Halalkah Bekicot dan Keong?


Saat ini kami mengangkat bahasan makanan bekicot atau keong. Di sebagian daerah sangat menyenangi makanan ini. Namun sebagian orang tidak menyukai dan menyatakan haram. Bagaimana tinjauan dalam masalah hewan yang satu ini?

Bekicot itu ada dua macam, ada bekicot darat dan bekicot air. Adapun bekicot darat digolongkan sebagai hasyarot (hewan kecil di darat seperti tikus, kumbang, dan kecoak [1]) yang tidak memiliki darah mengalir. Adapun bekicot air (disebut keong) digolongkan sebagai hewan air. Mari kita tinjau satu per satu dari jenis bekicot ini.

Hukum Bekicot Darat

Bekicot darat termasuk dalam hukum hasyarot (hewan kecil yang hidup di darat). Jumhur (mayoritas ulama) mengharamkan hasyarot. Imam Nawawi rahimahullah dalam Al Majmu’ (9: 16) berkata,

في مذاهب العلماء في حشرات الارض كالحيات والعقارب والجعلان وبنات وردان والفار ونحوها مذهبنا انها حرام وبه قال أبو حنيفة وأحمد وداود وقال مالك حلال

“Dalam madzhab ulama dan madzhab kami (Syafi’iyah), hukum hasyarot (seperti ular, kalajengking, kumbang, kecoak, dan tikus) itu haram. Demikian pula pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, dan Daud (Azh Zhohiri). Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa hasyarot itu halal.”

Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan,

ولا يحل أكل الحلزون البري , ولا شيء من الحشرات كلها : كالوزغ ، والخنافس , والنمل , والنحل , والذباب , والدبر , والدود كله – طيارة وغير طيارة – والقمل , والبراغيث , والبق , والبعوض وكل ما كان من أنواعها ؛ لقول الله تعالى : (حرمت عليكم الميتة) ؛ وقوله تعالى (إلا ما ذكيتم) ، وقد صح البرهان على أن الذكاة في المقدور عليه لا تكون إلا في الحلق ، أو الصدر , فما لم يقدر فيه على ذكاة : فلا سبيل إلى أكله : فهو حرام ؛

“Tidak halal memakan bekicot darat dan setiap hasyarot lainnya (seperti cecak, kumbang, semut, lebah, lalat, seluruh cacing, kutu, dan nyamuk) karena Allah Ta’ala berfriman (yang artinya), “Kecuali yang kalian bisa menyembelihnya”. Dalil menunjukkan bahwa penyembelihan hanya boleh dilakukan pada tenggorokan atau di dada. Sedangkan yang tidak mampu disembelih, maka jelas tidak boleh dimakan dan makanan seperti ini dihukumi haram.” (Al Muhalla, 7: 405)

Sedangkan ulama Malikiyah tidak menyaratkan hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir untuk melalui proses penyembelihan. Mereka menjadikan hukum hasyarot sebagaimana belalang, cukup penyembelihannya dengan cara direbus, dipanggang, atau ditusuk dengan garpu atau jarum hingga mati namun disertai menyebut ‘bismillah’. (Al Mudawanah, 1: 542)

Imam Malik pernah ditanya tentang suatu hewan di daerah Maghrib yang disebut halzun (bekicot) yang biasa berada di gurun dan bergantungan di pohon, apakah boleh dimakan? Imam Malik menjawab, “Aku berpendapat bekicot itu semisal belalang. Jika bekicot ditangkap lalu dalam keadaan hidup direbus atau dipanggang, maka tidak mengapa dimakan. Namun jika ditemukan dalam keadaan bangkai, tidak boleh dimakan.” (Muntaqo Syarh Al Muwatho’, 3: 110)

Hukum Bekicot Air (Keong)

Bekicot air (keong) termasuk dalam keumuman dalil yang menunjukkan halalnya hewan air. Allah Ta’ala berfirman,

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ

Dihalalkan bagimu binatang buruan air dan makanan (yang berasal) dari air.” (QS. Al Maidah: 96). Yang dimaksud dengan air di sini bukan hanya air laut, namun juga termasuk hewan air tawar. Karena pengertian “al bahru al maa’ “ adalah kumpulan air yang banyak. Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan air dalam ayat di atas adalah setiap air yang di dalamnya terdapat hewan air untuk diburu (ditangkap), baik itu sungai atau kolam.” (Fathul Qodir, 2: 361, Asy Syamilah). Dalam perkatan yang masyhur dari Ibnu ‘Abbas, yang dimaksud “shoidul bahr” dalam ayat di atas adalah hewan air yang ditangkap hidup-hidup, sedangkan yang dimaksud “tho’amuhu” adalah bangkai hewan air (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 5: 365). Yang dimaksud bangkai hewan air adalah yang mati begitu saja, tanpa diketahui sebabnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan,

سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنَ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ ».

“Seseorang pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, kami pernah naik kapal dan hanya membawa sedikit air. Jika kami berwudhu dengannya, maka kami akan kehausan. Apakah boleh kami berwudhu dengan air laut?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Air laut itu suci dan bangkainya pun halal.” (HR. Abu Daud no. 83, An Nasai no. 59, At Tirmidzi no. 69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ

Kami dihalalkan dua bangkai dan darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati dan limpa.” (HR. Ibnu Majah no. 3314. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Syuraih –sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata,

كُلُّ شَىْءٍ فِى الْبَحْرِ مَذْبُوحٌ

“Segala sesuatu yang hidup di air telah disembelih (artinya: halal).” (Disebutkan oleh Al Bukhari dalam kitab shahihnya)

Syaikh Sholeh Al Munajjid [2] hafizhohullah berkata,

جواز أكل الحلزون بنوعيه : البري والبحري ، ولو طبخ حيّاً فلا حرج ؛ لأن البري منه ليس له دم حتى يقال بوجوب تذكيته وإخراج الدم منه ؛ ولأن البحري منه يدخل في عموم حل صيد البحر وطعامه .

“Boleh saja memakan dua jenis bekicot yaitu bekicot darat dan bekicot air. Sekalipun dimasak hidup-hidup, tidaklah masalah. Karena bekicot darat itu tidak memiliki darah yang mengalir, lantas bagaimana mungkin dikatakan wajib disembelih. Sedangkan bekicot air termasuk dalam keumuman ayat “Dihalalkan bagimu binatang buruan air dan makanan (yang berasal) dari air.” (Fatawa Al Islam Sual Wa Jawab no. 114855)

Kesimpulan penulis adalah seperti yang dipilih oleh ulama Malikiyah dan Syaikh Sholeh Al Munajjid, bekicot itu halal, baik bekicot darat maupun bekicot air. Adapun bekicot darat tidak boleh dimakan jika mati dalam keadaan bangkai. Sedangkan cara menyembelih bekicot (karena tidak memiliki darah yang mengalir) adalah dengan dipanggang, dimasak, atau direbus hidup-hidup sambil mengucapkan ‘bismillah’.

Adapun keong mas sama dengan hukum bahasan di atas, terserah keong mas tersebut hidup di darat atau di air, atau dua-duanya.

Bagi yang merasa jijik dengan makanan ini,  silakan tidak memakannya. Yang kami bahas di sini adalah halal ataukah tidak hewan ini. Adapun yang tidak menyukai, yah monggo silakan. Kami pun tidak memerintahkan untuk menyantap makanan ini. Kami berpedoman pada hukum asal makanan itu halal selama tidak ada dalil yang mengharamkannya atau tidak ada alasan untuk mengharamkan. Adapun menjijikkan itu bersifat relatif, kadang satu orang dan lainnya berbeda. Sedangkan jika bekicot atau keong memiliki racun sehingga berbahaya ketika dimakan, maka dari sisi ini diharamkan.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. Wallahu a’lam.

 

@ Maktabah Jaliyat, Bathah, Riyadh KSA, 21 Muharram 1433 H

www.rumaysho.com




[1] Lihat Al Mathla’ ‘ala Abwabil Fiqh, 228

[2] Syaikh Sholeh Al Munajjid adalah da’i di kota Dammam, KSA. Beliau lama berguru dengan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, mufti dan ketua Al Lajnah Ad Daimah di Kerajaan Saudi Arabia di masa silam. Beliau memiliki website tanya jawab islam: www.islamqa.com.



Pernah mengenyam pendidikan S1 di Teknik Kimia UGM Yogyakarta dan S2 Polymer Engineering di King Saud University Riyadh. Pernah menimba ilmu diin dari Syaikh Sholeh Al Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy Syatsri, dan Syaikh Sholeh Al 'Ushoimi. Aktivitas beliau sebagai Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, Pengasuh Rumaysho.Com, serta Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id.


  • Agushariyanto-72

    trima kasih ,cuma saya masih perlu penjelasan,knapa hewan tersebut tidak dikelompokkan binatang yang hidup di dua alam,khususnya keong .

  • ummu hammam

    Ijin Share..jazakumullah khair…

  • Agushariyanto-72

    keong itu tidak dominan diair,kalo bertelur bukanya diair,kebalikanya dg katak,kalau bertelur justru diair,jadi keong bisa hidup didarat, mohon penjelasan…

  • ab aisyah

    Bagaimana dengan hukum cacing, soalnya banyak yang menggunakannya sebagai obat tipus. Apa termasuk jenis hasyarot juga? mohon penjelasan, jazakumulloh khoiro

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Insya Allah ada pembahasan tersendiri tentang cacing. Semoga Allah beri kemudahan untuk membahasnya.

    • July_asmara

       mohon maaf klo keliru…..sy pernah dengar ulama mengatakan,,,,selama msh ada obat yg halal,,,maka menggunakan obat yg asalnya haram tidak di perbolehkan,,,

  • July_asmara

     setujuuu….

  • Asmi

    saya juga sedang menunggu penjelasan ttg cacing. krn dulu sakit baru sembuh stelah dberi obat dg campuran cacing. Mohon penjelasannya

  • http://www.facebook.com/a.c.witarsa A Chacha Witarsa

    Halal bagi yang suka, haram buat yang jijik! ya gak bro?

  • ika

    jadi halal ya….????

  • Reighahome

    kok MUI mengharamkannya ya/

  • bakaneko

    Saya jadi bingung, Anda menyebutkan pendapat imam2 di atas yg menyebutkan bahwa bekicot darat itu haram, tetapi kenapa di bagian kesimpulan Anda menyatakan bahwa bekicot darat itu halal selama bukan dalam bentuk bangkai? Mohon penjelasannya yang komprehensif…

  • suwarno

    kalau tutut yang sekarang sedang ramai di pasaran masuk dalam kategori apa ?mohon penjelasannya min…syukron..

  • hamba Allah

    kalau pas makan belum merasa jijik dan enjoy2 aja, tapi setelah makan baru sadar dan timbul rasa jijik itu gmana ??? apa hukum’y ???? tolong penjelasan’y yah! syukron.

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Kembali ke pembahasan di atas.

      • hamba Allah

        Saya minta ma’af yah sebelum’y… tapi jawaban Anda itu belum mengena dengan pertanyaan saya. Tolong berikan jawaban yang lebih kongkretnya yahhhhh,,,,,,

        Syukron.

        • menjagakemurnian qur’anhadits

          Hukum itu kan halal harom, jijik atau nggak kan tergantung masing2 individu..
          kalo jijik dan gak mau makan ya terserah.. itu tidak akan mempengaruhi status hukum halal harom.

          • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

            Betul sekali. Barakallahu fiikum.

            Muhammad Abduh Tuasikal
            Rumaysho.com via my Iphone

            في ٢١‏/٠٣‏/٢٠١٣، الساعة ١٢:١٠ م، كتب “Disqus” :

  • PuliW

    Dari pada ragu dan lebih amannya mending ikuti jumhur mayoritas ulama apa lebih banyak yang menghalalkan atau yang mengharamkan

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Ikuti dalil, itu yg lebih meyakinkan. Allahu yahdiikum.

    • menjagakemurnian qur’anhadits

      Mengikuti jumhur mayoritas ? jika mayoritas salah berarti kita ikuti.. itu kesimpulannya..
      Berbeda dengan berpedoman qur’an hadits.. yang sudah pasti dan dijamin kebenarannya..
      jika saya perhatikan, yang meng-haromkan perkara diatas itu dasarnya pendapat, pendapat, menurut ini, menurut itu, tapi jika kita kembalikan ke qur’an dan hadits ? dalil mana yang meng-haromkan ?

    • mrtom123

      Cara menyikapi perkara syubhat (samar-samar antara halal-haram) adalah dgn mengikuti petunjuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

      Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu
      ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
      sallam bersabda,

      “Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya.
      Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada
      perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di
      sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja
      memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah
      perkara-perkara yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no.
      1599)

      • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

        Yg sdh yakin hukumnya, mk tdk jadi syubhat lg.

        Muhammad Abduh Tuasikal
        Rumaysho.com via my Iphone

        في ٢٣‏/٠٣‏/٢٠١٣، الساعة ٧:٤٤ ص، كتب “Disqus” :

  • Ori

    Bingung nih, kok dibilang hewan yang ga punya darah masuk kategori hasyarot trus cumi? udang? gmana y?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Yg dimaksud adl yg tdk punya darah mengalir ketika disembelih.

      Cumi dan udang masuk hewan air. Setiap hewan air halal dimakan.

      Powered by Telkomsel BlackBerry®

  • bagus ..

    Mengharamkan yg halal adalah DOSA BESAR menurut Al Quran, sebaiknya kita sangat berhati-hati dalam menyikapi, anjuran Nabi untuk tidak melakukan sesuatu hukumnya bisa bertingkat tergantung asbabul wurudnya, mungkin bekicot itu masuknya makruh dulu gak langsung haram, apalagi penelitian para ahli menunjukkan kandungan gizi tinggi, kasihan rakyat yg gak mampu beli daging karena sangat mahal. Mengharamkan sesuatu yg tidak begitu tegas dalilnya bisa mengakibatkan umat Islam terpecah dan saling mencela antar kelompok, mhn direnungkan.