Home Thoharoh Safinatun Najah: Cara Menghilangkan Najis

Safinatun Najah: Cara Menghilangkan Najis

1236
0

Bagaimana cara menghilangkan najis? Bahasannya bisa ditemukan dari matan Safinatun Najah karya Syaikh Salim bin Sumair Al-Hadhrami Asy-Syafi’i berikut ini.

 

[Najis yang Bisa Suci]

الَّذِيْ يَطْهُرُ مِنَ النَّجَاسَاتِ ثَلاَثَةٌ:

1- الْخَمْرُ إِذَا تَخَلَّلَتْ بِنَفْسِهَا.

وَ2- جِلْدُ الْمَيْتَةِ إِذَا دُبِغَ

وَ3- مَا صَارَ حَيَواناً.

Fasal: Yang bisa menjadi suci dari najis ada 3, yaitu [1] khamar (arak) yang berubah dengan sendirinya (menjadi cuka), [2] kulit bangkai jika disamak (dubigha), dan [3] najis yang berubah menjadi hewan.

 

[Pembagian Najis]

النَّجَاسَاتُ ثَلاَثٌ:

مُغَلَّظَةٌ، وَمُخَفَّفَةٌ، وَمُتَوَسِّطَةٌ.

الْمُغَلَّظَةُ: نَجَاسَةُ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيْرِ وَفَرْغُ أَحدِهِمَا.

وَالْمُخَفَّفَة: بَوْلُ الصَّبِيِّ الَّذِيْ لَمْ يَطْعِمْ غَيْرَ اللَّبَنِ وَلَمْ يَبْلُغِ الْحَوْلَيْنِ.

وَالْمُتُوَسَّطَةُ: سَائِرُ النَّجَاسَاتِ.

Fasal: Najis itu ada 3, yaitu [1] mughallazhoh, [2] mukhaffafah, dan [3] mutawassithoh. Mughallazhoh adalah najis anjing dan babi beserta anak-anaknya. Mukhoffafah adalah kencing bayi laki-laki yang belum makan apapun selain ASI dan belum mencapai 2 tahun. Mutawassithah adalah najis selain keduanya.

 

[Cara Menghilangkan Najis]

الْمُغَلَّظَةُ تَطْهُرُ بِسَبْعِ غَسَلاَتٍ بَعْد إِزَالَةِ عَيْنِهَا إِحْدَاهُنَّ بِتُرَابٍ.

وَالْمُخَفّفَةُ تَطْمُرُ بِرَشِّ الْمَاءِ عَلَيْهَا مَعَ الْغَلَبَةِ وَإِزَالَةِ عَيْنِها.

وَالْمُتَوَسَّطَةُ تَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ: عَيْنِيَّةٌ، وَحُكْمِيَّةٌ.

الْعَيْنِيَّةُ: الَّتِيْ لَهَا لَوْنٌ وَرِيْحٌ وَطَعْمٌ، فَلاَ بُدَّ مِنْ إِزَالَةِ لَونِهَا وَريِحِهَا وَطَعْمِهَا.

وَالْحُكْمِيَّةُ: الَّتِيْ لاَ لَوْنَ وَلاَ ريْحَ وَلاَ طَعْمَ لَهَا، يَكْفِيْكَ جَرْيُ الْمَاءِ عَلَيْهَا.

Fasal: Mughallazhah disucikan dengan tujuhbasuhan setelah dihilangkan najisnya terlebih dahulu di mana salah satunya dengan debu. Mukhaffafah disucikan dengan memercikkan air di atasnya disertai menghilangkan najisnya.

Mutawassithah dibagi dua, yaitu [1] ainiyah dan [2] hukmiyah. Najis aini adalah najis yang memiliki warna, aroma, dan rasa sehingga cara mensucikannya harus menghilangkan warna, aroma, dan rasanya. Najis hukmi adalah najis yang tidak berwarna, beraroma, dan berasa sehingga cukup mengalirkan air di atasnya.

 

Catatan Dalil

Najis ‘ain dan najis yang bisa disucikan

Najis ‘ain seperti anjing dan babi, bangkai, darah, kencing, dan semacamnya tidaklah bisa disucikan sama sekali. Kecuali dua hal:

Pertama: Khamar berubah menjadi cuka dengan sendirinya atau karena berubah sendiri. Namun jika berubah karena ada tambahan zat tertentu, maka tidak jadi suci secara mutlak.

Kedua: Kulit yang najis dari hewan yang mati (bangkai) bisa suci dengan dibagh (disamak). Dalam hadits disebutkan,

أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ

Kulit bangkai apa saja yang telah disamak, maka dia telah suci.” (HR. Muslim, no. 366; An Nasa’i, no. 4241; Tirmidzi, no. 1728; Ibnu Majah, no. 3609).

Yang tidak jadi suci dengan dibagh dari kulit bangkai adalah dari anjing maupun babi.

 

Cairan yang terkena najis

Adapun untuk cairan yang terkena najis selain air diterangkan dalam hadits tentang bangkai tikus yang jatuh pada minyak samin berikut.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا وَقَعَتِ الْفَأْرَةُ فِى السَّمْنِ فَإِنْ كَانَ جَامِدًا فَأَلْقُوهَا وَمَا حَوْلَهَا وَإِنْ كَانَ مَائِعًا فَلاَ تَقْرَبُوهُ»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika tikus jatuh ke dalam minyak samin, lalu minyak tersebut padat, maka buanglah tikus tadi dan yang ada di sekitarnya. Namun jika minyak tersebut cair, maka janganlah mendekatinya.” (HR. Abu Daud, no. 3842. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini syadz).

 

Cukup menghilangkan najis dengan sekali cucian

  • Cukup menghilangkan najis dengan sekali cucian dengan air yang suci dan mensucikan. Caranya cukup dengan mengalirkan air pada tempat yang terkena najis. Bau, rasa, warna harus hilang. Namun kalau ada warna yang sulit dihilangkan seperti bekas darah, maka tidaklah masalah. Juga pada khamar tersisa bau sedikit jika memang sulit dihilangkan, maka tidaklah masalah. Adapun jika masih ada warna dan bau secara bersamaan, maka dianggap tempat yang terkena najis belum suci.
  • Boleh menggunakan sabun dalam menghilangkan najis.
  • Dan disunnahkan mencuci tempat najis hingga dua atau tiga kali, itu lebih baik.
  • Dalam masalah menghilangkan najis tidak disyaratkan ada niat. Hal ini berbeda jika ingin bersuci menghilangkan hadats, maka wajib ada niat karena bagian dari ibadah.
  • Disunnahkan segera menghilangkan najis, tidak menundanya.

 

Jika air dua qullah

  • Jika air telah mencapai dua qullah (sekitar 200 L) atau lebih, maka air tidaklah najis kecuali jika berubah salah satu dari sifatnya (bau, rasa, atau warna).
  • Jika air kurang dari dua qullah, maka air bisa jadi suci dengan ditambahkan air lain hingga melampaui dua qullah.

Tentang air dua qullah disebutkan dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَىْءٌ

Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak ada sesuatupun yang menajiskannya.” (HR. Ibnu Majah, no. 424. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).

 

Beda najis ‘ainiyyah dan hukmiyyah

Najis ‘ainiyyah adalah najis yang nampak warna atau baunya secara kasatmata. Contoh: kotoran buang hajat, kencing, dan darah.

Najis hukmiyyah adalah setiap najis yang sudah kering dan hilang bekasnya, tidak lagi nampak warna atau baunya. Contoh: kencing yang terkena pakaian lalu kering, dan tidak nampak bekas lagi.

 

Mengenal istihalah

Istihalah secara bahasa memiliki dua makna. Salah satu maknanya adalah,

تَغَيُّرُ الشَّيْءِ عَنْ طَبْعِهِ وَوَصْفِهِ

“Berubahnya sesuatu dari tabiat asal atau sifatnya yang awal.”

Yang termasuk dalam istihalah adalah berubahnya sesuatu yang najis. Istihalah atau perubahan tadi bisa terjadi pada kondisi apa saja?

Istihalah bisa terjadi pada ‘ain (zat) najis, seperti kotoran, khamar (bagi yang mengatakannya najis), dan babi. Istihalah bisa terjadi pula pada ‘ain (zat) najis yang berubah sifat-sifatnya. Bisa jadi dia berubah karena dibakar atau karena berubah menjadi cuka. Atau mungkin perubahan itu terjadi karena ada sesuatu yang suci yang bercampur dengannya. Seperti contohnya babi yang najis yang jatuh dalam garam, akhirnya menjadi garam.

Para ulama telah menyepakati bahwa apabila khamar berubah menjadi cuka dengan sendirinya (karena dibiarkan begitu saja), maka khamar tersebut menjadi suci. Namun para ulama berselisih jika khamar tadi berubah menjadi cuka melalui suatu proses tertentu.

Adapun untuk najis yang lainnya, apabila ia berubah dari bentuk asalnya, maka para ulama berselisih akan sucinya. Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 3:213-214.

Adapun ulama Syafi’iyyah dan pendapat ulama Hambali yang lebih kuat, najis ‘ain (zat) tidaklah dapat suci dengan cara istihalah. Jika anjing atau selainnya dilempar dalam garam, akhirnya mati dan jadi garam, maka tetap dihukumi najis. Begitu pula jika ada uap yang berasal dari api yang bahannya najis, lalu uap itu mengembun, maka tetap dihukumi najis.

Dikecualikan dalam masalah ini adalah untuk khamar, yaitu khamar yang berubah menjadi cuka dengan sendirinya, tidak ada campur tangan. Cuka yang berasal dari khamar seperti itu dianggap suci. Alasan najisnya khamar tadi adalah karena memabukkan. Saat jadi cuka tentu tidak memabukkan lagi, maka dari itu dihukumi suci. Hal ini telah menjadi ijmak (kesepakatan para ulama).

Adapun jika khamar berubah menjadi cuka dengan proses tertentu misalnya ada gas yg masuk, maka ketika itu tidaklah suci. Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 10:278-279.

 

Referensi:

  1. Al-Fiqh Al-Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i. Dr. Musthafa Al-Khin, Dr. Musthafa Al-Bugha, ‘Ali As-Syarji. Penerbit Darul Qalam.
  2. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah.Penerbit Kementrian Agama Kuwait.
  3. Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i.Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily. Penerbit Darul Qalam.

 

 


 

Disusun saat perjalanan Panggang – Jogja, 3 Muharram 1441 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

 

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here