Beranda Hukum Islam Thoharoh Safinatun Najah: Yang Diharamkan bagi Wanita Haidh

Safinatun Najah: Yang Diharamkan bagi Wanita Haidh

499
0

 

Sekarang kembali kita kaji kitab Safinatun Najah, fikih dasar Syafi’iyah dan lihat catatan dalil yang diberikan dalam tulisan kali ini.

Syaikh Salim Al-Hadrami rahimahullah berkata,

وَيَحْرُمُ بِالْحَيْضِ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ:

1- الصَّلاَةُ.

وَ2- الطَّوَافُ.

وَ3- مَسُّ الْمُصْحَفِ.

وَ4- حَمْلُهُ.

وَ5- اللُّبْثُ فِيْ الْمَسْجِدِ.

وَ6- قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ.

وَ7- الصَّوْمُ.

وَ8- الطَّلاَقُ.

وَ9- المُرُوْرُ فِيْ المَسْجِدِ إِنْ خَافَتْ تَلْوِيْثَهُ.

وَ10- الاسْتِمْتَاعُ بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ.

Wanita haidh diharamkan sepuluh hal, yaitu [1] shalat, [2] thawaf, [3-4] menyentuh mushaf dan membawanya, [5] berdiam diri di masjid, [6] membaca Al-Qur’an, [7] puasa, [8] talak, [9] melewati masjid jika takut mengotorinya, dan [10] istimta’ (bercumbu) di sekitar daerah antara pusar dan lutut.

 

Catatan Dalil

 

Pertama: Wanita haidh tidak boleh menjalankan shalat dan puasa

 

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ » . قُلْنَ بَلَى . قَالَ « فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا»

Bukankah kalau wanita tersebut haidh, dia tidak shalat dan juga tidak menunaikan puasa?” Para wanita menjawab, “Betul.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itulah kekurangan agama wanita.” (HR. Bukhari, no. 304)

Jika wanita haidh dan nifas tidak berpuasa, ia harus mengqadha puasa di hari lainnya. Berdasarkan perkataan ‘Aisyah, “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Muslim, no. 335)

 

Kedua: Thawaf bagi wanita haidh

 

Ketika ‘Aisyah haid saat haji, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya,

فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى

Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan thawaf di Kabah hingga engkau suci.”  (HR. Bukhari, no. 305 dan Muslim, no. 1211)

Sedangkan untuk thawaf wada’, wanita haid mendapatkan keringanan untuk meninggalkannya. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

أُمِرَ النَّاسُ أَنْ يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ ، إِلاَّ أَنَّهُ خُفِّفَ عَنِ الْحَائِضِ

Manusia diperintahkan menjadikan akhir amalan hajinya adalah di Baitullah (dengan thawaf wada’) kecuali hal ini diberi keringanan bagi wanita haidh.” (HR. Bukhari, no. 1755 dan Muslim, no. 1328).

 

Ketiga: Wanita haidh boleh membaca Al-Qur’an namun tidak boleh menyentuhnya

 

Ada hadits yang menyatakan,

لاَ تُقْرَأُ الحَائِضُ وَلاَ الجُنُبُ شَيْئاً مِنَ القُرْآنِ

Tidak boleh membaca Al-Qur’an sedikit pun juga bagi wanita haidh dan orang yang junub.” (HR. Tirmidzi, no. 131; Ibnu Majah, no. 595; Ad-Daruquthni, 1:117; Al-Baihaqi, 1:89. Hadits ini adalah hadits dhaif karena diriwayatkan oleh Isma’il bin ‘Iyasy bin Al-Hijaaziyayni, riwayat darinya dhaif. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ah Al-Fatawa, 21:460 menyatakan bahwa hadits ini dhaif menurut kesepakatan para ulama pakar hadits).

Ibnu Taimiyah mengatakan dalam Majmu’ah Al-Fatawa (26:191), “Hadits ini tidak diketahui sanadnya sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits ini sama sekali tidak disampaikan oleh Ibnu ‘Umar, tidak pula Nafi’, tidak pula dari Musa bin ‘Uqbah, yang di mana sudah sangat makruf banyak hadits dinukil dari mereka. Para wanita di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sudang seringkali mengalami haidh, seandainya terlarangnya membaca Al-Qur’an bagi wanita haidh/nifas sebagaimana larangan shalat dan puasa bagi mereka, maka tentu saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menerangkan hal ini pada umatnya. Begitu pula para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahuinya dari beliau. Tentu saja hal ini akan dinukil di tengah-tengah manusia (para sahabat). Ketika tidak ada satu pun yang menukil larangan ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tentu saja membaca Al-Qur’an bagi mereka tidak bisa dikatakan haram. Karena senyatanya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang hal ini. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak melarangnya padahal begitu sering ada kasus haidh di masa itu, maka tentu saja hal ini tidaklah diharamkan.”

Para ulama yang membolehkan membaca Al-Qur’an bagi wanita haidh adalah ulama Malikiyyah, Zhahiriyyah, salah satu pendapat yang diriwayatkan dari Imam Syafi’i yang qadim, salah satu pendapat Imam Ahmad, pendapat ini juga dipilih oleh Ath-Thabari, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Ibnu ‘Utsaimin, dan difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Daimah. Demikian disebutkan dalam Mulakhash Fiqh Al-‘Ibadat, hlm. 140.

Sedangkan yang tidak dibolehkan adalah menyentuh mushaf Al-Qur’an sebagaimana hadits,

لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ

Tidak boleh menyentuh Al-Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Tidak bolehnya menyentuh mushaf bagi wanita haidh ini disepakati oleh empat ulama madzhab, dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah bahwa ini adalah pendapat kebanyakan ulama. Lihat Mulakhash Fiqh Al-‘Ibadat, hlm. 141.

 

Bagaimana solusinya untuk wanita haidh agar bisa membaca Al-Qur’an?

Dua solusi yang bisa diberikan:

a- Membaca mushaf saat haidh namun tidak menyentuh secara langsung

b- Membaca Al-Qur’an terjemahan

 

Bagaimana Wanita Haidh Membaca Al Quran?

Keempat: Berjimak ketika haidh

 

Para ulama sepakat bahwa menyetubuhi wanita haidh di kemaluannya dihukumi haram.

Allah Ta’ala berfirman,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Dari Anas bin Malik disebutkan bahwa orang Yahudi biasanya ketika istri-istri mereka haidh, mereka tidak makan bersamanya dan tidak kumpul-kumpul dengan istrinya di rumah. Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya menanyakan tentang hal itu. Allah Ta’ala lantas menurunkan ayat di atas. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اصْنَعُوا كُلَّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ

Lakukanlah segala sesuatu selain jimak(hubungan intim).” (HR. Muslim,no. 302)

Dalam hadits disebutkan,

مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم-

“Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haidh atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Tirmidzi no. 135, Ibnu Majah no. 639. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang mengalami haidh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin bercumbu dengannya. Lantas beliau memerintahkannya untuk memakai sarung agar menutupi tempat memancarnya darah haidh, kemudian beliau tetap mencumbunya (di atas sarung). Aisyah berkata, “Adakah di antara kalian yang bisa menahan hasratnya (untuk berjimak) sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahannya?”   (HR. Bukhari, no. 302 dan Muslim, no. 293).

Imam Nawawi menyebutkan judul bab dari hadits di atas, “Bab mencumbu wanita haidh di atas sarungnya”. Artinya di selain tempat keluarnya darah haidh atau selain kemaluannya.

 

Kelima: Mentalak saat haidh

 

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya beliau pernah mentalak istrinya dan istrinya dalam keadaan haidh, itu dilakukan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menanyakan masalah ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا ، ثُمَّ لِيُمْسِكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ ثُمَّ تَحِيضَ ، ثُمَّ تَطْهُرَ ، ثُمَّ إِنْ شَاءَ أَمْسَكَ بَعْدُ وَإِنْ شَاءَ طَلَّقَ قَبْلَ أَنْ يَمَسَّ ، فَتِلْكَ الْعِدَّةُ الَّتِى أَمَرَ اللَّهُ أَنْ تُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ

Hendaklah ia merujuistrinya kembali, lalu menahannya hingga istrinya suci kemudian haidh hingga ia suci kembali. Bila ia (Ibnu Umar) mau menceraikannya, maka ia boleh mentalaknya dalam keadaan suci sebelum ia menggaulinya (menyetubuhinya). Itulah al ‘iddah sebagaimana yang telah diperintahkan Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Bukhari, no. 5251 dan Muslim, no. 1471)

 

Keenam: Bolehkah wanita haidh memasuki masjid

 

Berdasarkan kesepakatan empat ulama madzhab, wanita haidh tidak boleh berdiam di masjid. Sedangkan sekadar wanita haidh itu lewat selama tidak mengotori masjid masih dibolehkan, inilah yang jadi pendapat madzhab Syafi’iyah, Hambali, sekelompok ulama salaf, dipilih oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, Ibnu Hazm, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir, Ibnu Baz, dan Ibnu ‘Utsaimin. Lihat Mulakhash Fiqh Al-‘Ibadat, hlm. 141.

Salah satu dalil yang jadi rujukan dilarang wanita haidh berdiam di masjid adalah hadits dari Ummu Athiyah radhiyallahu anha, iaberkata, “Kami diperintahkan (maksudnya oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam) untuk mengajak ikut serta anak gadis remaja dalam dua ied beliau memerintahkan kami untuk menjauhkan wanita haidh dari tempat shalat kaum muslimin.” (HR. Bukhari, no. 974 dan Muslim, no. 890)

Namun hadits di atas maksudnya adalah menjauhkan wanita haidh dari tempat shalat ied karena mereka tidak shalat. Dan bukan berarti tempat shalat ied itu masjid seperti pada umumnya. Alasan inilah sebagai sanggahan.

Pendapat lainnya masih membolehkan wanita haidh untuk masuk masjid. Dalilnya adalah,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « نَاوِلِينِى الْخُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ ». قَالَتْ فَقُلْتُ إِنِّى حَائِضٌ. فَقَالَ « إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِى يَدِكِ».

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Berikan padaku sajadah (khumrah, tikar yang ditenun dari daun kurma untuk wajah dipakai untuk sujud, pen.) yang ada di masjid.” Aisyah berkata, “Aku menjawab kala itu, ‘Aku sedang haidh.’” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya haidmu bukan atas kuasamu mengaturnya.” (HR. Muslim, no. 298)

Syaikh Khalid Mushlih hafizhahullah dalam jawaban di Youtube menjelaskan, “Wanita haidh boleh saja masuk masjid jika ada hajat, inilah pendapat yang lebih tepat. Karena terdapat dalam kitab shahih (yaitu Shahih Muslim) bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada ‘Aisyah, “Berikan padaku sajadah kecil di masjid.” Lalu ‘Aisyah berkata, “Saya sedang haid.” Lantas Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu itu bukan karena sebabmu.”

Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Jibrin berkata, “Tidak ada dalil yang shahih dan tegas yang melarang wanita haidh untuk masuk masjid. Inilah yang tepat. Apalagi untuk zaman ini, sudah banyak pembalut yang dipakai oleh wanita haidh untuk mencegah darahnya agar tidak mengotori masjid. Apalagi jika masuk masjid terdapat hajat seperti mengikuti pelajaran (dars), belajar atau mengajarkan Al-Qur’an, atau wanita haidh harus masuk bersama temannya daripada ia hanya sendirian di luar, dan bentuk lainnya.” Lihat Syarh ‘Umdah Al-Fiqh, 1:156-157.

Hal ini menunjukkan bahwa boleh saja bagi wanita haid untuk memasuki masjid jika: (1) ada hajat; dan (2) tidak sampai mengotori masjid.

Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

Selesai disusun pagi hari, 15 Jumadats Tsaniyyah 1440 H (20 Februari 2019)

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini