Perhitungan Zakat Barang Dagangan


Sebelumnya rumaysho.com pernah membahas zakat emas dan perak serta zakat mata uang dan penghasilan. Saat ini ada pembahasan yang cukup urgent untuk diangkat yaitu zakat perdagangan. Khusus bagi pelaku bisnis atau para pedagang mesti memahami hal ini. Semoga harta dan bisnis kita semakin barokah dengan memperhatikan zakat.

Mengenal zakat barang dagangan

Barang dagangan (‘urudhudh tijaroh) yang dimaksud di sini adalah yang diperjualbelikan untuk mencari untung.

Dalil akan wajibnya zakat perdagangan adalah firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.” (QS. Al Baqarah: 267). Imam Bukhari meletakkan Bab dalam kitab Zakat dalam kitab shahihnya, di mana beliau berkata,

باب صَدَقَةِ الْكَسْبِ وَالتِّجَارَةِ

Bab: Zakat hasil usaha dan tijaroh (perdagangan)[1], setelah itu beliau rahimahullah membawakan ayat di atas.

Kata Ibnul ‘Arobi,

{ مَا كَسَبْتُمْ } يَعْنِي : التِّجَارَةَ

“Yang dimaksud ‘hasil usaha kalian’ adalah perdagangan”.[2]

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Para ulama empat madzhab dan ulama lainnya –kecuali yang keliru dalam hal ini- berpendapat wajibnya zakat barang dagangan, baik pedagang adalah seorang yang bermukim atau musafir. Begitu pula tetap terkena kewajiban zakat walau si pedagang bertujuan dengan membeli barang ketika harga murah dan menjualnya kembali ketika harganya melonjak. … ”[3]

Syarat zakat barang dagangan

  1. Barang tersebut dimiliki atas pilihan sendiri dengan cara yang mubah baik lewat jalan cari untung (mu’awadhot) seperti jual beli dan sewa atau  secara cuma-cuma (tabaru’at) seperti hadiah dan wasiat.
  2. Barang tersebut bukan termasuk harta yang asalnya wajib dizakati seperti hewan ternak, emas, dan perak. Karena tidak boleh ada dua wajib zakat dalam satu harta berdasarkan kesepakatan para ulama. Dan zakat pada emas dan perak –misalnya- itu lebih kuat dari zakat perdagangan, karena zakat tersebut disepakati oleh para ulama. Kecuali jika zakat tersebut di bawah nishob, maka bisa saja terkena zakat tijaroh.[4]
  3. Barang tersebut sejak awal dibeli diniatkan untuk diperdagangkan[5] karena setiap amalan tergantung niatnya.  Dan tijaroh (perdagangan) termasuk amalan, maka harus ada niat untuk didagangkan sebagaimana niatan dalam amalan lainnya.
  4. Nilai barang tersebut telah mencapai salah satu nishob dari emas atau perak, mana yang paling hati-hati dan lebih membahagiakan miskin. Sebagaimana dijelaskan bahwa nishob perak itulah yang lebih rendah dan nantinya yang jadi patokan dalam nishob.
  5. Telah mencapai haul (melalui masa satu tahun hijriyah). Jika barang dagangan saat pembelian menggunakan mata uang yang telah mencapai nishob, atau harganya telah melampaui nishob emas atau perak, maka haul dihitung dari waktu pembelian tersebut.[6] [7]

Kapan nishob teranggap pada zakat barang dagangan?

  1. Haul baru dihitung setelah nilai barang dagangan mencapai nishob.
  2. Menurut jumhur (mayoritas ulama), nishob yang teranggap adalah pada keseluruhan haul (selama satu tahun). Jika nilai barang dagangan di pertengahan haul kurang dari nishob, lalu bertambah lagi, maka perhitungan haul dimulai lagi dari awal saat nilainya mencapai nishob. Adapun jika pedagang tidak mengetahui kalau nilai barang dagangannya turun dari nishob di tengah-tengah haul, maka asalnya dianggap bahwa nilai barang dagangan masih mencapai nishob.[8]

Apakah mengeluarkan zakat barang dagangan denan barangnya atau nilainya?

Mayoritas ulama berpendapat bahwa wajib mengeluarkan zakat barang dagangan dengan nilainya karena nishob barang dagangan adalah dengan nilainya. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i dalam salah satu pendapatnya berpandangan bahwa pedagang boleh memilih dikeluarkan dari barang dagangan ataukah dari nilainya.[9] Adapun Ibnu Taimiyah memilih manakah yang lebih maslahat bagi golongan penerima zakat.[10]

Perhitungan zakat barang dagangan

Perhitungan zakat barang dagangan = nilai barang dagangan* + uang dagang yang ada + piutang yang diharapkan – utang yang jatuh tempo**.

* dengan harga saat jatuh haul, bukan harga saat beli.

** utang yang dimaksud adalah utang yang jatuh tempo pada tahun tersebut (tahun pengeluaran zakat). Jadi bukan dimaksud seluruh hutang pedagang yang ada. Karena jika seluruhnya, bisa jadi ia tidak ada zakat bagi dirinya.

Kalau mencapai nishob, maka dikeluarkan zakat sebesar 2,5% atau 1/40.

Contoh:

Pak Muhammad mulai membuka toko dengan modal 100 juta pada bulan Muharram 1432 H. Pada bulan Muharram 1433 H, perincian zakat barang dagangan Pak Muhammad sebagai berikut:

- Nilai barang dagangan     = Rp.40.000.000

- Uang yang ada                     = Rp.10.000.000

- Piutang                                   = Rp.10.000.000

- Utang                                      = Rp.20.000.000 (yang jatuh tempo tahun 1433 H)

Perhitungan Zakat

= (Rp.40.000.000 + Rp.10.000.000 + Rp.10.000.000 – Rp.20.000.000) x 2,5%

= Rp.40.000.000 x 2,5%

= Rp.1.000.000

Semoga Allah senantiasa memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat.

Wallahu waliyyut taufiq.


Pahami pembahasan zakat emas dan perak serta zakat mata uang di rumaysho.com. Juga lengkapi dengan pembahasan syarat-syarat zakat.

 

Direvisi ulang @ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 26 Jumadats Tsaniyah 1433 H

www.rumaysho.com



[1] Shahih Al Bukhari pada Kitab Zakat

[2] Ahkamul Qur’an, Ibnul ‘Arobi, 1: 469.

[3] Majmu’ Al Fatawa, 25: 45.

[4] Jika seseorang memiliki 10 kambing jika dijual maka harganya setara dengan 1000 dirham, artinya sudah di atas nishob perak. Maka ada kewajiban zakat untuk kambing tersebut meskipun tidak mencapai nishob kambing (yaitu 40 ekor). Karena yang jadi patokan dalam zakat barang dagangan adalah qimah, yaitu nilai barang tersebut.

Sebaliknya jika seseorang memiliki 40 ekor kambing, artinya sudah mencapai nishob. Kemudian ia persiapkan untuk dijual (berarti masuk zakat barang dagangan) dan harganya adalah setara dengan 100 dirham, artinya di bawah nishob perak. Maka saat ini tidak ada zakat karena qimah atau harga kambing tersebut tidak mencapai nishob (Lihat Syarhul Mumthi’, 6: 140-141).

[5] Jika seseorang membeli mobil dan berniat sejak awal untuk diperdagangkan, maka ada kewajiban zakat jika qimah-nya (harga mobil) telah mencapai nishob. Namun jika niatan membeli mobil hanya untuk kepentingan pribadi, lalu suatu saat ia jual, maka tidak ada zakat. Karena mobil tersebut sejak awal tidak diniatkan untuk diperdagangkan namun hanya untuk digunakan untuk kepentingan pribadi (Lihat Syarhul Mumthi’, 6: 141)

Jika awal pembelian diniatkan untuk penggunaan pribadi, namun di tengah jalan, mobil tersebut ingin didagangkan atau disewakan (dijadikan ro’sul maal atau pokok harta jual beli), maka tetap terkena wajib zakat jika telah melampaui haul dan nilainya di atas nishob. Karena setiap amalan tergantung pada niatnya. (Lihat Syarhul Mumthi’, 6: 143).

[6] Jika barang dagangan misalnya dibeli pada tanggal 1 Jumadal Akhir 1432 H seharga Rp.15 juta. Nishob perak = 595 gram x Rp.5.000/gram = Rp.2.975.000 dan nisbob emas = 85 gram x Rp.500.000/gram = Rp.42.500.000. Ini berarti barang dagangan tersebut sudah melebehi nishob dan terkena zakat. Perhitungan haul dihitung dari 1 Jumadal Akhir 1432 H dan pengeluaran zakat adalah satu tahun berikutnya, 1 Jumadal Akhir 1433 H.

[7] Lihat Al Mulakhosh Al Fiqhiy, 1: 346-347, Syarhul Mumthi’,  Al Wajiz Al Muqorin, hal. 36-37 dan Shahih Fiqh Sunnah, 2: 56-57.

[8] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2: 57 dan Al Wajiz Al Muqorin, hal. 37-39.

[9] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2: 57-58.

[10] Majmu’ Al Fatawa, 25: 80.



Pernah mengenyam pendidikan S1 di Teknik Kimia UGM Yogyakarta dan S2 Polymer Engineering di King Saud University Riyadh. Pernah menimba ilmu diin dari Syaikh Sholeh Al Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy Syatsri, dan Syaikh Sholeh Al 'Ushoimi. Aktivitas beliau sebagai Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, Pengasuh Rumaysho.Com, serta Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id.


  • Latifa

    Mohon penjelasan:
    1. Kalau kita punya toko alat tulis/ sembako, barangnya kan tdk bertahan satu tahun, Jadi hitungan haulnya bagaimana?
    2. Apakah masih perlu zakat pendapatan/ keuntungan tiap bulannya?

    terimakasih. Wassalamu’alaikum.
    Tifa

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      walaupun barangnya tdk bertahan setahun, kan bisa dihitung dr hasil uang penjualannya.

  • Trasidi

    saya mau memperjelas soal zakat barang :

    berarti apabila nilai modal dagangan kita secara keseluruhan seperti yg disebutkan diatas tidak sampai nishob kita tidak diharuskan untuk membayar zakat,apakah demikian?
    pernah ada yg bilang sama saya kalau kita dagang selama sudah mencapai haul maka wajib bagi kita membayar zakat tanpa mempertimbangkan nishob..hitungannya demikian (total(keuntungan/bulan – biaya pengeluaran seperti sewa tempat n gaji pegwai/bulan) x 12) x 2.5%…

    Terima kasih atas jawabannya

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Yg tepat zakat itu baru wajib jika di akhir tahun masih berada di atas nishob. Jk di bawah nishob, mk tdk ada zakat.
      Perhitungannya yg lebih baik adl spt rumus yg telah kami sebutkan di atas.

  • http://pulse.yahoo.com/_6RAKMUERNYOPH7OOWLNGNSQ62I Willy

    Ass.wr.wb. Tad, mengenai perhitungan besarnya zakat kan dikurangi dulu oleh hutang. hutang yang dimaksud hutang pada perdagangan tersebut atau hutang keseluruhan si pemilik usaha tersebut ? ? mohon penjelasannya

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Yang dimaksud adl utang yg jatuh tempo saat itu. sy sudah beri catatan dlm artikel di atas

  • ‘usysyaqulhurr

    tadz, di tempat kami banyak orang yang tidak punya pekerjaan tetap (kerja kalo ada buruhan saja) tetapi kesehariannya mereka punya sepeda motor bagus, hp bagus, meskipun seringkali mereka berhutang untuk keperluan sehari-harinya. tetapi secara fisik mereka masih muda dan kuat. bisakah mereka itu dimasukkan golongan mustahik? jazakallohu khoir…

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      kalau memang pekerjaan mereka tdk memenuhi seluruh kebutuhan pokok mereka, mk mereka berhak mendapat zakat. Sedangkan jk kebutuhn mrk bisa dipenuhi dr pekerjaan, mk kami sarankan cari org lain yg lebih membutuhkan dan kalangan fakir miskin spt itu masih banyak.

  • iwan

    klu usaha perkreditan perhitungannya gimana?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      jika utangnya yakin kembali maka perhitungannya seperti zakat harta, 2,5% zakatnya jika telah mencapai haul dan nishob.

  • Ari

    contoh soal pak Muhammad diatas, dengan modal 100 juta, dengan perincian zakat sbb:nilai barang = 40 juta
    uang yg ada = 10 juta
    piutang = 10 juta
    hutang = 20 juta
    40+10+10+20 = 80 juta
    pertanyaan:
    1.) Kemanakah sisa 20 juta? apakah 20 juta tsb habis untuk biaya keperluan hidup? seperti gaji dll
    2.) Apakah hutang 20 juta tsb, merupakan cicilan pembayaran dari hutang 100 juta? 
    (dalam arti pak Muhammad mendapatkan modal 100 juta dari hutang, dengan cicilan 5 tahun (bayar 20 juta/th))
    3.) Apabila seorang pedagang telah membayar zakat perdagangan, namun karena usahanya maju ditahun2 mendatang, pedagang tsb menabung Emas, apakah Emas tsb tetap dikenakan zakat apabila telah sampai nishob?
    (dalam arti pedagang tsb bayar zakat 2 kali, yaitu zakat perdagangan & zakat harta emas)
    4.) dari rumus diatas, apakah biaya-biaya seperti gaji karyawan, listrik, service charge kios, Pajak Penghasilan, dll, termasuk pengurang dari “uang dagang yang ada”?
    5.) dari rumus diatas, “nilai barang dagangan”, apakah ini nama lain dari harga jual barang?
    (bagaimana jika pedagang tsb menjual barang secara eceran & grosir, tentu harga grosir/unit barang lebih murah daripada harga eceran/unit barang, yg manakah harga yg dipakai saat perhitungan zakat?)
    6.) bolehkah menghitung zakat dengan tahun masehi, dengan syarat % nya 2,58%?- jumlah hari th masehi dikurangi 11 hari ( 365 – 11 = 354), 354 merupakan jumlah hari th hijriah
    – 2.5 dibagi 354, hasilnya dikali 365 = 2.58% (pembulatan)
    7.) saya kebetulan ingin memulai berdagang, alhamdulillah saya dimodali oleh saudara berupa kios, perlu diketahui harga beli kios tsb hampir 1 Milyar, Apakah saya perlu membayar zakat kios tersebut? Adakah zakat terhadap kios yg digunakan untuk berdagang?

    syukron jawabannya Ustadz, semoga Allah Subhanahu wa ta’ala senantiasa menjaga & melindungi ustadz beserta keluarga

  • Bambang Sugianto

    Assalamu’alaikum …Bismillah saya memiliki piutang berkisar 14-15 jt yang sudah 3 tahun belum ada tanda-tanda dibayar, kemungkinan besar sulit kembali…. apakah harus dizakati.. atau kepada salah satu orang yang brhutang boleh dipotong hutangnya sebagai pembayaran zakat saya? Jazzakalloh khoiron

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Waalaikumussalam

      Utang spt itu tdk masuk hitungan zakat, wallahu a’lam.

      Muhammad Abduh Tuasikal
      http://www.rumaysho.com

      Sent from my Iphone
      @ Jogja

      في ٢١‏/٠٧‏/٢٠١٢، الساعة ٦:٢٨ م، كتب “Disqus” :

  • Archi

    Assalaamu’alaikum Ustadz. Untuk rumah yang disewakan (per tahun atau per dua tahun), apakah perlu menunggu haul 1 tahun atau zakat dibayar pada saat menerima uang sewa dan berapa besar?
    Bagaimana zakat untuk rumah kosong (tidak ada yang menyewa), atau tanah kosong yang tidak ditanami?
    Jazakallah khair

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumussalam.
      1. Tetap menunggu 1 tahun
      2. Rumah yg tdk dibisniskan, begitu pula tanah, maka tidak dizakati.

      2012/7/25 Disqus

      • Abu Ismail

        kalau uang sewa tersebut habis untuk biaya hidup, sehingga belum genap 1 tahun uangnya sudah habis apakah masih terkena zakat

        • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

          Tdk terkena zakat ketika itu.

  • indra

    ustad berapa nilai nisob untuk zakat barang dagangan ini.

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Di atas 3 jt rupiah sdh kena zakat

      Muhammad Abduh Tuasikal
      http://www.rumaysho.com

      Sent from my Iphone
      @ Jogja

      في ٢٩‏/٠٧‏/٢٠١٢، الساعة ٩:٤٥ م، كتب “Disqus” :

  • riswan

    Ass.wr.wb.tad sy mempunyai usaha yg nilai barangnya sy perkirakan +-Rp 60.000.000 dan uang tunai Rp15.000.000 tp sy jg punya utang kepada saudara saya senilai Rp150.000.000 dan harus sy angsur sebesar Rp5.000.000/bulan dengan melihat kondisi ini apakah sy masih wajib mengeluarkan zakat barang dagangan dan klo wajib gimana cara hitungnya NB:utang sy yg senilai Rp150.000.000 dipergunakan bukan untuk membeli barang dagangan tapi digunakan utk menambah kekurangan uang saya waktu membeli rumah tempat sy berjualan sekarang.atas jawabannya sy ucapkan banyak terimakasih

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Semua uang tunai, nilai jual barang dan piutang ditotal lalu dikurangi utang yg jatuh tempo saat jatuh haul, bukan semua utang. Hasilnya dikenai zakat 2,5%.

      Powered by Telkomsel BlackBerry®

  • ahmad

    Assalamu’alaikum,
    Saudara saya mempunyai hutang kepada saya Rp.7.000.000,- dari tahun 2008 dan sampai sekarang belum dibayar, saya memang tidak menagih dengan meminta untuk segara dilunasi karena saya tidak mau terjadi keributan antara saya dan saudara saya tersebut, jadi saya hanya menunggu kapan saja saudara saya mau melunasinya. Apakah setiap tahun piutang tersebut wajib saya keluarkan zakatnya bersama harta saya yang ada?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam.
      Tunggu ketika kembali baru dizakati.

      Powered by Telkomsel BlackBerry®

  • http://www.facebook.com/spa.ajh.boleh Cucky’Aep Saepudin

    Assalamualaikumj.

    Ustadz benarkah pendapat yang mengatakan bahwa cara zakat perniagaan itu dibayr ketika kita belanja.

    Misal kita belanja barang 10.000.000 terus saat itu juga dikeluarkan zakat 2.5%…karena kakak saya cara zakatnya seperti itu…
    dan untuk menghitung barang dagangan yang sudah ada, aga kesulitan.

    Syukron

  • iwan budiman

    Ass wr wb, beberapa tahun lalu saya mengkredit sebuah dumptruck untuk saya usahakan mengangkut bahan bangunan, tetapi angkutanya ternyata sepi, setelah saya berhasil melunasi angsuran mobil tersebut, sekarang mobilnya akan saya jual, dan insya allah hasil penjualan mobil tsb akan saya rencanakan digunakan untuk umroh ke Tanah Suci bersama isteri, pertanyaan saya apakah hasil penjualan mobil tersebut wajib dikeluarkan zakatnya, terimakasih ustazd

  • Rahmat la pulga

    ust. apabila kita menjual barang kita seperti mobil apakah kita harus membayarkan zakatnya jga??

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Ada jk hasil penjualan bertahan slama setahun dan berada di atas nishob.
      Sent from my BlackBerry®
      powered by Sinyal Kuat INDOSAT

  • Abu Ismail

    Ustad, Jika saya membeli tanah untuk dijual kembali, kemudian 1/2 tanah tersebut laku.sebelum 1 tahun. kemudian sisa uang tersebut saya belikan tanah kembali di tempat lain. pertanayaanya apakah nishobnya disatukan 2 tanah tersebut? bagaimana menenentukan nilai tanah tersebut?
    Misalkan saya membeli tanah seharga 100jt, kemudian ingin menjual seharga 200jt, dan mungkin harga yang laku akan 150jt. Nilai mana yang saya gunakan dalam perhitungan nishob?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Uang yg ada saat ini dan harga tanah saat ini digabung, baru dizakati.

  • Ridwan Saputra

    assalamu`alaikum ustad !
    saya mau nanya ni,,
    saya kan berdagang di sebuah warung kecil yang penghasilan saya perhari a gak menentu, kadang saya dapat menyimpannya 30 ribu atau pun 20 ribu rupiah per hari,,
    lalu uang yang saya simpan tersbut saya tabung di bank,,

    bagai mana cara saya mengeluarkan zakat mal nya ustad ?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumussalam. Dihitung saja setiap akhir tahun hijriyah, uang tersebut tersisa berapa, maka itulah yang dizakat 2,5%.

      • ridwan saputra

        Kalau Sisanya tidak sampai batas nisabnya bagaimana ya ustad !

        • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

          Tdk ada zakat

  • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

    Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh

    Cukup utang atau piutang yang jatuh tempo saat haul.