Apakah Wanita Hamil dan Menyusui Cukup Fidyah Tanpa Qodho’?


Ketika membahas tentang puasa wanita hamil dan menyusui, kami terakhir menguatkan pendapat bahwa jika wanita hamil dan menyusui tidak puasa, mereka punya kewajiban untuk mengqodho’ puasanya di hari yang lain sampai mereka mampu. Kemudian kami tutup tulisan tersebut dengan mengatakan bahwa jika memang wanita hamil dan menyusui tadi tidak mampu lagi menunaikan qodho’ puasa karena begitu banyak hari yang ditinggalkan serta usianya yang tidak kuat, maka mereka bisa mengganti puasanya dengan fidyah.

Tulisan kali ini akan kembali menguatkan pendapat dalam tulisan tersebut. Kami akan sertakan fatwa seorang faqih dari negeri Unaizah Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah. Dari fatwa ini akan nampak bahwa inilah pendapat pertengahan dalam perselisihan yang ada.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah pernah ditanya,

“Ada seorang wanita di mana ia mengalami nifas di bulan Ramadhan, atau dia mengalami hamil atau dia sedang menyusui ketika itu. Apakah wajib baginya qodho’ ataukah dia menunaikan fidyah (memberi makan bagi setiap hari yang ditinggalkan)? Karena memang ada yang mengatakan pada kami bahwa mereka tidak perlu mengqodho’, namun cukup menunaikan fidyah saja. Kami mohon jawaban dalam masalah ini dengan disertai dalil.”

Beliau rahimahullah menjawab,

“Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan.

Allah subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan bagi hamba-Nya puasa Ramadhan dan puasa ini adalah bagian dari rukun Islam. Allah telah mewajibkan bagi orang yang memiliki udzur tidak berpuasa untuk mengqodho’nya ketika udzurnya tersebut hilang. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa yang menyaksikan hilal, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya mengqodho’ puasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa siapa saja yang tidak berpuasa karena ada udzur maka hendaklah ia mengqodho’ (mengganti) puasanya di hari yang lain. Wanita hamil, wanita menyusui, wanita nifas, wanita haidh, kesemuanya meninggalkan puasa Ramadhan karena ada udzur. Jika keadaan mereka seperti ini, maka wajib bagi mereka mengqodho’ puasa karena diqiyaskan dengan orang sakit dan musafir. Sedangkan untuk haidh telah ada dalil tegas tentang hal tersebut. Disebutkan dalam Bukhari Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya beliau ditanya oleh seorang wanita, “Mengapa wanita hadih diharuskan mengqodho’ puasa dan tidak diharuskan mengqodho’ shalat?” ‘Aisyah menjawab, “Dulu kami mendapati haidh. Kami diperintahkan (oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) untuk mengqodho’ puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengqodho’ shalat.” Inilah dalilnya.

Adapun ada riwayat dari sebagian ulama salaf yang memerintahkan wanita hamil dan menyusui (jika tidak puasa) cukup fidyah (memberi makan) dan tidak perlu mengqodho’, maka yang dimaksudkan di sini adalah untuk mereka yang tidak mampu berpuasa selamanya. Dan bagi orang yang tidak dapat berpuasa selamanya seperti pada orang yang sudah tua dan orang yang sakit di mana sakitnya tidak diharapkan sembuhnya, maka wajib baginya menunaikan fidyah. Pendapat ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankan puasa (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan satu orang miskin (bagi satu hari yang ditinggalkan). Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 184)

Allah Ta’ala telah menjadikan fidyah sebagai pengganti puasa di awal-awal diwajibkannya puasa, yaitu ketika manusia punya pilihan untuk menunaikan fidyah (memberi makan) dan berpuasa. Kemudian setelah itu, mereka diperintahkan untuk berpuasa saja.

[Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibni ‘Utsaimin, 17/121-122, Asy Syamilah]

***

Fatwa ini menjelaskan bahwa asalnya kewajiban wanita hamil dan menyusui ketika mereka tidak berpuasa adalah mengqodho’ puasa di hari lainnya (di saat mereka kuat untuk berpuasa). Namun jika keadaan mereka tidak mampu lagi menunaikan qodho’ puasa, maka diganti fidyah sebagaimana halnya orang yang sudah di usia senja dan tidak mampu lagi berpuasa. Dari sini penjelasan beliau rahimahullah di atas, menunjukkan bahwa kurang tepatnya sebagian orang yang mengeluarkan fidyah langsung padahal ia masih mampu mengqodho’ di hari lainnya.

