Pembicaraan Siksa Kubur dalam Al Qur’an


Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.

Suatu saat kami menemukan dari salah satu blog perkataan semacam ini:
Bila kandungan isi hadits itu berhubungan dengan masalah ‘aqidah, misalnya tentang siksa kubur, maka kita tidak boleh menyakini adanya siksa kubur tersebut dengan keyakinan 100%. Sebab, derajat kebenaran yang dikandung oleh hadits ahad tidak sampai 100%.”

Inilah di antara aqidah menyimpang yang dimiliki sebuah kelompok yang terkenal selalu menggembar gemborkan khilafah. Mereka tidak meyakini adanya siksa kubur. Mereka beralasan bahwa riwayat mengenai siksa kubur hanya berasal dari hadits Ahad, sedangkan hadits Ahad hanya bersifat zhon (sangkaan semata). Padahal aqidah harus dibangun di atas dalil qoth’i dan harus berasal dari riwayat mutawatir. Itulah keyakinan mereka.

Sekarang yang kami pertanyakan, “Apakah betul riwayat mengenai siksa kubur tidak mutawatir dan hanya berasal dari hadits Ahad?” Juga yang kami tanyakan, “Apakah pembicaraan mengenai siksa kubur juga tidak ada dalam Al Qur’an?”

Pada tulisan singkat kali ini, kami akan membuktikan bahwa pembicaraan mengenai siksa kubur sebenarnya disebutkan pula dalam Al Qur’an. Sehingga dengan sangat pasti kita dapat katakan bahwa pembicaraan mengenai siksa kubur adalah mutawatir karena riwayat Al Qur’an adalah mutawatir dan bukan Ahad.

Ayat Pertama: Siksaan bagi Fir’aun dan Pengikutnya di Alam Kubur

Allah Ta’ala berfirman,

وَحَاقَ بِآَلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (45) النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ (46)

Dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang , dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras“.” (QS. Al Mu’min: 45-46)

Mari kita perhatikan penjelasan para pakar tafsir mengenai potongan ayat ini:

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang.”

Al Qurtubhi –rahimahullah- mengatakan,

“Sebagian ulama berdalil dengan ayat ini tentang adanya adzab kubur. … Pendapat inilah yang dipilih oleh Mujahid, ‘Ikrimah, Maqotil, Muhammad bin Ka’ab. Mereka semua mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan adanya siksa kubur di dunia.” (Al Jaami’ Li Ahkamil Qur’an, 15/319)

Asy Syaukani –rahimahullah- mengatakan,
“Yang dimaksud dengan potongan dalam ayat tersebut adalah siksaan di alam barzakh (alam kubur). ” (Fathul Qodir, 4/705)

Fakhruddin Ar Rozi Asy Syafi’i –rahimahullah- mengatakan,

“Para ulama Syafi’iyyah berdalil dengan ayat ini tentang adanya adzab kubur. Mereka mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa siksa neraka yang dihadapkan kepada mereka pagi dan siang (artinya sepanjang waktu) bukanlah pada hari kiamat nanti. Karena pada lanjutan ayat dikatakan, “dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras” [Berarti siksa neraka yang dinampakkan pada mereka adalah di alam kubur]. Tidak bisa juga kita katakan bahwa yang dimaksudkan adalah siksa di dunia. Karena dalam ayat tersebut dikatakan bahwa neraka dinampakkan pada mereka pagi dan siang, sedangkan siksa ini tidak mungkin terjadi pada mereka ketika di dunia. Jadi yang tepat adalah dinampakkannya neraka pagi dan siang di sini adalah setelah kematian (bukan di dunia) dan sebelum datangnya hari kiamat. Oleh karena itu, ayat ini menunjukkan adanya siksa kubur bagi Fir’aun dan pengikutnya. Begitu pula siksa kubur ini akan diperoleh bagi yang lainnya sebagaimana mereka.” (Mafaatihul Ghoib, 27/64)

Ibnu Katsir –rahimahullah- mengatakan,
“Ayat ini adalah pokok aqidah terbesar yang menjadi dalil bagi Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengenai adanya adzab (siksa) kubur yaitu firman Allah Ta’ala,

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا

Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7/146)

Ibnul Qoyyim –rahimahullah- menafsirkan ayat di atas,
Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang”, ini adalah siksaan di alam barzakh (di alam kubur). Sedangkan ayat (yang artinya), “dan pada hari terjadinya Kiamat” adalah ketika kiamat kubro (kiamat besar). (At Tafsir Al Qoyyim, hal. 358)

Ayat Lain yang Membicarakan Siksa Kubur

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta“. (QS. Thahaa: 124)

Ibnul Qoyyim –rahimahullah- mengatakan, “Bukan hanya satu orang salaf namun lebih dari itu, mereka berdalil dengan ayat ini tentang adanya siksa kubur.” (At Tafsir Al Qoyyim, hal. 358)

Begitu pula Ibnul Qoyyim –rahimahullah- menyebutkan ayat-ayat lain yang menunjukkan adanya siksa kubur.

Kita dapat melihat pula dalam surat Al An’am, Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلآئِكَةُ بَاسِطُواْ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُواْ أَنفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.” (QS. Al An’am: 93)

Adapun perkataan malaikat (yang artinya), “Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan”. Siksa yang sangat menghinakan di sini adalah siksa di alam barzakh (alam kubur) karena alam kubur adalah alam pertama setelah kematian. (At Tafsir Al Qoyyim, hal. 358)
Begitu juga yang serupa dengan surat Al An’am tadi adalah firman Allah Ta’ala,

وَلَوْ تَرَى إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِينَ كَفَرُوا الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata) : “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri).” (QS. Al Anfal: 50)

Siksa yang dirasakan yang disebutkan dalam ayat ini adalah di alam barzakh karena alam barzakh adalah alam pertama setelah kematian. (At Tafsir Al Qoyyim, hal. 358)

Begitu pula Ibnu Abil ‘Izz –rahimahullah- ketika menjelaskan perkataan Ath Thohawi mengenai aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang meyakini adanya siksa kubur, selain membawakan surat Al Mu’min sebagai dalil adanya siksa kubur, beliau –rahimahullah- juga membawakan firman Allah Ta’ala,

فَذَرْهُمْ حَتَّى يُلَاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي فِيهِ يُصْعَقُونَ (45) يَوْمَ لَا يُغْنِي عَنْهُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ (46) وَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا عَذَابًا دُونَ ذَلِكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (47)

Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan, (yaitu) hari ketika tidak berguna bagi mereka sedikitpun tipu daya mereka dan mereka tidak ditolong. Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang zalim ada azab selain daripada itu. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Ath Thur: 45-47)

Setelah membawakan ayat ini, Ibnu Abil ‘Izz mengatakan, “Ayat ini bisa bermakna siksa bagi mereka dengan dibunuh atau siksaan lainnya di dunia. Ayat ini juga bisa bermakna siksa bagi mereka di alam barzakh (alam kubur). Inilah pendapat yang lebih tepat. Karena kebanyakan dari mereka mati, namun tidak disiksa di dunia. Atau ayat ini bisa bermakna siksa secara umum.” (Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah, 2/604-605)

Begitu juga dapat kita lihat dalam kitab Shahih (yaitu Shahih Muslim), terdapat hadits dari Al Baroo’ bin ‘Aazib –radhiyallahu ‘anhu-. Beliau membicarakan mengenai firman Allah Ta’ala,

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)

Al Baroo’ bin ‘Aazib mengatakan,

نَزَلَتْ فِى عَذَابِ الْقَبْرِ.

Ayat ini turun untuk menjelaskan adanya siksa kubur.” (HR. Muslim)

Bahkan Ibnul Qoyyim –rahimahullah-, ulama yang sudah diketahui keilmuannya mengatakan bahwa hadits yang menjelaskan mengenai siksa kubur adalah hadits yang sampai derajat mutawatir. (Lihat At Tafsir Al Qoyyim, 359)

Inilah Kekeliruan Mereka

Inilah di antara kekeliruan dan penyimpangan kelompok yang selalu menggembar gemborkan khilafah dalam setiap orasi mereka (dengan isyarat seperti ini mudah-mudahan kita tahu kelompok tersebut). Mereka menolak adanya siksa kubur karena beralasan bahwa riwayat yang menerangkan aqidah semacam ini adalah hadits ahad. Sedangkan hadits ahad tidak boleh dijadikan rujukan dalam masalah aqidah karena aqidah harus 100 % qoth’i, tidak boleh ada zhon (sangkaan) sedikit pun.

Sekarang kami tanyakan kepada mereka, “Bukankah Al Qur’an adalah mutawatir?! Lalu di mana kalian meletakkkan ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan mengenai siksa kubur [?] Padahal pakar tafsir telah menjelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan ayat-ayat yang kami sebutkan di atas adalah mengenai siksa kubur.

Lalu bagaimana dengan do’a berlindung dari adzab kubur yang dibaca ketika tasyahud akhir.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Jika salah seorang di antara kalian selesai tasyahud akhir (sebelum salam), mintalah perlindungan pada Allah dari empat hal: [1] siksa neraka jahannam, [2] siksa kubur, [3] penyimpangan ketika hidup dan mati, [4] kejelekan Al Masih Ad Dajjal.” (HR. Muslim). Do’a yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَشَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Allahumma inni a’udzu bika min ‘adzabil qobri, wa ‘adzabin naar, wa fitnatil mahyaa wal mamaat, wa syarri fitnatil masihid dajjal [Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka, penyimpangan ketika hidup dan mati, dan kejelekan Al Masih Ad Dajjal].” (HR. Muslim)

Kalau memang mereka mengamalkan do’a ini, bagaimana mungkin berbeda antara perkataan dan keyakinan[?] Sungguh sangat tidak masuk akal. Sesuatu boleh diamalkan namun tidak boleh diyakini[!] Ini mustahil.

Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah kepada saudara-saudara kami ini. Maksud tulisan ini bukanlah menjelak-jelekkan mereka. Namun maksud kami adalah agar mereka yang telah berpaham keliru ini sadar dan merujuk pada kebenaran. Itu saja yang kami inginkan dari lubuk hati kami yang paling dalam.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyib, dan menjadikan amalan kita diterima di sisi-Nya. Innahu sami’un qoriibum mujibud da’awaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Rujukan:

1. Al Jaami’ Li Ahkamil Qur’an, Al Qurtubhi, Darul ‘Alim Al Kutub, Riyadh Al Mamlakah Al ‘Arobiyah As Su’udiyah
2.  At Tafsir Al Qoyyim, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah
3. Fathul Qodir, Asy Syaukani, Asy Syaukani
4. Mafatihul Ghoib, Fakhruddin Ar Rozi Asy Syafi’i, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut
5. Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah, Ibnu Abil ‘Izz Ad Dimasyqi, Tahqiq: Syu’aib Al Arnauth, Muassasah Ar Risalah
6.Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurosyi Ad Dimasyqi, Dar Thoyyibah lin Nasyr wat Tawzi’

Catatan:

Dalam ilmu hadits, para ulama telah membagi hadits berdasarkan banyaknya jalan yang sampai kepada kita menjadi dua macam yaitu hadits mutawatir dan hadits ahad.

Mutawatir secara bahasa berarti berturut-turut (tatabu’). Secara istilah, hadits mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan dari jalan yang sangat banyak sehingga mustahil untuk bersepakat dalam kedustaan karena mengingat banyak jumlahnya dan kesholihannya serta perbedaan tempat tinggal.

Ada empat syarat disebut hadits mutawatir :
1. Diriwayatkan dari banyak jalan. Ada yang mengatakan sepuluh dan ada juga yang mengatakan lebih dari empat.
2. Jumlah yang banyak ini terdapat dalam setiap thobaqot (tingkatan) sanad.
3.  Mustahil bersepakat untuk berdusta dilihat dari ‘adat (kebiasaan).
4. Menyandarkan khobar (berita) dengan perkara indrawi seperti dengan kata ‘sami’na’ (kami mendengar), dll.

Ahad secara bahasa berarti satu (al wahid). Secara istilah, hadits ahad adalah hadits yang tidak memenuhi syarat mutawatir.

Hadits ahad ada tiga macam yaitu hadits masyhur, aziz, dan ghorib.

Pertama, hadits masyhur yaitu hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih namun belum mencapai derajat mutawatir.

Kedua, hadits aziz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua orang, walaupun berada dalam satu thobaqoh (tingkatan)

Ketiga, hadits ghorib adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu orang rowi. (Lihat Taisir Mustholahul Hadits, hal. 19-20; Muntahal Amaniy, hal. 82; Min Athyabil Minnah, hal. 8-9)

****
Disusun di rumah mertua tercinta, Panggang, Gunung Kidul, 30 Rabi’ul Akhir 1430 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.rumaysho.com



Pernah mengenyam pendidikan S1 di Teknik Kimia UGM Yogyakarta dan S2 Polymer Engineering di King Saud University Riyadh. Pernah menimba ilmu diin dari Syaikh Sholeh Al Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy Syatsri, dan Syaikh Sholeh Al 'Ushoimi. Aktivitas beliau sebagai Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, Pengasuh Rumaysho.Com, serta Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id.


  • aminudin

    assalamualaikum,sekedar info saja,kalo pengin tahu siksa kubur dan jenisnya silahkan lihat di youtube dg judul pengalaman roh,nanti akan terhubung dengan pengalamn wanita yg bernama azlina yang pernah mengalami pengalaman spiritualnya mati suri,barangkali ustadz udah lihat videonya,gman pendapatnya ustadz pengalaman aszlina tersebut

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      wa’alaikumus salam. Masalah kubur itu perkara ghoib, jadi kami kurang yakin dengan kisah semcam itu. Tentang siksa kubur saja disebutkan dalam hadits bahwa jika seseorang mendengarnya bisa pingsan. Maka mustahil ada org hidup yg bisa menggambarkannya kecuali berdasarkan wahyu dari Allah.

  • Fahmi Putera

    pertanyaan saya cuma satu ustadz, gimana caranya supaya kita diampuni Allah supaya gak kena siksa kubur?

    Syukron

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Perbaiki aqidah dan perbanyaklah amalan sholih

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Perbaikilah aqidah, perbanyak amalan sholih, …

  • Iyan S. Syam Guci

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
    kenapa tidak ada hadits dikutip disini disaat Rasulullah berjalan dengan sahabat lalu meletakkan pelepah kurma diatas kuburan, dengan maksud meingankan siksa mayit dalam kubur

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh.
      Coba perhatikan lagi judulnya, ini kan bicara ttg siksa kubur dlm al quran.

  • Muhammadjuniskorisyan

    nauzubilahminzalik…
    semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang di selamatkan ALLAH S.W.T.
    AMIN…

  • Amrisobari

    izin share………..

  • Amrisobari

    ijin share…………..

  • Arinto

    Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh..
    Doa yg ditulis diatas terdapat perbedaan antara tulisan arab-nya dan transliterasi-nya.
    Di tulisan arabnya tidak ada lafaz “fitnatil” dalam kalimat yg terakhir “… wa syarri fitnatil masihid dajjal”..
    Mohon dikoreksi

    Wassalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh..

  • Dedi_yusya

    Ustadz, kalau seandainya masih ada yang membantah tentang azab kubur, berarti ilmu hadits-nya dhoifun jiddan. Soalnya membantah hadits Rasulullah Muhammad SAW tentang berlindung dr azab kubur…

  • Fibri_prihatmoko

    hikss,,,hikss,,,hiksss..

  • Muhammad_Najir

    Astgrllah……………..Mudah2an Allah mengampuni kalian dan mengembalikan kalian saudara2q kejalan yg benar………..setahu sya kelompok tersebut pecaya akan siksa kubur………..Ya Allah jangan kalian memfitnah saudara kalian juga, kaliaan tdk punya solusi akan problematika umat itu sedangkan kelompok yg menggemborkan khilafah punya secara Islam dan sangat tuntas mengatasi poblematika umat…………….Khilafah adalah kewajiban untuk diperjuangkan,,,,,,,,,,sebaiknya saudaraka banyak belajar dan membaca tentang pendapat2 ulama atau para mujtahid tentang wajibnya khilafah dan ancaman Allah bagi yang menghalang2nginya atau ancaman Allah bagi yg berdiam diri karna tidak menegakkan khilafah,,,,,,, takutlah pada Allah saudaraq…………..Allauhu Akbar!!!!!

  • Abu Namira Hasna Al-Jauziyah

    untuk Muhammad_Najir : ana sudah tahu pemahaman Hizbut Tahrir sejak 11 tahun lamanya, permasalahan tentang Azab kubur, syabab HT, memang tidak menolak kebenaran tentang Azab kubur, tapi mereka TIDAK MENYAKINI AZAB KUBUR, KARENA RIWAYAT TENTANG AZAB KUBUR DERAJATNYA MASIH AHAD. ANA NUKIL PERKATAAN  salah seorang dari mereka  : Hizbut
    Tahrir tidak pernah menolak hadis ahad yang sahih, baik yang berkaitan
    dengan syariah (amal) maupun keyakinan (akidah). Hadis ahad yang
    berbicara masalah amal (syariah) waijib diamalkan. Hadis ahad yang
    berbicara tentang keyakinan/akidah cukup dibenarkan (tashdiq). Sebab,
    hadis ahad itu tidak menghasilkan keyakinan yang pasti (tashdiq
    al-jazim), tetapi sekadar zhann belaka. ( Wahyu Ichsan/Syabab Hizbut Tahrir dan saat ini sedang menyelesaikan pendidikan Master Political Science di IIUM .PERHATIKAN perkataan syabab HTI di atas. Jadi HT membenarkan khobar ahad, seperti hadist tentang azab kubur, tapi MEREKA TIDAK MEYAKININYA.INTINYA :membenarkan tapi tidak meyakininya. berarti dalam masalah aqidah Syabab2 HTI, tidak teguh masih ada keraguan dan goyang  dalam memahami aqidah.

  • Masviyanto

    1. Saya tidak menjumpai surat Al Mu’min dalam Al Quran, yang saya jumpai adalah Surat Al Mu’minun.
    2. Dalam Surat Al Mu’minun ayat 45-46 yang saya lihat tidak sama isinya dengan surat Al Mu’min ayat 45-46 yang ditulis dalam web site ini.

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Di Al Qur’ann itu ada surat Al Mu’min atau dinamakan dg surat Ghofir.

      2012/4/17 Disqus

  • josep

    subhanalloh,,,,
    mudah2an kita semua diberi keselamatan dari pedihnya adzab kubur. amin

  • http://www.facebook.com/zhulphieckhar.spenam Zul Selikor Pas

    assalamu’allaikum wr.wb

    bagaimana tentang sabda rasulullah tentang melarang orang kencing sambil berdiri dan tidak mensucikan diri sehingga memperoleh siksa kubur? dan apakah ketika seseorang bersentuhan dengan orang yang bukan muhrimnya memperoleh siksa kubur?

  • putri

    jazakallahu khairan

  • Kak Abbas

    untuk point no.2 mohon penjelasannya ustadz,
    hubungannya dengan hadits berikut :
    Dari Anas bin Malik bahwa Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hambaNya, maka Allah akan mempercepat baginya siksa di dunia, dan apabila Allah menghendaki kejelekan hambaNya, maka Allah akan menangguhkan siksaNya sehingga ditangguhkan sampai hari kiamat”
    (HR. Tirmidzi)

    (dikutip dari artikel tentang adzab kubur dalam Majalah As-Sunnah edisi 06-07/Thn.XIII/Ramadhan-Syawwal 1430H/September-Oktober 2009M halaman 7)

  • koko tenan

    tak satupun ayat tersebut menerangakan siksa kubur

    sebenarnya apa sih yang di siksa di dalam kubur
    Jika
    JASAD(tubuh)
    kita tau kalau jasad sudah tidak bisa merasakan apa2
    Jika
    ROH, (keberadaan roh goib hanya Alloh yg tau)
    ==Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, ………… QS 6:59==

    sedangkan nabi muhammad di perintah oleh alloh :

    ==Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
    Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan
    tidaklah kamu diberi pengetahuan (ilmu apa saja selain tentang roh) melainkan sedikit”. QS Al-Israa: 85==

    apakah nabi akan keluar dari rel QS Al-Israa: 85 ini?
    ataukah umat nya yang melampoi batas.

    hadis kalau berlawanan dengan alquran ya jelas bukan dari nabi
    hati2 dengan ayat2 israeliat

    jangan jadikan ayat2 alquran hanya sebagai obat kesurupan atau jimat, bahkan jampe2

    mari kita tadabur / pelajari di dalamnya terdapat ilmu tauhid tingkat tinggi dan ilmu pengetahuan tingkat tinggi