Bolehkah Mendahulukan Puasa Sunnah dari Qodho’ Puasa?


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Permasalahan ini selalu menjadi dilema selepas Ramadhan. Apalagi untuk para wanita yang mengalami haidh saat Ramadhan sehingga mesti mengqodho’ puasa. Di bulan Syawal pun kemungkinan ia bisa mendapati haidh kembali. Manakah yang mesti didahulukan dalam hal ini, puasa sunnah ataukah qodho’ (utang) puasa? Lantas bagaimana jika hanya sempat menjalankan puasa Syawal selama empat hari dan tidak sempurna karena mesti mengqodho’ puasa lebih dulu? Simak pembahasan menarik berikut.

Perselisihan Ulama[1]

Para fuqoha berselisih pendapat dalam hukum melakukan puasa sunnah sebelum melunasi qodho’ puasa Ramadhan.

Para ulama Hanafiyah membolehkan melakukan puasa sunnah sebelum qodho’ puasa Ramadhan. Mereka sama sekali tidak mengatakannya makruh. Alasan mereka, qodho’ puasa tidak mesti dilakukan sesegera mungkin.

Ibnu ‘Abdin mengatakan, “Seandainya wajib qodho’ puasa dilakukan sesegera mungkin (tanpa boleh menunda-nunda), tentu akan makruh jika seseorang mendahulukan puasa sunnah dari qodho’ puasa Ramadhan. Qodho’ puasa bisa saja diakhirkan selama masih lapang waktunya.”

Para ulama Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat tentang bolehnya namun disertai makruh jika seseorang mendahulukan puasa sunnah dari qodho’ puasa. Karena jika melakukan seperti ini berarti seseorang mengakhirkan yang wajib (demi mengerjakan yang sunnah).

Ad Dasuqi berkata, “Dimakruhkan jika seseorang mendahulukan puasa sunnah padahal masih memiliki tanggungan puasa wajib seperti puasa nadzar, qodho’ puasa, dan puasa kafaroh.  Dikatakan makruh baik puasa sunnah yang dilakukan dari puasa wajib adalah puasa yang tidak begitu dianjurkan atau puasa sunnah tersebut adalah puasa yang amat ditekankan seperti puasa ‘Asyura’, puasa pada 9 Dzulhijjah. Demikian pendapat yang lebih kuat.”

Para ulama Hanabilah menyatakan diharamkan mendahulukan puasa sunnah sebelum mengqodho’ puasa Ramadhan. Mereka katakan bahwa tidak sah jika seseorang melakukan puasa sunnah padahal masih memiliki utang puasa Ramadhan meskipun waktu untuk mengqodho’ puasa tadi masih lapang. Sudah sepatutnya seseorang mendahulukan yang wajib, yaitu dengan mendahulukan qodho’ puasa. Jika seseorang memiliki kewajiban puasa nadzar, ia tetap melakukannya setelah menunaikan kewajiban puasa Ramadhan (qodho’ puasa Ramadhan).  Dalil dari mereka adalah hadits Abu Hurairah,

من صام تطوّعاً وعليه من رمضان شيء لم يقضه فإنّه لا يتقبّل منه حتّى يصومه

Barangsiapa yang melakukan puasa sunnah namun masih memiliki utang puasa Ramadhan,  maka puasa sunnah tersebut tidak akan diterima sampai ia menunaikan yang wajib.” Catatan penting, hadits ini adalah hadits yang dho’if (lemah).[2] Para ulama Hanabilah juga mengqiyaskan (menganalogikan) dengan haji. Jika seseorang menghajikan orang lain (padahal ia sendiri belum berhaji) atau ia melakukan haji yang sunnah sebelum haji yang wajib, maka seperti ini tidak dibolehkan.

Merujuk pada Dalil

Dalil yang menunjukkan bahwa terlarang mendahulukan puasa sunnah dari puasa wajib adalah hadits yang dho’if sebagaimana diterangkan di atas.

Dalam mengqodho’ puasa Ramadhan, waktunya amat longgar, yaitu sampai Ramadhan berikutnya. Allah Ta’ala sendiri memutlakkan qodho’ puasa dan tidak memerintahkan sesegera mungkin sebagaimana dalam firman-Nya,

فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185).

Begitu pula dapat dilihat dari apa yang dilakukan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ

Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqodho’nya kecuali di bulan Sya’ban.” Yahya (salah satu perowi hadits) mengatakan bahwa hal ini dilakukan ‘Aisyah karena beliau sibuk mengurus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[3]

Sebagaimana pelajaran dari hadits ‘Aisyah yang di mana beliau baru mengqodho’ puasanya saat di bulan Sya’ban, dari hadits tersebut Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Tidak boleh mengakhirkan qodho’ puasa lewat dari Ramadhan berikutnya.”[4]

Pendapat Terkuat

Pendapat terkuat dalam masalah ini adalah bolehnya melakukan puasa sunnah sebelum menunaikan qodho’ puasa selama waktu mengqodho’ puasa masih longgar. Jika waktunya begitu longgar untuk mengqodho’ puasa, maka sah-sah saja melakukan puasa sunnah kala itu. Waktu qodho’ puasa amatlah lapang, yaitu sampai Ramadhan berikutnya. Sebagaimana seseorang boleh saja melakukan shalat sunnah di saat shalat Zhuhur waktunya masih lapang. Dari sini sah saja, jika seseorang masih utang puasa, lantas ia lakukan puasa Senin Kamis.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Inilah pendapat terkuat dan lebih tepat (yaitu boleh melakukan puasa sunnah sebelum qodho’ puasa selama waktunya masih lapang, pen).  Jika seseorang melakukan puasa sunnah sebelum qodho’ puasa, puasanya sah dan ia pun tidak berdosa. Karena analogi (qiyas) dalam hal ini benar. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang sakit atau dalam keadaan bersafar (lantas ia tidak berpuasa), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al Baqarah: 185). Dalam ayat ini dikatakan untuk mengqodho’ puasanya di hari lainnya dan tidak disyaratkan oleh Allah Ta’ala untuk berturut-turut. Seandainya disyaratkan berturut-turut, maka tentu qodho’ tersebut harus dilakukan sesegera mungkin. Hal ini menunjukkan bahwa dalam masalah mendahulukan puasa sunnah dari qodho’ puasa ada kelapangan.”[5]

Masalah Puasa Syawal

Ada yang sedikit berbeda dengan puasa Syawal. Untuk meraih pahala puasa setahun penuh disyaratkan untuk menyempurnakan puasa Ramadhan terlebih dahulu. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”[6]

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa mempunyai qodho’ puasa di bulan Ramadhan, lalu ia malah mendahulukan menunaikan puasa sunnah enam hari Syawal, maka ia tidak memperoleh pahala puasa setahun penuh. Karena keutamaan puasa Syawal (mendapat pahala puasa setahun penuh) diperoleh jika seseorang mengerjakan puasa Ramadhan diikuti puasa enam hari di bulan Syawal. Dalam kondisi tadi, ia tidak memperoleh pahala tersebut karena puasa Ramadhannya belum sempurna.”[7]

Ibnu Rajab rahimahullah kembali menjelaskan, “Barangsiapa mendahulukan qodho’ puasa, setelah itu ia melakukan puasa enam hari Syawal setelah ia menunaikan qodho’, maka itu lebih baik. Dalam kondisi seperti ini berarti ia telah melakukan puasa Ramadhan dengan sempurna, lalu ia lakukan puasa enam hari Syawal. Jika ia malah mendahulukan puasa Syawal dari qodho’ puasa, ia tidak memperoleh keutamaan puasa Syawal. Karena keutamaan puasa enam hari Syawal diperoleh jika puasa Ramadhannya dilakukan sempurna.”[8]

Sebelumnya Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan, “Bagi ulama yang menyatakan bolehnya mendahulukan puasa sunnah dari qodho’ puasa, maka jika ia mendahulukan puasa sunnah Syawal, ia tidak memperoleh keutamaannya (pahala puasa setahun penuh). Yang bisa mendapatkannya adalah orang yang lebih dulu menyempurnakan puasa Ramadhan lalu melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal.”[9]

Kesimpulan, menurut pendapat yang lebih kuat –sebagaimana dijelaskan di atas-, jika ia mendahulukan puasa enam hari di bulan Syawal dari qodho’ puasa, maka puasanya tetap sah. Hanya saja pahala puasa setahun penuh yang tidak ia peroleh karena puasa Ramadhannya belum sempurna. Jadi lebih baik dahulukan qodho’ puasa daripada puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.

Kasus Wanita Haidh

Bagaimana kasus pada wanita muslimah yang sudah barang tentu mengalami haidh setiap bulannya padahal masih punya utang puasa? Bisa jadi mereka hanya sempat melakukan puasa Syawal tiga atau empat hari karena sebelumnya harus menjalankan qodho’ puasa.

Ada penjelasan yang amat bagus dari Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, beliaumenjelaskan, “Tidak disyari’atkan mengqodho’ puasa Syawal setelah Syawal[10] baik meninggalkannya karena udzur maupun tidak. Karena puasa Syawal hanyalah puasa sunnah yang sudha terluput. Kami katakan bagi yang sudah melakukan puasa Syawal selama empat hari dan belum sempurna enam hari karena ada alasan syar’i, ‘Ketahuilah bahwa puasa Syawal adalah ibadah yang sunnah, tidak wajib. Engkau akan mendapati pahala puasa syawal empat hari yang telah engkau kerjakan. Dan diharapkan engkau akan memperoleh pahala yang sempurna jika engkau meninggalkan puasa Syawal tadi karena ada alasan yang dibenarkan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ العَبْدُ أَوْ سَافَرَ كَتَبَ اللهُ لَهُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيْماً صَحِيْحاً

Jika seseorang sakit atau bersafar, maka akan dicatat baginya pahala seperti saat ia mukim (tidak bepergian) dan sehat.” (HR. Bukhari dalam kitab shahihnya). Jadi, engkau tidak memiliki kewajiban qodho’ sama sekali (setelah Syawal).”[11]

Dari penjelasan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berarti seorang wanita yang masih punya utang puasa tidak perlu khawatir jika ia luput dari puasa Syawal. Jika memang ia luput karena ada udzur, maka lakukanlah semampunya walaupun sehari atau dua hari. Jika kondisinya memang karena ada udzur untuk menunaikan qodho’ puasa, moga-moga ia dicatat pahala yang sempurna karena puasa Syawal yang luput dari dirinya.

Semoga sajian singkat ini bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

Diselesaikan di saat kumandang adzan ‘Ashar, 3 Syawal 1431 H (12/09/2010) di Panggang, Gunung Kidul

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.rumaysho.com



[1] Lihat pembahasan ini di Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/9997-9998, index “Shoum At Tathowwu’”, point 23.

[2] HR. Ahmad 3/352. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Lahi’ah dan dinilai dho’if, dan di dalamnya ada perowi yang matruk (Lihat Al Mughni, Ibnu Qudamah,  Darul Fikr, 3/86). Syaikh Al Albani dalam Silsilah Adh Dho’ifah wal Mawdhu’ah (2/235) mengatakan bahwa hadits ini dho’if. Begitu pula hadits ini didho’ifkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam takhrij Musnad Imam Ahmad (3/352).

[3] HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146.

[4] Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 4/191.

[5] Syarhul Mumthi’, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 6/448. Dinukil dari Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 23429 pada link http://islamqa.com/ar/ref/23429.

[6] HR. Muslim no. 1164, dari Abu Ayyub Al Anshori.

[7] Lathoif Al Ma’arif, Ahmad bin Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1428 H, hal. 392.

[8] Idem.

[9] Idem.

[10] Sebagian ulama  (seperti Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah) menganjurkan mengqodho’ puasa Syawal di bulan Dzulqo’dah. Al Bahuti, penulis Kasyaful Qona’ (kitab fiqh Hambali) berkata, “Keutamaan puasa enam hari Syawal tidaklah diperoleh jika puasa tersebut dilakukan selain di bulan Syawal. Demikianlah yang dipahami dari tekstual hadits.” (Kasyaful Qona’ ‘an Matn Al Iqna’, Manshur bin Yunus bin Idris Al Bahuti, Mawqi’ Al Islam, 6/132)

[11] Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 15/389,395. Dinukil dari Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 23429 pada link http://islamqa.com/ar/ref/23429.



Pernah mengenyam pendidikan S1 di Teknik Kimia UGM Yogyakarta dan S2 Polymer Engineering di King Saud University Riyadh. Pernah menimba ilmu diin dari Syaikh Sholeh Al Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy Syatsri, dan Syaikh Sholeh Al 'Ushoimi. Aktivitas beliau sebagai Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, Pengasuh Rumaysho.Com, serta Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id.


  • Nurihsan

    Syukran jazaakallahu khara atas penjelasan yg sgt bermanfaat ini. Smg diberkahi amalan.

  • fitri

    Subhanallah…
    sangat jelas dan gamblang penjelasannya..artikel ini menjawab kebingungan saya selama ini..
    Jazakallah Khoir…

  • http://www.facebook.com/people/Achrita-Herminangwati/1833095769 Achrita Herminangwati

    ilmu yang sangat saya dambakan…karena selam ini penuh keraguan..Alhamdulillah sekarang dapat jawabannya

  • Zahranindhi

    izin share y ustad,, jazakallah khair,,

  • http://profiles.yahoo.com/u/SMBMQHPBZPLK76Q2WKT32FSYDI Fahrul Aprianto Prayudi

    Apakah mengerjakan puasa sunnah syawal itu harus berturut-turut atau tidak?

  • http://profiles.yahoo.com/u/SMBMQHPBZPLK76Q2WKT32FSYDI Fahrul Aprianto Prayudi

    Assalamu`alaikum
    Tolong jelaskan tentang shalat sunnah mutlak beserta dalil-dalilnya?Jazakallah

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam.
      Shalat sunnah mutlak artinya sekedar kerjakan shalat sunnah, semisal dua raka’at tanpa dikaitkan dg sebab apa2.

  • Abu Mufidah

    Jazakallahu khoir Ustadz…

  • http://profiles.yahoo.com/u/SMBMQHPBZPLK76Q2WKT32FSYDI Fahrul Aprianto Prayudi

    Assalamu`alaikum
    Mohon ustadz abu rumaysho menampilkan artikel zakat perdagangan dan perhiasan secara terpisah,tersendiri,dan penuh. Jazakallah.

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam.
      Semoga Allah memberi kemudahan bagi kami untuk membahasnya.

  • http://www.facebook.com/people/Nina-Siti-Aminah/100000549315631 Nina Siti Aminah

    terimakasih penjelasannya, aku dah niat puasa syawal sekarang dah hari ke enam. setelah membaca penjelasan di atas sy berpikir gimana kalo niatnya saya ubah untuk membayar hutang dulu yang jumlahnya 8 hari. Syah tidak shaum saya …

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Puasa sunnah kemarin sah, sampai saat ini. Untuk selanjutnya harap bisa dahulukan yg wajib dulu baru yg sunnah. Segera tunaikan pula qodho’ puasanya sesegera mungkin. Jadi tidak perlu diganti niatnya puasa syawal kemarin dg qodho’ puasa.

    • Maulida

      ini hari ke enam saya juga syawal,tapi belum mengganti ramadhan,apakah sebaiknya hari ini saya meneruskan niat puasa syawal saya? atau saya batalkan skrg juga? mohon penjelasannya

      • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

        Hari ini diteruskan. Besok lanjutkan qodho’ puasa.

  • Tety_Shintya

    terima ksh atas penjelasannya. izin share ya uztad. Uztad sy mau bertanya.., sy berniat puasa syawal mulai besok hr jumat..tetapi sy mempunyai utang puasa Ramadhan 9 hr* (tambahan total hari dari haidh + dikarenakan sy sakit*) sy takut tdk mendpt cukup waktu untuk puasa pd bln Syawal. Apakah boleh sy mendahulukan puasa Syawalnya?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Dahulukan utang puasa lebih dulu. Coba sekali lagi perhatikan akhir dari tulisan di atas.

  • muslimah5

    Subhanallah, artikel yang sangat mencerahkan.. Hari ini saya mulai berpuasa dgn niat puasa syawal tetapi setelah membaca artikel di atas, saya menjadi ragu karena sy belum mengqodho puasa saya. Jadi bagaimana dgn puasa saya hari ini? Apakah sia2 saja? Mulai besok insya Allah saya akan membayar hutang puasa saya terlebih dahulu (ada 9 hari). Walau saya tidak yakin akan bisa memenuhi 6 hari puasa syawal saya nanti, hati saya tenang setelah membaca artikel ustadz. Terima kasih..

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Lakukan dulu qodho’ puasanya. Semoga Allah mudahkan.

  • http://phiamardiana.tumblr.com Phia

    assalamualaikum wr.wb.
    terima kasih artikelnya ustadz, sangat bermanfaat :)

  • Susy_mauly

    alhamdulillah….artikel ini bs menjawab keragu raguan sy ttg puasa syawal dan qodho puasa ramadan …mana yg sebaiknya didahulukan

  • Isnazaen

    Alhamdulillah sangat bermanfaat sebagai panduan ibadahku di bulan Syawal

  • http://www.woe2land.multiply.com Wuland

    Subhanallah….Alhamdulillah..syukron ustadz atas ilmunya…sangat bermanfaat…Barakallahu fika…

  • Pipit

    assalamualaikum warahmahtullahiwabarakatu.
    alhamdulilah saya dapat membaca artikel ini. cuma permasalahan saya sekarang saya mendahulukan puasa sunah syawal terlebih dahulu dan sdh 4 hari ini saya kerjakan dikarenakan ketidak tahuan saya. bagaimana solusinya pak ustad sementara saya mempunyai utang puasa ramadhan 7 hari.
    terima kasih.

    Wassalam,
    Zulhidjatul F

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh.
      Hari ini kalau sudah terlanjur silakan dilanjutkan, namun besok hari qodho’ dulu,

  • http://www.facebook.com/people/Chika-Mayselo/100001509315017 Chika Mayselo

    terima kasih ya, semoga aq sanggup melaksanakannya, mohon izin taq.

  • mohammad badie wibowo

    alhamdulillah, jazakalloh khoiron…

  • Adam_cws87

    alhamdulillah, jazakalloh khoiron….

  • http://www.facebook.com/people/Mohammad-Badie-Wibowo/1738946009 Mohammad Badie Wibowo

    alhamdulillah, jazakalloh khoiron….

  • http://www.facebook.com/people/Ummu-Muadz/100000288763792 Ummu Mu’adz

    Alhamdulilah ,kl gitu bagi wanita tentunya tdk perlu khawatir ya krn dalil dah jelas krn bukan unsur kesengajaan menunjukan bahwa islam itu mudah dan tdk memberatkan.

    • aisyahanwar

      kesimpulan anti salah,coba dibaca lagi dgn seksama

  • http://www.facebook.com/people/Ummu-Muadz/100000288763792 Ummu Mu’adz

    Bagi seorang wanita kl gitu tdk ada masalah ,krn memang udzur syari ,menunjukan bahwa islam itu mudah tdk memberatkan,untuk melakukan shoum syawwl terlebih dahulu .

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Saudari kami harapkan membaca dulu tulisan di atas dulu secara seksama sblm mengambil kesimpulan.

  • Fit3_yanti

    bagaimana dengan puasa sawal yang sudah dilakukan tp belum puasa qodho , apakah itu tidak sah. karena ketidak tahuan kita . berarti sia2 puasanya ya.

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Puasanya sah, namun luput dr pahala puasa syawal spt puasa setahun penuh.

  • amien
    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      amalan sunnahnya bisa jadi sia2

  • Ummuha

    Jazakumulloh khoiro atas artikelnya.

  • Boby

    Mau tanya,,,bagaimana hukumnya puasa untuk mendapatkan jodoh (puasa daud) sementara belum lunas hutang puasa ramadhan?

  • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

    Dahulukan puasa Ramadhan, itu lebih utama.

  • Beth

    Mau tanya ustadz…apa niat puasa Qodho Ramadhan? Wajib atau sunnah kah? Dan seandainya klo sy niat puasa qodho dibulan Syawal, apakah sy masih bisa dapat pahala Syawal?

  • Baha

    mau tanya terkait hadits dengan catatan kaki nomor [6], hadits tersebut ada di shahih Muslim nomor 1164 ya? ketika saya coba cari, kok berbeda ya? :)

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Itu nomor standar yang kami gunakan. Sedangkan saudara sptnya tdk menggunakan no standar.
      Barakallahu fiikum.

  • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

    Dahulukan qadha puasa dulu baru puasa syawal. Puasa qadha itu wajib. Puasa syawal itu sunnah.

  • SWEETY

    ASSALAMUALAIKUM WR.WB
    MAU TANYA PAK USTADZ, SAYA SEKARANG LAGI PUASA MUHARRAM TPI DTGH2 HARI SAYA BARU INGAT SAYA BELUM QODHO PUASA RAMADHAN SAYA GMN YA PAK?NIAT SAYA SEMALAM SIH NIAT PUASA MUHARRAM KLW SYA LANJUTI BOLEH KAH SAYA GNTI NIATNYA ?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumussalam. Boleh tetap puasa.