Beranda Hukum Islam Thoharoh Safinatun Najah: Pembatal Wudhu

Safinatun Najah: Pembatal Wudhu

474
0

Saat ini kita akan lihat bahasan pembatal wudhu yang diambil dari kitab Safinatun Najah disertai dalil-dalil yang dipakai dalam madzhab Syafi’i dan keterangan lainnya.

 

Penulis Safinatun Najah berkata,

نَوَاقِضُ الْوُضُوْءِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ:

الأَولُ: الْخَارجُ مِنْ أَحَدِ السَّبِيْلَيْنِ، مِنْ قُبُلٍ أَوْ دُبُرٍ، رِيْحٌ أَوْ غَيْرُهُ، إِلاَّ الْمَنِيَّ.

الثَّانِيْ: زَوَالُ الْعَقْلِ بِنَوْمٍ أَوْ غَيْرِهِ،إِلاَّ قَاعِدٍ مُمَكِّنٍ مَقْعَدَتَهُ مِنَ الأَرْضِ.

الثَّالِثُ: الْتِقَاءِ بَشَرَتَيْ رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ كَبِيْرَيْنِ أَجْنَبِيَّيْنِ مِنْ غَيْرِ حَائِلٍ.

الرَّابعَ: مَسُّ قُبُلِ الآدَمِيِّ، أَوْ حَلْقَةِ دُبُرِهِ بِبَطْنِ الرَّاحَةِ، أِوْ بُطُوْنِ الأَصَابعِ.

Fasal:  Pembatal wudhu ada 4, yaitu

[1] apapun yang keluar dari salah satu dari dua jalan yaitu qubul (jalan depan/kemaluan) atau dubur (jalan belakang/ anus), baik kentut atau lainnya kecuali mani,

[2] hilangnya akal dengan tidur atau lainnya kecuali tidurnya orang yang duduk sambil mengokohkan duduknya di tanah (lantai),

[3] bersentuhannya dua kulit lelaki dengan perempuan dewasa bukan mahram tanpa pembatas,

[4] menyentuh qubul anak Adam atau lingkaran duburnya dengan telapak tangan atau jari-jarinya.

 

Pertama: Segala sesuatu yang keluar dari dua jalan membatalkan wudhu.

 

Rincian #01: Kencing dan buang air besar

Allah Ta’ala berfirman,

أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ

Atau kembali dari tempat buang air (kakus).”(QS. Al-Maidah: 6). Yang dimaksud di sini adalah buang hajat.

Para ulama sepakat (berijmak) bahwa buang air kecil dan air besar membatalkan wudhu. Ijmak ini dikatakan oleh Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm, Ibnu Rusyd, Ibnu Qudamah, dan Imam Nawawi. Lihat Shahih Fiqh As-Sunnah karya Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayid Salim, 1:127, Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah dan Mulakhash Fiqh Al-‘Ibadat, hlm. 103, Penerbit Ad-Duror As-Saniyyah.

Bagaimana jika kencing atau kotoran buang air besar keluar dari selain qubul dan dubur?

Menurut ulama Hanafiyah, Hambali, Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyyah, Ibnu ‘Utsaimin dan ulama Al-Lajnah Ad-Daimah, jika kotoran dan kencing tersebut keluar selain dari dua jalan tetap membatalkan wudhu. Lihat Mulakhash Fiqh Al-‘Ibadat, hlm. 104.

 

Rincian #02: Keluar kentut

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat seseorang yang berhadats tidak akan diterima sampai ia berwudhu.” Lalu ada orang dari Hadhromaut mengatakan, “Apa yang dimaksud hadats, wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah pun menjawab,

فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ

Di antaranya adalah kentut tanpa suara atau kentut dengan suara.” (HR. Bukhari, no. 135)

Para ulama pun sepakat bahwa kentut termasuk pembatal wudhu seperti kata Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Qudamah. Lihat Shahih Fiqh As-Sunnah, 1:128 dan Mulakhash Fiqh Al-‘Ibadat, hlm. 103.

 

Rincian #03:Keluar wadi dan madzi

Wadi adalah sesuatu yang keluar sesudah kencing pada umumnya, berwarna putih, tebal mirip mani, namun berbeda kekeruhannya dengan mani. Wadi tidak memiliki bau yang khas.

