Panduan Sujud Sahwi (1), Hukum dan Sebab Adanya Sujud Sahwi


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Saat ini kita akan membahas pembahasan menarik mengenai sujud sahwi, sujud karena lupa. Kami akan sajikan dengan sederhana supaya lebih memahamkan pembaca sekalian. Panduan sujud sahwi ini akan kami bagi menjadi beberapa seri tulisan. Semoga bermanfaat.

Definisi Sujud Sahwi

Sahwi secara bahasa bermakna lupa atau lalai.[1] Sujud sahwi secara istilah adalah sujud yang dilakukan di akhir shalat atau setelah shalat untuk menutupi cacat dalam shalat karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan atau mengerjakan sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja.[2]

Pensyariatan Sujud Sahwi

Para ulama madzhab sepakat mengenai disyariatkannya sujud sahwi. Di antara dalil yang menunjukkan pensyariatannya adalah hadits-hadits berikut ini. Hadits-hadits ini pun nantinya akan dijadikan landasan dalam pembahasan sujud sahwi selanjutnya.

Pertama: Hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نُودِىَ بِالأَذَانِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ لَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعَ الأَذَانَ فَإِذَا قُضِىَ الأَذَانُ أَقْبَلَ فَإِذَا ثُوِّبَ بِهَا أَدْبَرَ فَإِذَا قُضِىَ التَّثْوِيبُ أَقْبَلَ يَخْطُرُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا. لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ إِنْ يَدْرِى كَمْ صَلَّى فَإِذَا لَمْ يَدْرِ أَحَدُكُمْ كَمْ صَلَّى فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ

Apabila adzan dikumandangkan, maka setan berpaling sambil kentut hingga dia tidak mendengar adzan tersebut. Apabila adzan selesai dikumandangkan, maka ia pun kembali. Apabila dikumandangkan iqomah, setan pun berpaling lagi. Apabila iqamah selesai dikumandangkan, setan pun kembali, ia akan melintas di antara seseorang dan nafsunya. Dia berkata, “Ingatlah demikian, ingatlah demikian untuk sesuatu yang sebelumnya dia tidak mengingatnya, hingga laki-laki tersebut senantiasa tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat. Apabila salah seorang dari kalian tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, hendaklah dia bersujud dua kali dalam keadaan duduk.” (HR. Bukhari no. 1231 dan Muslim no. 389)

Kedua:  Hadits Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلاَثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلاَتَهُ وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ

Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, dan tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, tiga ataukah empat rakaat maka buanglah keraguan, dan ambilah yang yakin. Kemudian sujudlah dua kali sebelum salam. Jika ternyata dia shalat lima rakaat, maka sujudnya telah menggenapkan shalatnya. Lalu jika ternyata shalatnya memang empat rakaat, maka sujudnya itu adalah sebagai penghinaan bagi setan.” (HR. Muslim no. 571)

Ketiga: Hadits Abu Hurairah, ia berkata,

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعَشِيِّ إِمَّا الظُّهْرَ وَإِمَّا الْعَصْرَ فَسَلَّمَ فِي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَتَى جِذْعًا فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ فَاسْتَنَدَ إِلَيْهَا مُغْضَبًا وَفِي الْقَوْمِ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرَ فَهَابَا أَنْ يَتَكَلَّمَا وَخَرَجَ سَرَعَانُ النَّاسِ قُصِرَتْ الصَّلَاةُ فَقَامَ ذُو الْيَدَيْنِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَقُصِرَتْ الصَّلَاةُ أَمْ نَسِيتَ فَنَظَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمِينًا وَشِمَالًا فَقَالَ مَا يَقُولُ ذُو الْيَدَيْنِ قَالُوا صَدَقَ لَمْ تُصَلِّ إِلَّا رَكْعَتَيْنِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ وَرَفَعَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat pada salah satu dari dua shalat petang, mungkin shalat Zhuhur atau Ashar. Namun pada raka’at kedua, beliau sudah mengucapkan salam. Kemudian beliau pergi ke sebatang pohon kurma di arah kiblat masjid, lalu beliau bersandar ke pohon tersebut dalam keadaan marah. Di antara jamaah terdapat Abu Bakar dan Umar, namun keduanya takut berbicara. Orang-orang yang suka cepat-cepat telah keluar sambil berujar, “Shalat telah diqoshor (dipendekkan).” Sekonyong-konyong Dzul Yadain berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah shalat dipendekkan ataukah anda lupa?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menengok ke kanan dan ke kiri, lalu bersabda, “Betulkan apa yang dikatakan oleh Dzul Yadain tadi?” Jawab mereka, “Betul, wahai Rasulullah. Engkau shalat hanya dua rakaat.” Lalu beliau shalat dua rakaat lagi, lalu memberi salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” (HR. Bukhari no. 1229 dan Muslim no. 573)

