Meluruskan Tata Cara Wudhu Sesuai Petunjuk Nabi


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

S etelah kita mempelajari berbagai macam najis, selanjutnya kita akan mengenal bagaimanakah tata cara wudhu yang benar yang sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga dengan pembahasan ini pula dapat meluruskan kesalahan-kesalahan yang selama ini ada. Hanya Allah yang beri taufik.

Shalat Tidak Sah Tanpa Berwudhu

Dari Ibnu ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma-, beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

Tidak ada shalat kecuali dengan thoharoh. Tidak ada sedekah dari hasil pengkhianatan.[1]

An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “Hadits ini adalah nash[2] mengenai wajibnya thoharoh untuk shalat. Kaum muslimin telah bersepakat bahwa thoharoh merupakan syarat sah shalat.” [3]

Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

Shalat salah seorang di antara kalian tidak akan diterima -ketika masih berhadats- sampai dia berwudhu.[4]

Tata Cara Wudhu

Mengenai tata cara berwudhu diterangkan dalam hadits berikut:

حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أَخْبَرَهُ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ – رضى الله عنه – دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ». قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَكَانَ عُلَمَاؤُنَا يَقُولُونَ هَذَا الْوُضُوءُ أَسْبَغُ مَا يَتَوَضَّأُ بِهِ أَحَدٌ لِلصَّلاَةِ.

Humran pembantu Utsman menceritakan bahwa Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu pernah meminta air untuk wudhu kemudian dia ingin berwudhu. Beliau membasuh kedua telapak tangannya 3 kali, kemudian berkumur-kumur diiringi memasukkan air ke hidung, kemudian membasuh mukanya 3 kali, kemudian membasuh tangan kanan sampai ke siku tiga kali, kemudian mencuci tangan yang kiri seperti itu juga, kemudian mengusap kepala, kemudian membasuh kaki kanan sampai mata kaki tiga kali, kemudian kaki yang kiri seperti itu juga. Kemudian Utsman berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini kemudian dia shalat dua rakaat dengan khusyuk (tidak memikirkan urusan dunia dan yang tidak punya kaitan dengan shalat[5]), maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. Ibnu Syihab berkata, “Ulama kita mengatakan bahwa wudhu seperti ini adalah contoh wudhu yang paling sempurna yang dilakukan seorang hamba untuk shalat”.[6]

Dari hadits ini dan hadits lainnya, kita dapat meringkas tata cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut.

  1. Berniat –dalam hati- untuk menghilangkan hadats.
  2. Membaca basmalah: ‘bismillah’.
  3. Membasuh kedua telapak tangan sebanyak tiga kali.
  4. Mengambil air dengan tangan kanan, lalu dimasukkan dalam mulut (berkumur-kumur atau madmadho) dan dimasukkan dalam hidung (istinsyaq) sekaligus –melalui satu cidukan-. Kemudian air tersebut dikeluarkan (istintsar) dengan tangan kiri. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali.
  5. Membasuh seluruh wajah sebanyak tiga kali dan menyela-nyela jenggot.
  6. Membasuh tangan –kanan kemudian kiri- hingga siku dan sambil menyela-nyela jari-jemari.
  7. Membasuh kepala 1 kali dan termasuk di dalamnya telinga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kedua telinga termasuk bagian dari kepala” (HR Ibnu Majah, disahihkan oleh Al Albani). Tatacara membasuh kepala ini adalah sebagai berikut, kedua telapak tangan dibasahi dengan air. Kemudian kepala bagian depan dibasahi lalu menarik tangan hingga kepala bagian belakang, kemudian menarik tangan kembali hingga kepala bagian depan. Setelah itu langsung dilanjutkan dengan memasukkan jari telunjuk ke lubang telinga, sedangkan ibu jari menggosok telinga bagian luar.
  8. Membasuh kaki 3 kali hingga ke mata kaki dengan mendahulukan kaki kanan sambil membersihkan sela-sela jemari kaki.

Berikut catatan penting yang perlu diperhatikan dalam tata cara wudhu di atas.

