Amalan Puasa ‘Asyura


Alhamdulillah, saat ini kita telah berada di bulan Muharram. Mungkin masih banyak yang belum tahu amalan apa saja yang dianjurkan di bulan ini, terutama mengenai amalan puasa. Insya Allah kita akan membahasnya pada tulisan kali ini. Semoga bermanfaat.

Dianjurkan Banyak Berpuasa di Bulan Muharram

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendorong kita untuk banyak melakukan puasa pada bulan tersebut sebagaimana sabdanya,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[1]

An Nawawi -rahimahullah- menjelaskan, “Hadits ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.”[2]

Lalu mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diketahui banyak berpuasa di bulan Sya’ban bukan malah bulan Muharram? Ada dua jawaban yang dikemukakan oleh An Nawawi.

Pertama: Mungkin saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru mengetahui keutamaan banyak berpuasa di bulan Muharram di akhir hayat hidup beliau.

Kedua: Boleh jadi pula beliau memiliki udzur ketika berada di bulan Muharram (seperti bersafar atau sakit) sehingga tidak sempat menunaikan banyak puasa pada bulan Muharram.[3]

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Puasa yang paling utama di antara bulan-bulan haram (Dzulqo’dah, Dzulhijah, Muharram, Rajab -pen) adalah puasa di bulan Muharram (syahrullah).”[4]

Sesuai penjelasan Ibnu Rajab, puasa sunnah (tathowwu’) ada dua macam:

  1. Puasa sunnah muthlaq. Sebaik-baik puasa sunnah muthlaq adalah puasa di bulan Muharram.
  2. Puasa sunnah sebelum dan sesudah yang mengiringi puasa wajib di bulan Ramadhan. Ini bukan dinamakan puasa sunnah muthlaq. Contoh puasa ini adalah puasa enam hari di bulan Syawal.[5]

Di antara sahabat yang gemar melakukan puasa pada bulan-bulan haram (termasuk bulan haram adalah Muharram) yaitu ‘Umar, Aisyah dan Abu Tholhah. Bahkan Ibnu ‘Umar dan Al Hasan Al Bashri gemar melakukan puasa pada setiap bulan haram.[6] Bulan haram adalah bulan Dzulqo’dah, Dzulhijah, Muharram dan Rajab.

Puasa yang Utama di Bulan Muharram adalah Puasa ‘Asyura

Dari hari-hari yang sebulan itu, puasa yang paling ditekankan untuk dilakukan adalah puasa pada hari ’Asyura’ yaitu pada tanggal 10 Muharram[7]. Berpuasa pada hari tersebut akan menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.”[8]

An Nawawi -rahimahullah- mengatakan, “Para ulama sepakat, hukum melaksanakan puasa ‘Asyura untuk saat ini (setelah diwajibkannya puasa Ramadhan, -pen) adalah sunnah dan bukan wajib.”[9]

Sejarah Pelaksanaan Puasa ‘Asyura[10]

Tahapan pertama: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa ‘Asyura di Makkah dan beliau tidak perintahkan yang lain untuk melakukannya.

Dari ’Aisyah -radhiyallahu ’anha-, beliau berkata,

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

Di zaman jahiliyah dahulu, orang Quraisy biasa melakukan puasa ’Asyura. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga melakukan puasa tersebut. Tatkala tiba di Madinah, beliau melakukan puasa tersebut dan memerintahkan yang lain untuk melakukannya. Namun tatkala puasa Ramadhan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa ’Asyura. (Lalu beliau mengatakan:) Barangsiapa yang mau, silakan berpuasa. Barangsiapa yang mau, silakan meninggalkannya (tidak berpuasa).”[11]

Tahapan kedua: Ketika tiba di Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Ahlul Kitab melakukan puasa ‘Asyura dan memuliakan hari tersebut. Lalu beliau pun ikut berpuasa ketika itu. Kemudian ketika itu, beliau memerintahkan pada para sahabat untuk ikut berpuasa. Melakukan puasa ‘Asyura ketika itu semakin ditekankan perintahnya. Sampai-sampai para sahabat memerintah anak-anak kecil untuk turut berpuasa.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.

“Ketika tiba di Madinah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendapati orang-orang Yahudi melakukan puasa ’Asyura. Kemudian Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bertanya, ”Hari yang kalian bepuasa ini adalah hari apa?” Orang-orang Yahudi tersebut menjawab, ”Ini adalah hari yang sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Ketika itu pula Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini”. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lantas berkata, ”Kita seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian.”. Lalu setelah itu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.”[12]

Apakah ini berarti Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam meniru-niru (tasyabbuh dengan) Yahudi?

An Nawawi –rahimahullah- menjelaskan, ”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam biasa melakukan puasa ’Asyura di Makkah sebagaimana dilakukan pula oleh orang-orang Quraisy. Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tiba di Madinah dan menemukan orang Yahudi melakukan puasa ‘Asyura, lalu beliau shallallahu ’alaihi wa sallam pun ikut melakukannya. Namun beliau melakukan puasa ini berdasarkan wahyu, berita mutawatir (dari jalur yang sangat banyak), atau dari ijtihad beliau, dan bukan semata-mata berita salah seorang dari mereka (orang Yahudi). Wallahu a’lam.”[13]

Para ulama berselisih pendapat apakah puasa ‘Asyura sebelum diwajibkan puasa Ramadhan dihukumi wajib ataukah sunnah mu’akkad? Di sini ada dua pendapat:

Pendapat pertama: Sebelum diwajibkan puasa Ramadhan, pada masa tahapan kedua, puasa ‘Asyura dihukumi wajib. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan Abu Bakr Al Atsrom.

Pendapat kedua: Pada masa tahapan kedua ini, puasa ‘Asyura dihukumi sunnah mu’akkad. Ini adalah pendapat Imam Asy Syafi’i dan kebanyakan dari ulama Hambali.[14]

Namun yang jelas setelah datang puasa Ramadhan, puasa ‘Asyura tidaklah diwajibkan lagi dan dinilai sunnah. Hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama sebagaimana disebutkan oleh An Nawawi -rahimahullah-.[15]

Tahapan ketiga: Ketika diwajibkannya puasa Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan para sahabat untuk berpuasa ‘Asyura dan tidak terlalu menekankannya. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan bahwa siapa yang ingin berpuasa, silakan dan siapa yang tidak ingin berpuasa, silakan. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh ’Aisyah radhiyallahu ’anha dalam hadits yang telah lewat dan dikatakan pula oleh Ibnu ’Umar berikut ini. Ibnu ’Umar -radhiyallahu ’anhuma- mengatakan,

أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَامَهُ وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ.

Sesungguhnya orang-orang Jahiliyah biasa melakukan puasa pada hari ’Asyura. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pun melakukan puasa tersebut sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, begitu pula kaum muslimin saat itu. Tatkala Ramadhan diwajibkan, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan: Sesungguhnya hari Asyura adalah hari di antara hari-hari Allah. Barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa. Barangsiapa meninggalkannya juga silakan.”[16]

Ibnu Rajab -rahimahullah- mengatakan, “Setiap hadits yang serupa dengan ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan lagi untuk melakukan puasa ‘Asyura setelah diwajibkannya puasa Ramadhan. Akan tetapi, beliau meninggalkan hal ini tanpa melarang jika ada yang masih tetap melaksanakannya. Jika puasa ‘Asyura sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan dikatakan wajib, maka selanjutnya apakah jika hukum wajib di sini dihapus (dinaskh) akan beralih menjadi mustahab (disunnahkan)? Hal ini terdapat perselisihan di antara para ulama.

Begitu pula jika hukum puasa ‘Asyura sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan adalah sunnah muakkad, maka ada ulama yang mengatakan bahwa hukum puasa Asyura beralih menjadi sunnah saja tanpa muakkad (ditekankan). Oleh karenanya, Qois bin Sa’ad mengatakan, “Kami masih tetap melakukannya.[17]

Intinya, puasa ‘Asyura setelah diwajibkannya puasa Ramadhan masih tetap dianjurkan (disunnahkan).

Tahapan keempat: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad  di akhir umurnya untuk melaksanakan puasa Asyura tidak bersendirian, namun diikutsertakan dengan puasa pada hari lainnya. Tujuannya adalah untuk menyelisihi puasa Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab.

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.

Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.”[18]

Menambahkan Puasa 9 Muharram

Sebagaimana dijelaskan di atas (pada hadits Ibnu Abbas) bahwa di akhir umurnya, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bertekad untuk menambah puasa pada hari kesembilan Muharram untuk menyelisihi Ahlu Kitab. Namun beliau sudah keburu meninggal sehingga beliau belum sempat melakukan puasa pada hari itu.

Lalu bagaimana hukum menambahkan puasa pada hari kesembilan Muharram? Berikut kami sarikan penjelasan An Nawawi rahimahullah.

Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) berpuasa juga pada hari kesembilan.

Apa hikmah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menambah puasa pada hari kesembilan? An Nawawi rahimahullah melanjutkan penjelasannya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa sebab Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bepuasa pada hari kesepuluh sekaligus kesembilan agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja. Dalam hadits Ibnu Abbas juga terdapat isyarat mengenai hal ini. Ada juga yang mengatakan bahwa hal ini untuk kehati-hatian, siapa tahu salah dalam penentuan hari ’Asyura’ (tanggal 10 Muharram). Pendapat yang menyatakan bahwa Nabi menambah hari kesembilan agar tidak menyerupai puasa Yahudi adalah pendapat yang lebih kuat. Wallahu a’lam.[19]

Ibnu Rojab mengatakan, ”Di antara ulama yang menganjurkan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram sekaligus adalah Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad, dan Ishaq. Adapun Imam Abu Hanifah menganggap makruh jika seseorang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja.”[20]

Intinya, kita lebih baik berpuasa dua hari sekaligus yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Karena dalam melakukan puasa ‘Asyura ada dua tingkatan yaitu:

  1. Tingkatan yang lebih sempurna adalah berpuasa pada 9 dan 10 Muharram sekaligus.
  2. Tingkatan di bawahnya adalah berpuasa pada 10 Muharram saja.[21]

Puasa 9, 10, dan 11 Muharram

Sebagian ulama berpendapat tentang dianjurkannya berpuasa pada hari ke-9, 10, dan 11 Muharram. Inilah yang dianggap sebagai tingkatan lain dalam melakukan puasa Asy Syura[22]. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً

Puasalah pada hari ’Asyura’ (10 Muharram, pen) dan selisilah Yahudi. Puasalah pada hari sebelumnya atau hari sesudahnya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, Ibnu Khuzaimah, Ibnu ’Adiy, Al Baihaqiy, Al Bazzar, Ath Thohawiy dan Al Hamidiy, namun sanadnya dho’if (lemah). Di dalam sanad tersebut terdapat Ibnu Abi Laila -yang nama aslinya Muhammad bin Abdur Rahman-, hafalannya dinilai jelek. Juga terdapat Daud bin ’Ali. Dia tidak dikatakan tsiqoh kecuali oleh Ibnu Hibban. Beliau berkata, ”Daud kadang yukhti’ (keliru).” Adz Dzahabiy mengatakan bahwa hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah (dalil).

Namun, terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Abdur Rozaq, Ath Thohawiy dalam Ma’anil Atsar, dan juga Al Baihaqi, dari jalan Ibnu Juraij dari ’Atho’ dari Ibnu Abbas. Beliau radhiyallahu ’anhuma berkata,

خَالِفُوْا اليَهُوْدَ وَصُوْمُوْا التَّاسِعَ وَالعَاشِرَ

Selisilah Yahudi. Puasalah pada hari kesembilan dan kesepuluh Muharram.” Sanad hadits ini adalah shohih, namun diriwayatkan secara mauquf (hanya dinilai sebagai perkataan sahabat). [23]

Catatan: Jika ragu dalam penentuan awal Muharram, maka boleh ditambahkan dengan berpuasa pada tanggal 11 Muharram.

Imam Ahmad -rahimahullah- mengatakan, ”Jika ragu mengenai penentuan awal  Muharram, maka boleh berpuasa pada tiga hari (hari 9, 10, dan 11 Muharram, pen) untuk kehati-hatian.[24]

Sebagai Motivasi

Semoga kita terdorong untuk melakukan puasa Asyura. Cukup ayat ini sebagai renungan. Allah Ta’ala berfirman,

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ

“(Kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.” (QS. Al Haqqah: 24)

Mujahid dan selainnya mengatakan, ”Ayat ini turun pada orang yang berpuasa. Barangsiapa meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Allah, maka Allah akan memberi ganti dengan makanan dan minuman yang lebih baik, serta akan mendapat ganti dengan pasangan di akhirat yang kekal (tidak mati).”[25] Inilah balasan untuk orang yang gemar berpuasa.

 

Insya Allah tanggal 9 dan 10 Muharram tahun ini bertepatan dengan tanggal 5 dan 6 Desember 2011.

 

Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan amalan puasa ini. Hanya Allah yang memberi taufik.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com

Diselesaikan di Panggang-Gunung Kidul, pada hari mubarrok (Jum’at), 1 Muharram 1431 H




[1] HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah.

[2] Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj, An Nawawi, 8/55, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392.

[3] Idem.

[4] Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 67, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, tahun 1428 H.

[5] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 66.

[6] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 71.

[7] Inilah yang dimaksud dengan ‘Asyura yaitu tanggal 10 Muharram. Yang memiliki pendapat berbeda adalah Ibnu ‘Abbas yang menganggap ‘Asyura adalah tanggal 9 Muharrram. Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 99.

[8] HR. Muslim no. 1162.

[9] Al Minhaj Syarh Muslim, 8/4.

[10] Diolah dari penjelasan Ibnu Rajab Al Hambali dalam Latho-if Al Ma’arif, hal. 92-98.

[11] HR. Bukhari no. 2002 dan Muslim no. 1125

[12] HR. Muslim no. 1130

[13] Al Minhaj Syarh Muslim, 8/11.

[14] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 94.

[15] Lihat Al Minhaj Syarh Muslim, 8/4.

[16] HR. Muslim no. 1126.

[17] Latho-if Al Ma’arif, hal. 96.

[18] HR. Muslim no. 1134.

[19] Lihat Al Minhaj Syarh Muslim, 8/12-13.

[20] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 99.

[21] Lihat Tajridul Ittiba’, Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaili, hal. 128, Dar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, tahun 1428 H.

[22] Sebagaimana pendapat Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad.

[23] Dinukil dari catatan kaki dalam kitab Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 2/60, terbitan Darul Fikr yang ditahqiq oleh Syaikh Abdul Qodir Arfan.

[24] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 99.

[25] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 72.



Pernah mengenyam pendidikan S1 di Teknik Kimia UGM Yogyakarta dan S2 Polymer Engineering di King Saud University Riyadh. Pernah menimba ilmu diin dari Syaikh Sholeh Al Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy Syatsri, dan Syaikh Sholeh Al 'Ushoimi. Aktivitas beliau sebagai Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, Pengasuh Rumaysho.Com, serta Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id.


  • Ita_blue_sea

    Kalo puasa berdasarkan weton lahir gmn Ustadz…??

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Tentu saja amalan harus ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk pernah melakukan puasa semacam itu. Jd kita selaku umatnya mencukupkan puasa sebagaimana yg beliau tuntunkan.

      • arifsurya

        Puasa weton itu puasa pada hari kelahirannya,Bukankah nabi juga melakukan puasa pada hari kelahirannya?? yaitu hari senin.. hal ini mungkin dijadikan rujukan oleh orang jawa untuk puasa weton karena dijawa ada perhitungan lain dalam penanggalan. mohon penjelasannya??

        • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

          Nabi bukan memaksudkan semacam itu, apalagi jika memakai penanggalan jawa spt wage dst.

          2012/11/23 Disqus

  • ummu humaira

    ustadz ijin share yaa…

    jazaakalloh khoiron

  • ummu humaira

    ustad ijin share yaa…

    jazaakAlloh khoiron

  • Armanketigabelas

    wew.. jadi ingat.. alhamdulillah.. makasih Tadz…

  • http://www.facebook.com/people/Sundiana-Ikhsan/1841526021 Sundiana Ikhsan

    InsyaAlloh semoga kita dapat melaksanakan ibadah puasa asyura.

  • ADhy Dank

    sy mau nax..
    pasanya apakah hari 1-11 ataukah 9-11 saja?
    jzk
    :)

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Sebagian ulama katakan boleh banyak puasa di bulan Muharram krn Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan bahwa bulan tersebut adl sebaik2 bulan untk puasa. Namun yg utama berpuasa tgl 9 dan 10 Muharram.

      • Busya_lanaa

        Ustadz,kalau begitu,kita boleh puasa awal tahun? karena termasuk dalam bulan Muharram yang merupakan bulan terbaik untuk puasa setelah Ramadhan?

        • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

          iya betul jika niatannya spt itu.

  • dee

    tanggal 9,10, dan 11 muharram jatuh pd tnggal brpa d bulan desember??

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      rabu, kamis dan jumat depan

  • Sugianto Gianto

    Alhamdulillah Aamiin

  • Tyacilik

    alhamdulillah….sgt bermanfaat bagi qt utk mendapatkan info mengenai puasa asyura, Insya Allah bs melaksanakany..amin

  • Sudrajat Syah

    Afwan Ustadz Mohon kroscek ulang : Insya Allah tanggal 10 Muharram jatuh pada tanggal 27 Desember 2009 sedangkan tanggal 9 Muharram jatuh pada tanggal 26 Desember 2009.

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Syukron, itu artikel tahun lalu. Sdh kami ralat.

  • Urwah

    Syukran telah di ingatkan …
    ijin share ya (^_^)

  • M_yamin sheikh baslum

    baraqallahufikum

  • M.Zamroni.M

    Alhamdulillah saya jadi tahu dan paham……………….

  • C_castura

    terima kasih atas info’y semoga kita semua menjadi umat’y yg mendapat safaat’y kelak….amien…

  • Dewi

    Pak Ustadz, saya masih punya utang puasa ramadhan. kalo tgl 9-10-11 berpuasa. tgl 10 diniatkan puasa muharram dan tgl 9 dan 11 nya diniatkan bayar hutang puasa bgmn? *Dewi Tekkim UGM*

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Spt itu juga boleh. Semoga Allah mudahkan.

  • Novahidayati79

    Alhamdulillah & insyaallah akan saya laksanakan,,,,,

  • Novahidayati79

    semoga…

  • Rizkia

    Assalamu’alaykum tadz, kalo puasanya tgl 10 saja krn udzur (haid) bgmana hukumnya ya ust? Saya baru bersih/selesai haid tgl 9 Muharrom besok insya allah. Jazakallahu khairon.

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumussalam.
      spt itu tdk mengapa.

  • Indygals

    syukron tlah diingatkan dan bwt pengetahuan na.. ^_^

  • Kreatifa

    subhaanallah.. baraakallah.. sangat bermanfaat ilmunya..

  • erka

    syukron, bnmfaat skali
    ijin share..

  • neng virgin

    klo puasa wajib saya msh ada utang gmn?soalnya td niatnya puasa sunah asyuro,sah gak puasa sunahnya?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Puasa asyuranya tetap sah.

  • Pooh_hummingbird13

    assalamualaikum wr.wb pak ustad alhamdulillah hari ini saya puasa tp niatnya yg saya baca salah sbb saya baru tau klo 9 muharram namanya puasa tasu’ah, gimana hukumnya ya pak? apa tidak sah? terimakasih… wassalam

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh

      Niatan itu dilihat apa yg dlm hati. Kalau di lisan salah, namun dlm hati katakan mau puasa tgl 9 Muharram, puasanya sah.

  • Jumykrus09

    mf, do’a atau niatnya apa, mf ilmunya yg ku miliki kurang,…

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      niatkan dlm hati.

  • ira

    mohon share

  • Teuku rizasyah mahmudi

    trima atas ilmunya smg menambah ibadah menuju khusnul khotimah amin yra

  • Jay

    Terima kasih atas ilmu yg diberikan semoga menjadi pahala ,Mudah-mudahan kita dapat melaksanakan puasa Asyura……Amien

  • Pipiet

    izin share ya, terima kasih

  • nurbaiti

    aslm, izin copas ya. trimakasih… :D

  • Abdussyukurghazali

    Assalamualaikum Wr. Wb. Ya akhi, semakin banyak tulisan tentang pendalaman agama Islam ini tersebar fa insya Allah semakin menghambat kemungkinan terjadinya penggerusan keyakinan, karena sekarang ini dari pihak agama lain semakin gencar mengada-adakan peribadatan yang meniru agama Islam. Misalnya, mereka juga mengadakan berdoa bersama pada waktu ada anggota jemaat meninggal sampai tujuh hari, 40 hari, dst. begitu juga dengan puasa: ada puasa daniel, puasa Daud, dsb. Mohon izin, saya juga ikut memperbanyak. Semoga tulisanmu ini dicatat sebagai amalan sholihan makbulan indal-Lah.

  • Indriastuty

    kalo saya liat ditanggalan saudi, tgl 9 san 10 muharam jatuh tanggal 4 dan 5 des 2011?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      iya betul, namun di Indo berbeda.

  • Johanbahrudin

    insya’alloh keberkahan senantiasa qt terima bilamana qt sering melaksanakan amalan2 sunnah…

  • muhammad

    assalamualaikum..
    terimakasih ustatz atas penjelasannya. semoga tarcata sebagai amal soleh baik yang menulis atau pun membacanya di sertai pengamalan  amin..
    karna keterbatasan pengetahuan disini saya ingin bertanya ustatz bahwa: disana di katakan Nabi “Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur,” pertanyaanya apakah kita boleh berpuasa di selain hari yang telah di tentukan dalam rangka  bersyukur kepada Allah AWT??
    terimakasih…

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Waalaikumussalam

      Tdk boleh tetap hrus butuh dalil

      • muhammad

        eehmm gitu ya ust. kalau harus tetap membutuhkan dalil, nah bagaimana mengenai Nabi Musa ‘alaihi salam tersebut, bukankah beliau berpuasa atas dasar syukur dan bukankah itu   sebuah dalil yang jelas mengenai hal tersebut.? mohon penjelasan ustazh terimakasih.

        • fauzi ilham

          Subhanallah akhi apakah antum sepadan dengan Nabi Musa alaihissalam…???

          • 5510 corp

            kalo menurut ana, itu bukan masalah sepadan atau tidak sepadan,,,
            saya rasa kita puasa untuk bersyukur itu tdak ada mslah
            rosul sering malakukan puasa
            cntoh rosul setiap dirumah tidak ada makanan maka beliau berpuasa, tpi beliau tidak prnah menganjurkan untuk puasa seperi itu
            kita bisa melakukan apa sunnah nabi
            sedangkan setahu saya sunnah rosul itu dri “perbuatan, kbiasaan, perkataan, hal yg dilakukan, hal yang dbiarkan,,,
            asta’fikum ustazd, bukan mksd saya untuk sok tahu,,,

          • muhammad

            maaf ustaz Muhammad Abduh Tuasikal komentar yang mana tolong di perjelas. solanya itu beda nama. saya hanya ingin kehati hatian dalam pemahaman. terimakasih

          • muhammad

            terimakasih ustatz fauzi ilaham atas tanggapannya. hanya saja jika kita melalukan contohnya kecilnya saja, puasa senin kamis. lalu kita bisa di katakan sepadan sama yang membawa syariat???
            kalau berbicara mengenai “sepadan”. berarti secara tidak langsung antm menjastivikasi  bahwa saya bertanya seperti itu lalu di katakan sepadan sama Nabi Musa ‘alaihisalam. kalau begitu, bisa saja kita di katakan sepadan sama maaf ngomong ‘Nabi Muhammad sollalahu ‘alaihi wasalam’ karna belau telah mengajarkan kita berpuasa senin-kamis.

          • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

            silakan lihat komentar kami di bawah.

          • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

            Maksud kami adl jika kita ingin menetapkan bersyukur dg puasa, maka puasa di sini pun harus butuh dalil. Karena kita tdk bisa lg membuat syariat baru. Cukup dg yang rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan.

          • muhammad

            ehmm maaf gimana menurut ust syir’um min qoblina. apakah bisa di jadikan sebuah dalil?? karna disana tertulis bahwa Nabi Muhammad SAW pernah melakukan hal tersebut? 

          • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

            Boleh dijadikan dalil asal disetujui oleh Syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak bertentangan.

  • Ophit Alfaani

    kalo tanggal 10 -11 gimana ya…????  boleh ndak ya…???

  • Rizkydara91

    niatnya gimana ??/

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      niat cukup dalam hati.

  • Ryoandesta33

    dng rajin membuka artikel  kajian Islami kita akan tetap kuat memegang keyakinan. ok banget ….semoga bermanfaat bagi kita semua….

  • Ozie_fpm

    Asaalamm…Ustad bagaimana kalo kita niat shaum asyuro sekaligus shaum sunnah (senin kamis) , karena untuk tanggal 9 muharram bertepatan dengan hari senin . syukron, jazakallah

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      wa’alaikumus salam. kalau antum puasa 9 muharram lalu bertepatan dg hari senin, maka akan dapatkan pahala dua2nya. Moga Allah menerima setiap amalan kita.

  • Yamin

    alhamdulillah… sungguh bermanfaat, ustadz. jazaakallahu khairan…

  • Nedaria86

    menambah pengetahuan saya

  • Sheena Registra

    kalau mau puasa asyura haruskah melunasi hutang puasa ramadhan terlebih dahulu ?

  • Wati_rahma04

    gimana klu hanya sempt puasa pada 11 muharram?

  • Denis T.Nilasari

    *terimakasih…^^

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Barakallahu fiikum.