Keempat: Hadits ‘Imron bin Hushain.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَلَّى الْعَصْرَ فَسَلَّمَ فِى ثَلاَثِ رَكَعَاتٍ ثُمَّ دَخَلَ مَنْزِلَهُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ الْخِرْبَاقُ وَكَانَ فِى يَدَيْهِ طُولٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَذَكَرَ لَهُ صَنِيعَهُ. وَخَرَجَ غَضْبَانَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَى النَّاسِ فَقَالَ « أَصَدَقَ هَذَا ». قَالُوا نَعَمْ. فَصَلَّى رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat ‘Ashar lalu beliau salam pada raka’at ketiga. Setelah itu beliau memasuki rumahnya. Lalu seorang laki-laki yang bernama al-Khirbaq (yang tangannya panjang) menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya, “Wahai Rasulullah!” Lalu ia menyebutkan sesuatu yang dikerjakan oleh beliau tadi. Akhirnya, beliau keluar dalam keadaan marah sambil menyeret rida’nya (pakaian bagian atas) hingga berhenti pada orang-orang seraya bertanya, “Apakah benar yang dikatakan orang ini?“ Mereka menjawab, “Ya benar”. Kemudian beliau pun shalat satu rakaat (menambah raka’at yang kurang tadi). Lalu beliau salam. Setelah itu beliau melakukan sujud sahwi dengan dua kali sujud. Kemudian beliau salam lagi.” (HR. Muslim n o. 574)

Kelima: Hadits ‘Abdullah bin Buhainah.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِي صَلَاةِ الظُّهْرِ وَعَلَيْهِ جُلُوسٌ فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ وَسَجَدَهُمَا النَّاسُ مَعَهُ مَكَانَ مَا نَسِيَ مِنْ الْجُلُوسِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat Zhuhur namun tidak melakukan duduk (tasyahud awal). Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali, dan beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk sebelum. Beliau lakukan seperti ini sebelum salam. Maka orang-orang mengikuti sujud bersama beliau sebagai ganti yang terlupa dari duduk (tasyahud awal).” (HR. Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570)

Keenam: Hadits ‘Abdullah bin Mas’ud.

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَمْسًا فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَزِيدَ فِى الصَّلاَةِ قَالَ « وَمَا ذَاكَ ». قَالُوا صَلَّيْتَ خَمْسًا. قَالَ « إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَذْكُرُ كَمَا تَذْكُرُونَ وَأَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ ». ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَىِ السَّهْوِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami lima raka’at. Kami pun mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah engkau menambah dalam shalat?” Lalu beliau pun mengatakan, “Memang ada apa tadi?” Para sahabat pun menjawab, “Engkau telah mengerjakan shalat lima raka’at.” Lantas beliau bersabda, “Sesungguhnya aku hanyalah manusia semisal kalian. Aku bisa memiliki ingatan yang baik sebagaimana kalian. Begitu pula aku bisa lupa sebagaimana kalian pun demikian.” Setelah itu beliau melakukan dua kali sujud sahwi.” (HR. Muslim no. 572)

Lalu apa hukum sujud sahwi?

Mengenai hukum sujud sahwi para ulama berselisih menjadi dua pendapat, ada yang mengatakan wajib dan ada pula yang mengatakan sunnah. Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini dan lebih menentramkan hati adalah pendapat yang menyatakan wajib. Hal ini disebabkan dua alasan:

  1. Dalam hadits yang menjelaskan sujud sahwi seringkali menggunakan kata perintah. Sedangkan kata perintah hukum asalnya adalah wajib.
  2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus melakukan sujud sahwi –ketika ada sebabnya- dan tidak ada satu pun dalil yang menunjukkan bahwa beliau pernah meninggalkannya.

Pendapat yang menyatakan wajib semacam ini dipilih oleh ulama Hanafiyah, salah satu pendapat dari Malikiyah, pendapat yang jadi sandaran dalam madzhab Hambali, ulama Zhohiriyah dan dipilih pula oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.[3]

Sebab Adanya Sujud Sahwi

Pertama: Karena adanya kekurangan.

