Khutbah Jumat: Kezaliman Lisan dan Media Sosial, Ancaman di Hari Kiamat
Keadilan adalah prinsip agung dalam Islam, dan kezaliman diharamkan dalam bentuk apa pun karena merusak hak, kehormatan, dan keselamatan manusia. Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa kezaliman—terutama kepada sesama—dapat menghabiskan pahala ibadah dan menyeret pelakunya kepada kebangkrutan di hari kiamat. Karena itu, seorang muslim wajib menjaga lisan, perbuatan, dan tulisannya, serta segera menyelesaikan hak-hak manusia sebelum menghadap Allah Ta‘ala.
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ،
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
فَقَالَ تَعَالَى
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
أَمَّا بَعْدُ، فَاعْلَمُوا عِبَادَ اللَّهِ، أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَقَاصِدِ هَذَا الدِّينِ إِقَامَةَ الْعَدْلِ، وَتَحْرِيمَ الظُّلْمِ عَلَى الْعِبَادِ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَإِنَّ أَخْطَرَهُ مَا كَانَ فِي حُقُوقِ الْعِبَادِ.
فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِ، وَاحْذَرُوا الظُّلْمَ كُلَّهُ، فِي الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ، وَفِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَى الظُّلْمَ، وَلَا يُهْمِلُ حُقُوقَ الْمَظْلُومِينَ.
Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Di antara prinsip paling agung dalam Islam adalah ditegakkannya keadilan dan diharamkannya kezaliman dalam bentuk apa pun.
Allah Ta’ala berfirman,ِ
أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ
“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (QS. Hud: 18).
مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلا شَفِيعٍ يُطَاعُ
“Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya” (QS. Ghafir: 18).
إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan” (QS. Al An’am: 21).
Dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau meriwayatkan dari Allah ‘azza wa Jalla, sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:
يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim, no. 6737)
Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Rasulullah ﷺ menjelaskan akibat paling mengerikan dari kezaliman tersebut, khususnya yang berkaitan dengan hak sesama manusia. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَتَدْرُونَ ما المُفْلِسُ؟ قالوا: المُفْلِسُ فِينا مَن لا دِرْهَمَ له ولا مَتاعَ، فقالَ: إنَّ المُفْلِسَ مِن أُمَّتي يَأْتي يَومَ القِيامَةِ بصَلاةٍ، وصِيامٍ، وزَكاةٍ، ويَأْتي قدْ شَتَمَ هذا، وقَذَفَ هذا، وأَكَلَ مالَ هذا، وسَفَكَ دَمَ هذا، وضَرَبَ هذا، فيُعْطَى هذا مِن حَسَناتِهِ، وهذا مِن حَسَناتِهِ، فإنْ فَنِيَتْ حَسَناتُهُ قَبْلَ أنْ يُقْضَى ما عليه أُخِذَ مِن خَطاياهُمْ فَطُرِحَتْ عليه، ثُمَّ طُرِحَ في النَّارِ.
“Tahukah kalian siapa yang disebut sebagai orang yang bangkrut (muflis)?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut adalah yang tidak memiliki uang dan harta.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya orang yang benar-benar bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia pernah mencela, menuduh tanpa bukti, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul sesama. Maka pahala-pahalanya diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi. Jika pahalanya habis sementara kezalimannya belum terbayar, dosa-dosa mereka dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke neraka.” (HR. Muslim, no. 2581)
Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Imam Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Al-Wabilush Shayyib (hlm. 40) menyebutkan:
«وَالظُّلْمُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَهُ دَوَاوِينُ ثَلَاثَةٌ:
“Kezaliman di sisi Allah ﷻ pada hari kiamat tercatat dalam tiga buku catatan besar.
دِيوَانٌ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ مِنْهُ شَيْئًا، وَهُوَ الشِّرْكُ بِهِ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ.
وَدِيوَانٌ لَا يَتْرُكُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْهُ شَيْئًا، وَهُوَ ظُلْمُ الْعِبَادِ بَعْضِهِمْ بَعْضًا، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَسْتَوْفِيهِ كُلَّهُ.
وَدِيوَانٌ لَا يَعْبَأُ اللَّهُ بِهِ شَيْئًا، وَهُوَ ظُلْمُ الْعَبْدِ نَفْسَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Catatan pertama adalah kezaliman yang tidak akan diampuni sama sekali, yaitu syirik kepada Allah. Allah tidak akan mengampuni dosa menyekutukan-Nya.
