Assalamu'alaikum wr wb,
Ustadz, saya seorang mahasiswa di sebuah kampus di Depok. Sebelumnya saya mau cerita dulu saya pernah tinggal di sebuah rumah bisa dikatakan semacam asrama pesantren di daerah pejaten sejak tahun 2010 sampai 2011. Pesantren tersebut berasal dari Turki dan didanai oleh masyarakat Turki dan masyarakat muslim lainnya di seluruh dunia. Murid2nya sebagian SMA dan sebagian mahasiswa dari satu universitas yang sama dg saya. Sistem kegiatannya adalah murid tinggal di asrama setiap hari (kecuali sabtu-minggu), mengikuti kegiatan pelajaran agama dari bangun pagi jam 4 yaitu salat malam, zikir, salat subuh, pembersihan asrama dan belajar agama (baca qur'an/tajwid/bhs arab) sampai selesai jam stgh 7. Lalu bagi mahasiswa setelah itu baru berangkat ke kampus di Depok. Sebenarnya dari semua yang diajarkan cukup baik dan bermanfaat bagi saya dan mungkin teman2 lainnya. Banyak perubahan yg saya dapat sehingga bisa dibilang bacaan qur'an saya jadi lebih baik, dan kebersihan disana memang terjaga sekali berbeda dg asrama pesantren lainnya di Indonesia. Kedisiplinan juga cukup baik dan lain sebagainya.
Namun ada beberapa hal yang menjanggal di hati saya meskipun saat ini saya sudah keluar dari asrama tersebut. Untuk urusan ibadah disana memang terkesan sangat intens. Seperti saya sebutkan bahwa kami disana bangun jam 4 pagi lalu salat malam. Ini sebenarnya sangat baik. Tapi satu hal yang menjanggal di hati adalah kenapa ini seakan2 seperti wajib dan diharuskan bagi setiap murid. Bahkan jika ada murid yang tidak berada di masjid utk salat malam dan zikir setelahnya, si ustadz akan berteriak dan mencari2 si murid. Selain itu, zikir yg dilakukan setelah salat malam ini sangatlah aneh bagi saya. Perlu ustadz ketahui, zikir yg dilakukan disini dinamakan rabutah. Tapi tidak semua murid diizinkan melakukan rabutah. Hanya murid yang sudah cukup lama yg dipercaya untuk melaksanakan rabutah ini. Jadi bacaannya awalnya seperti biasa, tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Tapi setelah itu, setiap murid yang sudah dikasih rabutah ini diperintahkan oleh si ustadz untuk membayangkan sosok ustadz pendiri asrama ini yang berasal dari Turki (kini sudah wafat. kami pernah ditunjukkan foto ustadz pendiri ini) seolah-olah berada di hadapan kita. Kita membayangkan ini sambil menutup mata dan mengarahkan muka kita ke menunduk ke hati kita.Lalu kita disuruh membayangkan bahwa nur Allah datang melalui ustadz ini, dan terhubung dari hati si ustadz ke hati kita seolah-olah melalui selang/kabel sambil kita membaca ya Allah sebanyak 500 kali kalau tidak salah. Dan setelah selesai, lalu kami meniupkan udara dari mulut ke tangan kami dan mengusap-usapkannya ke kepala sampai lutut, lalu kedua tangan dari lengan sampai jari, dan ke bagian punggung.
Pada malam harinya, setiap hari minggu, rabu dan kamis malam,ada lagi zikir yang namanya disebut hatim. Jadi seluruh murid dan ustadz2 dsana duduk seperti tahiyat awal dan membentuk lingkaran.Dan bacaan zikirnya adalah salawat2 seperti dari Abdul Qodir Jaelani, dan ulama sufi lainnya. Dan setelah itu diakhiri dengan membaca rabutah juga..
Selain itu juga pada bulan2 tertentu seperti rajab dan syaban, biasanya ada ibadah salat tasbih atau salat sunnat lainnya yang bisa mencapai 100 rakaat.
Mohon tanggapan ustadz atas ini semua agar kalau memang ini sesuatu yang benar, bisa saya amalkan dengan baik, dan jika memang salah, mungkin saya juga harus memberitahu teman2 saya yang masih di asrama dan mengamalkan amalan2 tsb. Syukran jazakallah.
Wassalamu'alaikum wr wb..