, Kuda, dan Unta untuk Jalan Allah
Ibnu Al-Mubārak berkata: telah mengabarkan kepada kami Ma‘mar, dari Az-Zuhrī, ia berkata:
Ibnu ‘Auf bersedekah pada masa Rasulullah ﷺ dengan setengah hartanya, yaitu empat ribu.
Kemudian ia bersedekah lagi empat puluh ribu dinar, lalu ia membiayai lima ratus ekor kuda untuk jihad di jalan Allah, dan membiayai lima ratus ekor unta untuk jihad di jalan Allah.
Sebagian besar hartanya berasal dari perdagangan.
Riwayat ini dikeluarkan oleh Ibnu Al-Mubārak dalam kitab Az-Zuhd.
Orang Kaya dan Jalan Masuk Surga
Sulaiman bin Bint Syurahbīl berkata: telah mengabarkan kepada kami Khālid bin Yazīd bin Abī Mālik, dari ayahnya, dari ‘Athā’ bin Abī Rabāḥ, dari Ibrāhīm bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf, dari ayahnya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«يَا ابْنَ عَوْفٍ، إِنَّكَ مِنَ الْأَغْنِيَاءِ، وَلَنْ تَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا زَحْفًا، فَأَقْرِضِ اللَّهَ تَعَالَى، يُطْلِقْ لَكَ قَدَمَيْكَ»
“Wahai Ibnu ‘Auf, sesungguhnya engkau termasuk orang-orang kaya. Engkau tidak akan masuk surga kecuali dengan merangkak. Maka pinjamkanlah (hartamu) kepada Allah Ta‘ala, niscaya Dia akan melapangkan langkah kakimu.”
Ia berkata, “Apa yang harus aku pinjamkan, wahai Rasulullah?”
Lalu Rasulullah ﷺ mengutus seseorang kepadanya dan bersabda: “Jibril mendatangiku dan berkata:
مره ، فليضف الضيف ، وليعط في النائبة ، وليطعم المسكين ” .
Perintahkan ia agar memuliakan tamu, memberi bantuan saat terjadi musibah, dan memberi makan orang miskin.”
Khālid bin Al-Ḥārith dan selainnya berkata: telah menceritakan kepada kami Muḥammad bin ‘Amr, dari Abū Salamah, dari ayahnya, ia berkata:
“Aku melihat surga, dan aku masuk ke dalamnya dengan merangkak, dan aku melihat bahwa yang masuk ke dalamnya hanyalah orang-orang fakir.”
Imam Adz-Dzahabi berkata:
Sanad riwayat ini hasan, namun riwayat ini dan yang semisalnya adalah mimpi, dan mimpi memiliki ta’wil (penafsiran).
Sungguh ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu telah mengambil manfaat dari apa yang ia lihat dan dari apa yang sampai kepadanya, hingga ia bersedekah dengan harta yang sangat besar.
Dengan itu—segala puji bagi Allah—kedua kakinya dilapangkan, dan ia menjadi pewaris surga Firdaus. Maka tidak ada masalah sama sekali.
Gelar Pemimpin Kaum Muslimin dalam Rumah Tangga
Abu Qilabah Ar-Raqqasyi berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Ayyub, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ma‘an Al-Ghifari, telah menceritakan kepada kami Mujamma‘ bin Ya‘qub, dari ayahnya, dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Mujamma‘, bahwa ‘Umar berkata kepada Ummu Kultsum binti ‘Uqbah, istri ‘Abdurrahman bin ‘Auf:
“Apakah Rasulullah ﷺ pernah berkata kepadamu: ‘Menikahlah dengan pemimpin kaum muslimin, ‘Abdurrahman bin ‘Auf’?”
Ia menjawab, “Ya.”
Berbuat Baik pada Istri-Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
‘Ali bin Al-Madini berkata: telah menceritakan kepadaku Sufyan, dari Ibnu Abi Najih, bahwa ‘Umar bertanya kepada Ummu Kultsum dengan makna yang sama.
Dan diriwayatkan pula dari dua jalur, dari ‘Abdurrahman bin Hamid bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya, dari ibunya Ummu Kultsum, dengan makna yang serupa.
Quraisy bin Anas meriwayatkan dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«خِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِي»
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istriku.”
Maka ‘Abdurrahman mewasiatkan kepada para istri Nabi ﷺ sebuah kebun, yang nilainya ditaksir sebesar empat ratus ribu.
Menjual Tanah Empat Puluh Ribu Dinar demi Fakir dan Muhajirin
‘Abdullah bin Ja‘far Az-Zuhrī berkata: telah menceritakan kepada kami Ummu Bakr binti Al-Miswar, bahwa ‘Abdurrahman pernah menjual sebidang tanah miliknya kepada ‘Utsman dengan harga empat puluh ribu dinar.
Lalu ia membagikan uang tersebut kepada orang-orang fakir dari Bani Zuhrah, kepada kaum Muhajirin, dan kepada para Ummul Mukminin.
Al-Miswar berkata: Aku pun mendatangi ‘Aisyah dengan membawa bagiannya.
Ia bertanya, “Siapa yang mengirimkan ini?”
Aku menjawab, “‘Abdurrahman.”
Maka ‘Aisyah berkata: “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا يَحْنُو عَلَيْكُنَّ بَعْدِي إِلَّا الصَّابِرُونَ»
Tidak ada yang akan berbuat baik kepada kalian sepeninggalku kecuali orang-orang yang sabar.
Semoga Allah memberi minum Ibnu ‘Auf dari Salsabīl di surga.”
Riwayat ini dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya.
‘Ali bin Tsabit Al-Jazarī meriwayatkan dari Al-Wāzi‘, dari Abu Salamah, dari ‘Aisyah, ia berkata:
Rasulullah ﷺ mengumpulkan istri-istrinya pada saat sakit beliau, lalu bersabda:
«سَيَحْفَظُنِي فِيكُنَّ الصَّابِرُونَ الصَّادِقُونَ»
Yang akan menjaga (kehormatanku dan hak-hakku) pada diri kalian adalah orang-orang yang sabar dan jujur.
Menolak Kekuasaan demi Persatuan Umat
Di antara amal terbaik ‘Abdurrahman adalah menyingkirkan dirinya dari urusan kekuasaan pada saat majelis syura, serta memilih untuk umat orang yang telah disepakati oleh ahlul halli wal ‘aqd.
Ia menjalankan tugas itu dengan sebaik-baiknya untuk menghimpun umat agar sepakat memilih ‘Utsman.
Seandainya ia bersikap memihak, tentu ia akan mengambil kekuasaan itu untuk dirinya sendiri, atau setidaknya memberikannya kepada sepupu dan orang terdekatnya, yaitu Sa‘d bin Abi Waqqash.
Pemberi Fatwa di Tiga Masa Kepemimpinan
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Niyār Al-Aslamī, dari ayahnya, ia berkata:
‘Abdurrahman bin ‘Auf termasuk orang yang memberi fatwa pada masa Rasulullah ﷺ, Abu Bakr, dan ‘Umar, berdasarkan apa yang ia dengar langsung dari Rasulullah ﷺ.
Kesaksian ‘Ali: Amanah di Langit dan di Bumi
Yazid bin Harun berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Al-Mu‘alla Al-Jazarī, dari Maimun bin Mihran, dari Ibnu ‘Umar, bahwa ‘Abdurrahman berkata kepada anggota majelis syura:
“Apakah kalian berkenan jika aku yang memilihkan untuk kalian, dan aku mengundurkan diri dari pencalonan?”
Maka ‘Ali berkata:
“Ya. Aku adalah orang pertama yang ridha.
Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda kepadamu:
«إِنَّكَ أَمِينٌ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ، أَمِينٌ فِي أَهْلِ الْأَرْضِ»
Engkau adalah orang yang amanah di kalangan penduduk langit dan amanah di kalangan penduduk bumi.”
Riwayat ini dikeluarkan oleh Asy-Syāsyī dalam Musnad-nya.
Namun Abu Al-Mu‘alla adalah perawi yang lemah.
Amir Haji Kaum Muslimin
Disebutkan oleh Mujālid, dari Asy-Sya‘bī, bahwa:
‘Abdurrahman bin ‘Auf pernah menjadi amir haji bagi kaum muslimin pada tahun ketiga belas Hijriah.
Madinah Hidup dari Kedermawanan Abdurrahman bin ‘Auf
Ya‘qub bin Muhammad Az-Zuhrī berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Muhammad bin ‘Abdul ‘Azīz, dari seorang lelaki, dari Thalhah bin ‘Abdullah bin ‘Auf, ia berkata:
“Penduduk Madinah adalah tanggungan ‘Abdurrahman bin ‘Auf:
sepertiga hartanya ia pinjamkan kepada mereka,
sepertiga ia gunakan untuk melunasi utang mereka,
dan sepertiga lagi ia sambungkan silaturahmi dengannya.”
Kesederhanaan yang Menghapus Jarak Tuan dan Hamba
Ḍamrah bin Rabī‘ah meriwayatkan dari Sa‘d bin Al-Hasan, ia berkata:
“‘Abdurrahman bin ‘Auf tidak dapat dibedakan dari para budaknya.”
Ibnu Lahi‘ah meriwayatkan dari Abu Al-Aswad, dari ‘Urwah, bahwa:
‘Abdurrahman bin ‘Auf berwasiat lima puluh ribu dinar di jalan Allah,
lalu setiap orang diberi seribu dinar darinya.
Dan dari Az-Zuhrī:
‘Abdurrahman berwasiat untuk para sahabat Badar.
Jumlah mereka didapati seratus orang,
lalu setiap orang diberi empat ratus dinar.
Di antara mereka ada ‘Utsman, dan ia pun mengambilnya.
Dan dengan sanad lain, dari Az-Zuhrī:
‘Abdurrahman berwasiat seribu ekor kuda di jalan Allah.
Warisan untuk Istri-Istri: Ratusan Ribu Dinar
Ma‘mar meriwayatkan dari Tsābit, dari Anas, ia berkata:
“Aku melihat ‘Abdurrahman bin ‘Auf membagikan kepada setiap istrinya setelah wafatnya seratus ribu.”
Dan Hisyam meriwayatkan dari Ibnu Sirin, ia berkata:
“Mereka membagi seperdelapan harta itu sebesar tiga ratus dua puluh ribu.”
Riwayat yang semisal juga diriwayatkan oleh Laits bin Abī Sulaim, dari Mujāhid.
Penulis Tarikh Dimasyq telah menghimpun berita-berita tentang ‘Abdurrahman dalam empat jilid besar.
Dari Muhajirin Miskin Menjadi Saudagar Besar
Ketika ia hijrah ke Madinah, ia miskin dan tidak memiliki apa-apa.
Rasulullah ﷺ mempersaudarakannya dengan Sa‘d bin Ar-Rabī‘, salah seorang naqib.
Sa‘ad menawarkan agar membagi dua hartanya dan menceraikan salah satu istrinya untuk dinikahi oleh ‘Abdurrahman.
Namun ‘Abdurrahman berkata:
بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ، وَلَكِنْ دُلَّنِي عَلَى السُّوقِ. فَذَهَبَ، فَبَاعَ وَاشْتَرَى، وَرَبِحَ، ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ أَنْ صَارَ مَعَهُ دَرَاهِمُ، فَتَزَوَّجَ امْرَأَةً عَلَى زِنَةِ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ، وَقَدْ رَأَى عَلَيْهِ أَثَرًا مِنْ صُفْرَةٍ: «أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ». ثُمَّ آلَ أَمْرُهُ فِي التِّجَارَةِ إِلَى مَا آلَ.
“Semoga Allah memberkahi keluargamu dan hartamu. Akan tetapi, tunjukkanlah kepadaku pasar.”
Ia pun pergi, berdagang, membeli dan menjual, lalu mendapat keuntungan.
Tidak lama kemudian ia telah memiliki dirham, lalu ia menikahi seorang wanita dengan mahar seberat biji kurma dari emas.
Nabi ﷺ melihat pada dirinya bekas warna kuning, lalu bersabda:
“Adakanlah walimah, walaupun hanya dengan seekor kambing.”
Kemudian urusan perdagangannya berkembang sebagaimana yang berkembang.
Wafatnya Sang Saudagar
Al-Madā’inī, Al-Haitsam bin ‘Adī, dan sejumlah ulama sejarah menuliskan bahwa wafatnya terjadi pada tahun 32 Hijriah. Al-Madā’inī berkata: ia dimakamkan di Baqi‘.
Dan Ya‘qub bin Al-Mughīrah berkata: ia hidup tujuh puluh lima tahun.
Kekayaan Besar yang Tak Membutakan Hati
Abu ‘Umar bin ‘Abdil Barr berkata:
Ia adalah orang yang sangat beruntung dalam perdagangan.
Ia meninggalkan seribu unta, tiga ribu kambing, dan seratus kuda.
Ia juga bertani di Al-Jurf dengan dua puluh unta penarik air.
Imam Adz-Dzahabi berkata:
Inilah orang kaya yang bersyukur.
Sedangkan Uwais adalah orang fakir yang sabar,
dan Abu Dzar atau Abu ‘Ubaidah adalah orang yang zuhud lagi menjaga kehormatan diri.
Memerdekakan Puluhan Ribu Jiwa
Husain Al-Ju‘fī meriwayatkan dari Ja‘far bin Barqān, ia berkata:
Telah sampai kepadaku bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf telah memerdekakan tiga puluh ribu rumah (jiwa).
—
Kisah ini diringkas dari Siyar A’lam An-Nubala’ dari Imam Adz-Dzahabi rahimahullah.
—-
Selesai disusun di Jl. Magelang, 14 Rajab 1447 H, 3 Januari 2025
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