Niat Cukup dalam Hati

Yang dimaksud niat adalah al qosd (keinginan) dan al irodah (kehendak).[7] Sedangkan yang namanya keinginan dan kehendak pastilah dalam hati, sehingga niat pun letaknya dalam hati.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- mengatakan, “Letak niat adalah di hati bukan di lisan. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin dalam segala macam ibadah termasuk shalat, thoharoh, zakat, haji, puasa, memerdekakan budak, jihad dan lainnya.”[8]

Ibnul Qayim -rahimahullah- mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam –di awal wudhu- tidak pernah mengucapkan “nawaitu rof’al hadatsi (aku berniat untuk menghilangkan hadats …)”. Beliau pun tidak menganjurkannya. Begitu pula tidak ada seorang sahabat pun yang mengajarkannya. Tidak pula terdapat satu riwayat –baik dengan sanad yang shahih maupun dho’if (lemah)- yang menyebutkan bahwa beliau mengucapkan bacaan tadi.”[9]

Berkumur-kumur dan Memasukkan Air dalam Hidung Dilakukan Sekaligus Melalui Satu Cidukan Tangan

Ibnul  Qayyim menyebutkan,

“Ketika berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung (istinsyaq), terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan satu cidukan tangan, terkadang dengan dua kali cidukan dan terkadang pula dengan tiga kali cidukan. Namun beliau menyambungkan (tidak memisah) antara kumur-kumur dan istinsyaq. Beliau menggunakan separuh cidukan tangan untuk mulut dan separuhnya lagi untuk hidung. Ketika suatu saat beliau berkumur-kumur dan istinsyaq dengan satu cidukan maka kemungkinan cuma dilakukan seperti ini yaitu kumur-kumur dan istinsyaq disambung (bukan dipisah).

Adapun ketika beliau berkumur-kumur dan istinsyaq dengan dua atau tiga cidukan, maka di sini baru kemungkinan berkumur-kumur dan beristinsyaq bisa dipisah. Akan tetapi, yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan adalah memisahkan antara berkumur-kumur dan istinsyaq. Sebagaimana disebutkan dalam shahihain[10] dari ‘Abdullah bin Zaid bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tamadh-madho (berkumur-kumur) dan istinsyaq (memasukkan air dalam hidung) melalui air satu telapak tangan dan seperti ini dilakukan tiga kali. Dalam lafazh yang lain disebutkan bahwa  tamadh-madho (berkumur-kumur) dan istinsyaq (memasukkan air dalam hidung) melalui tiga kali cidukan. Inilah riwayat yang lebih shahih dalam masalah kumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air dalam hidung).

Tidak ada satu hadits shahih pun yang menyatakan bahwa kumur-kumur dan istinsyaq dipisah. Kecuali ada riwayat dari Tholhah bin Mushorrif dari ayahnya dari kakeknya yang mengatakan bahwa dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memisah antara kumur-kumur dan istinsyaq[11]. Dan riwayat tersebut hanyalah berasal dari Tholhah dari ayahnya, dari kakeknya. Padahal kakekanya tidak dikenal sebagai seorang sahabat.”[12]

Membasuh Kepala Cukup Sekali

Ibnul Qayyim menjelaskan,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membasuh kepalanya seluruh dan terkadang beliau membasuh ke depan kemudian ke belakang. Sehingga dari sini sebagian orang mengatakan bahwa membasuh kepala itu dua kali. Akan tetapi yang tepat adalah membasuh kepala cukup sekali (tanpa diulang). Untuk anggota wudhu lain biasa diulang. Namun untuk kepala, cukup dibasuh sekali. Inilah pendapat yang lebih tegas dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berbeda dengan cara ini.

Adapun hadits yang membicarakan beliau membasuh kepala lebih dari sekali, terkadang haditsnya shahih, namun tidak tegas. Seperti perkataan sahabat yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan mengusap tiga kali tiga kali. Seperti pula perkataan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membasuh kepala dua kali. Terkadang pula haditsnya tegas, namun tidak shahih. Seperti hadits Ibnu Al Bailamani dari ayahnya dari ‘Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap tangannya tiga kali dan membasuh kepala juga tiga kali. Namun perlu diketahui bahwa Ibnu Al Bailamani dan ayahnya adalah periwayat yang lemah.”[13]

Kepala Sekaligus Diusap dengan Telinga

Telinga hendaknya diusap berbarengan setelah kepala karena telinga adalah bagian dari kepala. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ

Dua telinga adalah bagian dari kepala.[14] Hadits ini adalah hadits yang lemah jika marfu’ (dianggap ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Akan tetapi hadits di atas dikatakan oleh beberapa ulama salaf di antaranya adalah Ibnu ‘Umar.[15]

Ash Shon’ani menjelaskan,

”Walaupun sanad hadits ini dikritik, akan tetapi ada berbagai riwayat yang menguatkan satu sama lain. Sebagai penguat hadits tersebut adalah hadits yang mengatakan bahwa membasuh dua telinga adalah sekaligus dengan kepala sebanyak sekali. Hadits yang menyebutkan seperti ini amatlah banyak, ada dari ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, Ar Robi’ dan ‘Utsman. Semua hadits tersebut bersepakat bahwa membasuh kedua telinga sekaligus bersama kepala dengan melalui satu cidukan air, sebagaimana hal ini adalah makna zhohir (tekstual) dari kata marroh (yang artinya: sekali). Jika untuk membasuh kedua telinga digunakan air yang baru, tentu tidak dikatakan, “Membasuh kepala dan telinga sekali saja”. Jika ada yang memaksudkan bahwa beliau tidaklah mengulangi membasuh kepala dan telinga, akan tetapi yang dimaksudkan adalah mengambil air yang baru, maka ini pemahaman yang jelas keliru.

Adapun riwayat yang menyatakan bahwa air yang digunakan untuk membasuh kedua telinga berbeda dengan kepala, itu bisa dipahami kalau air yang ada di tangan ketika membasuh kepala sudah kering, sehingga untuk membasuh telinga digunakan air yang baru.”[16]

Seluruh Kepala Dibasuh, Bukan Hanya Ubun-Ubun Saja

Allah Ta’ala berfirman,

وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ

Dan basuhlah kepala kalian.” (QS. Al Maidah: 6)

Fungsi huruf baa’ dalam ayat di atas adalah lil ilsoq artinya melekatkan dan bukan li tab’idh (menyebutkan sebagian). Maknanya sama dengan membasuh wajah ketika tayamum, sebagaimana dalam ayat,

فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ

Dan basuhlah wajah kalian.” (QS. Al Maidah: 6). Dua dalil di atas masih berada dalam konteks ayat yang sama. Mengusap wajah pada tayamum bukan hanya sebagian (namun seluruhnya) sehingga yang dimaksudkan dengan mengusap kepala adalah mengusap seluruh kepala.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan,

“Apabila ayat yang membicarakan tentang tayamum tidak mengatakan bahwa mash (membasuh) wajah hanya sebagian padahal tayamum adalah pengganti wudhu dan tayamum jarang-jarang dilakukan, bagaimana bisa ayat wudhu yang menjelaskan mash (membasuh) kepala cuma dikatakan sebagian saja yang dibasuh padahal wudhu sendiri adalah hukum asal dalam berthoharoh dan sering berulang-ulang dilakukan?! Tentu yang mengiyakan hal ini tidak dikatakan oleh orang yang berakal.”[17]

Begitu pula terdapat dalam hadits lain dijelaskan bahwa membasuh kepala adalah seluruhnya dan bukan sebagian. Dalilnya,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ قَالَ أَتَى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْرَجْنَا لَهُ مَاءً فِى تَوْرٍ مِنْ صُفْرٍ فَتَوَضَّأَ ، فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَيَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ ، وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَقْبَلَ بِهِ وَأَدْبَرَ ، وَغَسَلَ رِجْلَيْهِ

Dari ‘Abdullah bin Zaid, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, lalu kami mengeluarkan untuknya air dalam bejana dari kuningan, kemudian akhirnya beliau berwudhu. Beliau mengusap wajahnya tiga kali, mengusap tangannya dua kali dan membasuh kepalanya, dia menarik ke depan kemudian ditarik ke belakang, kemudian terakhir beliau mengusap kedua kakinya.[18]

Dalam riwayat lain dikatakan,

وَمَسَحَ رَأْسَهُ كُلَّهُ

Beliau membasuh seluruh kepalanya.[19]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Tidak ada satu pun sahabat yang menceritakan tata cara wudhu Nabi yang mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mencukupkan dengan membasuh sebagian kepala saja.”[20] Namun ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membasuh ubun-ubun, beliau juga sekaligus membasuh imamahnya.[21]

Sedangkan untuk wanita muslimah tata cara membasuh kepala tidak dibedakan dengan pria. Akan tetapi, boleh bagi wanita untuk membasuh khimarnya saja. Akan tetapi, jika ia membasuh bagian depan kepalanya disertai dengan khimarnya, maka itu lebih bagus agar terlepas dari perselisihan para ulama. Wallahu a’lam.[22]

Semoga bermanfaat.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com




[1] HR. Muslim no. 224.

[2] Nash adalah dalil tegas yang tidak mengandung kemungkinan makna kecuali itu saja.

[3] Syarh Muslim, An Nawawi, 3/102, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi, Beirut

[4] HR. Bukhari no. 6954 dan Muslim no. 225.

[5] Lihat maksud hadits “laa yuhadditsu bihi nafsuhu” Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 3/108 dan Syarh Sunan Abi Daud, Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr, 1/371, Asy Syamilah

[6] HR. Bukhari dan Muslim.

[7] Lihat Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, 22/242, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H.

[8] Al Fatawa Al Kubro, Ibnu Taimiyah, 2/87, Darul Ma’rifah Beirut, cetakan pertama, 1386.

[9] Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/196, Tahqiq: Syu’aib Al Arnauth dan ‘Abudl Qodir Al Arnauth, Muassasah Ar Risalah, cetakan ke-17, tahun 1415 H

[10] Bukhari dan Muslim, sebagaimana dikatakan oleh pentahqiq Zaadul Ma’ad.

[11] Dikeluarkan oleh Abu Daud. Namun terdapat seorang periwayat yang dho’if dan Mushorrif –ayah Tholhah- itu majhul. Lihat catatan kaki Zaadul Ma’ad, hal. 192.

[12] Zaadul Ma’ad, 1/192-193.

[13] Zaadul Ma’ad, 1/193.

[14] HR. Abu Daud no. 134, At Tirmidzi no. 37, Ibnu Majah no. 443, dan Ahmad (5/264).

[15] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik, 1/118, Al Maktabah At Taufiqiyah.

[16] Subulus Salam, Ash Shon’ani, 1/136-137, Mawqi’ Al Islam.

[17] Majmu’ Al Fatawa, 21/123

[18] HR. Bukhari no. 197.

[19] HR. Ibnu Khuzaimah (1/81). Al A’zhomi mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.

[20] Majmu’ Al Fatawa, 21/122.

[21] Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik, 1/118, Al Maktabah At Taufiqiyah.

[22] Idem



Pernah mengenyam pendidikan S1 di Teknik Kimia UGM Yogyakarta dan S2 Polymer Engineering di King Saud University Riyadh. Pernah menimba ilmu diin dari Syaikh Sholeh Al Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy Syatsri, dan Syaikh Sholeh Al 'Ushoimi. Aktivitas beliau sebagai Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, Pengasuh Rumaysho.Com, serta Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id.


  • Kurnia

    Kalo wudhu nya didalam kamar mandi yang juga ada tempat untuk buang hajat bgm ustad? karena tempat seperti itu tidak boleh membaca nama Allah.

    mohon jawabannya

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Itu boleh, asal betul-betul aman dari najis dan baca bismillah-nya cukup dalam hati.

  • robetatop

    saya rasa tidak tepat judulnya : ” sholat tidak sah tampa berwudhu ” terus bagaimana orang yang bertayamum.apakah sholatnya syah .terima kasih pa ustad

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Judul tersebut tepat. Karena tayamum baru dibolehkan jika tidak bisa wudhu. Jika kita tayamum sedangkan masih ada air, maka tayamumnya gak sah. Jadi judulnya tidak perlu kami ubah.

  • yoga

    Afwan Ustad tolong penjelasan lebih rinci mengenai cara berkumur dan memasukkan air ke hidung dalam satu cidukan. Jadi, kita mengambil air lalu sebagian untuk berkumur dan sebagian lagi langsung dimasukkan ke hidung? hal trsebut diulang tiga kali lalu dilanjutkan dengan membasuh muka. Begitu maksudnya Ustad?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Iya betul maksudnya adalah seperti itu.

  • mey-mey

    jadi utk berkumur-kumur hanya dilakukan satu kali sekaligus memasukkan air ke dalam hidung begitu ya pa ustad?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Iya betul.

  • mey-mey

    utk membasuh kaki dan tangan dilakukan secara bergantian kanan-kiri,kanan-kiri, kanan- kiri atau diselesaikan kanan 3 kali lalu baru kiri 3 kali? terimakasih atas jawaban nya…artikel ini sudah lama saya tunggu..

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      selesaikan kanan dulu 3 kali, baru yang kiri 3 kali.

  • Amalia

    “… boleh bagi wanita untuk membasuh khimarnya saja.”
    Ustad, khimar itu apa ya?
    Kalau untuk muslimah bisa diperjelas lagi cara membasuh kepalanya?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Khimar adalah jilbab itu sendiri (yaitu yang menutup kepala). Kalau wanita dalam keadaan memakai jilbab dan hendak berwudhu sedangkan jilbab tersebut tidak bisa dicopot, maka ia boleh:
      1. Mengusap jilbab dan sebagian rambut kepala jika memungkinkan.
      2. Boleh juga hanya mengusap kepala saja.

  • Abu Matiin

    Kebanyakan kita (baca: saya dan orang disekitar saya) berwudhu dengan membasuh telinga sebelum membasuh kaki, (saya baca dan diajarkan guru sewaktu sekolah menengah), apakah sebaiknya saya tinggalkan?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Mengusap telinga betul sebelum membasuh kaki. Namun mengusapnya ini sekaligus berbarengan dengan kepala sebagaimana dijelaskan di atas.

      Yang patut diikuti tentu saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pendapat guru bisa diambil jika tidak bertentangan dengan hadits Nabi.

      Semoga Allah memberikan antum hidayah demi hidayah.

  • candra

    maaf saya sedikit bingung disini, sepengetahuan saya dari buku maupun dr guru mengaji adalah: pada saat membasuh tangan 3x diselingi Basmalah 3x juga, lalu niat (dgn bhs arab) di lafadzkan pada saat akan membasuh wajah, setelah itu pada saat membasuh wajah niat dlm hati (dgn bhs indonesia)..dan pada zaman nabi dahulu tentunya lafadz niat hanya dgn bahasa arab dan didalam hati..mohon penjelasannya secara detail agar kami dpt lebih memperdalam ilmu dlm beribadah…Syukron katsiro

  • abunaura

    Asslkum, Ustad kalo setiap habis wudhu saya selalu membasuh air yg ada di muka, tangan dsb, ada yg bilang bahwa dosa-dosa kita berguguran bersama dgn air wudhu kita, apakah ada hadist yg menyatakan demikian ? lalu apakah kita dilarang membasuh air bekas wudhu ? mohon penjelasannya, terima kasih

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Coba kami sertakan dalilnya insya Allah. Yang jelas hal tersebut tidak sampai haram, cuma makruh. Wallahu a’lam.

  • mustaqim

    assalamu’alaikum,ana msh agak bingung tata cara berkumur sekaligus hidung dan membasuh kepala

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam. Intinya, kumur2 dan memasukkan air dalam hidung cukup lewat satu cidukan, tidak perlu ambil air baru. Itu yang lebih kuat pendapatnya.

  • http://www.facebook.com/dedy.lesmana Dedy Lesmana

    Salam. Maaf, ustadz. sy jadi bingung mana yg harus sy pegang tata cara ber wudlu. pada awalnya sy sdh menggunakan tata cara di atas. hanya saja stlh sy baca kitab IHYA ULUMUDIN- Karya Imam Al Ghazali ternyata sedikit berbeda dg yg di atas. terutama dengan tatacara menghirup air dan membasuh kepala. mana yg harus sy jdkan pegangan. sungguh sy sgt bingung???

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Yang jadikan pijakan adalah yang sesuai petunjuk nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Silakan renungkan kembali manakah di antara dua pendapat tersebut yang lebih mendekati tuntutnan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

  • http://www.yahoo.com Fahrul

    Assalamu ‘alaikum
    Ustadz apakah wudhu orang awam yang hanya memasukkan jari2nya ke hidung dg air dg terpisah dari kumur2 di mulut tanpa berkumur-kumur dan istinsyaq dengan satu cidukan atau tak melakukan istinsyaq dg sempurna sah wudhu mereka? Jazakallah

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam.
      Selama masih memenuhi rukun, maka itu dianggap sah. Jadi cara seperti itu masih dikatakan sah karena masih memenuhi rukun.

  • Abdul Abidin

    Ustadz, adakah dalil yang menjelaskan Nabi pernah membasuh anggota wudhu sekali saja. kalau ada mohon sertakan dalilnya. jazakumullahu khair

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Coba nanti kami carikan insya Allah. Belum bisa saat ini.

  • Fachrur Fauzi

    Assalamualaikum Ustadz,saya mw tny jika berkumur3x dan memasukan jari2nya kdlm hidung juga 3x kyk bgtu apakah sah Ustadz??mohon pnjelasannya..

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh.
      Jika yg dimaksud antara berkumur2 dan memasukkan air dalam hidung itu dipisah (tdk sekali jalan, atau tidak lewat satu cidukan), maka wudhunya tetap sah. Namun yg tepat adalah berkumur2 dan memasukkan air dalam hidung dilakukan sekali jalan sebagaimana keterangan di atas dan ini diulang sebanyak 3 kali.
      Semoga Allah beri kepahaman.

  • whiee

    makasi ustad penjelasan cara wudhunya, saya jadi tambah ilmu baru :)

  • Ziyadyazid61

    assalaamu ‘alaikum w.w.
    terima ksih artikelnya

  • Ziyadyazid61

    trima kasih artikelnya, ustd

  • Ziyadyazid61

    trim artknya

  • Gufron

    ass wr wb.
    sy mau tanya, apa perbedaan MENGUSAP, MEMBASUH dan MENGGUYUR??
    Dalam alQur’an disebutkan bahwa dalam bewudhu KAKI termasuk DIUSAP. Mohon komentarnya. trmksh
    wasslmkm

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      kalau kita dekati dg istilah bahasa Arab mngkn lebih paham.
      Ada istilah:
      1. Al ghuslu: artinya airnya dialirkan spt ketika mencuci kaki dan tangan
      2. Al mashu: artinya airnya cukup dibasahi ke tangan dan tangan tsb yg akan mengusap.

  • Mr_mamax

    subhanalloh, sangat berarti bagi semua, alhamdulillah

  • Budyastyawan

    Mohon tanya ya ustadz ketika berkumur dan memasukkan air kedalam hidung saya menggunakan kedua tangan, tidak tangan kanan saja, apakah hal tersebut sah??

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      wudhunya sah.

  • Zakky_amd

    bukannya terjemahan untuk bagian kaki itu :” mencuci kaki ” alih2 membasuh. menurut saya untuk kaki berbeda perlakuannya. harus digosok (dengan tangan) dan termasuk sela-sela jari. jadi terjemahannya bukan “membasuh”.wallahu a’lam..

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      menurut kami membasuh dan mencuci itu sama, berbeda halnya dg mengusap.

  • E_rhee_plus

    Assalaamu’alaikum ustad, apa maksud ‘hadits shahih namun tidak tegas’ dan ‘hadits yang tegas namun tidak shahih’?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      wa’alaikumus salam.
      Ada hadits shahih namun tidak tegas makna yg dimaksud dan ada hadits yang tegas makna yang dimaksud namun sayangnya tidak shahih.

  • Budi Ylto

    assalamualaikum.
    mau nanya…
    membasuh tangan dan kaki 3 x secara bergantian kanan kiri, apa sebelah kanan 3 x dlu baru sebelah kiri 3 x. terima kasih.

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam

      Membasuhnya adl kanan dahulu diselesaikan, setelah itu yg kiri.

  • Syarif_h80

    Assalamualaikum Wr.wb
    hukumnya bagaimana kalau kita berwudhu dikamar mandi tertutup tetapi tidak menutup aurat

  • Hasmarw

    assalamualaikum,,,,
    saya pernah mendengar, kalau niat berwudhu di bca saat membasuh muka, apakah itu benar ???????
    trimaksih.

  • Putri Merissa

    Assalamualaikum… mau bertanaya mengenai jawaban :”Khimar adalah jilbab itu sendiri (yaitu yang menutup kepala).
    Kalau wanita dalam keadaan memakai jilbab dan hendak berwudhu sedangkan
    jilbab tersebut tidak bisa dicopot, maka ia boleh:1. Mengusap jilbab dan sebagian rambut kepala jika memungkinkan.2. Boleh juga hanya mengusap kepala saja. maksud “Mengusap jilbab “itu apakah secara keseluruhan bagian kepala?, dan “boleh juga hanya mengusap kepala saja” itu berarti melepas dulu jilbabnya?Jazakumullh atas jawabannya..

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam.
      1. boleh mengusap jilbab dg sedikit rambut yg diusap.
      2. lebih baik mengusap kepala saja, di tempat tertutup shg tdk nampak aurat.

  • Nugraha Gani

    Asslamualaikum..pa ustadz ijin bertanya, masih kurang paham dalam praktiknya mengenai “Mengambil air dengan tangan kanan, lalu dimasukkan dalam mulut (berkumur-kumur atau madmadho) dan dimasukkan dalam hidung (istinsyaq) sekaligus –melalui satu cidukan-. Kemudian air tersebut dikeluarkan (istintsar) dengan tangan kiri. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali”..Jazakumullah atas jawabnnya..

  • N_lela75

    alhamdullah hr ini sy tambah ilmu

  • Rashid

    contoh, jika membasuh tangan kanan 3 kali, kiri 3 kali, itu prakteknya kanan-kiri, kanan-kiri, kanan-kiri; atau kanan 3kali-kiri 3 kali?
    jazakallohu khoiro

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      kanan dulu selesai, setelah itu kiri.

  • yugo

    afwan ustad , kalau kepala dibasuh atau diusap ya? kalau berdasarkan kutipan artikel diatas

    Dalam riwayat lain dikatakan,

    وَمَسَحَ رَأْسَهُ كُلَّهُ

    “Beliau membasuh seluruh kepalanya.”[19]

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Dibasuh atau diusap adl istilah yg sama. Sdgnkan yg dimaksud adl membasahi tangan lalu mengusapnya.
      Muhammad Abduh Tuasikal
      http://www.rumaysho.com

      Sent from my Iphone
      @ Jogja

      في ٢١‏/٠٧‏/٢٠١٢، الساعة ٥:٥٤ ص، كتب “Disqus” :

  • http://twitter.com/3n1gmaa Sultan Saladin

    Maaf, kalau di Surah Al-maidah ayat 6 yg dicuci adalah muka dan tangan (faghsilu), sedang kepala dan kaki hanya mengusap (wamsahu). Bagaimana ini kok bisa berbeda antara ayat Qur’an dan Haditsnya? Yg mana yang lebih kuat? Terima kasih

  • amir

    kok cara wudhunya beda dengan ayat tentang wudhu ?… aneh!!!

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Aneh dr mana yah?
      Mana yg beda?

      Powered by Telkomsel BlackBerry®

  • Bambang Riyanto

    Maaaf ustadz, bukankah untuk kepala CUKUP MENGUSAP, bukan MEMBASUH ?

  • Yandi Permana

    Alhamdulillah semoga artikel ini menjadi ladang amal untuk kita semua,amin

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Barakallahu fiikum.

      Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
      Rumaysho.com

  • rusmansyah salijo

    terimakasih atas semoga apa yang kami baca jadi penggangan kami

  • Ga Lih

    saya biasa membasuh kepala dari depan ke belakang (mendekati leher) lalu ke depan lagi sekali basuh, kemudian saya mengambil air lagi untuk membasuh telinga dan samping kepala, apakah hal ini diperbolehkan? Jazakumullah

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Yang sesuai ajaran Rasul, membasuh kepala dilanjutkan langsung dg telinga tanpa mengambil air yg baru.
      Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
      Rumaysho.com via My Ipad

  • Ogi Efd

    Apakah ada do’a selesai berwudhu, jika memang ada do’anya, do’anya apa pak ustadz?

  • Rhezi Flash

    ustadz mau tanya,
    kalau Tholhah bin Mushorrif itu seorag tabi’in atau bukan ?