Mengangkat Tangan Saat Takbir Tambahan Shalat ‘Ied


Seperti kita ketahui bersama bahwa dalam shalat ‘ied terdapat takbir tambahan (dikenal dengan istilah ‘takbir zawaid’) pada raka’at pertama dan raka’at kedua. Pada raka’at pertama terdapat tujuh takbir tambahan, sedangkan pada raka’at kedua terdapat lima takbir tambahan. Bagaimana hukum mengangkat tangan saat takbir tersebut? Apakah dianjurkan pula mengangkat tangan?

Perlu dipahami bahwa para ulama sepakat akan diperintahkannya mengangkat tangan pada takbiratul ihram yaitu takbir pertama dari shalat ‘ied. Namun mereka berselisih pendapat mengenai hukum mengangkat tangan pada takbir zawaid (takbir tambahan).

Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini, tetap disunnahkan mengangkat tangan pada takbir zawaid dalam shalat ‘ied. Pendapat ini dipegang oleh Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah dan ada dua pendapat dari Imam Malik. Alasan jumhur (mayoritas ulama) adalah sebagai berikut:

1- Berdasarkan hadits Wail bin Hujr, ia berkata,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَرْفَعُ يَدَيْهِ مَعَ التَّكْبِيرِ

Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangan saat takbir.” (HR. Ahmad 4: 316. Hadits ini shahih lighoirihi kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

2- Berdasarkan riwayat lainnya dari Wail bin Hujr,

فكان يكبر إذا خفض ، وإذا رفع ويرفع يديه عند التكبير ويسلم عن يمينه وعن يساره

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bertakbir ketika mau merunduk. Jika beliau mengangkat badannnya, beliau pun bertakbir. Beliau mengangkat tangannya ketika mau bertakbir. Lalu beliau mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri.” (HR. Ath Thoyalisi)

Mengangkat tangan di sini adalah keterangan dalam shalat fardhu yang tidak terdapat takbir zawaid sebagaimana khusus dalam shalat ‘ied. Akan tetapi diqiyaskan dengan mengangkat tangan dalam takbiratul ihram, dalam ruku’ dan bangkit dari ruku’, maka mengankat tangan saat takbir tersebut bisa dimaksudkan untuk keadaan-keadaan tadi. Namun perlu diketahui bahwasanya tidak ada hadits shahih yang menunjukkan mengangkat tangan saat takbir zawaid. (Lihat Irwaul Gholil, 3: 112-114)

Selain diqiyaskan dengan shalat wajib, apalagi melihat hadits yang bersifat umum, juga ada keterangan dari Ibnul Qayyim bahwa Ibnu ‘Umar -sahabat Nabi yang dikenal sangat ittiba’ atau mengikuti petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam- juga mengangkat tangan saat takbir zawaid. Perhatikan penjelasan Ibnul Qayyim berikut ini:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai shalat sebelum berkhutbah. Beliau melaksanakan shalat dua raka’at. Di raka’at pertama beliau melakukan takbir zawaid (tambahan) sebanyak tujuh kali di luar takbiratul ihram. Di antara takbir yang ada, beliau diam sebentar. Di antara takbir-takbir tersebut, tidak ada bacaan khusus di antara takbir-takbir tadi. Akan tetapi disebutkan dari Ibnu Mas’ud bahwa para sahabat biasa disanjung dan dipuji. Bisa pula di antara selang takbir tadi membaca shalawat. Ibnu ‘Umar yang sudah ma’ruf sangat mengikuti ajaran Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- biasa mengangkat tangan saat takbir (zawaid, takbir tambahan). (Zaadul Ma’ad, 1: 427, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan keempat, tahun 1425 H)

Sebagai tambahan, ada kaedah yang disampaikan oleh Ibnu Qudamah dalam Al Kaafi yang ringkasnya: Mengangkat tangan saat takbir itu dianjurkan selain pada keadaan akan sujud dan bangkit dari sujud. [1]

Kaedah di atas disimpulkan karena melihat dari berbagai macam hadits. Maka ini menunjukkan  bahwa mengangkat tangan saat takbir zawaid pun dianjurkan karena takbir tersebut bukan akan sujud dan bukan bangkit dari sujud.

Intinya, perlu diketahui bahwa ucapan takbir zawaid sendiri adalah sunnah dan bukanlah wajib. Sehingga jika ditinggalkan karena lupa atau sengaja, maka shalatnya tidak batal. Adapun mengangkat tangan kala itu tetap dianjurkan sebagaimana mengangkat tangan dalam shalat wajib. Akan tetapi kita tidak perlu mengingkari dengan keras orang yang enggan mengangkat tangan pada takbir zawaid dalam shalat ‘ied. Wallahu a’lam. (Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Rosyid Al Ghofili dalam karya beliau ‘Ahkam Maa Ba’da Ash Shiyam’, hal. 138)

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

 

@ Pesantren Darush Sholihihn, Warak, Panggang, Gunung Kidul, 2 Syawal 1433 H

www.rumaysho.com

 




[1] Kaedah ini kami dengar langsung dari guru kami -Syaikh ‘Abdus Salam Asy Syuwai’ir- ketika membahas salah satu kitab qowa’idul fiqhiyyah karya Syaikh As Sa’di.



Pernah mengenyam pendidikan S1 di Teknik Kimia UGM Yogyakarta dan S2 Polymer Engineering di King Saud University Riyadh. Pernah menimba ilmu diin dari Syaikh Sholeh Al Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy Syatsri, dan Syaikh Sholeh Al 'Ushoimi. Aktivitas beliau sebagai Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, Pengasuh Rumaysho.Com, serta Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id.