Kekeliruan dalam Menyambut Awal Tahun Baru Hijriyah


Sebentar lagi kita akan memasuki tanggal 1 Muharram. Seperti kita ketahui bahwa perhitungan awal tahun hijriyah dimulai dari hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lalu bagaimanakah pandangan Islam mengenai awal tahun yang dimulai dengan bulan Muharram? Ketahuilah bulan Muharram adalah bulan yang teramat mulia, yang mungkin banyak di antara kita tidak mengetahuinya. Namun banyak di antara kaum muslimin yang salah kaprah dalam menyambut bulan Muharram atau awal tahun. Silakan simak pembahasan berikut.

Bulan Muharram Termasuk Bulan Haram

Dalam agama ini, bulan Muharram (dikenal oleh orang Jawa dengan bulan Suro), merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Ibnu Rajab mengatakan, ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.”[1]

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.”[2]

Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.  Oleh karena itu bulan Muharram termasuk bulan haram.

Di Balik Bulan Haram

Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna.

Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.

Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”[3]

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”

Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”[4]

Bulan Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah)

Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[5]

Bulan Muharram betul-betul istimewa karena disebut syahrullah yaitu bulan Allah, dengan disandarkan pada lafazh jalalah Allah. Karena disandarkannya bulan ini pada lafazh jalalah Allah, inilah yang menunjukkan keagungan dan keistimewaannya.[6]

Perkataan yang sangat bagus dari As Zamakhsyari, kami nukil dari Faidhul Qodir (2/53), beliau rahimahullah mengatakan, ”Bulan Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh jalalah ’Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut ’Baitullah’ (rumah Allah) atau ’Alullah’ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukkan adanya keutamaan pada bulan tersebut. Bulan Muharram inilah yang menggunakan nama Islami. Nama bulan ini sebelumnya adalah Shofar Al Awwal. Bulan lainnya masih menggunakan nama Jahiliyah, sedangkan bulan inilah yang memakai nama islami dan disebut Muharram. Bulan ini adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa penuh setelah bulan Ramadhan. Adapun melakukan puasa tathowwu’ (puasa sunnah) pada sebagian bulan, maka itu masih lebih utama daripada melakukan puasa sunnah pada sebagian hari seperti pada hari Arofah dan 10 Muharram. Inilah yang disebutkan oleh Ibnu Rojab. Bulan Muharram memiliki keistimewaan demikian karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka tahun.”[7]

Al Hafizh Abul Fadhl Al ’Iroqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, ”Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?”

Beliau rahimahullah menjawab, ”Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah, pen) untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah (yaitu Muharram).[8]

Dengan melihat penjelasan Az Zamakhsyari dan Abul Fadhl Al ’Iroqiy di atas, jelaslah bahwa bulan Muharram adalah bulan yang sangat utama dan istimewa.

Menyambut Tahun Baru Hijriyah

Dalam menghadapi tahun baru hijriyah atau bulan Muharram, sebagian kaum muslimin salah dalam menyikapinya. Bila tahun baru Masehi disambut begitu megah dan meriah, maka mengapa kita selaku umat Islam tidak menyambut tahun baru Islam semeriah tahun baru masehi dengan perayaan atau pun amalan?

Satu hal yang mesti diingat bahwa sudah semestinya kita mencukupkan diri dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya. Jika mereka tidak melakukan amalan tertentu dalam menyambut tahun baru Hijriyah, maka sudah seharusnya kita pun mengikuti mereka dalam hal ini. Bukankah para ulama Ahlus Sunnah seringkali menguatarakan sebuah kalimat,

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita melakukannya.”[9] Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.[10]

Sejauh yang kami tahu, tidak ada amalan tertentu yang dikhususkan untuk menyambut tahun baru hijriyah. Dan kadang amalan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam menyambut tahun baru Hijriyah adalah amalan yang tidak ada tuntunannya karena sama sekali tidak berdasarkan dalil atau jika ada dalil, dalilnya pun lemah.

Amalan Keliru dalam Menyambut Awal Tahun Hijriyah

Amalan Pertama: Do’a awal dan akhir tahun

Amalan seperti ini sebenarnya tidak ada tuntunannya sama sekali. Amalan ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, tabi’in dan ulama-ulama besar lainnya. Amalan ini juga tidak kita temui pada kitab-kitab hadits atau musnad. Bahkan amalan do’a ini hanyalah karangan para ahli ibadah yang tidak mengerti hadits.