Rincian 1: Meninggalkan rukun shalat[4] seperti lupa ruku’ dan sujud.

  1. Jika meninggalkan rukun shalat dalam keadaan lupa, kemudian ia mengingatnya sebelum memulai membaca Al Fatihah pada raka’at berikutnya, maka hendaklah ia mengulangi rukun yang ia tinggalkan tadi, dilanjutkan melakukan rukun yang setelahnya. Kemudian hendaklah ia melakukan sujud sahwi di akhir shalat.
  2. Jika meninggalkan rukun shalat dalam keadaan lupa, kemudian ia mengingatnya setelah memulai membaca Al Fatihah pada raka’at berikutnya, maka raka’at sebelumnya yang terdapat kekurangan rukun tadi jadi batal. Ketika itu, ia membatalkan raka’at yang terdapat kekurangan rukunnya tadi dan ia kembali menyempurnakan shalatnya. Kemudian hendaklah ia melakukan sujud sahwi di akhir shalat.
  3. Jika lupa melakukan melakukan satu raka’at atau lebih (misalnya baru melakukan dua raka’at shalat Zhuhur, namun sudah salam ketika itu), maka hendaklah ia tambah kekurangan raka’at ketika ia ingat. Kemudian hendaklah ia melakukan sujud sahwi sesudah salam.[5]

Rincian 2: Meninggalkan wajib shalat[6] seperti tasyahud awwal.

  1. Jika meninggalkan wajib shalat, lalu mampu untuk kembali melakukannya dan ia belum beranjak dari tempatnya, maka hendaklah ia melakukan wajib shalat tersebut. Pada saat ini tidak ada kewajiban sujud sahwi.
  2. Jika meninggalkan wajib shalat, lalu mengingatnya setelah beranjak dari tempatnya, namun belum sampai pada rukun selanjutnya, maka hendaklah ia kembali melakukan wajib shalat tadi. Pada saat ini juga tidak ada sujud sahwi.
  3. Jika ia meninggalkan wajib shalat, ia mengingatnya setelah beranjak dari tempatnya dan setelah sampai pada rukun sesudahnya, maka ia tidak perlu kembali melakukan wajib shalat tadi, ia terus melanjutkan shalatnya. Pada saat ini, ia tutup kekurangan tadi dengan sujud sahwi.

Keadaan tentang wajib shalat ini diterangkan dalam hadits Al Mughirah bin Syu’bah. Ia mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ فَلَمْ يَسْتَتِمَّ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ فَإِذَا اسْتَتَمَّ قَائِمًا فَلاَ يَجْلِسْ وَيَسْجُدْ سَجْدَتَىِ السَّهْوِ

Jika salah seorang dari kalian berdiri dari raka’at kedua (lupa tasyahud awwal) dan belum tegak berdirinya, maka hendaknya ia duduk. Tetapi jika telah tegak, maka janganlah ia duduk (kembali). Namun hendaklah ia sujud sahwi dengan dua kali sujud.” (HR. Ibnu Majah no. 1208 dan Ahmad 4/253)

Rincian 3: Meninggalkan sunnah shalat[7].

Dalam keadaan semacam ini tidak perlu sujud sahwi, karena perkara sunnah tidak mengapa ditinggalkan.

Kedua: Karena adanya penambahan.

  1. Jika seseorang lupa sehingga menambah satu raka’at atau lebih, lalu ia mengingatnya di tengah-tengah tambahan raka’at tadi, hendaklah ia langsung duduk, lalu tasyahud akhir, kemudian salam. Kemudian setelah itu, ia melakukan sujud sahwi sesudah salam.
  2. Jika ia ingat adanya tambahan raka’at setelah selesai salam (setelah shalat selesai),  maka ia sujud ketika ia ingat, kemudian ia salam.

Pembahasan ini dijelaskan dalam hadits Ibnu Mas’ud,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – صَلَّى الظُّهْرَ خَمْسًا فَقِيلَ لَهُ أَزِيدَ فِى الصَّلاَةِ فَقَالَ « وَمَا ذَاكَ » . قَالَ صَلَّيْتَ خَمْسًا . فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ بَعْدَ مَا سَلَّمَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat Zhuhur lima raka’at. Lalu ada menanyakan kepada beliau, “Apakah engkau menambah dalam shalat?” Beliau pun menjawab, “Memangnya apa yang terjadi?” Orang tadi berkata, “Engkau shalat lima raka’at.” Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud dua kali setelah ia salam tadi.” (HR. Bukhari no. 1226 dan Muslim no. 572)

Ketiga:  Karena adanya keraguan.