Catatan kedua adalah kezaliman yang tidak akan ditinggalkan sedikit pun, yaitu kezaliman antar sesama manusia. Semua hak akan dituntut dan diselesaikan secara tuntas. Tidak ada satu pun yang dibiarkan tanpa balasan.
Adapun catatan ketiga adalah kezaliman yang paling ringan dan paling cepat terhapus, yaitu kezaliman seorang hamba terhadap dirinya sendiri, dalam hubungannya dengan Allah.
فَإِنَّ هَذَا الدِّيوَانَ أَخَفُّ الدَّوَاوِينِ وَأَسْرَعُهَا مَحْوًا، فَإِنَّهُ يُمْحَى بِالتَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ، وَالْحَسَنَاتِ الْمَاحِيَةِ، وَالْمَصَائِبِ الْمُكَفِّرَةِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ.
Dosa-dosa ini dapat terhapus dengan taubat, istighfar, amal saleh yang menghapus dosa, musibah yang menggugurkan kesalahan, dan sebab-sebab penghapus dosa lainnya.
بِخِلَافِ دِيوَانِ الشِّرْكِ، فَإِنَّهُ لَا يُمْحَى إِلَّا بِالتَّوْحِيدِ، وَدِيوَانِ الْمَظَالِمِ، فَلَا يُمْحَى إِلَّا بِالْخُرُوجِ مِنْهَا إِلَى أَرْبَابِهَا، وَاسْتِحْلَالِهِمْ مِنْهَا.
Berbeda dengan dosa syirik yang tidak akan terhapus kecuali dengan tauhid, dan berbeda pula dengan kezaliman terhadap sesama manusia yang tidak akan terhapus kecuali dengan mengembalikan hak kepada pemiliknya dan meminta kehalalan dari mereka.”
Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Di antara bentuk kezaliman yang paling berat dan paling berbahaya akibatnya adalah kezaliman terhadap sesama manusia. Para ulama berkata:
حُقُوقُ الْعِبَادِ مَبْنِيَّةٌ عَلَى الْمُشَاحَّةِ، لَا عَلَى الْمُسَامَحَةِ.
“Hak-hak sesama manusia itu dibangun di atas tuntutan yang ketat dan perhitungan yang teliti, bukan di atas sikap saling memaafkan.”
Para ulama berkata pula,
وَقَدْ تَجِدُ أناسا لَا تَكَادُ تُخْطِئُهُ صَلَاةٌ، وَلَا صِيَامٌ، وَلَا ذِكْرٌ، وَلَا دُعَاءٌ، وَلَكِنَّهُ يَفْرِي فِي أَعْرَاضِ النَّاسِ.
“Engkau bisa saja menjumpai seseorang yang hampir tidak pernah tertinggal shalatnya, puasanya, zikirnya, dan doanya. Namun pada saat yang sama, ia justru dengan mudah melukai kehormatan orang lain.”
Dalam Al-Jawabul Kaafi atau Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Sebagian ulama salaf berkata,
كُلُّ كَلَامِ ابْنِ آدَمَ عَلَيْهِ لَا لَهُ، إِلَّا مَا كَانَ مِنَ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ.
Setiap ucapan anak Adam pada dasarnya akan menjadi beban baginya, bukan keuntungan, kecuali ucapan yang bernilai ibadah dan kebaikan, yang mengarah kepada Allah dan diridai oleh-Nya.
وَكَانَ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُمْسِكُ عَلَى لِسَانِهِ وَيَقُولُ: هَذَا أَوْرَدَنِي الْمَوَارِدَ.
Diriwayatkan pula bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu sering memegang lidahnya seraya berkata, “Inilah yang telah menyeretku ke berbagai kebinasaan.”
وَالْكَلَامُ أَسِيرُكَ، فَإِذَا خَرَجَ مِنْ فِيكَ صِرْتَ أَنْتَ أَسِيرَهُ.
Ucapan itu pada awalnya berada dalam kendalimu. Namun ketika ia sudah keluar dari mulutmu, engkaulah yang justru menjadi tawanan ucapanmu sendiri. (Artinya: Selama ucapan masih berada di dalam hati dan pikiran, kitalah yang menguasainya. Kita bisa menahan, memilih, atau membatalkannya. Namun ketika ucapan itu sudah terlanjur keluar, kita tidak lagi menguasainya).
وَاللَّهُ عِنْدَ لِسَانِ كُلِّ قَائِلٍ
Karena itulah Allah selalu mengawasi lisan setiap orang.
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ.
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaaf: 18).”
Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Kadang kezaliman itu tidak keluar lewat pukulan tangan, tetapi melalui lisan dan jari-jari kita. Ia tertulis dalam pesan di media sosial, terpampang dalam status dan story WhatsApp, atau tersebar lewat unggahan yang kita anggap sepele. Kita membuka aib saudara sendiri—keluarga, teman kerja, atau sesama muslim—dengan kata-kata yang menyakitkan dan merendahkan. Padahal sebelumnya orang-orang tidak mengetahui keburukan tersebut. Namun karena satu kalimat yang kita tulis, satu unggahan yang kita sebarkan, keburukan itu akhirnya diketahui banyak orang. Jika lisan dan tulisan kita pernah melukai, maka segera minta maaf. Jika hak saudara pernah kita rampas—baik kehormatan, perasaan, maupun nama baik—maka segera meminta kehalalan darinya.
Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Inilah sebabnya mengapa urusan hak sesama manusia tidak boleh diremehkan dan tidak boleh ditunda penyelesaiannya.
Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata:
إن لَقِيتَ اللَّهَ تَعَالَىٰ بِسَبْعِينَ ذَنْبًا فِيمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللَّهِ تَعَالَىٰ دُونَ الشِّرْكِ، أَهْوَنُ عَلَيْكَ مِنْ أَنْ تَلْقَاهُ بِذَنْبٍ وَاحِدٍ بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْعِبَادِ
“Jika engkau menghadap Allah dengan tujuh puluh dosa yang berkaitan antara dirimu dan Allah—selama itu bukan syirik—maka itu masih lebih ringan bagimu dibandingkan menghadap-Nya dengan satu dosa saja yang berkaitan dengan hak sesama manusia.” (Tanbih Al-Ghaafilin, 1:380)
Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Karena beratnya konsekuensi kezaliman terhadap sesama, Islam tidak hanya memperingatkan akibatnya di akhirat, tetapi juga menjelaskan apa yang seharusnya menahan seseorang agar tidak berbuat zalim sejak awal.
Imam Al-Mawardi rahimahullah berkata:
هَذِهِ الْعِلَّةُ الْمَانِعَةُ مِنَ الظُّلْمِ لَا تَخْلُو مِنْ أَحَدِ أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ:
إِمَّا عَقْلٌ زَاجِرٌ،
أَوْ دِينٌ حَاجِزٌ،
أَوْ سُلْطَانٌ رَادِعٌ،
أَوْ عَجْزٌ صَادٌّ،
فَإِذَا تَأَمَّلْتَهَا لَمْ تَجِدْ خَامِسًا يَقْتَرِنُ بِهَا
“Faktor yang mencegah seseorang dari berbuat zalim tidak pernah lepas dari salah satu dari empat hal:
- akal sehat yang menegur dan mengendalikan,
- agama yang membatasi dan menahan,
- kekuasaan yang memberi efek jera, atau
- ketidakmampuan yang membuatnya tidak sanggup berbuat zalim.
Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Ingatlah doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu,
اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أنْتَ، فَاغْفِرْ لي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وارْحَمْنِي، إنَّكَ أنْتَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ
ALLOOHUMMA INNII ZHOLAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIROO WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA, FAGHFIR LII MAGHFIROTAN MIN ‘INDIK, WARHAMNII INNAKA ANTAL GHOFUURUR ROHIIM. (Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang besar. Tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau. Ampunilah aku dengan ampunan dari-Mu. Kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 834 dan Muslim, no. 2705)
Maka sebelum lisan ini berbicara, sebelum jari-jari ini menulis, dan sebelum langkah ini melangkah, tahanlah diri dari kezaliman. Timbang setiap ucapan, setiap sikap, dan setiap keputusan, karena semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا،
اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا،
وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.
اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ
اللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ
Catatan: Khutbah ini diadopsi dari Khutbah Jumat dari Syaikh ‘Abdurrahman As-Sudais di Masjidil Haram, 6 Rajab 1447 H, 26 Desember 2025
——-
Khutbah ini selesai disusun pada Jumat siang, 13 Rajab 1447 H, 2 Januari 2026
@ Pondok Pesantren Darush Sholihin
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com