Yang lebih parah lagi, fadhilah atau keutamaan do’a ini sebenarnya tidak berasal dari wahyu sama sekali, bahkan yang membuat-buat hadits tersebut telah berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya.
Jadi mana mungkin amalan seperti ini diamalkan.[11]

Amalan kedua: Puasa awal dan akhir tahun

Sebagian orang ada yang mengkhsuskan puasa dalam di akhir bulan Dzulhijah dan awal tahun Hijriyah. Inilah puasa yang dikenal dengan puasa awal dan akhir tahun. Dalil yang digunakan adalah berikut ini.

مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الحِجَّةِ ، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ المُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ المَاضِيَةَ بِصَوْمٍ ، وَافْتَتَحَ السَّنَةُ المُسْتَقْبِلَةُ بِصَوْمٍ ، جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَارَةٌ خَمْسِيْنَ سَنَةً

“Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah ta’ala menjadikan kaffarot/tertutup dosanya selama 50 tahun.”

Lalu bagaimana penilaian ulama pakar hadits mengenai riwayat di atas:

  1. Adz Dzahabi dalam Tartib Al Mawdhu’at (181)  mengatakan bahwa Al Juwaibari dan gurunya –Wahb bin Wahb- yang meriwayatkan hadits ini termasuk pemalsu hadits.
  2. Asy Syaukani dalam Al Fawa-id Al Majmu’ah (96) mengatan bahwa ada dua perowi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini.
  3. Ibnul Jauzi dalam Mawdhu’at (2/566) mengatakan bahwa Al Juwaibari dan Wahb yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits.[12]

Kesimpulannya hadits yang menceritakan keutamaan puasa awal dan akhir tahun adalah hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan dalil dalam amalan. Sehingga tidak perlu mengkhususkan puasa pada awal dan akhir tahun karena haditsnya jelas-jelas lemah.

Amalan Ketiga: Memeriahkan Tahun Baru Hijriyah

Merayakan tahun baru hijriyah dengan pesta kembang api, mengkhususkan dzikir jama’i, mengkhususkan shalat tasbih, mengkhususkan pengajian tertentu dalam rangka memperingati tahun baru hijriyah, menyalakan lilin, atau  membuat pesta makan, jelas adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya. Karena penyambutan tahun hijriyah semacam ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, para sahabat lainnya, para tabi’in dan para ulama sesudahnya. Yang memeriahkan tahun baru hijriyah sebenarnya hanya ingin menandingi tahun baru masehi yang dirayakan oleh Nashrani. Padahal perbuatan semacam ini jelas-jelas telah menyerupai mereka (orang kafir). Secara gamblang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”[13]

Penutup

Menyambut tahun baru hijriyah bukanlah dengan memperingatinya dan memeriahkannya. Namun yang harus kita ingat adalah dengan bertambahnya waktu, maka semakin dekat pula kematian.

Sungguh hidup di dunia hanyalah sesaat dan semakin bertambahnya waktu kematian pun semakin dekat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya.[14]

Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanya memiliki beberapa hari. Tatkala satu hari hilang, akan hilang pula sebagian darimu.”[15]

Semoga Allah memberi kekuatan di tengah keterasingan. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Diselesaikan di wisma MTI (secretariat YPIA), 30 Dzulhijah 1430 H.

www.rumaysho.com

 


[1] Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 217, Tahqiq: Yasin Muhammad As  Sawas, Dar Ibnu Katsir, cetakan kelima, 1420 H.

[2] HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679

[3] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, tafsir surat At Taubah ayat 36, 3/173, Mawqi’ At Tafasir.

[4] Kedua perkataan ini dinukil dari Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali.

[5] HR. Muslim no. 2812

[6] Lihat Tuhfatul  Ahwadzi, Al Mubarakfuri, 3/368, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.

[7] Lihat Faidul Qodir, Al Munawi, 2/53, Mawqi’ Ya’sub.

[8] Syarh Suyuthi li Sunan An Nasa’i, Abul Fadhl As Suyuthi, 3/206, Al Maktab Al Mathbu’at Al Islami, cetakan kedua, tahun 1406 H.

[9] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, tafsir surat Al Ahqof: 11, 7/278-279, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.

[10] Idem

[11] Lihat Majalah Qiblati edisi 4/III.

[12] Hasil penelusuran di http://dorar.net

[13] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269

[14] HR. Tirmidzi no. 2551. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi

[15] Hilyatul Awliya’, 2/148, Darul Kutub Al ‘Arobi.

Print Friendly


Pernah mengenyam pendidikan S1 di Teknik Kimia UGM Yogyakarta dan S2 Polymer Engineering di King Saud University Riyadh. Pernah menimba ilmu diin dari Syaikh Sholeh Al Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy Syatsri, dan Syaikh Sholeh Al 'Ushoimi. Aktivitas beliau sebagai Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, Pengasuh Rumaysho.Com, serta Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id.


  • http://www.facebook.com/people/Hafizt-Albani/100000068144583 Hafizt Albani

    sadarlah

  • http://www.facebook.com/people/Hafizt-Albani/100000068144583 Hafizt Albani

    sadarlah hai anak adam

  • http://[email protected] sundiana iksan

    Astaghfirulloh… banyak sekali kekeliruan2 kita dalam beribadah, yang kadang kita begitu saja mengikuti apa yang lingkungan kita biasa lakukan tanpa kita mau lebih dahulu mencari ilmunya.

  • yudie

    Ustadz..bagaimana dengan amalan puasa di hari sepuluh Muharram ? Apakah ada dalil nya ?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Tunggu postingan kami selanjutnya, insya Allah. Semoga Allah mudahkan.

  • yudie

    Assalamu’alaikum
    Ustadz…bagaimana dengan amalan puasa di 10 Muharram ? Adakah dalil nya ? mohon penjelasan nya

    Syukron
    Wassalam

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam. Puasa tgl 10 muharram ada tuntunannya. Tunggu posting kami selanjutnya. Semoga Allah mudahkan.

  • http://rizkicssi.multiply.com/ rizkicssi

    Assalamu’alaikum…jadi menyambut tahun baru hijriyah dengan mengingat bahwa bertambahnya waktu, maka semakin dekat pula kematian…..itu yang dilakukan Nabi Muhammad?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam. Mengingat kematian itu setiap saat, setiap bertambahnya waktu.

  • Sofyan

    Nih baru tulisan yang benar. mang betul kita kudu beragama dengan cara yang benar.

  • haryo

    Alhamdullilah pencerahan buat kami, dan menambah wawasan baru

  • http://twitter.com/gilanghidayat Gilang Hidayat

    Alhamdulillah dapet ilmu lagi

  • maulanayusuf

    subhanallah,.,.
    ane dapet ilmu lagi,.dari sini

  • mukhlis

    Do’a akhir tahun dan awal tahun jangan dilihat dari sisi sunnah dan bid’ah saja, tapi lihatlah bagaimana kita mengajak orang sholat berjama’ah dan bersilaturrahim yang diawali dengan renungan diakhir tahun dan mengingtkan apa yang harus dilakukan ditahun mendatang.

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Law kaana khoiron la sabaquuna ilaih.

      Seandainya doa awal dan akhir tahun itu baik, pasti para sahabat sudah lebih dahulu dr antum melakukannya.

      Lantas Anda mau katakan Anda lebih baik dan lebih paham agama dr sahabat?

      • baday

        Maaf… untuk apa hal ini diributkan. Jika ada yang melaksanakan doa dan puasa awal dan akhir tahun silahkan2 saja dan yang tidak melaksanakan juga tidak apa2. anggap saja ketidaktahuan kita sebagai manusia, yang menilai salah dan benar hanya Allah SWT. Syukron

        • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

          Kenapa hal ini diributkan? Karena bagaimana mungkin sesuatu yg tidak ada tuntunannya lalu dikatakan ada tuntunan mau dijadikan amalan?! Lantas Anda ingin beramal tidak berdalil?!

          Hanya Allah yg beri taufik.

  • mukhlis

    Kegiatan doa awal dan akhir tahun lihatlah dari unsur syiar, kita mengajak orang sholat berjama’ah sambil merenungi kehidupan yang lalu dan menggapai kehidupan akan datang

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Lantas apakah pernah para sahabat punya maksud baik spt bpk?

      Kenapa para sahabat dan ulama masa silam tdk pernah melakukan spt itu??

      Ngajak shalat jama’ah gak mesti dgn doa awal tahun. Ini namanya buat syariat baru.

      • berti

        bpk M Abduh sepertinya juga membuat syariat baru tuh, dng menidakbolehkan pembacaan doa.

        • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

          Siapa yg meniadakan doa?!
          Doa itu boleh dilakukan kapan sj. Yg keliru adl bila dikhususkn pd waktu tertentu. Skrg apa dalilnya mengkhususkn doa pd awal tahun??
          Silakan datangkan dalil.

  • tommy

    mau nanya nih,,,kalau berdoa pakai bahasa indonesia boleh nggak?..
    dan kalau berdoa menggunakan penyusunan kata-kata oleh bahasa kita sendiri boleh nggak?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Hukumnya boleh. Namun agar doanya tdk keliru, sebaiknya pakai doa2 yg diajarkan oleh nabi. Dan sudah banyak hadits2 yg menyebutkan do’a2.

    • advokatsony

      Menurut saya seh.. boleh saja.. Wong Gusti Alloh tau semua jenis bahasa kok.. dari bahasa Malaikat sampe bahasa preman sekalipun.. bahasa itu kan alat komunikasi. bahkan bicara dalam hatipun Allah tau kok.

  • zaenal_arifin

    syukron,
    sangat menambah pemahaman kita akan agama yang haaq.

  • http://www.facebook.com/people/Mamang-Wonggalo/100000140010450 Mamang Wonggalo

    Ass,
    puasa yg lebih baik setelah puasa wajib (Ramadhan) puasa apa/bulan apa…

    Syukron
    M@2NG

  • Jasmine

    La hawla wa la quwwata ila billah, banyak sekali orang ngeyel mempertahankan sesuatu yang tidak ada tuntunannya. Mereka tidak menyadari bahwa apa2 yang di-ada2kan tanpa tuntunan (dari dalil yang sahih) hanya berujung pada memalingkan mereka dari yang wajib dan sunnah. Parahnya lagi, mereka tidak menyadari bahwa hal2 yang di-ada2kan tanpa tuntunan sangat berpeluang kelak di kemudian hari dibelokkan menjadi se-olah2 sesuatu yang wajib dan sunnah, sementara yang memang wajib dan sunnah sendiri dilalaikan.
    Jazaka Allah khairan, akhi.
    Semoga diberi keteguhan, kekuatan dan kesabaran dalam berdakwah. Amin.

  • ‘athaa

    Izin Share atas tulisannya, Syukron

  • Abudafi9

    Ini perlu dipelajari oleh PHBI se Indonesia bagaimana menyikapi hal ini.
    Jazzakumulloh khoir.

  • Adrian

    izin share artikelnya jazakallah

  • Ummulina

    Jazakumullah khoiron…izin share artikelnya ya ustadz..

  • Abu Fadhil

    Alhamdulillah , ijin share ustadz . Barakallahu fikum …

  • alfayska

    Assalamualaikum, ijin share ustadz . Jzk Khoir

  • Sofyan_Saleh

    Semalam Ust Amin di masjid kami Anggrek Loka juga menjelaskan hal yg sama, krn sebelumnya kami merencanakan ‘memperingati’ memeriahkan Thn Baru Hijriah…Subhanallah kami jadi sadar dan beruntung mendapat info penting ini…jazakallah

  • Fitri.S.

    izin copas ….terima kasih .

  • Rany Sukaton

    alhamdulillah dpt ilmu na ttg thn br Hijriyah,syukron pak ustat,ijin share ya.

  • abu raihan

    jazakallah khair… mohon ijin share

  • abu raihan

    ijin share…

  • Cs Enis

    ijin share, syukron

  • Herry_suhermawan

    Ijin Copas tad…..Jazakallah khairan katsiran

  • Retno Wulandari

    Alhamdulillah dapat ilmu lagi…
    Izin share ya

  • titi

    ijin share. jazakallah..

  • yakin

    Alhamdulillah..jazakallah khoir.ijin share

  • Meiska

    ijin share…trmksh :)

  • Tashfiyah Or Id

    ‘afwan ustadz,
    Izin copas ya..

  • Yudie278

    terus kalo nggak boleh puasa, nggak boleh sholat, nggak boleh baca doa, ngapain dong?

    bukankah 3 hal itu bagus, semua tergantung niat kan… yg penting bukanlaha waktu yang diharamkan untuk puasa, dan tidak menyalahi aturan? amar maruf nahi munkar…

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Itu jelas menyalahi aturan. Karena dari mana dalilnya amalan2 tadi? Agama itu dengan dalil. Amalan itu harus ada dasarnya. Bolehkah saudara lakukan shalat ketika matahari terbit dg niat baik? Jelas tdk boleh, krn tdk ada dasarnya.
      Seorang sahabat berkata, “Setiap orang menginginkan kebaikan, namun tdk mendapatkannya.”
      Jadi niat baik semata sj tdk cukup, harus ada tuntunan dr Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

      • Abdullah

        kalo sholat pas matahari terbit kan emang jelas gak boleh, atau puasa di hari tasrik, jelas emang haram…tapi kalau melakukan ibadah, mengaji berdoa masak haram…trus ngapai dong…bengong???

        • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

          bukan berdoa yg haram, namun mengapa doanya dikhususkan pada awal dan akhir tahun? Bukankah ibadah yg Anda lakukan harus ada petunjuk dr Nabi? Lantas siapa yg jadi panutan Anda dalam ibadah?

    • Gaza_lovers

      anda belum mengerti islam…
      pelajarilah lagi islam dengan kaffah,,,

  • Bheedheen

    ijin shared ya

  • Ramlah nganro

    saya masih bingung ustadz…jadi apa yg sebaiknya dilakukan dlm mnyambut tahun baru hijriah… ?trimakasih…

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      tdk ada amalan khusus, intinya spt itu. awali dg selalu introspeksi diri menjadi lebih baik di waktu berikutnya.

  • Aryasaga

    adakah amalan2 sesuai sunnah di bulan muharram?

  • Al Faqir

    assalamu’alaikum,,
    ‘afwan izin share ustadz

  • Dolphind66

    ijin share,,
    syukron katsiir,,

  • Gaza_lovers

    Syukran Jaziilan ilaikum.

  • Y3ni_09

    ijin share ya..

  • Adrian

    Izin share syukron..

  • Abie_yahya2003

    mf, ijin share yaa

  • Bimyo

    ustadz, kami mau nanya

    “Barang siapa yang memulai (merintis) dalam Islam sebuah perkara baik maka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatan baiknya tersebut, dan ia juga mendapatkan pahala dari orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa berkurang pahala mereka sedikitpun”. (HR. Muslim dalam kitab Shahihnya)

    ada yang menggunakan hadith di atas sebagai dasar rujukan bid’ah hasanah. bagaimana pendapat ustad?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      itu keliru, yg dimaksud di situ bukan bid’ah hasanah namun sunnah hasanah. Jelas beda.

  • Yasir andi banong

    semoga kita tetap berada di jalur yang aman

  • affan adi

    kang, ijin kopy

  • Dichk7

    ass,izin share syukron..

  • Ritakusrina

    Syukron Ustad, Izin share ya..

  • Ratnanirmala

    jazakallah…izin copas n share

  • M_dilivio

    Izin tuk di sebarkan

  • ummu abdillah

    Barakallahufiik…
    Izin copas…

  • Tinik72

    Perkataan yang sangat bagus dari As Zamakhsyari, kami nukil dari Faidhul Qodir (2/53), beliau rahimahullah mengatakan, ”Bulan Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh jalalah ’Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut ’Baitullah’ (rumah Allah) atau ’Alullah’ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukkan adanya keutamaan pada bulan tersebut. Bulan Muharram inilah yang menggunakan nama Islami. Nama bulan ini sebelumnya adalah Shofar Al Awwal. Bulan lainnya masih menggunakan nama Jahiliyah, sedangkan bulan inilah yang memakai nama islami dan disebut Muharram. Bulan ini adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa penuh setelah bulan Ramadhan. Adapun melakukan puasa tathowwu’ (puasa sunnah) pada sebagian bulan, maka itu masih lebih utama daripada melakukan puasa sunnah pada sebagian hari seperti pada hari Arofah dan 10 Dzulhijah. Inilah yang disebutkan oleh Ibnu Rojab. Bulan Muharram memiliki keistimewaan demikian karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka tahun.”[7]
    Ini dikutip dari tulisan ustad yang diatas…..
    Pertanyaan saya….
    10 Dzulhijah itukan hari tasrik (Hari Raya Idul Adha) yang diharamkan untuk berpuasa….

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      terima kasih atas koreksiannya …

  • sarjono(abu salamah)

    ustad izin copy….

  • Herman

    Alhamdulillah….
    Izin share ya di http://www.facebook.com/herman.tok

  • Kpp

    izin copas, nice thread

  • Trengginasedi

    ijin share Ustadz,…

  • Rusdi_pc9

    Setuju,..dan info lebih banyak lg agar dpt dicamkan faedah dan manfaat nya

  • Adang Shc

    Alhamdulillahhirobilalamin…..bertambahlah ilmu,semoga bisa diamalkan dan bermanfa’at buat semua amienn…..jazakalloh ya akh….

  • Iki_zequra

    mantp ni,,izin copas y

  • Mr324

    Ijin copas and share

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      silakan

  • me

    setuju, bukan ya memang ada doa untuk awal dan akhir tahun

  • Tino

    Abdullah, bukan mengaji dan berdoanya yg dimurkain Alloh SWT, tapi yg dimurkai adalah karena anda mengerjakan amalan ibadah tapi tidak mengikuti tuntunan yg diinginkan oleh Alloh SWT….mengerjakan amalan yg tidak sesuai risalah yg diturunkan Alloh melalui Rasul kita Muhammad SAW…karena sesungguhnya tidak ada ibadah khusus dalam agama Islam untuk menyambut Tahun Baru….dan apabila kita mengada-adakan amalan yg baru yg tidak diajarkan Rasulullah maka dosanya karena dosa menyelisihi sunnah Rasulullah….dan barangsiapa yg tidak mengikuti sunnah beliau maka bukan termasuk umatnya…Wallahu alam

  • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

    Kenapa kami katakan berdoa di awal tahun adl kekeliruan, karena tdk ada tuntunannya dr nabi.
    Lantas kenapa kalau tdk ada tuntunan malah diamalkan? Apakah Anda lebih baik dr Nabi.

  • Jasmine

    Afwan.
    Sejarah membuktikan bahwa penyimpangan terhadap ajaran Islam yang diturunkan kepada para nabi dan rasul Allah tidak berlangsung se-konyong2, melainkan berangkat dari hal2 kecil yg di-ada2kan, yang dianggap tidak apa2 karena dianggap baik niatnya. Tetapi dari generasi ke generasi berikutnya apa2 yang tadinya di-ada2kan dan dianggap tidak apa2 karena niat awalnya baik berkembang menjadi sesuatu yang rutin dikerjakan, kemudian generasi2 selanjutnya yang tidak memahami asal usul suatu amal ibadah tersebut menganggapnya sesuatu yang wajib dikerjakan sehingga mengalahkan amalan2 yang wajib itu sendiri.
    Kalau sudah sampai pada tahap itu, akan sangat berat mengoreksinya kembali. Sejarah juga membuktikan kesulitan ini terjadi pada ulama2 besar yang berusaha mengembalikan praktek ibadah kepada apa2 yang diajarkan Rasulullah dan sahabat.
    Tidakkah ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk menjauhi apa2 yang tidak diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabat? Sedangkan hal2 yang wajib saja belum tentu sempurna kita kerjakan? Sedangkan yang sunnah saja masih banyak yang belum kita ketahui? Bukankah lebih baik menyempurnakan amalan2 yang wajib dan menggali amalan2 sunnah yang memang sudah ada tuntunannya dan mengerjakannya se-baik2nya?
    Semoga Allah memberi taufik. Amin.

  • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

    Hukum asal ibada itu haram. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
    “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)
    Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
    مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
    “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

    Jadi karena hukum asal ibadah tidak boleh dilakukan sampai adanya dalil, maka yang seharusnya ditanyakan adalah saudara. Adakah dalil yang menunjukkan bahwa membaca doa awal dan akhir tahun disyariatkan?

    Jika tidak ada, maka sungguh saudara yang keliru karena telah membuat suatu perkara tanpa adanya tuntunan.
    Niat baik semata tidak cukup dalam amalan, namun harus ada pula tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
    كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
    “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah)
    Semoga Allah senantiasa memberi taufik pada saudara. Amin .

  • Ahmad Dame

    Jangan samakan teknologi dengan syariat, justru teknologi dipakai untuk
    meningkatkan dan membantu syariat. Kalau syariat sudah jelas, harus kita laksanakan sesuai tuntunan nabi, kalau teknologi adalah bagian dari perkembangan ilmu, dan ilmu dipakai untuk membantu peningkatan syariat kita. Biasanya teknologi dipakai untuk hubungan horizontal yaitu ke sesama manusia agar dakwah, ibadah, dan lain2 terasa kita lebih nyaman, sedangkan syariat yang langsung vertikal kepada Allah SWT tidak perlu teknologi yang ini memang harus sesuai dengan sunnah Nabi SAW. Anggap lah teknologi bid’ah tapi bid’ah yang baik karena membantu manusia meningkatkan ibadah.

    Contoh:

    Yang tadinya panas sholat di masjid terasa sejuk karena sudah dipasang AC, lalu sholat dan berdoa langsung kepada Allah SWT sesuai dengan sunnah yang di ajarkan nabi kita bukan doa yang dibuat2 oleh catatan orang2 terdahulu yang belum bisa dipertanggungjawabkan.

  • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

    Betul sekali …

    2012/11/14 Disqus