  1. Jika ia ragu-ragu –semisal ragu telah shalat tiga atau empat raka’at-, kemudian ia mengingat dan bisa menguatkan di antara keragu-raguan tadi, maka ia pilih yang ia anggap yakin. Kemudian ia nantinya akan melakukan sujud sahwi sesudah salam.
  2. Jika ia ragu-ragu –semisal ragu telah shalat tiga atau empat raka’at-, dan saat itu ia tidak bisa menguatkan di antara keragu-raguan tadi, maka ia pilih yang ia yakin (yaitu yang paling sedikit). Kemudian ia nantinya akan melakukan sujud sahwi sebelum salam.

Mengenai permasalahan ini sudah dibahas pada hadits Abu Sa’id Al Khudri yang telah lewat. Juga terdapat dalam hadits ‘Abdurahman bin ‘Auf, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَهَا أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ وَاحِدَةً صَلَّى أَوْ ثِنْتَيْنِ فَلْيَبْنِ عَلَى وَاحِدَةٍ فَإِنْ لَمْ يَدْرِ ثِنْتَيْنِ صَلَّى أَوْ ثَلاَثًا فَلْيَبْنِ عَلَى ثِنْتَيْنِ فَإِنْ لَمْ يَدْرِ ثَلاَثًا صَلَّى أَوْ أَرْبَعًا فَلْيَبْنِ عَلَى ثَلاَثٍ وَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

Jika salah seorang dari kalian merasa ragu dalam shalatnya hingga tidak tahu satu rakaat atau dua rakaat yang telah ia kerjakan, maka hendaknya ia hitung satu rakaat. Jika tidak tahu dua atau tiga rakaat yang telah ia kerjakan, maka hendaklah ia hitung dua rakaat. Dan jika tidak tahu tiga atau empat rakaat yang telah ia kerjakan, maka hendaklah ia hitung tiga rakaat. Setelah itu sujud dua kali sebelum salam.” (HR. Tirmidzi no. 398 dan Ibnu Majah no. 1209. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 1356)

Yang perlu diperhatikan: Seseorang tidak perlu memperhatikan keragu-raguan dalam ibadah pada tiga keadaan:

  1. Jika hanya sekedar was-was yang tidak ada hakikatnya.
  2. Jika seseorang melakukan suatu ibadah selalu dilingkupi keragu-raguan, maka pada saat ini keragu-raguannya tidak perlu ia perhatikan.
  3. Jika keraguan-raguannya setelah selesai ibadah, maka tidak perlu diperhatikan selama itu bukan sesuatu yang yakin.

Demikian serial pertama mengenai sujud sahwi dari rumaysho.com. Adapun mengenai tatacara sujud sahwi, bacaan di dalamnya dan permasalahan-permasalahn seputar sujud sahwi, akan kami bahas pada kesempatan selanjutnya insya Allah. Semoga Allah mudahkan.

 

Artikel www.rumaysho.com

Panggang-GK, 22 Jumadits Tsani 1431 H (04/06/2010)

Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal




[1] Lisanul ‘Arob, Muhammad bin Makrom binn Manzhur Al Afriqi Al Mishri, 14/406, Dar Shodir.

[2] Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/459, Al Maktabah At Taufiqiyah.

[3] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/ 463.

[4] Yang dimaksud dengan rukun shalat adalah setiap perkataan atau perbuatan yang akan membentuk hakikat shalat. Jika salah satu rukun ini tidak ada, maka shalat pun tidak teranggap secara syar’i dan juga tidak bisa diganti dengan sujud sahwi.

Meninggalkan rukun shalat ada dua bentuk.

Pertama: Meninggalkannya dengan sengaja. Dalam kondisi seperti ini shalatnya batal dan tidak sah dengan kesepakatan para ulama.

Kedua: Meninggalkannya karena lupa atau tidak tahu. Di sini ada tiga rincian,

-          Jika mampu untuk mendapati rukun tersebut lagi, maka wajib untuk melakukannya kembali. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama.

-          Jika tidak mampu mendapatinya lagi, maka shalatnya batal menurut ulama-ulama Hanafiyah. Sedangkan jumhur ulama (mayoritas ulama) berpendapat bahwa raka’at yang ketinggalan rukun tadi menjadi hilang.

-          Jika yang ditinggalkan adalah takbiratul ihram, maka shalatnya harus diulangi dari awal lagi karena ia tidak memasuki shalat dengan benar. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/313-314)

[5] Keadaan semacam ini sudah dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah tentang Dzul Yadain yang telah lewat.

[6] Yang dimaksud wajib shalat adalah perkataan atau perbuatan yang diwajibkan dalam shalat. Jika wajib shalat ini lupa dikerjakan, bisa ditutup dengan sujud sahwi. Namun jika wajib shalat ini ditinggalkan dengan sengaja, shalatnya batal jika memang diketahui wajibnya. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/328)

[7] Yang dimaksud sunnah shalat adalah perkataan atau perbuatan yang dianjurkan untuk dilakukan dalam shalat dan yang melakukannya akan mendapatkan pahala. Jika sunnah shalat ini ditinggalkan tidak membatalkan shalat walaupun dengan sengaja ditinggalkan dan ketika itu pun tidak diharuskan sujud sahwi. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/336)



Pernah mengenyam pendidikan S1 di Teknik Kimia UGM Yogyakarta dan S2 Polymer Engineering di King Saud University Riyadh. Pernah menimba ilmu diin dari Syaikh Sholeh Al Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy Syatsri, dan Syaikh Sholeh Al 'Ushoimi. Aktivitas beliau sebagai Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, Pengasuh Rumaysho.Com, serta Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id.


  • Abu Dian hammam assundawy

    Bismillah..,Alhamdulillah nambah lgi ilmu yg bermanfaat.,izin share..,Syukron atas artikelnya..jazakakallohu khair

  • Dody p

    Kita harus membaca apa dalam sujud sahwi?

  • frendis bin may

    artikel yang bermanfaat…alhamdulillah,bertambah sedikit ilmu ana,mg allah menganugerahkan kefahaman kepada diri ana…jazakallahukhoir wa barakallahufik…
    di tunggu sambungan artikel berikunya…

  • ardian

    mas kalau ketika sujud ragu – ragu sudah sujud sekali atau dua kali tapi sudah milih yang paling banyak ( 2 kali) dan setelah salam timbul lagi keragu – raguan,, apa yang harus dilakukan ?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Keragu-raguan setelah salam dihilangkan dgn sujud sahwi setelah itu. Jika masih ada keragu-raguan lagi, maka tdk perlu dihiraukan.

  • http://www.facebook.com/people/Dwi-Agung-Arif-Setyani/526801479 Dwi Agung Arif Setyani

    JazakALLOH…
    terimaksih ustadz…atas penjelasannya…
    meski dengan sekali membaca tdk langsung paham dan mengerti semuanya…
    semoga dimudahkan untuk memahami dan mengerti…
    Yang paling penting sepertinya…jangan sampai lalai dari rukun shalat…berusaha agar tdk sujud sahwi…
    mohon koreksinya jika saya salah…
    terimakasih

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Namun dalam shalat kadang juga kita bisa lupa, inilah yg mesti kita siapkan. Semoga Allah beri kepahaman. Jika belum paham, silakan dibaca berulang kali. Hanya Allah yg beri taufik.

  • B Sutrisno

    Assalamualaikum..
    Ustadz yang saya hormati..
    Bagaimana kalau kita lupa dengan membaca surat lagi padahal itu sudah rokaat yang ke tiga dan atau bagaimana kalau pada saat kita tasyahud awal tapi karena kita lalai atau lupa bacaan tasyahud yang kita baca keterusan sampai bacaan sholawat dan doa padahal itu adala bacaan pada tasyahud akhir.?
    Selanjutnya Ustadz..Sering saya pada saat sholat tiba tiba pikiran kacau dan tidak konsentrasi lagi, Apakah saya harus membatalkan sholat saya dan mengulangi lagi dari awal atau ada syariat yang mengajarkan kita kalau terja di kondisi seperti ini..
    Terima kasih atas penjelasannya..

  • Abdullah

    Ustadz,
    Bagaimana jika tidak sengaja berkata misal: saat saat imam selesai membaca surat sebelum ruku spontan secdara tidak sengaja makmum terucap “aa” tapi langsung menyadari karena dikira imam baca Alfatihah kebetulan diakhir surat yang dibaca “iin” dengan panjang. atau ucapan lain apakah shalatnya batal atau perlu sujud sahwi?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Spt itu tdk batal, karena ketidaksengajaan.

  • Khansa

    Assalamu’alaykum, afwan uts, permasalahan sy senada dg prtanyaan sdr B. Sutrisno,
    — Bagaimana kalau kita lupa dengan membaca surat lagi padahal itu sudah rokaat yang ke tiga.
    — Bagaimana kalau pada saat kita tasyahud awal tapi karena kita lalai atau lupa bacaan tasyahud yang kita baca keterusan sampai bacaan sholawat dan doa padahal itu adala bacaan pada tasyahud akhir?
    Bagaimana menghukuminya ya ust? Apa yg shrsnya dilakukan? Jazakallahu Khairon.

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh
      Untuk dua kasus diatas:
      1. Jika itu waktunya masih dekat dg waktu shalat tadi dan masih ada wudhu, mk silakan sujud sahwi
      2. Jika memang wudhunya sudah batal, sebaiknya ulangi shalatnya.

  • fikri

    Rincian 1: Meninggalkan rukun shalat[4] seperti lupa ruku’ dan sujud.

    1. …………………..

    2. Jika meninggalkan rukun shalat dalam keadaan lupa, kemudian ia mengingatnya setelah memulai membaca Al Fatihah pada raka’at berikutnya, maka raka’at sebelumnya yang terdapat kekurangan rukun tadi jadi batal. Ketika itu, ia membatalkan raka’at yang terdapat kekurangan rukunnya tadi dan ia kembali menyempurnakan shalatnya. Kemudian hendaklah ia melakukan sujud sahwi di akhir shalat.

    ustadz.. ingin penjelasan lebih lanjut dari keterangan

    ” Ketika itu, ia membatalkan raka’at yang terdapat kekurangan rukunnya tadi dan ia kembali menyempurnakan shalatnya. Kemudian hendaklah ia melakukan sujud sahwi di akhir shalat.”

    apakah yang dimaksud dengan membatalkan raka’at tersebut di atas, apakah maksudnya dibiarkan saja dan melanjutkan shalat kemudian melakukan sujud sahwi? karena bahasa nya agak rancu buat ana. jazakallahu khairon

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      maksud membatalkan di sini, raka’at yg kekurangan rukun tadi tdk teranggap. Jadi shalat terus dilanjutkan.

  • Ayuri Sasu

    Assalaamu’alaikum warohmatullah,

    ustadz maaf pertanyaanya agak OOT, ini karena kejahilan ana, no hadits yg digunakan ustadz saya cari tidak ketemu, tapi memang ada. mohon penjelasannya biar ana bisa merujuk pula.

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh

      Sy biasa menggunakan nomor standar. Memang ada beberapa penomoran, barangkali program saudara tdk menggunakan nomor standar.

  • hasa

    Assalamu’alaikum..
    Sy mo nanya ustadz, jika dalam kondisi berjama’ah, imam harusnya tasyahud akhir, tp imam berdiri lg sehabis sujud.. makmum kemudian membaca subhanalloh..tp imam tetap berdiri dan melanjutkan sholatnya (Wallohua’lam krn merasa benar raka’atnya atau tidak mendengar ucapan makmum)..Makmum kemudian ikut imam berdiri jg. sehingga terjadi kelebihan raka’at.Tapi setelah “tasyahud akhir”, imam tidak sujud sahwi, langsung salam. Apa yang harus dilakukan oleh imam dan apa yang harus dilakukan oleh makmum?? Ketika itu ada jama’ah yang ketika imam salam dia sujud sahwi dahulu baru salam. Ada juga yang ikut imam tidak sujud sahwi hrn itu tanggung jawab imam sehingga jamaah hanya ikut imam..jazakalloh khoir atas jawabannya

  • mufti

    ustad bagaimana kalau keraguan muncul saat membaca tahiyat akhir?(lupa sujud berapa kali di akhir rakaat)apakah mengulang lgsg duduk antara dua sujud dan sujud lagi kemudian membaca tahiyat akhir lagi?

  • Ridho Amrullah

    Jika hanya sekedar was-was yang tidak ada hakikatnya. Maksudnya yang tidak ada hakikatnya itu apa ya Pak Ustadz ?

  • mohon tunjuk ajar

    bagaimana pula kalau solat subuh, ketika sujud akhir baru ingat terlupa doa qunut tadi…

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Doa qunut tdk wajib, jd tdk perlu sujud sahwi

  • M Ichsanboy6

    subhanallah….

    Allahu akbar!!!!

  • tentehe

    kalau terlupa untuk membaca doa qunud perlukah melakukan sujud sahwi?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      tidak perlu sujud sahwi jk yg dimaksud qunut shubuh. krn qunut shubuh sndiri tdk disunnahkan. itulah yg tepat.

  • Setiawatiwin

    jadi ustadz kalo misal kita cuman was was ato kita slalu ada ragu dalam shalat berarti kita tidak wajib sujud sahwi?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      jika cuma was2 gak sampai yakin lupa, maka tinggalkan was2 tadi.

  • Ayumelati

     assalammualaikum
    sujud sahwi adalah

  • Ayumelati

    Ketiga: Hadits Abu Hurairah, ia berkata,

    صَلَّى بِنَا
    رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى صَلَاتَيْ
    الْعَشِيِّ إِمَّا الظُّهْرَ وَإِمَّا الْعَصْرَ فَسَلَّمَ فِي
    رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَتَى جِذْعًا فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ فَاسْتَنَدَ
    إِلَيْهَا مُغْضَبًا وَفِي الْقَوْمِ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرَ فَهَابَا أَنْ
    يَتَكَلَّمَا وَخَرَجَ سَرَعَانُ النَّاسِ قُصِرَتْ الصَّلَاةُ فَقَامَ ذُو
    الْيَدَيْنِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَقُصِرَتْ الصَّلَاةُ أَمْ
    نَسِيتَ فَنَظَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمِينًا
    وَشِمَالًا فَقَالَ مَا يَقُولُ ذُو الْيَدَيْنِ قَالُوا صَدَقَ لَمْ
    تُصَلِّ إِلَّا رَكْعَتَيْنِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ
    كَبَّرَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ
    كَبَّرَ وَرَفَعَ

  • Rizki

    rizki :casina tarsem

  • Azamsiregar

    assalmu’alaikum, ustadz, pernah aku dengar dari perjelasan seorang ustadz tentang pelaksanaan sujud sahwi, katanya kalau tidak ingat kesalahannya apa, maka sujud sahwinya sesudah salam, tapi kalo masih ingat kesalahannya maka sujud sahwinya sebelum salam. benar nggak seperti ini ustadz? terimakasih ustadz

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam. Terbalik yg antum jelaskan.

  • kopay

    assalamu’alaikum wr. wb.Seseorang tidak perlu memperhatikan keragu-raguan dalam ibadah pada tiga keadaan: Jika hanya sekedar was-was yang tidak ada hakikatnya.Jika seseorang melakukan suatu ibadah selalu dilingkupi keragu-raguan, maka pada saat ini keragu-raguannya tidak perlu ia perhatikan.Jika keraguan-raguannya setelah selesai ibadah, maka tidak perlu diperhatikan selama itu bukan sesuatu yang yakin.
    yang mau saya tanyakan, “hakikat” pada butir nomer satu apa maksudnya ya?
    kemudian yang nomer 2 mungkin bisa dijelaskan lebih jelas lagi dengan yang dimaksud “pada saat ini keragu-raguannya tidak perlu diperhatikan”.

  • sigit

    assalamu’alaikum wr. wb, rukun sholat itu apa saja ustad?,saya kurang mengerti, tolong disebutkan satu persatu,, dan wajib sholat itu apa saja, agar saya tidak kebalik balik.  terimakasih ustadz

  • Abuyahya

    ustadz, saya 

  • Abuyahya

    ustadz, saya kadang lupa membaca surat pendek di rakaat ketiga atau ke empat setelah al fatihah. apakah saya harus sujud sahwi?

    • Jerry jry

       tidak usah sujud syahwi

      • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

        Tdk ada sujud sahwi ketika itu

        2012/4/22 Disqus

  • Syuhada Yusoff

    salam.saya x faham mcam mne nk mlakukn sjud shwi….apakah bacaan dalam sjud sahwi?

  • nurul

    ikut share yaaaa

  • Edwinsyahfutra

    Assalamualaikum, saya edwin…, ustadz saya mau nanya,
     kapan kita melalukan sujud sahwi?
    apakah setela kita selesai rakaat terakhir,
    ataau pada saat kita lupa tersebut?
    terima kasih…

  • Ubaidillah

    Ustad, saya mau bertanya terkait poin nomor
    2 pada bagian “Yang perlu diperhatikan” (Jika seseorang melakukan suatu ibadah
    selalu dilingkupi keragu-raguan, maka pada saat ini keragu-raguannya tidak
    perlu ia perhatikan) dengan menyertakan contoh.

    A adalah seorang muslim yang dalam
    melakukan suatu ibadah selalu dilingkupi keragu-raguan. Suatu hari, si A
    melakukan sholat Ashar dan pada saat rokaat kedua dia ragu-ragu apakah telah
    membaca Al-Fatihah atau belum untuk rokaat kedua (si A pada saat ragu-ragu
    masih dalam keadaan berdiri). Akhirnya, si A memutuskan untuk tidak
    memperhatikan keraguan tersebut dan melanjutkan ke tahap berikutnya (yakni membaca
    surat pendek) hingga salam tanpa melakukan sujud sahwi.

    Pertanyaan saya adalah: Apakah sholat Ashar
    si A sudah sah?

    Terima
    kasih.

  • khoirul

    assalamu’alaikum

    sy mau nanya ustadz, sy gak tau klo dibilang mualaf sy masuk islam udah
    lama 15 tahunan tapi baru baru az sy belajar untuk shalat. Nah setiap
    kali sy shalat sy selalu pada waktu tasyahud awal dan akhir sy tdk
    terlalu membaca seluruh lafadz tasyahud dan yg jelas sy selalu membaca
    shalawat Allahumma shali ala muhammad wa ala alihi wa sobbihi dan sy
    tambahkan membaca surat alfatihah karena sy pernah dapat ajaran dari
    seseorang yg katanya di bolehkan dalam melakukan shalat klo kita tdk tau
    lafadznya baca az surat al-fatihah. benarkah hal tersebut..? makasih
    atas petunjuknya

  • Herman

    adakah bacaannya disaat sujud sahwi?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Bacaannya spt ketika sujud biasa saat shalat.

  • Budiarso Hendiarto

    lalu yang dibaca ketika sujud sahwi apa? kok gak dibahas?

  • Putri

    Assalamuaykum wr wb,

    Mohon maaf ustadz, mau bertanya ttg melewatkan rukun shalat, di penjelasan di atas disebutkan jika diingat kembali sebelum Al Fatihah rakaat selanjutnya, maka rukun yang terlewat diulang dahulu baru melanjutkan ke rukun selanjutnya; dan jika diingat setelah Al Fatihah, rakaat yang rukunnya terlewat menjadi batal. Sementara di hadits yang ke-5 di atas (HR. Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570), disebutkan bahwa Rasul SAW hanya melakukan sujud sahwi di akhir shalat, tanpa ada penambahan rakaat.
    Hemat saya, kemungkinannya Rasul SAW mengingat tasyahud awal yang terlewat ini setelah masuk rakaat selanjutnya (karena tasyahud ada di akhir rakaat), tapi tidak ada keterangan bahwa beliau menambah rakaat shalatnya (karena rakaat yang tanpa tasyahud awal dibatalkan), jadi tidak sejalan dengan penjelasan di atas.
    Mohon pencerahannya ustadz, sepertinya pemahaman saya kurang lengkap. Mohon maaf apabila tidak berkenan.

  • Abdullah

    Assalamu’alaykum ustadz
    bagaimana jika ada kekurangan tapi sempat menyempurnakan ketika itu? Misal belum thuma’ninah sudah membaca doa i’tidal lalu menyempurnakannya setelah itu

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Waalaikumussalam.
      Kalau lupa meninggalkan rukun, maka harus kembali pd rukun tsb. Kalau tdk, maka shalatnya batal.
      Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
      Rumaysho.com via My Ipad

      • Abdullah

        apakah perlu sujud sahwi juga? jazakumullah

  • hanz

    Assalamu’alaykum ustadz
    apa contoh wajib sholat dan rukun sholat? karena saya masih belum bisa membedakan antara kedua itu

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Waalaikumussalam. Rukun shalat itu yang wajib dan mesti ada dalam shalat. Sedangkan sunnah shalat itu yg jika ditinggalkan bisa diganti menyebabkan adanya sujud sahwi. Demikian dalam madzhab Syafi’i. Contoh sunnah shalat seperti tahiyyat awal.

      Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
      Rumaysho.com via My Ipad

      • hanz

        afwan, yang saya maksudkan wajib shalat dan rukun shalat ustadz, bukan rukun dan sunnah

        • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

          Istilah sunnah shalat dan wajib shalat antara ulama Syafi’i dan Hambali hampir sama.

          Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
          Rumaysho.com via my Iphone

  • lu2k

    Bismillah assalamuallaikum… ustad.. apakah boleh sy menyebarkan ilmu sujud sahwi ini, dengan cara mencetak (mengeprint), krn kebetulan teman2 sy sudah sepuh2, dan gaptek. Syukron. Jazakallahu khoir

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Silakan, barakallahu fiikum.

  • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal