Home Thoharoh Safinatun Najah: Lamanya Haidh dan Nifas

Safinatun Najah: Lamanya Haidh dan Nifas

980
0

Bagaimana lamanya haidh dan nifas? Berikut lanjutan pelajaran dari Safinatun Najah.

 

[Haid dan Nifas]

أًقَلُّ الْحَيْضِ: يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ.

وَغَالِبُهُ: سِتٌّ أَوْ سَبْعٌ.

وَأَكْثَرُهُ: خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْماً بِلَيَالِيْهَا.

أَقَلُّ الطُّهْرِ بَيْنَ الْحَيْضَتَيْنِ: خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمَاً.

وَغَالِبُهُ: أَرْبَعَةٌ وَعِشْرُوْنَ يَوْمَاً، أَوْ ثَلاَثَةٌ وَعِشْرُوْنَ يَوْمَاً.

وَلاَ حَدَّ لأَكْثَرِهِ.

أَقَلُّ النِّفَاسِ: مَجَّةٌ. وَغَالِبُهُ: أَرْبَعُوْنَ يَوْمَاً. وَأَكُثَرُهُ: سِتُّوْنَ يَوْمَاً.

Fasal: Sedikitnya haidh adalah sehari semalam, umumnya 6 atau 7 hari, dan terbanyak adalah 15 sehari semalam. Sedikitnya masa suci antara dua haidh adalah 15 hari, umumnya 24 atau 23 hari, tetapi terkadang seseorang lebih lama dari itu.Masa nifas paling sedikit adalah setetes darah (sekali keluar), umumnya 40 hari, dan maksimal 60 hari.

 

Catatan Dalil

Pertama: Pengertian darah haidh, istihadhah, dan nifas

Haidh secara bahasa berarti sesuatu yang mengalir. Haidh secara istilah adalah darah normal, keluar dari dalam rahim wanita setelah masa balighnya dalam keadaan sehat, tanpa ada sebab, dan waktunya tertentu. Sedangkan istihadhah adalah darah yang keluar di luar waktu kebiasaan, darah ini adalah darah penyakit.

Nifas secara bahasa berarti wiladah (melahirkan). Secara istilah nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan. Jika ada darah yang keluar sebelum melahirkan atau keluar bersama dengan bayi, maka tidak dianggap nifas dan dianggap sebagai damm fasad (darah kotor) yang masih diwajibkan shalat. Jika tidak mampu melaksanakannya kala itu, maka wajib mengqadha’nya setelah suci dari nifas.

 

Kedua: Pendapat ulama Syafiiyah tentang umur mendapati haidh

Umur minimal seorang wanita mengalami haidh adalah sembilan tahun (qamariyyah atau hijriyah). Ini adalah pendekatan, bukan pembatasan. Bisa jadi ada yang sudah mengalami haidh sedikit sebelum sembilan tahun qamariyyah tadi. Yang jelas syariat tidak membatasi umur tersebut. Kapan saja wanita melihat adanya darah haidh, maka beranjak menjadi baligh dan sudah mulai terkena hukum syari.

Namun jika ada darah keluar kurang dari sembilan tahun qamariyyah tadi, maka dianggap bukan darah haidh. Darah tersebut dikatakan sebagai hadats dan membatalkan wudhu, akan tetapi tidak diwajibkan untuk mandi dan tidak masalah untuk berpuasa ketika ada darah tersebut. Darah tersebut tidak terkait dengan hukum haidh dan dinamakan damm fasad (darah kotor). Ulama Syafiiyah tidaklah membedakan antara negeri yang panas dan negeri yang dingin untuk masalah ini.

Baca Juga: Bagaimana Wanita Haidh Membaca Al Quran?

Ketiga: Pendapat ulama Syafiiyah tentang lama haidh dan suci

Lama haidh paling minimal adalah sehari semalam (24 jam). Jika darah berhenti sehari semalam, maka disebut damm fasad (darah kotor). Ketika itu tetap berwudhu dan shalat. Shalat yang ditinggalkan pada hari tersebut nantinya diqadha’. Jika ia berpuasa, puasanya sah.

Lama haidh paling lama lima belas hari. Hal ini berdasarkan perkataan Atha’, “Aku melihat para wanita mengalami haidh sehari, dan paling lama lima belas hari.”

Lamanya haidh umumnya adalah enam atau tujuh hari hal ini disimpulkan dari perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Hamnah binti Jahsy radhiyallahu ‘anha. Dalam hadits tersebut diperintahkan untuk tetap menjalani haidh dan hukumnya sebagaimana umumnya wanita,

فَتَحَيَّضِى سِتَّةَ أَيَّامٍ أَوْ سَبْعَةَ أَيَّامٍ فِى عِلْمِ اللَّهِ ثُمَّ اغْتَسِلِى حَتَّى إِذَا رَأَيْتِ أَنَّكِ قَدْ طَهُرْتِ وَاسْتَنْقَأْتِ فَصَلِّى ثَلاَثًا وَعِشْرِينَ لَيْلَةً أَوْ أَرْبَعًا وَعِشْرِينَ لَيْلَةً

“Jalanilah haidh selama enam atau tujuh hari dalam ilmu Allah, kemudian mandilah sampai engkau melihat telah suci. Lalu bersih-bersihlah kemudian jalankanlah shalat selama masa suci yaitu dua puluh tiga atua dua puluh empat malam.” (HR. Abu Daud, no. 287 dan Tirmidzi, no. 128. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa perkataan ini hanyalah perkataan Hamnah, bukan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Jika selama masa haidh ada jeda waktu yang tidak keluar darah haidh, maka dianggap sebagai haidh.

Jika ada wanita yang melihat darah haidh kurang dari sehari semalam (24 jam), atau darah tersebut lebih dari 15 hari, atau masa suci kurang dari lima belas hari, maka semuanya dihukumi sebagai darah istihadhah.

Baca Juga: Berhenti Haidh Belum Mandi Sudah Hubungan Intim

Keempat: Seputar darah nifas

Yang diharamkan bagi wanita nifas sama dengan wanita haidh.

Lama nifas paling minimal adalah sekejap, yaitu sekali mengeluarkan darah, kemudian berhenti. Bisa jadi pula ada wanita yang melahirkan tidak nampak darah.

Lama nifas paling maksimal adalah enam puluh hari. Umumnya lama darah nifas adalah empat puluh hari. Jika telah berlalu enam puluh hari, maka dihukumi darah istihadhah. Kapan saja darah nifas berhenti, maka wajib melakukan sebagaimana wanita haidh yaitu mandi wajib.

 

Kelima: Melahirkan menyebabkan mandi wajib

Jika ada yang setelah melahirkan tidak melihat adanya darah, maka tetap diperintahkan mandi wajib. Karena anak itu berasal dari mani laki-laki dan perempuan. Jika bayi itu keluar dalam kasus ini, maka dianggap nifas walau hanya lahzhoh (sekejap), dan wajib setelah berhentinya darah untuk mandi wajib.

 

Keenam: Pendapat lebih kuat dalam masalah lama haidh

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa ketika darah kebiasaan itu ada, maka berlakulah hukum. Inilah yang ditunjukkan oleh dalil dan diamalkan oleh kaum muslimin. Adapun menetapkan umur tertentu di mana minimal wanita mendapati haid atau menetapkan usia berapa berakhirnya haid, juga menetapkan batasan minimal atau maksimalnya, maka seperti itu tidaklah terdapat dalil. (Lihat Al-Qawa’id wa Al-Furuq, hlm. 169, dinukil dari catatan kaki kitab Manhaj As-Salikin karya Syaikh As-Sa’di, hlm. 52)

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa tidak batasan minimal atau maksimal lamanya haid. Selama wanita melihat kebiasaan haidnya terus menerus, maka dihukumi haid. Jika kurang dari sehari, namun darah tersebut terus keluar, maka dihukumi haid. Begitu pula jika lebih dari tujuh belas hari dan keluar terus menerus, maka dihukumi haid. Adapun jika darah keluar selamanya terus menerus, diketahui seperti itu bukanlah haid. Karena sudah diketahui secara syar’i dan menurut pengertian bahasa, seorang wanita kadang mengalami suci, kadang mengalami haid. Ketika suci ada hukum tersendiri, begitu pula ketika haidnya. (Majmu’ah Al-Fatawa, 19:237)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menyebutkan,

“Menurut pendapat yang paling kuat, tidak ada batasan minimal atau maksimal lamanya masa haid. Karena Allah Ta’ala berfirman,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.” (QS. Al-Baqarah: 222). Dalam ayat ini perintah untuk menjauhi wanita di masa haidnya tidak diberikan batasan waktu tertentu. Pokoknya wanita itu baru bisa disetubuhi jika telah suci (darah berhenti, lalu mandi, pen.). Sebab hukum dalam ayat adalah ada tidaknya darah haid. Jika didapati haid, maka tidak boleh menyetubuhi istri. Namun jika telah suci, maka hilanglah hukum larangan tadi.

Menetapkan masa lamanya haid dengan waktu tertentu tidaklah berdasarkan dalil. Padahal hal tersebut sangat perlu sekali dijelaskan (di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen.). Jika ada batasan umur wanita mendapati haid dan jangka waktu lamanya haid, maka tentu akan dijelaskan dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karenanya, jika wanita melihat darah yang sudah dikenal sebagai darah haid, maka dihukumi sebagai haid tanpa dikaitkan dengan lama waktunya. Kecuali kalau darah yang keluar pada wanita tersebut mengalir terus tidak terputus atau dalam sebulan hanya berhenti singkat selama sehari atau dua hari, maka darah tersebut dihukumi darah istihadhah. (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 11: 271. Dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 65570)

 

Berhentinya darah haid bisa dibuktikan dengan dua cara:

  1. Telah keluar cairan putih, yaitu cairan berwarna putih yang keluar dari rahim sebagai tanda telah selesainya masa haid (darah haid telah berhenti).
  2. Keringnya farji (sama sekali tidak ada lagi darah yang keluar), (tanda ini bisa digunakan) bila wanita tersebut tidak memiliki kebiasaan keluar cairan putih.

Baca Juga: Setelah Hubungan Intim, Datang Haidh

Referensi:

Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i.Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily. Penerbit Darul Qalam.

 

 


 

Disusun @ Darush Sholihin, 18 Muharram 1441 H (18 September 2019)

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

 

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here