Semoga sajian singkat ini bermanfaat.

Silakan baca artikel “Perselisihan Ulama Mengenai Puasa Wanita Hamil dan Menyusuidi sini.

 

Diselesaikan di malam 8 Ramadhan 1431 H (17 Agustus 2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.rumaysho.com

Print Friendly


Pernah mengenyam pendidikan S1 di Teknik Kimia UGM Yogyakarta dan S2 Polymer Engineering di King Saud University Riyadh. Pernah menimba ilmu diin dari Syaikh Sholeh Al Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy Syatsri, dan Syaikh Sholeh Al 'Ushoimi. Aktivitas beliau sebagai Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, Pengasuh Rumaysho.Com, serta Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id.


  • Abu Matiin

    Assalamu’alaykum warahmatullah,
    Afwan Ustadz, saya masih mau tanya.
    Kalau sudah meng-qodho puasa apakah masih harus membayar fidyah?

  • karman

    Assalamualaikum, mau tanya ustadz, klo membayar fidyah itu apakah harus di bulan ramadhan tahun berjalan?

  • Taslim93

    Assalamu alaikum, akh, istri ana thn 2008 yang lalu berada dalam posisi melahirkan dan nifas, dan waktu itu ana kesulitan untuk menentukan apakah qodho atau fidyah, dan ana lupa persisnya apakah akhirnya istri ana lakukan dua-2nya atau fidiah saja. Cuma jika ternyata cuma fidiah saja, dan sdh 2x ramadhan, apakah setelah romadhon ini istri ana tetap mengqodho nya atau bagaimana akh ? Jazakkallah khair

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam.
      Untuk ramadhan yg telah lalu jk sudah menunaikan fidyah, maka itu sudah dianggap sah krn itulah ilmu saat itu.
      Yg tepat jk dalam keadaan nifas adlah menunaikan qodho’ bukan fidyah krn ulama sepakat bahwa wanita nifas sama dengan wanita haidh. Dan kita sudah tahu bersama bahwa wanita haidh diharuskan qodho’. Maka begitu pula dengan wanita nifas. Jd cukup qodho’ tanpa fidyah.

  • http://banggamenjadimuslim.blogspot.com zulkifli

    assalamu’alaykum..
    ustadz, kalo tetep milih yang bayar fidyah saja, padahal secara fisik masih muda gimana?
    apa sah jika bersandar pada pendapat ibnu abbas atau ibnu umar?!
    jazakallohu khoir…

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam.
      Lihat komentar kami pd saudara Aditya.

  • Aditya

    Assalamu`alaikum
    Ana sangat menghargai pendapat cukup mengqadha puasa bagi wanita hamil dan menyusui,tapi ana baru mendengar langsung dari Ustadz Abdul Hakim tanggal 8 Agustus 2010 dalam hal ini. Maka ustadz mengatakan sungguh beruntung ulama yang berpendapat cukup fidyah karena ada atsar dari para sahabat,bahkan dalam Al-Qur’an secara tegas hanya sakit dan musafir yang wajib qadha serta As-sunnah secara tegas juga wanita haid dan nifas saja. Maka para ulama berpendapat qadha saja atau qadha dan fidyah tak ada dalil tegas dan nyata bahkan zhahirnya pun tak ada hanya ijtihad ulama semata.

  • Aditya

    Assalamu`alaikum
    Saya berterima kasih atas diberikannya kesempatan untuk sharing. Dan untuk kaum muslimin lainnya silakan anda memilih pendapat terkuat dan menenangkan hati anda. Serta bersatulah dan hargai pendapat yang berbeda dengan anda. Jazakallah.

  • http://profiles.yahoo.com/u/SMBMQHPBZPLK76Q2WKT32FSYDI Fahrul Aprianto Prayudi

    Assalamu`alaikum
    Aditya saya sependapat dengan anda,karena memang tak ada dalil tegas menyatakan bahwa wanita hamil dan menyusui wajib mengqadha puasa dan bertentangan dengan realita yang ada. Buktinya kakak ipar saya setiap menyusui selalu lemas karena makanannya sebagian disedot oleh anaknya melalui cairan susu. Jazakallah.

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam.
      Dalil tegasnya dalam hadits telah disebutkan di sini: http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html
      Jadi kami pun tidak setuju dikatakan itu adalah ijtihad ulama. Dalilnya adalah,

      إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الْمُسَافِرِ وَالْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ أَوِ الصِّيَامَ

      “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla meringankan setengah shalat untuk musafir dan meringankan puasa bagi musafir, wanita hamil dan menyusui.”[1]

      Al Jashshosh rahimahullah menjelaskan,

      “Keringanan separuh shalat tentu saja khusus bagi musafir. Para ulama tidak ada beda pendapat mengenai wanita hamil dan menyusui bahwa mereka tidak dibolehkan mengqoshor shalat. … Keringanan puasa bagi wanita hamil dan menyusui sama halnya dengan keringanan puasa bagi musafir. … Dan telah diketahui bahwa keringanan puasa bagi musafir yang tidak berpuasa adalah mengqodhonya, tanpa adanya fidyah. Maka berlaku pula yang demikian pada wanita hamil dan menyusui. Dari sini juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara wanita hamil dan menyusui jika keduanya khawatir membahayakan dirinya atau anaknya (ketika mereka berpuasa) karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak merinci hal ini.”[11]

      • http://profiles.yahoo.com/u/SMBMQHPBZPLK76Q2WKT32FSYDI Fahrul Aprianto Prayudi

        Assalamu`alaikum
        Saya sudah tanyakan hadits ini kepada ustadz abdul hakim,beliau mengatakan bahwa dalam hadits tak menunjukkan tata cara pembayaran puasa qadha bagi wanita hamil dan menyusui. Apabila memang atsar ibnu abbas dipersoalkan mengenai wanita hamil dan menyusui tapi mengapa mereka yang berpendapat wajib qadha kok tak mempersoalkan mengenai orang tua renta dan lainnya padahal ayat itu belum ternasakh,sekian dari ustadz abdul hakim. Saya tetap berpendapat seperti ustadz abdulhakim dan(maaf) saya ingin mengkritik ustadz abu ramaysho bagaimana ustadz bisa berpendapat bahwa atsar ibnu abbas dalam hal ini keliru padahal ustadz abu rumaysho dalam masalah menyentuh perempuan setelah berwudhu menguatkan Ibnu Abbas dg kaidah tafsir ibnu Abbas lebih didahulukan dari para sahabat lainnya di muslim.or.id

  • Rossi

    Assalamualaikum wr. wb
    batas waktu mengganti puasa dilain hari maksudnya apakah boleh menggantinya melewati ramadhan di akan datang atau apakah harus sdh terbayar semua sebelum ramadhan ????? mohon penjelasannya……….. terima kasih
    Wasalam……

  • http://www.facebook.com/people/Title-Maya/100000518922854 Title Maya

    syukran jazilan yang ustaz…

  • Hastho

    Assalamu’alaikum
    tadz, ini saya tinjau dari ilmu biologi. Bagaimana bila wanita hamil saat romadhon dan dia berniat qodho. setelah beberapa bulan belum sempat qodho wanita tersebut hamil lagi dan ketemu romadhon lagi, sehingga pada saat romadhon berikutnya tersebut wanita itu terhalang puasa kalao tidak karena masih hamil ya sedang masa menyusui anak kedua. sebab wanita dapat hamil kembali walo setelah 3 bulan melahirkan, beberapa kasus ini saya ketahui dari internet (disaat hamil menyusui) juga istri saya sendiri hamil lagi saat anak pertama usia 9 bulan. mengingat hal tersebut -rasanya-hukum asal wanita hamil adalah fidyah tanpa perlu qodho. Kecuali setelah selesai nifas wanita tersebut melakukan KB, dan KB pun dalam hal ini bermasalah, yang dituntunkan azl, dengan azl pun sistem kalender qodarullah istri saya hamil lagi.. alhamdulillah.mohon tanggapannya.

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam.
      Hal yg sama bukan hanya terjadi pada saudara, namun ulama2 yg berpendapat wajibnya qodho’ puasa, istri2 mereka pun pernah demikian. Pernahkah mereka merasakan gelisah seperti anda? Tdk, buktinya saja ulama besar spt Syaikh Ibnu Utsaimin dan Syaikh Ibnu Baz, yg juga memiliki banyak anak tetap mewajibkan qodho’. Orang yg hamil sangat tdk cocok dianalogikan dg orang tua renta lantas dikenakan fidyah. Krn memang mrk masih punya kemampuan qodho’ suatu saat nanti.
      Kecuali dengan catatan, wanita hamil dan menyusui tdk mampu lagi menqodho puasanya karena saking banyaknya qodho’ yg harus ia tanggung. Ketika itu barulah ada fidyah krn ia dikondisikan spt orang yg sdh tua rentah yang gak mungkin mampu puasa lagi. Jadi ia asalnya tetap qodho’.
      Coba lihat uraian panjang tentang masalah ini di sini:
      http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html
      Semoga Allah beri taufik.

  • kamal sb

    Assalamualaikum Wr Wb,
    p’Ustad mohon bantuannya untuk mengobati kegundahan saya tetang materi bahasan diatas.
    Alhamdulillah saya sekarang sudah dikaruniai 4 orang putri yang masing2 berumur 21thn, 19, 16, 8thn, yang jadi permasalahannya pada saat istri saya hamil dan menyusui istri saya hanya membayar fidyah saja dan tidak meng-qadha nya, hal ini bisa terjadi mengingat pada saat itu kami berdua belum banyak bekal ilmu agamanya dan lingkunganpun juga tidak mendukung untuk sharing tentang masalah2 agqidah atau fiqih.
    Yang jadi kegundahan kami sampai dengan saat ini apakah istri saya harus meng-qadha puasa Ramadhan sebanyak yang ditinggalkan (kalau tidak salah hitung +- 10 kali melewati bulan Ramadhan). Saya sangat berharap p’Ustad dapat, memberi penjelasannya agar perjalanan kami di sisa usia ini dapat bermanfaat (saat ini usia saya 53 tahun dan usia istri saya 48thn)….aamiin….Jazakumullah khairan katsiran….

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam. Jika memang dulu yakinnya fidyah, mk spt itu sdh sah krn memang itu sebatas ilmu yg dahulu. Namun jk skrg yakinnya qodho’, jika memiliki anak lagi, mk ketika tdk puasa krn hamil dan menyusui, mk tetap qodho’.

  • Sitiuswatulmutoharoh

    Assalamualaikum Wr.Wb.
    Ustadz, saya mau tanya jika wanita hamil tidak berpuasa di bulan Ramadhan berarti dia mengqodo’ puasanya di hari lain selama ia masih kuat menjalankannya.Apakah setelah melakukan qodo’nya,ia juga harus membayar fidyah?.

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam.
      Pendapat yg kuat, cukup qodho’ tanpa digabungkan fidyah.

  • G_trya

    assalamualaikum Wr Wb.
    p’ ustad,saya mau tanya jika wanita hamil  tidak berpuasa kemudian  di ganti dgn fidyah,berapakah fidyah yang harus dikeluarkan dan bagaimana caranya  

  • him’s

    assalaamu’alaikum tadz, sy ingin tanyakan mengenai pendapat Ibnu Abbas tentang dalil diatas.

    “Adapun ada riwayat dari sebagian ulama salaf yang memerintahkan
    wanita hamil dan menyusui (jika tidak puasa) cukup fidyah (memberi
    makan) dan tidak perlu mengqodho’, maka yang dimaksudkan di sini adalah
    untuk mereka yang tidak mampu berpuasa selamanya. Dan bagi orang yang
    tidak dapat berpuasa selamanya seperti pada orang yang sudah tua dan
    orang yang sakit di mana sakitnya tidak diharapkan sembuhnya, maka wajib baginya menunaikan fidyah. Pendapat ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,

    وَعَلَى
    الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ
    خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ
    تَعْلَمُونَ

    “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankan puasa (jika
    mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan satu
    orang miskin (bagi satu hari yang ditinggalkan). Barangsiapa yang dengan
    kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Itulah yang lebih baik
    baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 184)” (quote)

    padahal pendapat Ibnu Abbas yang lain:
    a. Ibnu ‘Abbas z melihat budak wanitanya hamil atau menyusui maka beliau
    mengatakan, “Kamu termasuk dari orang yang tidak mampu melakukan puasa,
    wajib atas kamu jaza’ (memberi makan), dan tidak ada qadha atas dirimu.”
    (HR. ad-Daruquthni dengan sanad yang disahihkannya [1/207], Shifat
    Shaum an-Nabi hlm. 85)
    b. Diriwayatkan Ikrimah t dari ‘Abdullah Ibnu ‘Abbas c bahwa beliau
    berkata, “Telah ditetapkan bagi wanita hamil dan yang menyusui, yakni
    firman-Nya, “Dan atas orang-orang yang mampu dengan payah.” (HR. Abu
    Dawud disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Shahih Sunan Abu
    Dawud, no. 2317)
    c. Beliau juga mengatakan, “Pada firman Allah l tersebut ada rukhshah
    (keringanan) bagi orang yang sudah tua (kakek dan nenek) walaupun
    keduanya mampu untuk berpuasa. Keduanya diberi keringanan untuk berbuka
    jika mau dan memberi makan seorang miskin sebagai gantinya. Lalu (hukum)
    itu dihapus dengan firman Allah l (yang artinya), “Maka barang siapa di
    antara kalian menyaksikan bulan, hendaknya ia berpuasa.” Rukhshah itu
    tetap bagi kakek dan nenek yang tidak mampu berpuasa, juga bagi wanita
    hamil dan menyusui. Jika keduanya khawatir, maka berbuka dan memberi
    makan satu orang miskin sebagai ganti tiap harinya.” (HR. Ibnu Jarir
    dalam Tafsir-nya 2/135, Ibnul Jarud, no. 381, dan al-Baihaqi, 4/230.
    Sanadnya disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil,
    4/18)

    manakah yang benar tentang pendapat Ibnu Abbas??

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Riwayat tsb dikritik sanadnya oleh ulama lain. Jd tetap wajib qodho

      Muhammad Abduh Tuasikal
      http://www.rumaysho.com

      Sent from my Iphone
      @ Jogja

      في ١٠‏/٠٨‏/٢٠١٢، الساعة ١١:٢٦ ص، كتب “Disqus” :

  • putri

    Assalamu’alaikum warahmatullah,
    Afwan Ustadz, alhamdulillah, setelah membaca penjelasan Ustadz dan dari peserta sharing, saya insyaallah akan mengqodho puasa yg dulu saya tinggalkan krn hamil, pada waktu itu saya hanya membayar fidyah, itupun krn kejahilan saya, fidyahnya hanya dalam bentuk uang. Pertanyaan saya, berapa denda (kafarah) yang harus saya bayar krn baru sekarang saya akan mengqodho puasa (setelah melewati 4 kali Ramadhan)? bisakah saya membayarnya lewat rumaysho.com?, semoga Allah mengampuni saya, mohon pencerahan, Ustadz.. wassalamu’alaikum warahmatullah

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      wa’alaikumussalam.

      kalau ini karena kejahilan, maka cukup qodho’ saja. karena sblmnya saudari bangun atas ketidaktahuan. Jadi tdk perlu fidyah. Kalau ingin fidyah juga, kami siap salurkan, lihat rekening pesantren kami di website ini.

      2012/11/27 Disqus

  • dewi

    Assalamualaiku Wr Wb
    Pa ustad, saya mau nanya.. Kl utk tenggang waktu qodho’y ada batasan ga yah ?? Harus ditaun yg sama kahh, ditaun sblm dtg bulan ramadhan berikut’y ?? Ato gmn ??
    Soalnya sy msi dalam fase menyusui..
    Terimakasih sebelumnya

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Dilakukan sesuai kemampuan, boleh ditunda sampaj tahun berikutnya jk msh berat.
      Muhammad Abduh Tuasikal
      Rumaysho.com via my Iphone

      في ٢٥‏/٠١‏/٢٠١٣، الساعة ١٢:٠٥ م، كتب “Disqus” :

  • andika

    Assalamu’alaikum ustadz. Maksudnya memberi mkn org miskin itu,apa 3x mkn per orang atau 1x saja sebanyak hari yang ditinggalkan?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Waalaikumussalam. Cukup sekali makan mengenyangkan.

      Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
      Rumaysho.com via My Ipad

  • Aina MayRin

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Thn 2000 sy mlahirkn anak prtama msk rmadhan msh mnyusui sempat puasa tp anak sy mencret, kt ttga boleh ga puasa ntar byr fidyah. thn 2001 bln sya’ban akhir mlhirkn anak ke 2, ga puasa krn nifas, kt org” tua byr fidyah aja. kmdian sy byr fidyah waktu itu sy hitung 30 hr sy byr bentuk uang (krn kurangx pengetahuan) sy pikir ya sdh beres. skrg sy dengar ada ustadz ceramah hrs qodho puasa Plus byr fidyah sbyak tahun yg ditinggalkn. Alangkah beratx sy hrs byr puasa 30 hr plus fidyah yg berkarung” berasx.(misal dlm bntuk beras), trus yg mana hrs sy lakukan, utk puasa selama 30 hr terasa berat, bolehkah sy byr fidyah aja lagi ? trmksh atas jawabanx. wassalam.

  • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

    Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh

    Coba baca artikel berikut trlbh dahulu: http://rumaysho.com/ilmu-ushul/dahulu-melakukan-keharaman-sekarang-tahu-haramnya-3045.