Akhlaq

Sikap Terbaik Saat Difitnah: Antara Sabar, Membela Diri, dan Memaafkan

Sikap Terbaik Saat Difitnah menjadi pembahasan penting karena fitnah dan tuduhan tidak benar adalah ujian yang hampir pasti dialami seorang muslim, terlebih ketika ia berusaha berada di jalan kebenaran. Islam tidak hanya mengajarkan kesabaran saat dizalimi, tetapi juga memberikan tuntunan yang adil dan bijak: kapan bermuhasabah, kapan menasihati, kapan membela diri, dan kapan memilih diam demi maslahat. Tulisan ini membahas kiat-kiat menghadapi fitnah dengan iman, akhlak, dan pertimbangan maslahat sesuai tuntunan Al-Qur’an dan nasihat para ulama.

 

Pertama: Meyakini Fitnah Sebagai Takdir dan Kebaikan

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُم مَّا ٱكْتَسَبَ مِنَ ٱلْإِثْمِ ۚ وَٱلَّذِى تَوَلَّىٰ كِبْرَهُۥ مِنْهُمْ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nuur: 11)

Dalam Qa’idah fish Shabr, Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

أَنْ يَشْهَدَ أَنَّ اللهَ – سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – خَالِقُ أَفْعَالِ العِبَادِ حَرَكَاتِهِمْ وَسَكَنَاتِهِمْ وَإِرَادَاتِهِمْ، فَمَا شَاءَ اللهُ كَانَ، وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، فَلاَ يَتَحَرَّكُ فِي العَالَمِ العُلُوِيِّ وَالسُّفْلِيِّ ذَرَّةً إِلاَّ بِإِذْنِهِ، وَمَشِيْئَتِهِ وَالعِبَادُ آلَةٌ، فَانْظُرْ إِلَى الَّذِي سَلَّطَهُمْ عَلَيْكَ، وَلاَ تَنْظُرْ إِلَى فِعْلِهِمْ بِكَ، تَسْتَرِيْحُ مِنَ الهَمِّ وَالغَمِّ وَالحَزَنِ

“Hendaknya ia mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah Yang menciptakan segala perbuatan hamba, baik itu gerakan, diam, dan keinginannya. Segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah untuk terjadi, pasti akan terjadi. Segala sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah untuk terjadi, maka pasti tidak akan terjadi. Sehingga, tidak ada satu pun benda meski seberat dzarrah (seukuran kecil) yang bergerak di alam ini melainkan dengan izin dan kehendak Allah. Oleh karenanya, hamba adalah ‘alat’. Lihatlah kepada Zat yang menjadikan pihak lain menzalimimu (lihat pada takdir Allah) dan janganlah pandang tindakannya terhadapmu. (Apabila Anda melakukan hal itu), maka Anda akan terbebas dari segala kepedihan, duka, dan kesedihan.”

Keyakinan ini penting agar seorang mukmin tidak gegabah dalam bersikap dan tetap tenang menghadapi badai fitnah.

 

Kedua: Introspeksi Diri (Muhasabah)

1. Hendaklah kita cek dan kita pelajari lagi jangan-jangan yang dituduhkan orang lain itu benar. Jika ternyata kita salah maka jangan malu dan jangan gengsi untuk mengakui kesalahan dan mengikuti kebenaran meskipun cara orang yang menasehati kita kasar atau mungkin bermaksud tidak baik.

2. Memperbaiki ucapan atau tindakan kita yang menjadi penyebab orang memfitnah kita. Misalkan bendahara Masjid dituduh mencuri uang kas Masjid disebabkan tidak transparannya laporan keuangan maka hendaknya dibuat laporan yang rapi dan jelas. Jika seorang dituduh “nakal” karena sering bergaul dengan orang-orang “nakal” maka selektiflah dalam memilih sahabat.

3. Ingatlah akan aib dan dosa kita. Syaikh Salim Al Hilali berkata, ” Kalau anda bersih dari kesalahan yang dituduhkan itu, tapi sejatinya anda tidak selamat dari kesalahan-kesalahan lain karena sesungguhnya manusia itu memiliki banyak kesalahan. Kesalahanmu yang Allah tutupi dari manusia jumlahnya lebih banyak. Ingatlah akan nikmat Allah ini dimana Ia tidak perlihatkan kepada si penuduh kekurangan-kekuranganmu lainnya…” (Dinukil dari buku Ar Riyaa halaman 68)

4. Hendaklah kita merenung dan mengevaluasi kesalahan dan dosa-dosa kita baik yang berhubungan dengan muamalah antara manusia ataupun dosa-dosa antara kita dengan Allah. Tuduhan dan fitnahan bisa jadi merupakan teguran agar kita kembali dan bertaubat kepada Allah.

Dalam Qa’idah fish Shabr, Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

“Hendaknya seorang mengakui segala dosa yang telah diperbuat dan mengakui bahwasanya tatkala Allah menjadikan pihak lain menzalimi (dirinya), maka itu semua dikarenakan dosa-dosa yang telah ia perbuat sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuura: 30).