Sedangkan madzi adalah cairan berwarna putih, tipis, lengket, keluar ketika bercumbu rayu atau ketika membayangkan jimak (bersetubuh) atau ketika berkeinginan untuk jimak. Madzi tidak menyebabkan lemas dan terkadang keluar tanpa terasa yaitu keluar ketika muqoddimah syahwat. Laki-laki dan perempuan sama-sama bisa memiliki madzi. Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’, 5:383, pertanyaan kedua dari fatwa no.4262, Mawqi’ Al-Ifta’.

Madzi bisa membatalkan wudhu berdasarkan hadits tentang cerita ‘Ali bin Abi Thalib. ‘Ali radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً وَكُنْتُ أَسْتَحْيِى أَنْ أَسْأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ « يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ».

“Aku termasukorang yang sering keluar madzi. Namun aku malu menanyakan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallm dikarenakan kedudukan anaknya (Fatimah) di sisiku. Lalu aku pun memerintahkan pada Al Miqdad bin Al Aswad untuk bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau memberikan jawaban pada Al Miqdad, ‘Cucilah kemaluannya kemudian suruh ia berwudhu.’”(HR. Bukhari, no. 269 dan Muslim, no. 303)

Sedangkan wadi semisal dengan madzi sehingga perlakuannya sama dengan madzi.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Mengenai mani, madzi, dan wadi; adapun mani, maka diharuskan untuk mandi. Sedangkan wadi dan madzi.” Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Cucilah kemaluanmu, lantas berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat.” (HR. Al-Baihaqi, no. 771. Syaikh Abu Malik–penulis Shahih Fiqh As-Sunnah–mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih).

Ada ijmak ulama pula yang menyatakan bahwa wadi dan madzi membatalkan wudhu. Lihat Mulakhash Fiqh Al-‘Ibadat, hlm. 104.

 

Rincian #04: Keluar darah

Darah yang keluar dari dua jalan

Jika darah itu keluar dari dua jalan, jumhur ulama menyatakan sebagai pembatal wudhu. Sebagaimana dinyatakan dalam kitab Al-Mughni, ini menjadi pendapat Ats-Tsauri, Asy-Syafi’i, Ishaq, dan ash-habur ro’yi  (ulama Hanafiyah).

Berarti darah haidh dan nifas jika keluar maka wudhunya batal. Begitu pula asalnya untuk darah istihadhah juga membatalkan wudhu, namun diberikan keringanan untuk shalat dengan tetap berwudhu pada setiap masuk waktu shalat.

 

Darah yang keluar selain dari dua jalan

Darah yang keluar dari badan namun selain dari dua jalan, para fuqaha berselisih pendapat tentang batalnya wudhu ataukah tidak. Ada ulama yang menyatakan wudhunya batal jika darahnya banyak. Ada ulama yang menyatakan wudhunya tidak batal.

Imam Nawawi menyatakan bahwa ada ulama yang berpandangan keluarnya darah itu membatalkan wudhu jika keluar dari selain dua jalan. Ulama yang berpendapat seperti ini adalah madzhab Abu Hanifah, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Ahmad, dan Ishaq. Imam Al-Khathabi menyatakan bahwa ini adalah pendapat kebanyakan fuqaha. Ini menjadi pendapat dari ‘Umar bin Al-Khattab, ‘Ali bin Abi Thalib, ‘Atha’, Ibnu Sirin, Ibnu Abi Laila dan Zifr.

Ulama lainnya berpandangan bahwa keluar darah itu tidak membatalkan wudhu sebagaimana pendapat ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan sebagian ulama Hambali untuk darah yang sedikit saja.

Imam Nawawi menyatakan bahwa ulama Syafi’iyah berpendapat keluar darah itu tidak membatalkan wudhu jika keluar dari selain dua jalan, seperti darah luka, darah bekam, darah muntah, darah mimisan, baik darah itu sedikit maupun banyak. Demikian pendapat dari Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Abu Aufa, Jabir, Abu Hurairah, ‘Aisyah, Ibnul Musayyib, Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar, Al-Qasim bin Muhammad, Thawus, Makhul, Rabi’ah, Malik, Abu Tsaur, dan Daud. Bahkan kata Imam Al-Baghawi, inilah pendapat kebanyakan sahabat dan tabi’in.

Imam Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah menyatakan bahwa madzhab Ahlul Madinah sebagaimana kata Imam Malik, “Perkara ini menurut kami tidak membatalkan wudhu. Wudhu tidaklah batal ketika keluar darah berupa mimisan, muntah, nanah, begitu pula darah luka yang mengalir.”

Di antara dalil yang digunakan oleh ulama yang menyatakan batalnya wudhu karena keluar darah adalah hadits tentang darah istihadhah.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Fathimah bin Abu Hubaisy mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku wanita yang mengalami istihadhah dan belum suci. Apakah aku tetap meninggalkan shalat?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Tidak, itu hanyalah darah urat. Itu bukanlah darah haidh. Jika datang waktu kebiasaan haidhmu, maka tinggalkanlah shalat. Jika waktu kebiasaan haidhmu telah usai, maka mandilah, lalu shalatlah.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Ketika keluar darah istihadhah), berwudhulah setiap kali shalat sampai datang waktu tadi (waktu kebiasaan haidh).”   (HR. Bukhari, no. 228, Kitab 4: Al-Wudhu, Bab 63: Mencuci Darah)

Hadits ini dijadikan dalil bahwa keluar darah membatalkan wudhu karena keluar darah istihadhah diperintahkan untuk berwudhu. Sedangkan darah istihadhah adalah darah yang keluar karena adanya urat yang terluka. Sedangkan yang dimaksud sesuatu yang keluar dari dua jalan itu seperti kencing, kotoran buang air besar, dan haidh.

Adapun ulama yang berdalil bahwa keluar darah tidak membatalkan wudhu adalah hadits dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu yang menyatakan (ketika perang Dzatu Ar-Riqa’), ada seseorang yang dipanah hingga keluar darah, ia tetap melanjutkan ruku’ dan sujud dalam shalatnya.

Imam Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’ menjelaskan tentang darah istihadhah yang dijadikan dalil keluar darah membatalkan wudhu, “Makna hadits adalah hanya mengabarkan bahwa darah istihadhah bukanlah darah haidh. Darah istihadhah jika keluar tetap diwajibkan berwudhu karena darah tersebut keluar dari tempat hadats. Namun hal ini bukan dipahami bahwa setiap darah yang keluar dari mana saja membatalkan wudhu.”

Pendapat yang paling bagus adalah mengompromi di antara dua pendapat, yaitu keluar darah itu membatalkan wudhu jika banyak. Penyikapan dalil yang menyatakan bahwa keluar darah membatalkan wudhu dimaksudkan untuk darah yang banyak. Sedangkan dalil yang menyatakan tidak membatalkan wudhu adalah untuk menyikapi darah yang sedikit. Pendapat ini dipilih juga oleh Ibnu ‘Abdil Barr, Maj Ad-Diin Ibnu Taimiyah, dan Asy-Syaukani.

 

Kedua: Keluar mani diperintahkan untuk mandi wajib.

 

Segala sesuatu yang keluar dari dua jalan membatalkan wudhu kecuali satu saja yaitu mani. Mani tidaklah membatalkan wudhu, namun jika keluar diperintahkan untuk mandi junub. Lihat Al-Mu’tamad fi Al-Fiqh Asy-Syafi’i, karya Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaili, 1:86, Penerbit Dar Al-Qalam.

 

Ketiga: Keputihan apakah membatalkan wudhu

 

Dari penjelasan Syaikh Salim Al-Hadrami bahwa segala sesuatu yang keluar dari dua jalan membatalkan wudhu. Kita dapat simpulkan, keputihan termasuk membatalkan wudhu.

Bagaimana jika keputihannya keluar terus menerus?

Penyikapannya sama dengan orang yang mendapati hadats terus menerus seperti keluar darah istihadhah. Dua syarat sudah disebutkan sebelumnya oleh Syaikh Salim dalam Safinatun Najah:

  1. Berwudhu ketika masuk waktu shalat.
  2. Al-muwalah, tidak ada jeda lama dari bersuci ke shalat.

 

Keempat: Tidur bagaimanakah yang membatalkan wudhu?

 

Tidur yang tidak membatalkan wudhu menurut penulis Safinatun Najah adalah tidur dari orang yang duduk sambil mengokohkan duduknya di tanah (lantai)atau pantat duduk rapat di tanah.

Para ulama Syafi’iyah berdalil bahwa tidur yang tidak mapan di tanah membatalkan wudhu berdasarkan hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan,

إِنَّمَا الْعَيْنَانُ وِكَاءُ السَّهِ ، فَإِذَا نَامَتِ الْعَيْنُ اسْتَطْلَقَ الْوِكَاءُ

Mata itu tali (penutup) dubur, kalau kedua mata tidur, maka tali itu terlepas.” (HR. Ahmad, 4:96 dan Ad-Darimi, no. 722, 1:198. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Juga hadits dari Anas bin Malik bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum pernah menunggu shalat Isya dalam keadaan duduk, kemudian mereka shalat tanpa mengulangi wudhunya lagi.

Haditsnya sebagaimana berikut dari Anas bin Malik, ia berkata,

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنْتَظِرُونَ الْعِشَاءَ الآخِرَةَ حَتَّى تَخْفِقَ رُءُوسُهُمْ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلاَ يَتَوَضَّئُونَ

“Sesungguhnya para sahabat radhiyallahu ‘anhum menunggu pelaksanaan shalat Isya pada masa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam sampai kepalanya terkantuk-kantuk, kemudian mereka shalat tanpa berwudu.” (HR. Muslim, no. 861 dan Abu Daud, no. 200. Hadits ini lafazhnya dari Abu Daud)

Namun yang jelas tidur itu membatalkan wudhu dengan dalil hadits dari Shafwan bin ‘Assal, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا سَفَرًا أَنْ لا نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِلا مِنْ جَنَابَةٍ ، وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kami agar tidak melepaskan khuf (sepatu) kami selama tiga hari tiga malam jika kami dalam bepergian kecuali kalau dalam keadaan junub. Akan tetapi (kami tidak perlu melepas khuf) karena buang air besar, air kecil (kencing), dan tidur.” (HR. Tirmizi, no. 96. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Yang terbaik, kita katakan bahwa tidur itu ada dua macam:

  1. Tidur berat yang hilang kesadaran, ini membatalkan wudhu dan jadi kesepakatan empat ulama madzhab.
  2. Tidur ringan, ini tidak membatalkan wudhu dan jadi pendapat madzhab Malikiyah, serta pilihan Syaikh Ibnu Baz dan Ibnu ‘Utsaimin.

 

Kelima: Hilang akal membatalkan wudhu.

 

Hilangnya akal karena mabuk, pingsan dan gila. Ini berdasarkan ijmak (kesepakatan para ulama). Hilang kesadaran pada kondisi semacam ini tentu lebih parah dari tidur.Lihat Shahih Fiqh As-Sunnah, 1:133.

 

Keenam: Bersentuhan kulit dengan lawan jenis, benarkah membatalkan wudhu?

 

Bagi ulama yang menyatakan wudhu batal karena bersentuhan dengan lawan jenis, syaratnya adalah: (1) bersentuhan kulit, (2) bersentuhan laki-laki dan perempuan, (3) sama-sama dewasa, (4) dengan yang bukan mahram, (5) tanpa ada pembatas atau penghalang. Demikian pernyataan Syaikh Salim Al-Hadrami dalam matan Safinatun Najah.

Dalil yang menyatakan bahwa bersentuhan lawan jenis membatalkan wudhu adalah ayat,

أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ

atau menyentuh perempuan” (QS. Al-Ma’idah: 6). Menurut tafsiran Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar bahwa al-lams (lamastum) bermakna selain jimak. Jadi sekedar menyentuh, meraba dan mencium membatalkan wudhu.

Adapun dalil yang menyatakan tidak membatalkan wudhu adalah hadits dari ‘Aisyah di mana ia menyatakan,

فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِى عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِى الْمَسْجِدِ

“Suatu malam aku kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau ternyata pergi dari tempat tidurnya dan ketika itu aku menyentuhnya. Lalu aku menyingkirkan tanganku dari telapak kakinya (bagian dalam), sedangkan ketika itu beliau sedang (shalat) di masjid …” (HR. Muslim, no. 486)

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga menyatakan,

كُنْتُ أَنَامُ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَرِجْلاَىَ فِى قِبْلَتِهِ ، فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِى ، فَقَبَضْتُ رِجْلَىَّ ، فَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا . قَالَتْ وَالْبُيُوتُ يَوْمَئِذٍ لَيْسَ فِيهَا مَصَابِيحُ

“Aku pernah tidur di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedua kakiku di arah kiblat beliau. Ketika ia hendak sujud, ia meraba kakiku. Lalu aku memegang kaki tadi. Jika berdiri, beliau membentangkan kakiku lagi.” ‘Aisyah mengatakan, “Rumah Nabi ketika itu tidak ada penerangan.” (HR. Bukhari, no. 382 dan Muslim, no. 512)

Pendapat terkuat dalam masalah ini, menyentuh wanita tidaklah membatalkan wudhu. Di antara alasannya:

(1) Surah Al-Maidah ayat keenam lebih dikuatkan tafsiran dari Ibnu ‘Abbas karena beliau lebih pakar dalam hal tafsir. Ibnu ‘Abbas menafsirkan menyentuh dalam ayat tersebut adalah dengan jimak (hubungan intim). Lihat Tafsir Ath-Thabari, 5:137-142.

(2) Praktik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tetap melanjutkan shalat walaupun disentuh istrinya, ‘Aisyah ketika beliau shalat.

 

Ketujuh: Berbeda antara pembatal wudhu dan hukum bersentuhan dengan lawan jenis

 

Menurut jumhur (baca: mayoritas) ulama, berjabat tangan sesama mahram dibolehkan dan dihukumi sunnah (dianjurkan).

Ulama Syafi’iyah mengharamkan berjabat tangan dengan yang bukan mahram, juga tidak mengecualikan yang sudah sepuh yang tak ada syahwat atau rasa apa-apa. Mereka pun tidak membedakannya dengan yang muda-muda.

Namun untuk berjabat tangan dengan non mahram yang muda, maka tidak dibolehkan menurut mayoritas ulama dari madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Dalam pendapat Ibnu Taimiyah, seperti itu dihukumi haram. (Lihat bahasan dalam Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 11:452)

Dalil-dalil yang melarang berjabat tangan dengan non mahram.

‘Urwah bin Az Zubair berkata bahwa ‘Aisyah–istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam— berkata,

كَانَتِ الْمُؤْمِنَاتُ إِذَا هَاجَرْنَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُمْتَحَنَّ بِقَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ (يَا أَيُّهَا النَّبِىُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لاَ يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلاَ يَسْرِقْنَ وَلاَ يَزْنِينَ) إِلَى آخِرِ الآيَةِ. قَالَتْ عَائِشَةُ فَمَنْ أَقَرَّ بِهَذَا مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ فَقَدْ أَقَرَّ بِالْمِحْنَةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَقْرَرْنَ بِذَلِكَ مِنْ قَوْلِهِنَّ قَالَ لَهُنَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « انْطَلِقْنَ فَقَدْ بَايَعْتُكُنَّ ». وَلاَ وَاللَّهِ مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ. غَيْرَ أَنَّهُ يُبَايِعُهُنَّ بِالْكَلاَمِ – قَالَتْ عَائِشَةُ – وَاللَّهِ مَا أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى النِّسَاءِ قَطُّ إِلاَّ بِمَا أَمَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَمَا مَسَّتْ كَفُّ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَفَّ امْرَأَةٍ قَطُّ وَكَانَ يَقُولُ لَهُنَّ إِذَا أَخَذَ عَلَيْهِنَّ « قَدْ بَايَعْتُكُنَّ ». كَلاَمًا.

“Jika wanita mukminah berhijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka diuji dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina ….” (QS. Al-Mumtahanah: 12). ‘Aisyah pun berkata, “Siapa saja wanita mukminah yang mengikrarkan hal ini, maka ia berarti telah diuji.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri berkata ketika para wanita mukminah mengikrarkan yang demikian, “Kalian bisa pergi karena aku sudah membaiat kalian”. Namun -demi Allah- beliau sama sekali tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita pun. Beliau hanya membaiat para wanita dengan ucapan beliau. ‘Aisyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menyentuh wanita sama sekali sebagaimana yang Allah perintahkan. Tangan beliau tidaklah pernah menyentuh tangan mereka. Ketika baiat, beliau hanya membaiat melalui ucapan dengan berkata, “Aku telah membaiat kalian.” (HR. Muslim, no. 1866).

Dari Ma’qil bin Yasar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, 20: 211. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hadits ini sudah menunjukkan kerasnya ancaman perbuatan tersebut, walau hadits tersebut dipermasalahkan keshahihannya oleh ulama lainnya.

 

Kedelapan: Menyentuh kemaluan apakah membatalkan wudhu?

 

Pendapat pertama menyebutkan bahwa menyentuh kemaluan membatalkan wudhu. Pendapat ini adalah pendapat madzhab Imam Malik, Imam Asy Syafi’i–pendapat beliau yang masyhur, Imam Ahmad, Ibnu Hazm dan diriwayatkan pula dari banyak sahabat.

Di antara dalil dari pendapat ini adalah hadits dari Busrah binti Shafwan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, hendaklah ia berwudhu.” (HR. Tirmidzi, no. 82; Ibnu Majah, no. 479; Abu Daud, no. 181. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Pendapat kedua menyebutkan bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu sama sekali. Di antara dalil dari pendapat ini adalah hadits dari Thalq bin ‘Ali di mana ada seseorang yang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya,

مَسِسْتُ ذَكَرِى أَوِ الرَّجُلُ يَمَسُّ ذَكَرَهُ فِى الصَّلاَةِ عَلَيْهِ الْوُضُوءُ قَالَ  لاَ إِنَّمَا هُوَ مِنْكَ

Aku pernah menyentuh kemaluanku atau seseorang ada pula yang menyentuh kemaluannya ketika shalat, apakah ia diharuskan untuk wudhu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kemaluanmu itu adalah bagian darimu.”  (HR. Ahmad, 4:23. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ada seseorang yang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas ia bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا تَرَى فِى رَجُلٍ مَسَّ ذَكَرَهُ فِى الصَّلاَةِ قَالَ  وَهَلْ هُوَ إِلاَّ مُضْغَةٌ مِنْكَ أَوْ بَضْعَةٌ مِنْكَ.

Wahai Rasulullah, apa pendapatmu mengenai seseorang yang menyentuh kemaluannya ketika shalat?” Beliau bersabda, “Bukankah kemaluan tersebut hanya sekerat daging darimu atau bagian daging darimu?”  (HR. An-Nasa’i, no. 165; Tirmidzi, no. 85. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Ada juga pendapat pertengahan dalam hal ini karena mengompromikan dua dalil di atas yaitu menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu, hanya disunnahkan untuk berwudhu. Inilah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah sebagaimana dalam Majmu’ah Al-Fatawa, 21:241.

Mengenai pendapat Syafi’iyah tentang batalnya wudhu karena menyentuh kemaluan disyaratkan menyentuhnya dengan telapak tangan dan jari bagian dalam tanpa ada pembatas, baik menyentuh kemaluannya atau kemaluan lainnya, baik menyentuh kemaluan dewasa maupun anak-anak. Termasuk dalam hal ini adalah menyentuh dubur, baik dilakukan sengaja atau pun tidak, maka membatalkan wudhu. Lihat Al-Mu’tamad, 1:87-88.

 

Kesembilan: Menyentuh dubur apakah membatalkan wudhu?

 

Dalam madzhab Syafi’i, dubur itu termasuk al-farju. Maka dalil yang menunjukkan batalnya wudhu karena menyentuh kemaluan, dijadikan sebagai dalil untuk menunjukkan bahwa menyentuh dubur termasuk pembatal wudhu.

Yang tepat, dalil-dalil yang ada menunjukkan batalnya wudhu karena menyentuh kemaluan, bukan karena menyentuh dubur. Hukum asalnya adalah tetap dalam keadaan suci, tidaklah batal. Hukum asal ini bisa berubah kalau ada dalil pemaling yang meyakinkan.

 

Kesepuluh: Yang tidak membatalkan wudhu menurut ulama Syafi’iyah

 

Ada beberapa hal yang tidak menjadi pembatal wudhu menurut ulama Syafi’iyah:

  1. Keluarnya darah dari badan karena beberapa riwayat menyebutkan bahwa para sahabat ada yang kena tusukan senjata namun tetap melanjutkan ruku’ dan sujud.
  2. Makan daging apa pun.
  3. Tertawa tidak membatalkan wudhu, namun membatalkan shalat.
  4. Muntah, dianggap seperti hukum keluar darah.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan dalam Al-Majmu’ (2:63), “Hukum asal adalah tidak membatalkan wudhu sampai adanya dalil. Qiyas (analogi) dalam hal ini juga tidak berlaku karena ‘illah atau alasan hukum itu ada sifatnya tidak bisa dilogikan (ikut pada dalil).”

Semoga bermanfaat. Alhamdulillah berakhirlah pembahasan pembatal wudhu dari Safinatun Najah.

 

Buletin Safinatun Najah – Pembatal Wudhu #01

 

Buletin Safinatun Najah – Pembatal Wudhu #02

 

Buletin Safinatun Najah – Pembatal Wudhu #03

 

Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc.

Artikel Rumaysho.Com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini