Makmum Membaca Al Fatihah di Belakang Imam


Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.

Membaca al Fatihah atau tidak bagi makmum di belakang imam, adalah masalah yang sering jadi perselisihan dan perdebatan, bahkan sampai-sampai sebagian ulama membuat tulisan tersendiri tentang hal ini. Perselisihan ini berasal dari pemahaman dalil. Ada dalil yang menegaskan harus membacanya dan ada dalil yang memerintahkan untuk membacanya. Di lain sisi, ada juga ayat atau berbagai hadits yang memerintahkan diam ketika imam membacanya. Dari sinilah terjadinya khilaf.

Dalil: Wajib Baca Al Fatihah di Belakang Imam

Dari ‘Ubadah b in Ash Shoomit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al Fatihah”.[1]

Dari Abu Hurairah, haditsnya marfu’sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَهْىَ خِدَاجٌ

Barangsiapa yang melaksanakan shalat dan tidak membaca Al Fatihah di dalamnya, maka shalatnya itu kurang.” Perkataan ini diulang sampai tiga kali.[2]

Dalil: Wajib Diam Ketika Imam Membaca Al Fatihah

Berkebalikan dengan dalil di atas, ada beberapa dalil yang memerintahkan agar makmum diam ketika imam membaca surat karena bacaan imam dianggap sudah menjadi bacaan makmum.

Di antara dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآَنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al A’rof: 204)

Abu Hurairah berkata,

صَلَّى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- بِأَصْحَابِهِ صَلاَةً نَظُنُّ أَنَّهَا الصُّبْحُ فَقَالَ « هَلْ قَرَأَ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ ». قَالَ رَجُلٌ أَنَا. قَالَ « إِنِّى أَقُولُ مَا لِى أُنَازَعُ الْقُرْآنَ ».

Aku mendengar Abu Hurairah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat bersama para sahabatnya yang kami mengira bahwa itu adalah shalat subuh. Beliau bersabda: “Apakah salah seorang dari kalian ada yang membaca surat (di belakangku)?” Seorang laki-laki menjawab, “Saya. ” Beliau lalu bersabda: “Kenapa aku ditandingi dalam membaca Al Qur`an?[3]

Dalil lainnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

من كان له إمام فقراءة الإمام له قراءة

Barangsiapa yang shalat di belakang imam, bacaan imam menjadi bacaan untuknya.[4] Hadits ini dikritisi oleh para ulama.

Hadits lainnya lagi adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّمَا الإِمَامُ – أَوْ إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ – لِيُؤْتَمَّ بِهِ ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا ، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا ، وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوا ، وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ . فَقُولُوا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ . وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا

Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti. Jika imam bertakbir, maka bertakbirlah. Jika imam ruku’, maka ruku’lah. Jika imam bangkit dari ruku’, maka bangkitlah. Jika imam mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’, ucapkanlah ‘robbana wa lakal hamd’. Jika imam sujud, sujudlah.[5] Dalam riwayat Muslim pada hadits Abu Musa terdapat tambahan,

وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا

Jika imam membaca (Al Fatihah), maka diamlah.

Menempuh Jalan Kompromi (Menjama’)

Metode para ulama dalam menyikapi dua macam hadits yang seolah-olah bertentangan adalah menjama’ di antara dalil-dalil yang ada selama itu memungkinkan.

Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah berkata, “Jika dua hadits bertentangan secara zhohir, jika memungkinkan untuk dijama’ antara keduanya, maka jangan beralih pada metode lainnya. Wajib ketika itu beramal dengan mengkompromikan keduanya terlebih dahulu.”

Syaikh Asy Syinqithi rahimahullah, ketika menjelaskan metode menggabungkan dalil-dalil, berkata, “Kami katakan, pendapat yang kuat menurut kami adalah melakukan jama’ (kompromi) terhadap dalil-dalil yang ada karena menjama’ dalil itu wajib jika memungkinkan untuk dilakukan.”

Menggabungkan atau mengkompromikan atau menjama’ dalil lebih didahulukan daripada melakukan tarjih (memilih dalil yang lebih kuat) karena menjama’ berarti menggunakan semua dalil yang ada (di saat itu mungkin) sedangkan tarjih mesti menghilangkan salah satu dalil yang dianggap lemah. Demikian pelajaran yang sudah dikenal dalam ilmu uhsul. Sehingga lebih tepat melakukan jama’ (kompromi) dalil selama itu masih memungkinkan.

Penjelasan Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya hukum membaca Al Fatihah di belakang imam. Beliau mengatakan bahwa para ulama telah berselisih pendapat karena umumnya dalil dalam masalah ini, yaitu menjadi tiga pendapat.

Dua pendapat pertama adalah yang menyatakan tidak membaca surat sama sekali di belakang imam dan yang lainnya menyatakan membaca surat dalam segala keadaan. Pendapat ketiga yang dianut oleh kebanyakan salaf yang menyatakan bahwa jika makmum mendengar bacaan imam, maka hendaklah ia diam dan tidak membaca surat. Karena mendengar bacaan imam itu lebih baik dari membacanya. Jika makmum tidak mendengar bacaan imam, barulah ia membaca surat tersebut. Karena dalam kondisi kedua ini, ia membaca lebih baik daripada diam. Satu kondisi, mendengar bacaan imam itu lebih afdhol dari membaca surat. Kondisi lain, membaca surat lebih afdhol daripada hanya diam. Demikianlah pendapat mayoritas ulama seperti Malik, Ahmad bin Hambal, para ulama Malikiyah dan Hambali, juga sekelompok ulama Syafi’iyah dan ulama Hanafiyah berpendapat demikian. Ini juga yang menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i yang terdahulu dan pendapat Muhammad bin Al Hasan.

Jika kita memilih pendapat ketiga, lalu bagaimana hukum makmum membaca Al Fatihah di saat imam membacanya samar-samar, apakah wajib atau sunnah bagi makmum?

Ada dua pendapat dalam madzhab Hambali. Yang lebih masyhur adalah yang menyatakan sunnah. Inilah yang jadi pendapat Imam Asy Syafi’i dalam pendapatnya terdahulu.

Pertanyaan lainnya, apakah sekedar mendengar bacaan Al Fatihah imam ketika imam menjahrkan bacaannya wajib, ataukah sunnah? Lalu bagaimana jika tetap membaca surat di belakang imam ketika kondisi itu, apakah itu haram, atau hanya sekedar makruh?

Dalam masalah ini ada dua pendapat di madzhab Hambali dan lainnya. Pertama, membaca surat ketika itu diharamkan. Jika tetap membacanya, shalatnya batal. Inilah salah satu dari dua pendapat yang dikatakan oleh Abu ‘Abdillah bin Hamid dalam madzhab Imam Ahmad. Kedua, shalat tidak batal dalam kondisi itu. Inilah pendapat mayoritas. Pendapat ini masyhur di kalangan madzhab Imam Ahmad.

Ibnu Taimiyah rahimahullah selanjutnya mengatakan,

Yang dimaksud di sini adalah tidak mungkin kita beramal dengan mengumpulkan seluruh pendapat. Akan tetapi, puji syukur pada Allah, pendapat yang shahih adalah pendapat yang berpegang pada dalil syar’i sehingga nampaklah kebenaran.

Intinya membaca Al Fatihah di belakang imam, kami katakan bahwa jika imam menjahrkan bacaannya, maka cukup kita mendengar bacaan tersebut. Jika tidak mendengarnya karena jauh posisinya jauh dari imam, maka hendaklah membaca surat tersebut menurut pendapat yang lebih kuat dari pendapat-pendapat yang ada. Inilah pendapat Imam Ahmad dan selainnya. Namun jika tidak mendengar karena ia tuli, atau ia sudah berusaha mendengar namun tidak paham apa yang diucapkan, maka di sini ada dua pendapat di madzhab Imam Ahmad. Pendapat yang terkuat, tetap membaca Al Fatihah karena yang afdhol adalah mendengar bacaan atau membacanya. Dan saat itu kondisinya adalah tidak mendengar. Ketika itu tidak tercapai maksud mendengar, maka tentu membaca Al Fatihah saat itu lebih afdhol daripada diam.[6]

Pembelaan

Dalil yang menunjukkan bahwa bacaan imam juga menjadi bacaan bagi makmum dapat dilihat pada hadits Abu Bakroh di mana dia tidak disuruh mengulangi shalatnya.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari jalan Al Hasan, dari Abu Bakroh bahwasanya ia mendapati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang ruku’. Lalu Abu Bakroh ruku’ sebelum sampai ke shof. Lalu ia menceritakan kejadian yang ia lakukan tadi kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ

Semoga Allah menambah semangat untukmu, namun jangan diulangi.[7]

Lalu bagaimana dengan hadits,

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al Fatihah”.[8]

Ada dua jawaban yang bisa diberikan:

  1. Yang dimaksud dengan hadits tersebut adalah tidak sempurna shalatnya. Yang menunjukkan maksud seperti ini adalah dalam hadits Abu Hurairah disebutkan “غير تمام”, tidak sempurna.
  2. Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al Fatihah dalam shalatnya, namun ini berlaku bagi imam, orang yang shalat sendiri dan makmum ketika shalat siriyah (yang tidak dikeraskan bacaannya). Adapun makmum dalam shalat jahriyah (yang dikeraskan bacaannya), maka bacaan imam adalah bacaan bagi makmum. Jika ia mengaminkan bacaan Al Fatihah yang dibaca oleh imam, maka ia seperti membaca surat tersebut. Maka tidak benar jika dikatakan bahwa orang yang cuma menyimak bacaan imam tidak membaca surat Al Fatihah, bahkan itu dianggap membaca meskipun ia mendapati imam sudah ruku’, lalu ia ruku’ bersama imam.

Catatan: Sebagaimana penulis pernah membaca dari penjelasan Syaikh Sholeh Al Munajjid dalam Fatawa Islam As Sual wa Jawab: Seseorang dianggap mendapatkan satu raka’at ketika ia mendapati ruku’, meskipun ketika itu  ia belum sempat membaca Al Fatihah secara sempurna atau ia langsung ruku’ bersama imam.

Pendapat Hati-Hati

Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah memilih pendapat yang hati-hati dalam masalah ini. Dalam Al Mulakhosh Al Fiqhi, beliau mengatakan, “Apakah membaca Al Fatihah itu wajib bagi setiap yang shalat (termasuk makmum ketika imam membaca Al Fatihah secara jahr, pen), ataukah hanya bagi imam dan orang yang shalat sendiri?” Kemudian jawab beliau hafizhohullah, “Masalah ini terdapat perselisihan di antara para ulama. Pendapat yang hati-hati, makmum tetap membaca Al Fatihah pada shalat yang imam tidak menjahrkan bacaannya, begitu pula pada shalat jahriyah ketika imam diam setelah baca Al Fatihah.”[9]

Menurut penulis, pendapat yang menempuh jalan kompromi seperti yang ditempuh oleh Ibnu Taimiyah itu pun sudah cukup ahsan (baik). Namun penjelasan Syaikh Sholeh Al Fauzan di atas sengaja penulis tambahkan supaya kita lebih memilih pendapat yang lebih hati-hati agar tidak terjatuh dalam perselisihan ulama yang ada. Wallahu Ta’ala a’lam.[10]

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

www.rumaysho.com

Muhammad Abduh Tuasikal

Riyadh-KSA, for two days, since 29th Muharram 1432 H (04/01/2011)




[1] HR. Bukhari no. 756 dan Muslim no. 394

[2] HR. Muslim no. 395.

[3] HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, An Nasai dan Ibnu Majah, juga yang lainnya. Hadits ini shahih.

[4] HR. Ahmad dan Ibnu Majah no. 850. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.

[5] HR. Bukhari no. 733 dan Muslim no. 411.

[6] Lihat Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426, 23/265-268

[7] HR. Bukhari no. 783.

[8] HR. Bukhari no. 756 dan Muslim no. 394

[9] Al Mulakhosh Al Fiqhi, Syaikh Sholeh Al Fauzan, terbitan Ar Riasah Al ‘Ammah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, cetakan kedua, 1430 H, 1/128.

[10] Sebagian besar bahasan ini adalah faedah dari penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim dalam Syarh Ahadits ‘Umdatul Ahkam, hadits no. 101 tentang membaca Al Fatihah, di sini: http://www.saaid.net/Doat/assuhaim/omdah/094.htm



Pernah mengenyam pendidikan S1 di Teknik Kimia UGM Yogyakarta dan S2 Polymer Engineering di King Saud University Riyadh. Pernah menimba ilmu diin dari Syaikh Sholeh Al Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy Syatsri, dan Syaikh Sholeh Al 'Ushoimi. Aktivitas beliau sebagai Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, Pengasuh Rumaysho.Com, serta Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id.


  • ilham

    assalamualaikum;;;

    alhamdulillah pertanyaanku dijawab lewat artikel yang mendetail

    syukron ustadz atas jawabanya

    afwan ustad ada satu pertanyaan kecil yang tiba2 ada difikiran saya tapi tidak nyambung ke pokok artikel diatas jika ustad kurang berkenan menjawab disini sya akan sangat berterima kasih jika ustadz menjawabnya lewat email saya

    begini ustadz saya mau bertanya adakah bacaan/do’a dari Nabi salallahu alaihi wasallam ketika beliau sedang menghadapi anak2 beliau yang masih kecil sedang sakit, jika ada bolehkan saya minta di beritahu

    syukron ustadz

    wassalamualaikum..

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh

      Doakan dg bacaan doa untuk orang2 sakit. Karena doa itu sifatnya umum, untuk siapa sj. Silakan lihat di Hisnul Muslim, Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qohtoni.

      • ilham

        syukron ustad..

  • Ummi

    ustadz,
    Ketika makmum membaca Al Fatihah saat diamnya imam (setelah membaca Al Fatihah) apakah saat diam saja?
    - Bagaimana jika imam membaca surat lain apakah makmum berhenti membaca Al Fatihah walau terputus
    - Atau seperti makmum umumnya di masyarakat ketika imam membaca surat lain makmum membaca Al Fatihah?
    - Ada juga pendapat makmum membaca Al Fatihah saat diamnya imam sebelum membaca Al fatihah apakah sahih?

    Jazakallah…

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Yg tepat makmum membaca Al Fatihah di saat imam diam atau di saat imam sdh masuk langsung membaca surat setelah al fatihah.

      • milon

        maaf ustadz saya tidak faham maksudnya “…… atau di saat imam sdh masuk langsung membaca surat setelah al fatihah” jadi kita membaca alfatihah berbarenagn dengan imam yang sedang membaca surat lain setelah alfatihah?

        • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

          iya betul seperti itu.

        • Harissuhendraaris

          ustad, apa bener rakat pertama n kedua kita di harus kan membaca alfatihah n ayat pendek, gmn ustad gmn kejelasan pertanyaan ini……..saya masih kuarng faham…

          • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

            kalau rakaat pertama dan kedua, iya di belakang imam lebih baik tetap baca surat al fatihah. surat pendek tdk wajib, jd cukup dengar sj bacaan surat pendek yg dibaca. cukup al fatihah sj yg dibaca setelah imam membaca al fatihah.

  • ansori

    Assalamu’alaikum Ustadz…
    Ana mau tanya, boleh g ketika sholat, kita menerjemahkan bacaan kita di dalam hati dengan terjemahan Indonesianya? Contohnya ketika membaca Al-Fatihah, di dlm hati kita menerjemahkan nya dg bahasa Indonesia dg tujuan agar bs lbh khusyuk.
    Terima kasih atas jawabannya ustadz..

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumussalam.
      Spt itu dibolehkan asalkan dalam hati krn inilah yg namanya jalan untuk tadabbur. Moga Allah menjadikan kita orang yg bukan hanya membaca Quran namun jg mentadabburinya.
      Semoga Allah beri taufik.

  • http://www.facebook.com/destayuwana Desta Yuwana

    syukron ustadz

  • http://profiles.yahoo.com/u/L4CMKVJMLSTDGHCESLO26BKGKU dwi

    Assalamu`alaikum
    Menurut saya malah ditambah satu pendapat lagi yaitu makmum tak membaca baik shalat sirriyah dan jahriyyah,pendapat ini saya dapat dari Ustadz A.Hassan(salah satu tokoh PERSIS dan ustadz Ahlussunah,bahkan Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat pernah menyebutnya Syaikh A.Hassan,dan penerjemah Bhulughul Maram dalam bahasa Indonesia yang pertama kali) di Soal Jawab 1-2. Demikian info tambahan ana saja. Jazakallah.

  • amalia

    assalaamu’alaikum
    1. berarti makmum membaca surat al-fatihah saat imam membaca surat setelah al – fatihah, begitu?
    2. berarti makmum tidak ada kesempatan utk membaca surat setelah al fatihah?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      wa’alaikumus salam
      1. iya betul
      2. makmum tdk perlu membaca surat stlh alfatihah, jk dia sdh membaca alfatihah, ia bisa mendengar bacaan imam walaupun sebentar
      Membaca alfatihah bisa sesaat kok, tdk terlalu lama.
      Demikianlah pendapat yg hati2.
      Wallahu a’lam.

  • http://www.facebook.com/people/Suherlan-Imam/100001537337428 Suherlan Imam

    Alhamdulillah…..bisa di sebarkan kepada saudara2 yg lain…

  • tilmidz

    assalamu’alaikum
    saya masih ada pertanyaan. apakah bisa kita membaca alfatihah sebelum imam membaca alfatihah (sebelumnya membaca doa iftitah lalu alfatihah) ?
    lalu bagaimana jeda setelah surat pendek ke rukuk? trimakasih

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam. Di awal imam membaca al fatihah kita diperintahkan untuk diam. Jadi sebaiknya tetap dibaca setelah imam membaca al fatihah.

      • Mark Muhammad

        kalau untuk yang jarak antara surat pendek dan ruku’-nya terlalu singkat itu gimana ustadz?
        sering terjadi di kampungku bacaan surat pendek imam terlalu singkat sehingga mungkin bacaan al-fatihah makmum belum selesai, apakah lebih baik mengikuti gerakan imam atau menyempurnakan bacaan al-fatihah?

  • tilmidz

    lalu, jarak antara alfatihah dan surat pendek itu dekat bahkan terkadang tidak ada jeda, kalau kita luput membaca alfatihah apakah batal?

  • Ari_aijin

    Assalamu`alaikum,,
    saya mau tanya,, kalau makmum membaca Alfatiha setelah amin,tetapi belum selesai dan imam sudah memulai membaca surat selanjutnya, An-Nas misalnya,, Apakah makmum harus berhenti membaca ? karena ada hadist yang menjelaskan tentang wajibnya makmum mendengarkan bacaan imam,,

    mohan penjelasanya,

    Wassalam,,

  • http://www.facebook.com/profile.php?id=100000593977208 Llomenzllnāxlltangrāngll Rohmā

    ustadz saaya mau tanya kan imam pertama baca al-fatihah trus rakaat ke dua imam baca surat lain tapi makmum membaca surat alfatihah lagy jadi makmum mebaca surat al fatihah nya 2 kali tu shalatnya di rerima apa gk ustadz dan iti di perbolehkan atau tidak jawab :

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      sy masih kurang jelas soal yg ditanyakan.

  • http://www.facebook.com/profile.php?id=100000593977208 Llomenzllnāxlltangrāngll Rohmā

    assalamualaikum WE.WB ustadz saya mau tanya rakaat pertama kan imam membaca al fatihah trus makmum jga membaca al fatihah trus rakaat ke dua imam membaca surat lain misalnya imam membaca surat al-maun trus kita membaca surat al fatihah lgy jadi makmum membaca al fatihah nya 2kli blh pa gk 
    ustadz jawab :                

  • http://twitter.com/mamansurahman_ maman surahman

    Assalamualaikum ustadz….jikalau makmum lupa membaca pada saat dibaca jahriyah?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumussalam. Wallahu a’lam, shalat tetap sah.

  • Ogi Efd

    Assalamu ‘alaikum pak ustadz.
    Hadist ini : “Jika imam mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’, ucapkanlah ‘robbana wa lakal hamd’.”
    Sedangkan pak ustadz pernah menjawab orang yg bertanya tentang itu di artikel lain, ucapkanlah seperti imam (sami’allahuliman hamidah).
    Jadi baiknya yg mana pak usatdz ? Ketika Imam membaca sami’allahuliman hamidah, kita mengucap sami’allahuliman hamidah juga atau robbana wa lakal hamd. ??

    Terimakasih pak ustadz

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Pendapat yg kami pegang saat ini, makmum cukup ucapkan rabbana lakal hamdu.
      Muhammad Abduh Tuasikal
      Rumaysho.com via my Iphone

      في ٣١‏/٠٥‏/٢٠١٣، الساعة ٢:١٢ م، كتب “Disqus” :

  • agus

    Asslkm.wr.wb pak ustadz apakah boleh membaca surat al-fatihah serempak dgn imam (bukan mendahului imam tp membaca nya serentak dgn imam) trims

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Waalaikumussalam. Sebaiknya dengarkan ketika imam membaca.

      Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
      Rumaysho.com via My Ipad

  • yahya

    assalamu’alaykum,saya mau nanya..saya sering sekali kalau sholat berjamaah baca al fatihah nya nggak sampai akhir karena imamnya keburu ruku’, jadi kadang cuma saya baca sampai tengah surat atau ayat keberapa gitu,langsung saya ikut ruku’..soalnya yang saya tahu kalau kita sholat jamaah ketinggalan 2 rukun sholatnya jadi batal.apakah saya harus ikut ruku’ atau melanjutkan membaca al fatihah,terima kasih

  • fahmi ali

    SEDIH SEDIH SEDIH banget…krn solat 5 waktu dirumah kecuali subuh…bukan karena ajaran sesat. namun krn klo di mesjid alfatihah imam SANGAT CEPAT, aku gak bisa membaca tamat alfatihah di rokaat manapun shg solatku batal, klo aku paksa kejar maka tajwid-ku pun rusak dan itu batal juga solatnya. apakah pendapatku untuk tidak shalat berjamaah bersamaa imam dapat dibenarkan? aku sudah berusaha untuk mencari masjid yang bacaan alfatihanya aga panjang tapi belum ketemu mohon bimbingannya

  • Abdullah

    Assalamu’alaykum ustadz,
    kalau membaca alfatihah saat imam membaca surat pendek bagaimana?
    kalau membaca alfatihah ketika imam diam diantara alfatihah dan surat pendek hal itu sangat sulit karena waktunya yang sangat cepat dan kadang lupa, lalu bagaimana ya ustadz? jazakumullah

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh

      Bisa kita berpendapat bahwa bacaan imam menjadi bacaan makmum.