Apabila seorang hamba mengakui bahwa segala yang tidak menyenangkan yang menimpanya disebabkan oleh dosa-dosanya yang telah lalu, maka dirinya akan sibuk untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosanya yang menjadi sebab Allah menurunkan musibah tersebut. Ia justru sibuk melakukan hal itu dan tidak menyibukkan diri mencela dan mengolok-olok berbagai pihak yang telah menzaliminya.

(Oleh karena itu), apabila seseorang melihat seorang yang mencela manusia yang telah menyakitinya dan justru tidak mengoreksi diri dengan mencela dirinya sendiri dan beristighfar kepada Allah, maka ketahuilah (pada kondisi demikian) musibah yang ia alami justru adalah musibah yang sebenarnya. (Sebaliknya) apabila dirinya bertaubat, beristighfar, dan mengucapkan, “Musibah ini dikarenakan dosa-dosaku yang telah saya perbuat”, maka (pada kondisi demikian, musibah yang dirasakannya) justru berubah menjadi nikmat.

Jika seseorang telah jujur bermuhasabah, ia akan lebih ringan memaafkan dan lebih bijak dalam menyikapi penuduhnya.

 

Ketiga: Mendoakan dan Membalas dengan Ihsan

Doakanlah si penuduh agar Allah beri petunjuk. Karena kejelekan tidak selamanya dibalas dengan yang jelek. Tindakan yang lebih bagus adalah bersifat muhsin, membalas kejelekan dengan kebaikan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40)

Para ulama menjelaskan bahwa sikap manusia dalam merespons kezaliman terbagi menjadi tiga tingkatan:

  1. Zalim, mengambil lebih dari haknya.
  2. Muqtashid, mengambil seukuran haknya.
  3. Muhsin, berbuat baik, itulah orang yang memaafkan dan merelakan haknya. Tingkatan ini adalah jalan orang-orang muqarrabin dan para muhsinin., orang yang mendekatkan diri kepada Allah dan orang yang berbuat baik. Menjadi orang muhsin bisa didapati dengan meyakini adanya pahala yang besar di sisi Allah dan meyakini bahwa Allah itu menyukai orang-orang yang memberikan maaf.

 

Keempat: Menasihati dengan Cara yang Bijak

Nasihat ini bukan untuk memenangkan diri, tetapi agar keburukan berhenti dan pelakunya kembali kepada kebenaran.

Ini mencegah salah paham bahwa menasihati = membalas dendam.

 

Kelima: Memaafkan, Namun Boleh Membela Diri dengan Adil

Maafkan dia tetapi kita boleh membalas untuk suatu kemaslahatan asalkan tidak melampaui batas. Jika diperlukan, boleh mendoakan keburukan yang bersifat mendidik dan menghentikan kezaliman, bukan kebinasaan.

Renungkan ayat-ayat berikut ini.

وَلَمَنِ ٱنتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَا عَلَيْهِم مِّن سَبِيلٍ

“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.” (QS. Asy-Syura: 41)

إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ عَلَى ٱلَّذِينَ يَظْلِمُونَ ٱلنَّاسَ وَيَبْغُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.” (QS. Asy-Syura: 42)

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syura: 43)

 

Keenam: Memilih Diam Demi Maslahat

Meladeni dan membantah, terkadang justru membuka pintu keburukan untuk kita. Bisa jadi klarifikasi tanpa menyebutkan tentang tuduhan mengenai dirinya dan tanpa menyebutkan nama penuduh akan banyak memberikan manfaat untuk umat.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata,

ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﺳَﻜَﺖَّ ﻭَﻗَﺪْ ﺧُﻮْﺻِﻤَﺖْ ﻗُﻠْﺖُ ﻟَﻬُﻤْ ﺎِﻥَّ ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏَ ﻟِﺒَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺮِ ﻣِﻔْﺘَﺎﺡُ

“Mereka bertanya kepadaku, “Jika diajak bermusuhan, mengapa engkau diam?” Jawabku kepada mereka, “Sesungguhnya membantah itu membuka pintu keburukan.”

ﻭَﺍﻟﺼُّﻤْﺖُ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﻖٍ ﺷَﺮَﻓٌ ﻮَﻓِﻴْﻪِ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻟِﺼَﻮْﻥِ ﺍﻟْﻌِﺮْﺽِ ﺍِﺻْﻠَﺎﺡُ

“Sikap diam terhadap orang yang bodoh atau dungu adalah suatu kemuliaan. Begitu pula diam untuk menjaga kehormatan adalah suatu kebaikan.”

أَما تَرى الأُسدَ تُخشى وَهِيَ صامِتَةٌ

وَالكَلبُ يخسى لَعَمري وَهوَ نَبّاحُ

“Apakah kamu tidak melihat seekor singa ditakuti lantaran ia diam? Sedangkan seekor anjing dihinakan -sungguh- karena ia suka menggonggong”

Sikap diam yang dilandasi ilmu dan maslahat bukan kelemahan, tetapi bentuk kedewasaan iman.

 

Baca Juga:

 

 

Perjalanan Makkah – Madinah, 27 Desember 2025, 8 Rajab 1447 H

Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 2   +   9   =  

Back to top button