Puasanya Wanita Hamil dan Menyusui


Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menghilangkan pada musafir separuh shalat. Allah pun menghilangkan puasa pada musafir, wanita hamil dan wanita menyusui.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Tulisan kali ini adalah lanjutan dari pembahasan golongan yang mendapat keringanan tidak berpuasa.Semoga bermanfaat.

Keempat: Wanita Hamil dan Wanita Menyusui

Jika wanita hamil takut terhadap janin yang berada dalam kandungannya dan wanita menyusui takut terhadap bayi yang dia sapih karena sebab keduanya berpuasa, maka boleh baginya untuk tidak berpuasa. Hal ini disepakati oleh para ulama. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الْمُسَافِرِ وَالْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ أَوِ الصِّيَامَ

Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menghilangkan pada musafir separuh shalat. Allah pun menghilangkan puasa pada musafir, wanita hamil dan wanita menyusui.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Namun apakah mereka memiliki kewajiban qodho ‘ ataukah fidyah? Dalam masalah ini ada lima pendapat.

Pendapat pertama: wajib mengqodho’ puasa dan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Inilah pendapat Imam Syafi’i, Imam Malik dan Imam Ahmad. Namun menurut Syafi’iyah dan Hanabilah, jika wanita hamil dan menyusui takut sesuatu membahayakan dirinya (bukan anaknya), maka wajib baginya mengqodho’ puasa saja karena keduanya disamakan seperti orang sakit.

Pendapat kedua: cukup mengqodho’ saja. Inilah pendapat Al Auza’i, Ats Tsauriy, Abu Hanifah dan murid-muridnya, Abu Tsaur dan Abu ‘Ubaid.

Pendapat ketiga: cukup memberi makan kepada orang miskin tanpa mengqodho’. Inilah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu ‘Umar, Ishaq, dan Syaikh Al Albani.

Pendapat keempat: mengqodho’ bagi yang hamil sedangkan bagi wanita menyusui adalah dengan mengqodho’ dan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Inilah pendapat Imam Malik dan ulama Syafi’iyah.

Pendapat kelima: tidak mengqodho’ dan tidak pula memberi makan kepada orang miskin. Inilah pendapat Ibnu Hazm.

Pendapat yang terkuat adalah pendapat ketiga yang mengatakan bahwa cukup dengan fidyah yaitu memberi makan kepada orang miskin tanpa mengqodho’.

Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,

رخص للشيخ الكبير والعجوز الكبيرة في ذلك وهما يطيقان الصوم أن يفطرا إن شاءا ويطعما كل يوم مسكينا ولا قضاء عليهما ثم نسخ ذلك في هذه الاية : ( فمن شهد منكم الشهر فليصمه ) وثبت للشيخ الكبير والعجوز الكبيرة لذا كانا لا يطيقان الصوم والحبلى والمرضع إذا خافتا أفطرتا وأطعمتا كل يوم مسكينا

“Keringanan dalam hal ini adalah bagi orang yang tua renta dan wanita tua renta dan mereka mampu berpuasa. Mereka berdua berbuka jika mereka mau dan memberi makan kepada orang miskin setiap hari yang ditinggalkan, pada saat ini tidak ada qodho’ bagi mereka. Kemudian hal ini dihapus dengan ayat (yang artinya): “Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. Namun hukum fidyah ini masih tetap ada bagi orang yang tua renta dan wanita tua renta jika mereka tidak mampu berpuasa. Kemudian bagi wanita hamil dan menyusui jika khawatir mendapat bahaya, maka dia boleh berbuka (tidak berpuasa) dan memberi makan orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.”  (Dikeluarkan oleh Ibnul Jarud dalam Al Muntaqho dan Al Baihaqi. Lihat Irwa’ul Gholil 4/18)

Dalam perkataan lainnya, Ibnu ‘Abbas menyamakan wanita hamil dan menyusui dengan tua renta yaitu sama dalam membayar fidyah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau dulu pernah menyuruh wanita hamil untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Beliau mengatakan,

أنت بمنزلة الكبير لا يطيق الصيام ، فأفطري وأطعمي عن كل يوم نصف صاع من حنطة

“Engkau seperti orang tua yang tidak mampu berpuasa, maka berbukalah dan berilah makan kepada orang miskin setengah sho’ gandum untuk setiap hari yang ditinggalkan.” (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razaq dengan sanad yang shahih)

Begitu pula hal yang sama dilakukan oleh Ibnu ‘Umar. Dari Nafi’, dia berkata,

كانت بنت لابن عمر تحت رجل من قريش وكانت حاملا فأصابها عطش في رمضان فأمرها إبن عمر أن تفطر وتطعم عن كل يوم مسكينا

“Putri Ibnu Umar yang menikah dengan orang Quraisy sedang hamil. Ketika berpuasa di bulan Ramadhan, dia merasa  kehausan. Kemudian Ibnu ‘Umar memerintahkan putrinya tersebut untuk berbuka dan memberi makan orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.” (Lihat Irwa’ul Gholil, 4/20. Sanadnya shahih)

Tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar ini. Juga dapat kita katakan bahwa hadits Ibnu ‘Abbas yang membicarakan surat Al Baqarah ayat 185 dihukumi marfu’ (sebagai sabda Nabi shallallallahu ‘alaihi wa sallam). Alasannya, karena ini adalah perkataan sahabat tentang tafsir yang berkaitan dengan sababun nuzul (sebab turunnya surat Al Baqarah ayat 185). Maka hadits ini dihukumi sebagai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sudah dikenal dalam ilmu mustholah. Wallahu a’lam.

Cara menunaikan fidyah

Adapun ukuran fidyah adalah setengah sho’ kurma, gandum atau beras sebagaimana yang biasa dimakan oleh keluarganya (Lihat Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts wal Ifta’ no. 2772, 2503, 2689). Sedangkan ukuran satu sho’ adalah sekitar 2,5 atau 3 kg. Jika kita ambil satu sho’ adalah 3 kg (untuk kehati-hatian) berarti ukuran fidyah adalah sekitar 1,5 kg. Cara menunaikannya adalah:

Pertama, memberi makanan pokok tadi kepada orang miskin. Misalnya memiliki utang puasa selama 7 hari. Maka caranya adalah tujuh orang miskin masing-masing diberi 1,5 kg beras.

Kedua, membuat suatu hidangan makanan seukuran fidyah yang menjadi tanggungannya. Setelah itu orang-orang miskin diundang dan diberi makan hingga kenyang. Misalnya memiliki 10 hari utang puasa. Maka caranya adalah sepuluh orang miskin diundang dan diberi makanan hingga kenyang. Bahkan lebih bagus lagi jika ditambahkan daging, dll. (Penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Majelis Syahri Ramadhan dan beberapa fatwa beliau)

Catatan: Tidak sah membayar fidyah di sini dengan uang. Adapun waktu pembayaran fidyah adalah pada hari itu ketika tidak melaksanakan puasa. Atau boleh juga diakhirkan hingga akhir bulan Ramadhan sebagaimana yang dilakukan oleh Anas bin Malik. Dan tidak boleh pembayaran fidyah ini dilakukan sebelum Ramadhan.

Pendapat dalam artikel ini sudah kami ralat dalam artikel lainnya di sini.

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com



Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Pernah menimba ilmu agama dari ulama besar seperti Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri dan Syaikh Shalih Al-'Ushaimi. Aktivitas: Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul dan Pengasuh Rumaysho.Com dan Penasihat Muslim.Or.Id.


  • http://salamislam.wordpress.com/ abu zahra

    subhanallah….jazakallah akh…slama ini ana dah salah, alhamdulillah dengan ini Allah memberi kejelasan…baraklaah fiik

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa fiikum barokallah. Semoga Allah selalu menjaga antum sekeluarga.

  • http://murtaji.com/ pak mur

    assalamualaykum akhi… salam kenal
    alhamdulillah… selama 4 tahun ini kami menikah, empat kali pula istri ana hamil, 4 kali pula istri ana menjalankan tuntunan di atas.
    subhanalloh… mudah dan nikmat berjalan di atas petunjuk Sunnah Nabi dan Para Sahabat…
    ana pernah membaca di majalah as-sunnah bahwa sebaik-baik pentafsir Alqur’an adalah Ibnu Abbas, Rosululloh pun pernah mendoakan agar Ibnu Abbas menjadi pentafsir Alqur’an.
    Karena itulah kami mengikuti tafsiran Ibnu Abbas di atas sebagaimana dibawakan pula oleh Syaikh Salim Al Hilalie dalam buku Sifat Puasa Nabi.
    Syukron

  • Rahma

    assalamulaikum wr..wb..
    bagaiman cara membayar hutang2 puasa pada tahun dengan kondisi tahun ini sedang hamil dan diperkirakan nifas bersamaan ramadhan tahun ini

    terimakasih
    wasalam..

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumus salam. Maaf, kami sedang meneliti ulang pembahasan dalam artikel ini, mungkin bisa bersabar menanti.

  • amaturrohman

    bismillah…assalamu’alaikum, ustadz ana mo nanya, gimana hukumnya membayar fidyah setelah masuknya bulan romadhon berikutnya atau setelah berlalu beberapa romadhon? hal ini karena dulu mengambil pendapat bahwa wanit hamil dan menyusui wjib qodho’, tapi belum sempat dilaksanakan, terus setelah membaca lagi artikel2 tentang wanita hamil dan menyusui cukup baya fidyah, kemudian lebih condong dan tenang untuk membayar fidyah saja….

    kalo wanita yang melahirkan di bulan romadhon, dia nifas sekaligus menyusui, apakah qodho atau fidyah… perlu diketahui wanita ini kemudian hanya bertahan menyusui ekslusif sampai 4 bulan usia bayinya, karena sesuatu hal…kemudian tetap menyusui sambil bayinya di kasih pendamping ASI…apa yang wajib baginya?

    Jazakumulloh khoiron ustadz atas jawabannya

  • amaturrohman

    assalamu’alaikum… ustadz gimana hukumnya wanita membayar fidyah setelah berlalu romadhon berikutnya atau beberapa romadhon? karena dulu wanita ini berpendapat tentang wajibnya qodho’ tetapi belum sempat menunaikannya… lalu setelah membaca lebih rinci tentang artikel2 wanita hamil dan menyusui cukup fidyah..maka dia merubah pendapatnya dan lebih condong untuk membayar fidyah

    wanita yang nifas sekaligus menyusui apakah fidyah atau qodho…perlu diketahui wanita ini kemudian hanya mampu menyusui ekslusif sampai 4 bulan, karena sesuatu hal dan kemudian bayinya diberi makanan pendamping asi…sampai benar2 berhenti menyusui saat bayinya usia 9 bulan, disebabkan mulai berhentinya produksi asi dan bayinya yang tidak mau menyusu lagi.

    Mohon jawabannya ustadz… jazaakumulloh khoiron